
...NORMAL pov...
...----------------...
"Kau melaksanakan tugasmu dengan baik, Angga. Aku takjub pada penampilanmu malam ini." Dengan senyuman yang tidak luntur dari wajahnya--Evan berujar sambil menatap Anggara layaknya kakak laki-laki yang menatap adiknya sendiri. Sebelah tangannya memegang gelas wine, sementara tangan yang lain ia gunakan untuk menepuk pundak Anggara.
"Jangan terlalu senang, aku melakukan ini untuk Indira." Anggara menimpali ketus. Persona manis yang ia tampilkan di depan Margot sudah memudar, hilang menyisakan raut tegas yang penuh kekesalan terpendam.
"Bicara soal Indi, di mana adikku? Kenapa kau tidak datang bersamanya?"
"Jangan mencemaskannya, aku menjaganya dengan baik."
"Apa kau yakin?" Anggara mencemaskan Indira.
Adiknya yang berkepala batu itu biasanya menjadi pusat perhatian pesta dengan keanggunan dan keindahannya. Ketiadaan Indira malam ini malah membuat Anggara merasa adiknya sedang dalam kondisi yang tidak baik.
"Aku suaminya, Angga." Jawaban Evan membuat Anggara menelan cercaan yang hendak lolos dari mulutnya. Si sulung Rashid itu menarik napas dalam dan mengembuskannya berat.
"Kalau kau mengatakannya seperti itu..., maka aku akan mempercayakannya padamu." Walau sebenarnya itu dusta. Anggara berencana akan mengunjungi Indira nanti--entah itu besok atau lusa.
"Kesampingkan Indira, sudah seberapa dekat hubunganmu dengan 'target' kita?"
"Aku baru bertemu dengannya dua kali, apa yang kau harapkan?"
"Aku mengharapkan sesuatu yang lebih dari omong kosong, Angga." Evan tertawa samar, seakan-akan ucapannya bukan peringatan. "Apa kau lupa apa yang kukatakan? Keselamatan Indira--kau, bahkan aku..., bergantung pada kecakapanmu dalam mencaritahu situasi yang terjadi di keluarga mereka."
"...."
"Setidaknya buat dirimu berguna, goddamnit!" Evan menenggak wine-nya dan berlalu dari hadapan Anggara yang lagi-lagi menelan hinaan seperti menelan pisau di kerongkongan.
"Tidak mengherankan kenapa keluarga Rashid jatuh di bawah kepemimpinanmu!"
...----------------...
Puncak acara yang paling diantisipasi para tamu undangan malam ini adalah kembang api yang katanya akan diledakkan ketika waktu menunjukkan pukul 12 malam.
Melalui balkon yang tertelak di sudut lantai dua--tidak begitu jauh dari ballroom dan menghadap sempurna ke arah dermaga tempat kembang api akan dinyalakan, Vera Hanz--seorang kepala bodyguard sementara Margareth Hunter berdiri sendirian di balkon itu. Sepuntung rokok terselip di bibirnya selagi dia menikmati dingin angin malam yang berembus menyapa wajahnya.
Selain tamu undangan, para bodyguard dilarang masuk ke ballroom. Karena peraturan itu, Vera dan bodyguard lainnya hanya bisa berdiri seperti orang tolol di depan ruang aula. Setidaknya, untuk beberapa waktu--Vera berdiri di sana seperti orang dungu. Sampai akhirnya dia lari menyegarkan kepalanya ke tempat ini. Para bodyguard lain masih menunggu di depan pintu aula yang tertutup rapat--mengobrol dan beberapa tidur dalam keadaan berdiri.
"Fyuuuhhh~" Kepulan asap rokok mengepul keluar dari bibir Vera. Berbaur di udara dengan aroma tembakau yang kental. Saat itu pula, bersamaan dengan kepulan asap yang lepas dari paru-parunya--Vera merasakan lega dan letih yang berpadu-padan.
Pekerjaan sebagai bodyguard sangat melelahkan. Tambah melelahkan lagi ketika dia punya bos seperti Margot yang tidak bisa ditebak sama sekali. Sekarang ini, berkat misi rahasia yang dilimpahkan Margot kepada David, Vera yang mengisi posisi David jadi tidak mempunyai waktu libur. Ini menyebalkan dan disatu waktu, terasa seperti siksaan.
