
"Aku tidak tau apa yang kau katakan," adalah tanggapan Vera ketika Evan menanyakannya mengenai keberadaan seseorang yang kemungkinan adalah kelemahan seorang Arcelio Hunter.
"Oh, Vera..., kurasa kau sangat tau apa yang kukatakan..." Evan menyahut dengan seringaian. "Kau hanya enggan mengatakannya, tapi itu bagus."
"..."
Evan berdiri dan hendak meninggalkan ruang bawah tanah itu. Ia melirik Vera sekilas sebelum meninggalkan gadis itu dengan kata-kata yang seperti mimpi buruk. "Aku senang mangsaku keras kepala. Semakin mereka keras kepala, aku akan semakin bersemangat untuk menghancurkannya."
...----------------...
...NORMAL pov...
...----------------...
Anggara Rashid datang ke kediaman Caspian hari ini, di selasa pagi yang teduh. Fawn menyambut pria itu di depan pintu utama dengan sapaan ramah dan sopan. Setelah Anggara menimpali sapaannya pula, Fawn segera menyusul Anggara dari belakang. Mengikuti ritme langkah pria itu sambil berbasa-basi dengan menanyai kabar Anggara, kabar kediaman Rashid dan sekarang...
"Apa tujuanmu kemari, Bos?" Ini adalah inti pertama yang menarik minat Fawn.
"Aku harus bertemu dengan Evan," jawab Anggara. Dari ekspresi Anggara saat itu juga, Fawn tau kalau bosnya tersebut sedang dalam suasana hati yang buruk.
Sesuatu sudah pasti terjadi lagi di antara Anggara dan Evan, sesuatu yang membuat raut Anggara menjadi suram dan mencekam. Fawn penasaran apa itu, tapi melihat Anggara menanggapinya dengan keapatisan, Fawn takut ia hanya akan memperburuk suasana hati Anggara.
"Bos Angga, kau tau..., kalau kau butuh aku, aku akan siap sedia membantumu." Fawn menyampaikan pesan akhirnya sebelum ia meninggalkan Anggara mendaki tangga menuju lantai dua.
"Sialan, aku penasaran apa yang terjadi..." Fawn menghela napas. Situasinya pasti cukup buruk kalau Anggara sampai kelihatan murung.
Benar-benar, Evan Caspian!
Apalagi yang dia lakukan sampai memicu amarah Anggara? Apa mengurung Indira tidak cukup, dia sampai menyiksa mental Anggara juga?
"Aku pikir musuhnya adalah Ace, tapi mengapa dia tidak pernah berhenti mengganggu bos Angga?" Fawn mendumel ketika ia bertemu dengan Joseph di teras belakang. Sobatnya tersebut sedang bersandar di pilar, tangan menggenggam secangkir kopi.
"siapa yang kau maksudkan?" Joseph menyahut keluhan Fawn sambil menyodorkan gelas kopinya kepada Fawn. Fawn menerima minuman hitam itu dan meneguknya dua kali.
__ADS_1
"Tuan Evan, siapa lagi?" Fawn menanggapi setengah berbisik. "Apa kau tau bos Angga datang hari ini dalam suasana hati yang sangat buruk? Dari ekspresinya, kurasa tuan Evan sudah menciptakan sesuatu yang tidak menyenangkan lagi."
Joseph mengangguk. "Well, aku sudah tidak terkejut."
"Aku jadi prihatin pada bos Angga. Jika begini terus, kupikir dia akan stress dengan segala tekanan yang diberikan tuan Evan."
"Aku hanya tidak mengerti hubungan mereka berdua," tanggap Joseph lagi. "Kupikir mereka berada di sisi koin yang sama, tapi sepertinya mereka juga mempunyai masalah tersendiri."
"Iya, kan? Aku juga merasakan kebingungan yang sama. Setidaknya, kalau mereka akan bekerja sama, lakukanlah dengan tulus dan kooperatif."
"Jika begini terus, posisi kita di sini juga bisa terancam kalau mereka sering bertengkar. Aku tadi malam bahkan memperoleh lirikan yang tidak menyenangkan saat sedang berada di gym. Padahal, aku di sini pun hanya ingin melakukan tugasku."
"Jika bukan karena tuan Evan yang menawan nona Indi, kita sudah pasti pergi dari sini." Fawn mendukung argumen Joseph dengan agak berapi-api. Emosinya yang tersulut karena sudah melihat bosnya dalam suasana hati buruk, semakin membara lantaran mendengar Joseph juga memperoleh perhatian yang tidak menyenangkan oleh orang-orang Evan.
"Menurutmu, Fawn..., kira-kira apa yang terjadi pada tuan Evan dan tuan Angga di atas sana?"
