
...NORMAL pov...
...----------------...
Ketika langit di luar sana sudah berubah kelam, Fawn yang berdiri di balkon sambil menikmati cahaya matahari meredup menjadi malam--akhirnya masuk dan menutup pintu. Kamar Margot yang sekarang menjadi sarangnya--kembali berwarna merah muda kelam. Ia melangkah ke dalam ruangan itu dan langsung merebahkan diri di tempat tidur.
Tidak ada yang bisa Fawn lakukan di kamar Margot--baik hari ini atau hari-hari kemarin. Baik itu di kamar Ace atau di kamar Margot, Fawn masih dilingkupi oleh kebosanan.
Malam ini, tidak seperti malam-malam kemarin ketika Vera akan mendampingi Fawn untuk mengobrol, ngemil atau bahkan cuma sekedar menemani Fawn tanpa suara, Fawn ditinggalkan sendirian tanpa teman. Alasannya adalah, hari ini sebuah pesta sedang di selenggarakan di sebuah hotel terbesar di Timur. Margot yang diundang--mempersiapkan seluruh bodyguard terbaik untuk mendampingnya, Vera adalah salah satu bodyguard itu.
Jujur saja, Fawn sedikit kesepian, bosan dan--paling menjengkelkan--dia agak kelaparan. Walau mengingatkan dirinya untuk tidak terbiasa di tempat ini, perut Fawn yang kerap dimanjakan oleh makanan-makanan enak di rumah ini tidak menuruti pikiran Fawn. Saat bosan, Fawn akan kelaparan. Karena--cara satu-satunya Fawn membunuh kebosanannya adalah dengan mencicipi makanan sampai dia kenyang, mengantuk dan tidur.
"Huuuuh, apa yang harus aku lakukan?" Fawn berguling-guling frustasi di atas tempat tidur. Ia tidak bisa keluar sembarangan karena alarm di kakinya sudah di-setting akan menyala bila dia menapak keluar dari kamar Margot. Ia juga tidak bisa berteriak dan memanggil Felix karena pintu kamar di kunci.
Satu-satunya solusi sekarang adalah tidur. Mungkin dia akan bangun ketika Vera pulang dan meminta makanan. Yah, itu bagus. Mari lakukan itu.
Fawn menarik napas pasrah. Ia menarik tubuh lesunya menuju bantal. Tepat ketika ia baru menyamankan posisi berbaringnya dan memejamkan mata--
Cklek!
Pintu kamar Margot terbuka. Cahaya putih dari luar menyebar di lantai dan memberikan cetakan bayangan seseorang di lantai. Fawn kembali membuka mata dan menarik tubuhnya duduk.
"Sheesh, apa-apaan kamar ini?" suara seseorang yang familiar di telinga Fawn--suara Ace terdengar dari arah pintu. Meringis akan kegelapan yang mengerikan.
"Ace?" Fawn memanggil pria itu dengan ragu-ragu.
"Ah--" Ace melangkah masuk. "Apa Margot sudah pergi?"
"Sudah sejak tadi sore, apa kau tidak tau?"
Margot pergi keluar untuk membeli beberapa perhiasan dan sekaligus singgah ke salon untuk menata surai kelamnya. Dia menjadi sangat sibuk sampai meminta Anggara agar menjemput dia di apartemennya saja.
"Aku baru kembali tadi sore," sahut Ace. Dia bertemu klien di kota sebelah dan baru kembali tepat sebelum matahari terbenam. Ace tidak tahu-menahu mengenai Margot dan sangat terkejut ketika tau partner jalan kakaknya itu adalah Anggara. Tujuan Ace datang ke kamar Margot adalah mengonfrontasi wanita itu tapi sepertinya dia sudah dikalahkan oleh waktu.
"Well...," Fawn tidak tau harus mengatakan apa lagi.
Ace menghela napas panjang sebelum akhirnya memutar badan. Tidak ada jalan lain kecuali membicarakan situasi Margot setelah acara berakhir. Hanya setelah itu dia mampu memperingatkan saudaranya untuk tidak bermain-main dengan api.
"Ace!!!" suara Fawn lepas dari kerongkongan, cukup nyaring dan cukup mengejutkan. Bahkan untuk Fawn sendiri. Ia tidak mengira suaranya akan sekeras barusan.
