DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
106. HALO..


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Eleanor--wanita yang kerap mengenakan warna merah sebagai ikonnya--sedang berjalan berdampingan dengan Anggara Rashid. Mereka memasuki pekarangan rumah keluarga Caspian, hendak mengunjungi Indira. Setidaknya, itu lah rencana Anggara setelah dia mendengar tentang situasi Indira dari Fawn tempo hari. Anggara tidak bisa tenang bila ia tidak melihat adiknya dalam keadaan baik-baik saja.


Oh, mengenai Eleanor, sepupu perempuan Anggara itu ikut dengan alasan sedang bosan. Anggara membawanya karena dia tidak suka mendengar Elle merengek di sampingnya seperti radio rusak.


"Aku sudah lama tidak melihat Indira, tau. Si brengsek Evan itu sangat menjengkelkan. Dia mengurung Indira hanya karena Indira adalah istrinya. Sangat tidak masuk akal. Apa seorang perempuan kehilangan kebebasannya dalam membuat keputusan ketika dia dinikahkan? Apa wanita tidak bisa membuat pilihannya sendiri?"


"Kau tidak tau apa-apa, Elle. Berhenti mengatakan sesuatu yang akhirnya hanya akan melukaimu kembali." Anggara menyahut Eleanor sambil menyelipkan peringatan di sana. Ia tau betapa blak-blakannya Eleanor dan jujur saja, itu tidak baik. Kejujuran hanya bermakna baik bila itu menyenangkan. Bila kejujuran itu membawa ketidak-senangan, itu hanya akan menjadi sebuah bumerang.


"Sekarang kau akan mengaturku juga. Kalian laki-laki sangat hebat. Kau sebaiknya memimpin negara ini." Eleanor meringis sinis.


"Laki-laki atau bukan, aku akan tetap menyuruhmu bungkam. Evan di dalam sana, orang yang kita temui, adalah orang yang mempunyai kuasa terhadap keluarga kita. Kau sebaiknya menjaga cara bicaramu padanya kalau kau tidak mau kembali hidup seperti masa-masa dulu."


Maksud Anggara adalah masa ketika Eleanor belum kembali dan menyerahkan dirinya ke keluarga Rashid. Dulu, setidaknya setelah ibu Elle memilih menikahi seorang pria dari kalangan biasa, Elle menjalani kehidupan yang terbilang sangat sulit.


Kemiskinan adalah satu hal, tapi menjalani hari-hari dengan mendengar pertikaian ayah dan ibunya yang saling menyalahkan adalah neraka lain yang lebih mengerikan. Elle dan ibunya kembali ke keluarga Rashid ketika ibunya sudah menyerah pada kemiskinan.


Sekarang, demi tidak mengulang kehidupan yang sama yang ibunya derita, Elle berusaha keras menjadi sosok mandiri. Itu juga merupakan alasan mengapa dia menjadi sangat terobsesi menyalahkan laki-laki atas masalah yang terjadi di muka bumi ini.


"Aku pikir hubungan keluarga kita berlandaskan kerja sama, Angga. Kenapa sekarang kau bertingkah seperti kacungnya keluarga Caspian?"


"Situasinya tidak berjalan mulus."


"Ooh, apa ini karena Ace Hunter?"


"Apa yang kau tau tentang Ace Hunter?" Anggara memutar mata. Dia merasa menanggapi Elle sama seperti membuang-buang energi. Tapi, sayangnya, sepupunya ini tidak mau berhenti bicara.


"Aku tau kau menjalin hubungan rahasia dengan bodyguard keluarganya."


"..."


Elle tertawa sinis saat ia berhasil membuat Anggara berhenti melangkah. "Kau tidak berpikir aku tolol, kan? Angga, oh, Angga..., apa kita kehabisan wanita sampai kau menurunkan pandanganmu ke wanita yang kastanya berada di bawah sepatuku?"


"Perhatikan ucapanmu, Elle."


Elle tidak mendengarkan. Mana mungkin dia mau mendengarkan. "Kenapa? Apa aku salah lagi di matamu? Gadis itu bahkan tidak begitu cantik, Angga. Kau sangat aneh. Kau menjual adikmu untuk menambah kekayaan, tapi kau sendiri tidak mempunyai pengorbanan apa-apa selain menjadi maskot keluarga kita."


"Elle, aku tidak mau membicarakan hal itu di sini." Anggara menahan geramannya.


"Aku tidak akan membahas itu di sini kalau kau berhenti menatapku seperti kuman di keluargamu, oke? Aku mungkin hanya parasit yang bertahan hidup dengan menempel kepada keluargamu, tapi aku tidak bodoh untuk tidak tau apa yang sedang terjadi di inangku."


"Kalau kau sepandai apa yang kau ucapkan, kau seharusnya paham untuk tidak membuat masalah, Elle. Terutama tidak padaku. Aku adalah inangmu sekarang. Jika sesuatu terjadi padaku, tidak akan ada siapa pun yang dapat menopangmu dan ibumu. Tidak bahkan Jemaine Emery!"