"Ingat kenapa kamu di sini, Vera. Ingat..." Satu-satunya cara untuk memotivasi diri adalah mengingat kembali alasan dia berada di sini. Bahwa ia punya hutang panjang yang perlu di-
Kereta pikiran Vera yang melaju panjang di benaknya terhenti tepat ketika pintu balkon dibuka kasar dari dalam. Seseorang dengan hentakan kaki yang keras melaju menuju pagar balkon, menopang kedua tangannya di sana dan--
__ADS_1
"AAAARRRRGGGGGHHHH!!!"
Teriakan keras lepas dari bibir orang itu, membuat Vera yang berada di dekat tembok terkejut. Ada apa dengan orang-orang kaya ini? Datang dan tiba-tiba berteriak?
Vera menjadi tidak nyaman berada di sana. Pria pendatang itu terlihat sangat depresi dan marah. Vera tau, pria kaya yang sedang dalam mode depresi dan marah bukan pria yang ingin ia temui, karena mereka mengingatkan Vera dengan bosnya sendiri (Ace). Mereka adalah orang-orang dengan masalah temperamen yang mengerikan.
Meyakinkan diri dan siap pergi, Vera yang masih mempunyai rokok disela jemarinya berusaha menyelinap diam-diam menuju pintu balkon yang setengah terbuka. Ia melangkah dan melangkah dan...
"Diam di sana!" Suara pria itu familiar dan tidak--itu tidak penting karena sekarang pria itu menyadari keberadaannya. Sialan!
"Kau pikir aku tidak tau kau ada di sana?" Pria dengan kemeja biru donker itu berbalik menghadap Vera, mata marahnya seketika terpana saat menyadari siapa gerangan yang sekarang berdiri kikuk di dekat pintu yang terbuka.
"Vera?"
"Huh, yaaa..." Pria itu adalah Anggara! Bagus! Ini luar biasa. Vera merasa dia akan menemui ajalnya.
Selama pertemuannya dengan Anggara, Vera selalu meninggalkan kesan buruk kepada pria itu. Membantu Anggara di kamar mandi adalah satu hal terpuji, tapi mencaci Anggara saat dia dalam keadaan mabuk adalah hal yang bisa membuat Anggara memelintir lehernya 180 derajat dari posisi semula.
"Jadi itu kau..." Anggara melenggang menghampiri gadis yang sekarang tersenyum tidak nyaman di bawah matanya. Aroma tembakau dan asap dari rokok yang berguling di lantai menarik perhatian Anggara sebentar.
"Kau merokok?"
Itu mengejutkan. Anggara tidak mengira Vera adalah tipe gadis yang akan merokok, sebaliknya--dia terlihat seperti gadis yang akan memelihara kelinci di halaman belakang rumahnya sambil memakai jubah strawberry dan menyiram bunga.
"Selamat malam, tuan Anggara." Vera mengabaikan tanya Anggara karena dia pikir jawabannya sudah jelas. "Maaf sudah mengganggumu." Walau sebenarnya itu kebalikan.
"Jangan meminta maaf," sahut Anggara. Salahnya sendiri sudah muncul ke tempat ini dan berteriak. Reputasinya sebagai kepala keluarga Rashid bisa tercoreng bila Vera bicara situasi ini kepada Margot.
"Aku pamit kalau begitu." Vera hendak melarikan diri, tapi sekali lagi..., dengan ucapannya, Anggara mencegah gadis itu melarikan diri dari hadapannya.
"Tungguuu," ucap Anggara. Jarak pendek yang tersisa di antara dirinya dan Vera dipangkasnya langkah demi langkah. "Kembang apinya akan dinyalakan sebentar lagi, tinggallah di sini."
"Ti-tidak..."
"Atau kau takut padaku?"
"Huh?" Masalahnya bukan takut, tapi tidak nyaman!
"Ayo..." tanpa menunggu keputusan Vera, Anggara pun menarik pergelangan tangan gadis itu menuju pagar balkon yang dingin. Mau tidak mau, Vera mengikutinya dengan langkah kaki terseret.
"Di sini spot yang bagus, bukan?" Anggara berucap dengan jenaka, dalam hatinya merasa senang sudah membuat kaki tangan Margareth Hunter bergetar tidak nyaman berada di sisinya.