Saat itu juga, Joseph melempar pandangannya kepada jendela balkon yang merupakan jendela ruang kerja Evan Caspian. Daun pintunya yang terbuka menunjukkan keadaan di dalam sana, samar-samar. Tirai putihnya yang berterbangan dan..., oh, Evan Caspian berada di sana, berdiri menghadap Anggara yang datang dan bertamu ke ruang kerjanya.
Kira-kira, apa yang mereka bicarakan? Fawn juga penasaran.
...----------------...
"Duduklah," perintah Evan cuek. Seolah sudah terbiasa pada tantrum Anggara setiap kali mengunjunginya.
"Lepaskan Vera sekarang juga!" Anggara menyampaikan poinnya, cepat dan tepat.
"Dengar, aku akan melakukan apa pun yang kau mau, tapi hentikan segala omong kosong ini..., Vera tidak terlibat dalam apa pun yang terjadi..., dia hanya bodyguard biasa, demi Tuhan! Aku akan meninggalkannya, serius. Jika itu yang kau inginkan, aku akan meninggalkannya..., hanya..."
Hanya jangan menyiksanya. Anggara tidak mau Vera tersiksa.
"Kau menggemaskan. Apa kau mencintainya, Angga?" Evan terkekeh atas rengekan Anggara di hadapannya. Ia tidak menyangka, seorang Anggara akan bertingkah seperti ini hanya karena seorang wanita. Apa Vera benar-benar hanya seorang selingan Anggara atau seseorang yang mempunyai nilai lebih.
Ini menarik.
__ADS_1
"Jangan bicara omong kosong, Evan."
"Bagaimana bisa aku mengutarakan sesuatu yang terbilang omong kosong bila kau bertingkah seperti ini, Angga. Seperti pujangga yang rela melempar nyawanya ke dalam api demi menyelamatkan si tuan puteri. Ahahahaha. Ini lucu sekali."
"Evan, aku serius. Aku..., ini hanya demi kemanusiaan. Aku tidak mau melibatkan seseorang yang tidak berdosa sama sekali dalam situasi ini. Hanya karena kami dekat, bukan berarti kau bisa melibatkannya sebagai alat."
"Kemanusiaan adalah hal terakhir yang perlu kau cemaskan di bisnis ini, Angga. Kupikir kau sudah sangat tau..., di dalam perang, orang-orang tak berdosa akan terlibat juga. Aku pikir kau cukup bijak dan rasional untuk memahami situasi itu."
"..." Anggara bungkam, bukan berarti ia membenarkan tindakan Evan atau tidak mampu membantahnya, Anggara hanya terlalu bergetar dalam emosi yang menguasainya. Ia menahan diri untuk tidak menapak di atas meja kaca itu dan menendang wajah Evan Caspian sampai terlempar keluar jendela. Tidak. Ia harus tetap tenang.
"Vera hanya satu dari sekian banyak korban yang terkena kesialan. Kau tidak perlu dramatis."
Evan tau betapa berdampaknya penculikan Vera terhadap Anggara. Namun, walau ia tau, bukan berarti ia akan bersimpati. Kelemahan yang Anggara tunjukan padanya sekarang, kepatuhan dan keputus-asaan adalah alasan mengapa Evan memutuskan menculik Vera di tempat pertama.
Tanpa membutuhkan bantuan Max, Evan percaya ia mampu melemahkan seorang Anggara dan menjatuhkan pria itu seremuk-remuknya.
"Juga..., asal tau saja, tujuanku menculik Vera tidak semata-mata karena dia mempunyai kaitan padamu, Angga. Aku punya tujuan lain yang lebih penting." Evan melenggang menuju jendela, menatap kepada dua bodyguard Indira yang tengah menatap ke arah balkonnya. Dua orang yang sudah berkeliaran di dalam rumahnya seperti tikus yang suka menempeli hidungnya pada urusan orang lain.
"Apa maksudmu tujuan lain?" Anggara bangun dari sofa dan menatap punggung Evan.
"Jem mengatakan sesuatu tentang aku yang memegang kelemahan Ace. Saat itu aku tidak percaya, tapi semakin aku memikirkannya..., semakin aku membaca ekspresi Vera di bawah sana, semakin aku yakin kalu aku memang mempunyai kunci kemenangan itu."
"Kelemahan Ace? Apa maksudmu?"
"Kau akan tau nanti." Evan berbalik badan dan menatap Anggara. "Kalau kau tertarik, kau dan aku bisa menginterogasi Vera malam nanti."
"Huh?"
"Aku berencana mengakhiri interogasiku hanya sampai malam ini." Evan menatap kukunya sendiri, memperhatikan jari-jemarinya yang mempunyai jejak memar yang muncul akibat keterlibatannya memukul Vera.
"Aku akan membuatnya bicara, bagaimanapun caranya."
Bahkan bila itu berarti mencabut nyawa keluar dari kerongkongannya, Evan akan membuat Vera bicara.
__ADS_1
...----------------...