"..."


"Sekarang, jadi gadis baik dan tutup mulutmu!"


Elle bungkam, tapi bukan bungkam yang mengartikan kepasrahan. Ia bungkam dengan keremehan, meremehkan Anggara. Elle tidak menganggap ucapan Anggara cukup sebagai ancaman untuknya, tapi ia tau ia tidak bisa terus memancing perkara di sana. Tidak ketika sekarang seorang pengawal wanita Indira mendekat.


"Selamat datang, bos Angga." Pengawal itu adalah Fawn. Fawn membungkuk hormat kepada Anggara sebelum mengangkat kepalanya dan menatap kepada Elle. "Selamat datang, nona Eleanor."


"Di mana Indira?" Eleanor langsung lompat ke inti.


"Nona Indira..., uh, dia berada di kamar tuan Evan."


"Huh, saudaranya datang mengunjunginya, dan dia malah mendekam di kamar. Itu bukan Indi sama sekali." Eleanor merespon dengan sangsi. Matanya menatap ke arah mansion keluarga Caspian dengan kecurigaan. "Apa ini ulah Evan lagi? Apa dia melarang Indi menemui keluarganya?"


"Elle, kau ingat apa yang kukatakan tadi?" Anggara menegurnya dengan kesabaran yang sudah di ujung rambut.

__ADS_1


"Apa aku kelihatan peduli pada apa yang kau katakan?" Eleanor menimpali Anggara dengan suara samar, seperti dia berucap kepada dirinya sendiri.


Fawn yang mendengar ucapan Eleanor hanya bisa menunduk dan mundur dari hadapan dua orang itu. Fawn tidak mau ikut campur. Dia sudah tau orang seperti apa Eleanor dan dia tau wanita itu tau cara masuk ke kepala seseorang dan menyiksamu dengan ucapannya.


Fawn tidak yakin ia bisa melawan Eleanor bila gadis itu mengutak-atik isi kepalanya dengan ucapan yang mungkin akan terdengar sangat menyakitkan. Pokoknya, gadis ber-lipstick merah itu adalah ular berbisa. Fawn lebih senang tidak menjadi lawannya atau mengganggu arah pandangnya.


"Fawn, apa kau tau di mana Evan?"


"Tuan Evan menunggu kalian di rumah kaca."


"Aku dengar Maximillian sekarang tinggal di sini. Apa itu benar?" Elle ikut bertanya.


"Iya, nona." Fawn mengangguk.


"Sangat menyedihkan. Apa Evan menjadi sangat tidak kompeten sampai ayahnya ikut turun tangan membantunya dalam menangani masalah perusahaan?" Eleanor berujar sinis.


Sekarang, ditemani oleh Fawn, mereka jalan beriringan memasuki rumah besar keluarga Caspian yang interiornya terlihat seperti museum. Lukisan-lukisan antik dan bergaya abstrak menempel di dindingnya yang berwarna gading. Mata Eleanor memindai isi rumah itu dengan sudut bibir tertarik turun, dia mencebik sinis pada kemewahan yang sekarang tersaji di hadapannya.


"Jadi, apa Maximillian yang tersohor akan bergabung bersama kita nanti?" Elle kembali bicara dan menatap Anggara.


"Elle, tutup mulutmu."


"Aku hanya penasaran. Jangan mengaturku."


"Tuan Max pergi hari ini." Fawn menyahut, mau tidak mau.


"Seseorang tau cara menggunakan mulutnya." kata Elle pada Fawn. "Kau lebih pintar daripada Anggara."


"Elle," tegur Anggara lagi. Kali ini napasnya berembus berat.


"Dengar, apa kau tidak merasa Evan agak curang? Kalau dia dan Ace mau saling menghancurkan, dia seharusnya menggunakan kekuatannya sendiri. Kenapa dia memanggil ayahnya yang sudah pensiun ke dalam masalah ini? Ace saja tidak membangunkan ayahnya dari kubur untuk membantunya..."


"Apa kau juga mengaturku, bodyguard? Apa kau akan membantingku ke lantai kalau aku terus bicara panjang lebar tentang urusan yang tidak ada sangkut-pautnya denganmu sama sekali?"


"Aku tidak akan menggunakan kekerasan, nona Elle. Tapi aku bisa menegurmu karena tugasku adalah melindungi nona Indira. Ucapanmu membahayakan kami yang berada di sini. Kau sebaiknya mendengarkan bos Anggara dan tidak mengatakan sesuatu yang mampu memicu amarah tuan Evan."


Fawn berbelok menuju rumah kaca yang dimaksudkan. Dari luar, rimbun dedaunan dan bunga-bunga terlihat menyejukkan. Evan ada di dalam sana, duduk menghadap sebuah meja bundar.


