DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
91. RACUN


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Fawn menatap Ace yang berada di hadapannya, menangkup pipinya dengan kelembutan yang membuat jantungnya berpacu kencang. Fawn merasakan bagaimana bibir pria itu berlabuh di bibirnya, lembut dan manis seperti gula.


Fawn tersenyum dalam kecupan Ace di bibirnya. Ace yang penuh kehati-hatian, kelembutan dan memperlakukannya seperti dia adalah sebuah kaca yang dapat retak oleh sedikit getaran, membuat Fawn merasa sangat terkesima dan lucu juga.


Lucu karena ini bukan Ace sekali.


Fawn tidak menginginkan ini.


Ia tidak ingin Ace menahan diri, karena demi apapun, walau Ace yang menawarkan ini padanya, Fawn menerima tawaran itu dengan minat yang sama. Ia tidak terpaksa. Ia memang ingin merasakan Ace di dekapannya. Oh, Fawn sangat waras ketika dia membisikkan Ace untuk melakukan 'sesuatu yang lain' itu bersamanya.


Fawn tidak menginginkan menonton film, tidak menginginkan bicara, ia menginginkan Ace berada di dekapannya. Fawn ingin melepaskan kerinduannya, merasakan pria itu sebagai miliknya.


Jadi, ketika Ace melepaskan kecupan lembutnya, Fawn merengkuh leher pria itu kembali merapat ke wajahnya. Fawn mengendalikan pergerakan Ace saat itu juga, memimpin pria itu dengan keagresifan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Tidak pernah, karena ini adalah keberanian yang entah muncul dari mana.


Fawn meraup bibir Ace ke dalam pagutannya, menangkup pipi pria itu dengan jari yang terbenam di dalam kulit putihnya. Fawn merasakan ketegangan dalam reaksi Ace ketika ia menyambar pria itu dengan keserakahan yang kentara. Fawn tersenyum ketika ia merasakan tangan Ace yang berlabuh di pinggangnya menunjukkan reaksi yang ia inginkan sejak awal, pegangan pria itu padanya mengencang. Seolah menyambut keagresifan Fawn dengan kesenangan dan keserakahan yang sama.


Sebuah pesan coba Fawn sampaikan pada Ace saat itu, saat ia mendaki ke pangkuan Ace dan memperdalam pagutannya. Fawn ingin menyampaikan bahwa ia melakukan ini murni atas keinginannya sendiri. Tidak seperti dulu, ketika ia jatuh di bawah pria itu atas dasar kekangan dan ancaman, Fawn melakukan ini karena ia memang menginginkan Ace. Ia mempunyai kebebasan sekarang, dan di dalam kebebasannya, ia memilih mencium pria yang merupakan musuh masa lalunya.


Ace tidak mengatakan apa-apa, tapi sepasang manik kelam itu menyorot Fawn dengan binar tajam yang menakutkan. Fawn tau apa yang dia lakukan adalah mengundang sisi gelap pria itu keluar dan mendominasinya. Sisi yang berusaha Ace tekan agar Fawn tidak takut kepadanya.

__ADS_1


Tapi itu terlambat.


Sudah jauh terlambat.


Fawn tau dia akan menyesal bermain-main dengan api ketika ia merasakan dorongan kuat diciptakan oleh tangan Ace di pinggangnya. Tangan pria itu menekannya, menahan pergerakannya dengan kekangan yang membuat Fawn meneguk ludah.


"Kau tau aku berusaha baik padamu sebelumnya, bukan?" Ace menyapu bibirnya di sepanjang kulit pucat Fawn, di leher pucatnya yang memancing minat Ace untuk menggigitnya. Mewarnainya dengan saliva dan jejak merah yang membuktikan kalau gadis itu miliknya.


"Apa aku memintamu berbuat baik?" Fawn tidak tau apa dia masih waras atau tidak, tapi tanggapan yang memprovokasi itu membuahkan sebuah gigitan berlabuh di pundaknya. Gigi Ace menancap di kulitnya, menciptakan rasa sakit yang berbaur dengan sensasi aneh menggelenyar di perutnya. Fawn memejamkan mata, napasnya seperti dicabut keluar dari kerongkongannya.


"Apa kau tau risiko bermain-main denganku?" Ace menyeringai tipis saat matanya dan mata Fawn kembali bertemu. Gadis itu menantangnya, mengeluarkan hitam darinya.


"Percaya padaku," gumam Fawn, ia menyatukan dahinya kepada dahi pria itu. Mata bertemu mata, gairah membara. "Aku adalah orang yang paling tau tentang itu."


Dan itu bukan kebohongan. Di antara semua orang, Fawn adalah sosok yang pernah melihat sisi gelap Ace secara langsung. Berinteraksi dengan kegelapan itu, menjadi pelampiasan akan keagresifan dan amukannya yang menakutkan. Fawn sudah pernah merasakan Ace yang mendominasinya dengan kekuatan yang menakutkan. Menanamkan teror di tubuhnya hingga ia tidak bisa lagi melihat dunia dengan cara yang sama. Tidak bisa menikmati kelembutan karena teror itu sudah seperti candu baru di hidupnya.


