DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
133. PELUANG


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Indira berdiri di depan jendela yang tertutup rapat. Telapak tangannya menyentuh kaca jendela sementara hujan turun deras di luar sana. Jatuh menabrak kaca dan menciptakan embun tipis di ujung jemari hangatnya. Langit yang menghitam di luar sana dan petir yang sesekali menerangi ruang tidak mempengaruhinya sama sekali. Indira--dengan raut muramnya--masih menatap keluar jendela, hati dipenuhi dilema dan luka.


Hari ini, Indira telah mendapatkan kebebasannya. Tidak, daripada menyebutnya kebebasan, sangkar yang melingkupinya hanya diperluas. Dia--masih berada di atas telapak tangan Evan Caspian. Ia masih memakai rantai tak kasat mata di lehernya.


Hari ini juga, sebagai pertukaran kebebasan yang Indira terima--Fawnia, bodyguard yang sudah ia anggap saudara, menjadi tahanan di kediaman Caspian.


Indira masih tidak mempercayai situasi yang sekarang terjadi, dan masih tidak bisa memaafkan Anggara setelah ia mendengar apa yang sudah Anggara lakukan di belakangnya. Memanfaatkan Fawn sebagai pengalih perhatian di hari pernikahannya adalah satu hal yang sangat berbahaya, dan bukannya memberikan Fawn bantuan dalam misinya, Anggara membiarkan Fawn pergi dalam misi itu untuk mati.


"Kau tau," kata Indira, memecah kesunyian di ruang studi itu. Matanya menyorot pada sosok Anggara yang terpantul samar di kaca. "Jika Fawn bebas dan memutuskan untuk membunuhku, atau membunuhmu..., entah bagaimana, mungkin aku tidak akan menyalahkannya."


"Dia tidak akan melakukan itu, Indi." Anggara meyakinkan. "Kau tau, Fawn. Loyalitasnya besar kepada kita. Dia akan mematuhi, tidak, dia akan mengerti."


"Ada batasan untuk sebuah pengertian, Angga. Aku pun sudah melampaui batas itu sekarang." Indira membalikkan tubuhnya, tangan bersilang di depan dada. "Aku tidak tau kau bisa bertindak sejauh itu, maksudku..., kau bahkan tidak mempertanyakan keputusanku. Apa kau pikir aku akan baik-baik saja kalau sesuatu terjadi pada Fawn?"


"Ini adalah masalahnya, kau terlalu terikat pada Fawn! Aku sudah memperingatkanmu sejak kau masih kecil, Indi. Mereka bekerja untuk kita, untuk melayanimu. Bukan menjadi sosok yang perlu kau cintai setengah mati! Ketika situasi seperti ini terjadi, kau seharusnya mengerti Fawn hanya melakukan tugasnya. Dia sendiri paham akan itu."


"Fawn manusia sama sepertiku, Anggara. Bahkan bila dia tidak dekat denganku, mengirimnya ke dalam misi bunuh diri seperti itu adalah kesalahan. Kau monster."


"Monster ini berusaha melindungimu dari Ace! Apa kau tau apa yang akan terjadi kalau pernikahanmu dan Evan tidak terjadi? Apa yang akan terjadi kalau Ace menangkapmu? Kita semua akan tamat, Indira. Kau tidak akan bisa berada sejauh ini, hidup senyaman ini...,"


Indira mendekati Anggara, duduk di depan pria itu dengan tubuh yang terhempas kasar di sofa. "Kau pikir aku mau hidup seperti ini? Kau hanya menginginkan nama baik keluarga kita tetap cemerlang, Angga. Kau tidak peduli pada realita. Kau tidak peduli kalau menikah atau tidaknya aku dengan Evan, keluarga kita memang sudah ditakdirkan untuk hancur berantakan!"

__ADS_1


"Tidak!" Anggara melawan Indira balik, dengan determinasi yang menakutkan. Sepasang iris madu itu menatap Indira dengan keteguhan. "Aku tidak akan membiarkan keluarga Rashid hancur. Aku akan membuat keluarga kita tetap berjaya. Aku tidak peduli pada takdir, aku akan menuliskan takdir keluarga kita sendiri. Kau harus mengerti ini!"


"Dengan apa? Bagaimana kau melakukannya, Angga? Apa kau akan terus menjilat kaki Evan?" Indira melontarkan kata-katanya seperti racun. Anggara menelan segala hinaannya tanpa kegentaran dan kekecewaan.


"Jika menjilat kaki Evan bisa membuat keluarga kita bertahan, Indira. Aku akan melakukannya." Anggara sudah membulatkan tekadnya. Ia tidak akan mundur di tengah jalan. Jika untuk mempertahankan keluarganya, jika ia ingin melindungi Vera dan Indira, ia rela melakukan apa saja yang diperlukan untuk mencapai tujuannya.