Berhenti di depan pintu, "Ada apa?" tanya Ace.
"Aku---" Haruskah dia mengatakannya, Fawn takut dia akan membuat Ace marah. Tapi, dia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. "Aku---, aku lapar."
"Hah?" Kening Ace terangkat sebelah.
__ADS_1
"Aku lapar," ulang Fawn sekali lagi. "Aku mau makan."
Ace yang sudah berada di ambang pintu, mundur dua langkah. Sepasang manik kelamnya menyorot Fawn yang bermandikan cahaya merah muda samar.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Ace kemudian. Cukup mengejutkan karena suara pria itu tidak menunjukkan pertentangan atau keberatan. Suara itu cukup halus sebenarnya.
"Nasi--dan uh--, aku mau pasta udang...? Fe-Felix membuatkanku pasta udang beberapa minggu lalu, ta-tapi kalau tidak ada--aku akan makan apa sa--"
"Baiklah," Ace memotong ucapan Fawn dengan sudut bibir yang berkedut menahan senyuman. "Ada lagi?"
"Aku mau telur orak-arik, umm, apalagi, ya?" Kenapa ketika Ace menjadi sosok yang baik hati, otak Fawn tidak bisa diajak bekerja sama dan memikirkan menu makanan yang dia inginkan? Sialan, padahal ini kesempatan yang jarang terjadi!
Fawn merasa ingin membentur kepalanya ke dinding ketika ia tidak menemukan menu apa pun yang ia inginkan selain makanan yang sudah dia sebutkan. Sialan, sialan, sialan.
"Kalau tidak ada lagi, tunggulah sebentar." Tau kalau Fawn terlalu lapar untuk bisa memanfaatkan kepalanya dengan baik, Ace mengakhiri konversasi mereka dan keluar. Pintu kamar yang sebelumnya membawa cahaya dari luar akhirnya kembali tertutup. Meninggalkan Fawn yang sekarang membenturkan kepalanya ke atas bantal penuh penyesalan.
"Aku bisa mendapatkan makanan apa saja dan aku malah memikirkan telur orak-arik, sangat pintar, Fawn, sangat pintar!"
Beberapa waktu berlalu sebelum akhirnya pintu kamar Margot dibuka dari luar. Fawn yang sudah menunggu penuh antisipasi, berdiri antusias saat Felix menapak masuk membawa satu troli makanan. Saat Felix masuk, aroma sedap dari makanan yang dia bawa memenuhi ruangan. Fawn tersenyum senang seperti anak-anak yang mendapatkan hadiah di hari ulang tahunnya.
"Kenapa banyak sekali?" Fawn bertanya kepada Felix sambil melenggang menuju meja bundar tempat Fawn biasa makan. Di atas sofa kulit hitam yang berseberangan dengan tempat tidur, Fawn duduk bersila mempersiapkan dirinya.
"Seseorang sangat kelaparan dan membuat pesanan seperti orang yang belum makan selama tiga tahun. Aku bisa apa selain menurutinya?" Felix berkata sinis, tapi Fawn tidak peduli. Dia lebih peduli kepada beberapa menu tambahan yang bahkan tidak ada dalam pesanannya sama sekali. Apa ini surga duniawi?
"Apa semua ini untukku?" Fawn menyentuh dadanya yang penuh oleh perasaan bahagia, jantungnya seperti mau meledak saking senangnya.
"Makanlah," ujar Felix, dia sedikit melembut saat Fawn bertingkah seperti bocah. Yah, katakan ini sisi manusiawi Felix yang keluar. Walau Felix membenci sikap Fawn yang liar, dia tidak bisa tidak tersentuh ketika Fawn menyukai makanan yang dia sajikan.
"Terima kasih," ujar Fawn tulus sebelum mengambil sumpit di atas meja. Tangannya dengan girang menggapai satu-persatu menu di hadapannya. Sementara Fawn asik makan, Felix pun undur diri dari ruangan. Ia keluar dan berselisih jalan dengan Ace yang baru menapak masuk.