"Aku baru memujimu pintar sekali, dan kau sudah lancang." Eleanor tersenyum miring. "Jika kau bukan kacung favorite Indira, aku sudah memecatmu, asal kau tau saja."


"Itu bukan tugasmu, Elle." Anggara menarik lengan Eleanor agar jalan beriringan dengannya. "Sekarang, jangan membuat masalah dan ikut aku!"


"Benar-benar wanita yang merepotkan." Fawn menghela napas setelah dia berhasil menjalankan tugasnya untuk mengantar Anggara dan Eleanor menghadap Evan.


Fawn memutar badannya dan melenggang begitu saja. Entah kemana. Fawn hanya ingin menghindari mereka bertiga. Fawn tidak ingin ikut campur terhadap masalah yang bukan masalahnya.


Fawn terus berjalan sampai ia merasakan sebuah getaran datang di saku kanannya. Kendati bekerja sambil mengutak-atik ponsel adalah larangan, Fawn mendapat pengecualian karena masalah ibunya yang masih mendekam di rumah sakit. Indira memperbolehkannya membawa ponsel saat bekerja, kalau-kalau ada informasi menyangkut perkembangan ibunya yang masih mendapat perawatan intensif.


Sebuah nomor asing memanggilnya.


Fawn menghela napas.


"Apa yang kukatakan tentang tidak menghubungiku saat jam kerja?" Fawn berujar tanpa basa-basi.


"Apa salah?" sahut sosok di seberang telepon.


"Jangan bertele-tele. Apa maumu?"


"Aku merindukanmu, mau bertemu?"


"Tidak. Tidak bisa. Aku tidak mau. Sekarang sangat berisiko." Fawn bergumam sambil menatap ujung sepatunya.

__ADS_1


Jujur saja, mendengar suara itu di telepon tidak cukup. Tapi mau bagaimana lagi? Fawn tidak ingin menjadikan keegoisannya sebagai sumber masalah.


"Kau tidak perlu memikirkan hal lain," suara itu--Ace, berujar dengan kelembutan. "Ingat apa yang kukatakan? Kau tidak perlu berpikir. Biar aku yang memikirkan semuanya."


"Apa aku sangat tolol di matamu?"


"Tidak. Tapi aku tidak mau membuatmu stress. Ikuti kata hatimu, Fawnia. Apa kau tidak mau bertemu denganku?"


"Dengar, Ace..." Fawn menggantung ucapannya seketika saat seseorang muncul entah dari mana dan melewatinya. Fawn pikir dia sudah sangat waspada.


"Fawn?" itu Aidan.


"A-Aidan?" Fawn segera menjejalkan ponselnya ke saku. "Apa yang kau..."


"Kau..., kau memegang handphone?"


"Huh, yaa..., aku diperbolehkan, ingat?"


"Siapa yang kau hubungi?"


"Pe-perawat rumah sakit ibuku. Siapa lagi?"


"Huuh," Aidan menatap Fawn lama. Entah apa makna tatapannya.


"Ada apa?" Fawn meneguk ludah. Ia takut Aidan mendengar ucapannya yang terakhir. Sialan, kenapa dia menyebut nama Ace? Kenapa Aidan muncul saat dia sangat butuh privasi? Kenapa Aidan tidak muncul saat Eleanor bicara omong kosong tentang Evan? Takdir sangat tidak adil!


"Kau sangat curang, Fawn." komentar Aidan. "Kau mendapat keistimewaan."


"Kau tidak akan menganggapku istimewa kalau kau punya ibu yang sakit dan butuh pengawasan ekstra, Aidan."


"Itu tidak membuatmu lebih baik. Kau masih mendapat perlakuan istimewa ketika kau bahkan tidak melakukan apa-apa." Selesai mengomentari Fawn dengan ucapan sinisnya, Aidan pun berlalu meninggalkan Fawn. Fawn terpaku di sana sampai dia teringat panggilannya dan Ace masih tersambung.


"Ha-halo?" Fawn pikir Ace sudah memutuskan panggilan, tapi ternyata tidak. Panggilan itu masih terhubung, walau Fawn agak tidak yakin kalau Ace masih mendengarkan.


"Halo."


Oh, dia masih mendengarkan.


"Maaf." kata Fawn.


"Kau tidak perlu meminta maaf. Aku yang salah sudah mengganggumu." Ace membalas. "Apa itu tadi?"


"Oh, itu Aidan."


"Lain kali dia bicara kasar kepadamu, kau sebaiknya tidak perlu membuatnya mengerti dan minta dia memikirkan urusannya sendiri."


"Itu hanya terjadi padamu." ejek Fawn kembali.


"Pokoknya..., mari bertemu nanti. Aku akan mengirimimu lokasinya. Selamat bekerja, Fawnia."


"Yaa, kau juga."


"I love you."


"..."


"Fawn?"


"Terima kasih."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2