Setidaknya untuk malam ini saja, bila ia akan melewatinya dengan Ace, ia ingin pria itu meninggalkan jejak mendalam di benaknya. Jejak yang mampu membuatnya terus merasakan Ace--bahkan ketika pria itu tidak berada di sisinya.


Agar ia tidak merindukan Ace sebanyak minggu-minggu yang telah ia lalui tanpa pria itu.


"Aku tidak mau kau membenciku," Ace memagut dagu Fawn, tangannya bermain di kancing kemeja flanel yang gadis itu kenakan. Matanya belum lepas dari sepasang manik hazel Fawn yang berkabut oleh nafsu.


"Aku tidak akan membencimu," bisik Fawn. Tidak, karena ia sudah jauh jatuh dalam pesona pria itu. Jauh jatuh sampai ia takut kepada apa yang ia rasakan. Takut kepada realita dan moral dunia yang akan menghakiminya. Ia takut ia telah menelan sebuah racun, tapi..., bahkan bila itu memang benar adanya..., Fawn tau ia tidak bisa melakukan apa-apa terhadap hatinya.

__ADS_1


Racun itu sudah menyebar di darahnya, menciptakan desiran kuat setiap kali pria itu muncul di setiap obrolannya, di setiap geraknya.


Ace menatap pucat kulit Fawn yang seperti kanvas di matanya. Sebuah kanvas yang mengundangnya untuk mewarnai gadis itu hitam dan merah oleh segala gairah dan dosa yang ingin ia tumpahkan di dalam warna putih itu.


"I love you, Fawnia." Ace berbisik rendah.


Fawn menggigit bibir bawahnya, merinding ketika Ace memindai tubuhnya. Seakan-akan sorot mata itu adalah laser panas yang membakar kulitnya. Jantungnya menggebu resah, perpaduan malu dan ketidaksabaran yang seharusnya tidak jalan beriringan. Bagaimana ia bisa begitu mendambakan Ace, tapi disatu waktu ingin melarikan diri karena ketidak-percayaan dirinya yang tinggi.


Ia tidak sempurna, Fawn menyadari itu. Ia selalu merasa..., hal-hal seperti ini bukan keistimewaannya. Ia tidak pernah merasa seseorang akan jatuh cinta pada tubuhnya karena ia sangat jauh dari kata jelita. Tapi, malam ini Ace membuatnya seperti ia istimewa. Itu menakutkan. Fawn takut ia besar kepala ketika pada realitanya, ia hanyalah seorang gadis biasa.


"Kau sangat indah, Fawnia." Ace menangkup pipi Fawn sekali lagi, mengecup bibir itu dengan ringan dan memberikannya seulas senyum yang menawan. "I will love you forever."


"Mmm." Fawn mengangguk sebagai tanggapan. Ia kesulitan bicara, kata cinta itu terlalu berat di bibirnya. Ia hanya menatap Ace dengan pipi dan telinga yang memerah seperti bunga sakura.


Ketika Ace kembali menyentuhnya, meraup setiap inci tubuhnya dalam genggaman kuat yang meninggalkan jejak di kulit pucatnya, Fawn memejamkan mata. Kepala jatuh di pundak pria itu sementara napasnya mendesis tak beraturan. Ia menegang dalam beberapa kesempatan, mengumpat dalam kenikmatan yang memabukkan.


Ace tidak menyia-siakan kesempatan yang Fawn berikan padanya malam itu. Sebagaimana besar Fawn menginginkannya, ia ingin menunjukkan pada Fawn bahwa ia menginginkan gadis itu lebih banyak, lebih besar, lebih buas daripada yang Fawn pikirkan.


Segala hitamnya mengabutkan mata. Ia menghirup Fawn dalam dekapannya seperti candu yang baru. Menyapu tubuh itu dengan bibirnya, meninggalkan gigitan dan jejak merah yang membuat tulang belakang Fawn mengencang.


Tangan gadis itu mendekap kepalanya, mengacak surainya. Suara keluhannya memenuhi ruangan sementara Ace terus menghujani Fawn dengan sentuhan-sentuhan yang membuat mata gadis itu melihat kunang-kunang.


Di dalam dekapan Ace pula, Fawn lepas kendali pada tubuhnya sendiri. Seperti ia telah gila, ia meracau kacau ketika Ace mengguncang dunianya. Membuatnya melupakan realita. Terpaku hanya pada sentuhan pria itu di tubuhnya. Jejak panas yang akan ia ingat karena itu menyakitkan, dan di saat bersamaan, membuatnya nyaris melupakan namanya sendiri.

__ADS_1


Itu adalah kesalahan yang ia inginkan. Kesalahan yang ingin terus ia lakukan. Racun yang akan ia telan.


...----------------...


__ADS_2