"Aku tidak terlalu suka di dalam, tempatnya sangat ramai." ucap Anggara lagi.
"O-oh." Vera tergagap. Pikirannya terfokus kepada tangan Anggara yang berlabuh di pundaknya.
Ia menyusut dalam rangkulan lengan Anggara. Tubuhnya merinding dan itu bukan karena sengatan dingin angin malam, semua ketidaknyamanan yang menggerogoti kulitnya bersumber kepada pria jangkung beraroma seperti kayu manis itu.
__ADS_1
"Tuan Angga..., apa kau baik-baik saja?" Tidak tau harus mengatakan apa, tidak bisa berpura-pura bodoh juga--Vera mengungkit apa yang dia lihat sebelumnya. Kobaran amarah Anggara yang lepas di udara.
"Aku..., aku baik." Anggara sedikit terkejut oleh pukulan balik itu. "Maafkan aku, kau pasti terkejut."
"Ti-tidak masalah."
Anggara diam dan melihat Vera dari samping. Melihat bagaimana gadis itu mengerucutkan bibirnya, hidung mengerut gelisah dan mata menyipit menahan resah.
Sementara gadis itu bungkam dengan eskpresi wajah yang penuh penyesalan, Anggara merasakan kenikmatan atas hasil perbuatannya yang membuat Vera sangat tegang di rangkulannya. Reaksi yang gadis itu berikan sungguh menggemaskan.
Dia adalah tipe gadis yang memancingmu ingin menggodanya sepanjang waktu demi melihat reaksinya yang lucu.
"Ah..., sudah mulai..." Ekspresi di wajah Vera berubah secepat kilat ketika ledakan pertama dari kembang api berhamburan di langit.
Vera menoleh ke arah Anggara dan terkesiap saat matanya dan mata pria itu bertemu. "Ke-kembang apinya..." gumam Vera terbata.
"Aku melihatnya," Anggara menimpali sebelum berpaling menatap ke arah langit. Ledakan demi ledakan cahaya warna-warni membanjiri langit malam yang kelam.
Untuk beberapa waktu, keduanya berdiri diam dalam keheningan. Hanya ada suara napas mereka yang berembus samar, berpadu dengan suara riuh letusan kembang api di kejauhan.
Sampai akhirnya, cahaya-cahaya itu memudar. Keindahan yang disajikan dalam momen singkat itu menemukan akhir. Balkon yang sebelumnya bermandikan cahaya warna-warni itu kembali meredup temaram.
Mata penuh antusiasme Vera buyar ketika ia merasakan getaran telepon di saku kemejanya. Seperti membalikkan saklar lampu, sikap Vera berubah ketika dia merogoh saku. Anggara yang berada di sisinya terdorong menjauh.
"Halo, Willa? Oh, baiklah. Aku akan segera ke sana." Vera menyahuti panggilan yang memintanya untuk kembali. Setelah menjawab telepon itu, Vera pun menghadap Anggara sekali lagi.
"Tuan Anggara, pestanya sudah nyaris berakhir. Aku akan kembali ke posku. Terima kasih sudah menemaniku menonton kembang apinya." Vera membungkuk sopan di hadapan Anggara, memberikan penghormatan sebelum pergi dari hadapan pria itu. "Kalau begitu, aku akan pergi."
Saat Vera hendak pergi juga, Anggara menangkap pergelangan tangan Vera, menarik gadis itu cukup kuat sampai Vera tertarik ke dadanya.
"E-eh?"
"Sesuatu..." kata Anggara, mata tertuju kepada telinga Vera. "Ah..., apa ini tato?"
"Ya?"
Ujung jemari Anggara menyapu tato yang terukir di bawah daun telinga Vera.
Hopeless Romantic.
Kata-kata itu terukir seperti kaligrafi.
"Maafkan aku, kupikir ini kotoran."
Vera menarik dirinya segera dari Anggara dan memberikan pria itu tatapan sungkan. "Tidak masalah."
"Kau boleh pergi." ujar Anggara akhirnya, melepaskan Vera dari telapak tangannya. Vera pergi dari hadapan pria itu dengan tanda tanya memenuhi kepalanya.
__ADS_1
Apa pria itu gila?
...----------------...