Keheningan menyeruak di antara mereka setelah Anggara sukses membungkam Indira dengan tegas suaranya. Indira kembali merasakan sakit di kepalanya, jantungnya seakan terhimpit oleh perasaan berdosa. Saat itu juga, Indira kembali memikirkan kabar Fawn. Bodyguard kesayangannya tersebut telah sukses menarik perhatian Evan sepenuhnya. Evan akan memanfaatkan Fawn sebagai senjatanya sekarang, senjata yang akan ia gunakan untuk melukai Ace.


Oh.., Ace.


'Apa yang harus kulakukan, Ace?' Indira membatin frustasi. Tidak hanya ia merasa marah pada Anggara yang sudah memanfaatkan loyalitas Fawn, Indira juga merasa sangat terkejut saat mengetahui Fawn mempunyai kaitan dengan Ace. Fawn-nya. Apakah itu artinya selama Fawn menghilang, Ace sudah tau keberadaan Fawn dan membohongi Indira demi mengetahui siapa saja klien rahasia Evan?


Neraka macam apa yang Fawn hadapi atas nama menggantikan dirinya? Indira sangat terluka saat pertanyaan itu menyeruak di benaknya.


Ini sangat rumit. Indira tidak tau harus memihak siapa sekarang. Ia bisa saja memihak Anggara karena pria itu saudaranya, dan Evan jelas-jelas adalah suaminya. Akan tetapi, keduanya telah melakukan kejahatan yang cukup membuat Indira ingin muntah. Jangan lupakan fakta kalau Evan Caspian terlibat dalam pembunuhan orang tua Ace juga. Sialan, apa Anggara terlibat?


"Ya?"


"Jangan menyangkalku atau mencoba menipuku lagi," Indira meraih lengan Anggara dan mencengkeramnya kuat. "Apa kau terlibat dalam pembunuhan itu?"


Anggara seketika menepis tangan Indira dari lengannya, ekspresi marah mekar di parasnya yang memerah. "Apa maksudmu? Apa kau gila? Apa kau pikir aku mampu bertindak sejauh itu?"


"Aku tidak tau seberapa jauh kau mampu melakukan apa pun, Angga. Sulit mengukur tekad seseorang yang serakah." Indira menanggapinya dingin, "Jadi, jawab aku sekali lagi..., apa kau..."


"Tidak!" Anggara membantahnya dan berdiri. "Aku tidak terlibat dalam hal terkutuk itu."

__ADS_1


"Apa kau tau Evan terlibat?"


Anggara mengangguk, suka tidak suka. Ia merasa Indira akan semakin membencinya bila ia berbohong di sana.


"Kau tau Evan adalah bajingan dan kau masih mendukungnya," gumaman Indira penuh kekecewaan.


"Aku mendukungnya karena dia adalah suamimu, Indi. Juga, kapan kau mengetahui ini? Apa Ace memberitahumu atau Evan?"


"Itu bukan urusanmu." Indira merasa jantungnya merosot ke perut. Semua ini semakin berat untuk diproses otaknya.


"Kalau kau tau ini sejak lama, kau seharusnya melarikan diri, bukan? Tapi kau tetap di sini, bukankah itu artinya kau juga mendukung Evan?"


Indira menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, mata terpejam sesaat demi mencerna tuduhan Anggara yang sangat menjijikkan di telinganya. "Aku menetap di sini karena aku adalah tawanan, Angga. Kau yang mengirimku ke sini, dan aku mempercayaimu saat kau bilang ini untuk kebaikan kita."


"Dan aku tidak berbohong, ini memang untuk kebaikan kita, Indira. Kita akan menang dan semuanya akan kembali seperti semula."


"Kau tau, untuk melakukan itu, kau perlu membunuh Fawn dan Ace, bukan?" Indira sedikit tertawa ketika ia kembali membuka matanya, ia menertawai ucapan Anggara yang menurutnya sangat naif.


"Apa menurutmu mustahil untukku--untuk Evan menyingkirkan Ace?"


"Aku adalah teman baik Ace," gumam Indira. Walau ia merasa Ace tidak menatapnya dengan nilai yang sama, Indira selalu merasa Ace adalah sahabat baiknya. Karena itu...,


"Aku tau apa yang pria itu mampu lakukan."


"Tidak." Anggara masih bersitegas. "Sekarang hasilnya akan berbeda, kita mempunyai Fawn. Jika apa yang Vera katakan adalah kebenaran, kalau Ace sangat mencintai Fawn, maka kita mempunyai peluang untuk menyingkirkan Ace sekarang."

__ADS_1


Indira tidak mengatakan apa-apa atas keoptimisan Anggara. Ia hanya duduk bersandar di sana, menatap ke arah Anggara dengan sepasang mata yang mulai kehilangan gairahnya. Ia merasa saat itu juga--ia telah kehilangan masa depannya.


...----------------...


__ADS_2