Tanpa memberi respon verbal pada Felix yang menyapanya dengan bungkukan kepala sopan, Ace terus melangkah menuju ruangan yang demi Tuhan, sangat membuat matanya bekerja keras. Ace menuju sofa dan duduk di sebelah Fawn yang terkejut akan kedatangannya. Di bawah warna magenta yang menyinari wajahnya, Fawn menatap Ace dengan sepasang bola mata sarat akan kebingungan.
"Kau--, kau tidak pergi?" Fawn mengunyah udang goreng di mulutnya dalam gerak lamban--masih heran.
"Aku tidak suka keramaian," sahut Ace enteng.
"Suka tidak suka--bukankah kau tetap harus pergi?" Fawn tidak mengerti. Dia pikir acara besar adalah tempat orang-orang kalangan atas saling membentang jaring koneksi mereka. Orang-orang seperti Ace--terutama orang seperti Ace--biasanya akan berada di barisan paling depan menyangkut datang ke pesta.
"Jika aku tidak suka ya tidak. Siapa yang berani memaksaku?"
"Yah--terserah deh." Fawn bodo amat. Dia kembali makan dan meninggalkan Ace mengutak-atik remote yang tergeletak di atas meja. Lampu kamar yang sebelumnya berwarna merah muda--berubah menjadi hijau, orange--dan akhirnya--putih.
"Kau akan tersedak kalau makan dalam gelap," ujar Ace.
__ADS_1
"Nona Margot tidak membolehkanku menggantinya." Fawn menimpali jujur.
"Kau sangat patuh pada Margot, apa kau anjingnya?"
"Aku tidak suka membuat masalah," sahut Fawn lagi. "Jangan memancing emosiku, aku sedang lapar sekarang."
"Caramu memperlakukan Margot benar-benar curang, tau!" Ace tidak mau berhenti. Dia masih mendumel dengan suara yang penuh iritasi. "Aku yang membawamu ke rumah ini, apa sulitnya menurutiku? Apa bagusnya Margot?"
"Apa kau serius mau membahas itu sekarang?" Fawn menengok ke arah Ace sebelum kembali ke piringnya. "Masalahnya adalah, Ace, apa kau pikir kau pantas mendapatkan perlakuan baik?"
"Apa maksudmu Margot pantas?"
"Nona Margot--"
"Kau bahkan memanggilnya dengan sopan."
"Yaah, dia bukan orang yang menculikku, oke?" suara Fawn meninggi tanpa disengaja. Ia menghela napas gerah. "Nona Margot dan kau sama saja mengerikan. Alasan aku masih sopan kepada nona Margot adalah--"
"Adalah?"
"Umm..." Fawn sebenarnya tidak punya alasan lain selain instingnya yang meminta dia untuk tidak bersikap bar-bar kepada wanita suram itu. "Mungkin karena dia lebih tua dariku, gitu?"
"Kau tolol, ya?" Ace seketika menggelengkan kepalanya--tertawa.
"Ya terserah. Jangan menggangguku makan, oke?"
"Berikan aku satu," ujar Ace lagi.
"Apa?"
"Makananmu."
"Pesan sendiri, kenapa kau mau makananku?" Fawn agak posesif bila itu menyangkut berbagi makanan. Apalagi kalau kawan berbaginya adalah Ace.
"Jangan pelit, aku sudah memesan sebanyak itu. Apa kau akan menghabiskan semuanya sendiri?"
"Yah..., tapi..." Fawn merengut tidak rela. Ia meraih sendok dari pasta udangnya, menyekop nasi, seiris udang dan sepotong kecil telur lalu menyerahkan sendok itu kepada Ace. "Ini!"
Tanpa menyambut sendok itu dengan tangannya, Ace menunduk dan menggapai ujung sendok berisi nasi dan udang itu dengan mulutnya langsung. Fawn yang masih memegang sendok langsung tercengang.
"Ini enak, berikan aku satu lagi..."
"Hah?"
"Jangan bawel..." Ace mencondongkan tubuhnya ke arah Fawn, memerintah Fawn tanpa menerima penolakan. Suaranya yang ringan dan gesturnya yang menuntut suapan mau tidak mau membuat Fawn membagi makanannya dengan pria itu.
__ADS_1
Sialan, Fawn kira makanan itu hanya untuknya!
...----------------...