
FAWN pov
...----------------...
"Aku menyukaimu, Fawnia."
Kata-kata itu adalah sesuatu yang tidak kusangka akan kudengar dari Ace. Tidak ketika kami baru saja menyantap cokelat di sofa seperti anak kecil, beradu mulut ringan karena dia selalu menyebalkan, dan berpenampilan simple dan membosankan.
Pengakuan cinta dipikiranku adalah sebuah momen spektakuler. Sesuatu yang terjadi ketika dua pasangan dalam keadaan fokus dan serius. Sesuatu yang terjadi seperti di drama-drama. Kata-kata pembukanya akan berawal dengan sesuatu yang mendebarkan, lalu pengakuan itu akan menjadi puncak yang membuat hati wanita meleleh ke lantai.
Pengakuan cinta seharusnya sesuatu yang membuatmu berbunga-bunga. Tapi pengakuan cinta seorang Ace Hunter berdampak kepada kebingungan yang luar biasa. Mataku menatap pria itu seolah-olah dia gila dan sedang bercanda. Tapi nihil. Aku tidak menemukan kejanggalan atau tanda-tanda dia akan meledakkan sebuah tawa. Dia menatapku dengan kesungguhan dan ketenangan yang menakutkan.
Apa yang harus kukatakan?
Apa yang kurasakan?
Jantungku berdegup liar.
"Kau..., kenapa tiba-tiba?" Aku membuka suara--dan itu pertama kalinya aku sangat sulit berbicara. Aku merasakan panas tubuhku meningkat seketika.
"Aku pikir sudah tidak ada alasan untuk berpura-pura dan diam." Ace menanggapiku dengan seulas senyuman tipis. Tangannya masih setia menggenggam pergelangan tanganku. Sentuhannya sangat halus, tapi reaksinya terhadap jantungku sangat menggebu-gebu. Aku kesulitan bernapas di bawah tatapan mata itu.
"Bagaimana denganmu, Fawn? Apa yang kau rasakan?"
Pertanyaan yang paling kutakutkan akhirnya menimpaku. Apa yang kurasakan kepada seorang bajingan Ace Hunter? Apa?
Aku..., aku tidak tau.
Cinta adalah sesuatu yang ambigu dan tidak pernah kualami sebelumnya. Aku tidak tau apa yang kurasakan padanya. Aku hanya...
"Apa kau membenciku?"
Idealnya, jawaban untuk pertanyaan itu adalah iya. Sayangnya, aku sudah jauh menyimpang dari rasionalitas, aku..., aku tidak membenci Ace. Tapi bukan berarti aku sudah memaafkannya. Aku hanya..., melunak padanya?
"Aku tidak membencimu," jawabku. Suara bergetar kaku.
"Kalau begitu, jawaban itu saja cukup." Ace menanggapiku dan kali ini memberikanku sebuah usapan lembut di pipi. Telapak tangannya terasa dingin di wajahku. Apakah dia sama gugupnya denganku?
__ADS_1
"Kau tidak perlu menjadikan pengakuanku sebagai beban. Aku mengerti bahwa hubungan kita di mulai dengan sangat berantakan, aku tidak akan mencari pembenaran atau berharap kau melupakan kejadian itu. Aku sudah melakukan banyak kesalahan padamu. Tapi..., meskipun ini egois..., aku ingin kau tetap berada di sisiku."
Bila aku memikirkannya kembali, pengakuan ini baik. Pengakuan ini adalah buah dari rencanaku yang berusaha memikat Ace Hunter. Membuatnya jatuh cinta dan mencintaiku. Ini seharusnya adalah kemenangan bagiku, tapi mengapa aku merasa sendu?
Jika aku meninggalkannya, apa itu berarti aku akan melukainya juga?
"Fawnia?"
"Ma-maaf. Ini pertama kalinya ada orang yang mengaku menyukaiku." Aku memaksakan tawa. "Ini sangat asing dan tabu bagiku. Kau juga..., aku tidak melihat ada alasan mengapa kau menyukaiku."
Aku adalah tawanannya, mainannya. Meskipun kami telah hidup berdampingan, kami tetaplah lawan. Dua orang yang tidak bisa berdamai.
"Ini hanya terjadi." Jawaban Ace sangat tidak membantu. Apa maksudnya dengan ini hanya terjadi?
"Aku menyukaimu, Fawnia. Itu adalah poin utamanya, mengenai hal-hal semacam alasan, kau tidak perlu memikirkannya. Keberadaanmu sendiri sudah cukup untuk menjelaskan perasaanku."
"Apa kau puitis sekarang?"
Ace seketika terkekeh. "Wajahmu sangat merah."
"Sialan, ini semua salahmu!" Aku tidak mengerti dengan diriku yang gampang sekali merona. Bagaimana bisa aku menyembunyikan perasaanku kalau dalam sekejap mata dan sedikit kata-kata manis saja, aku akan merona sampai ke telinga?
"Berhenti mengejekku!" Aku menurunkan tanganku pada akhirnya, mau tidak mau. Lalu, tanpa pertukaran kata dan hanya mata yang saling terpaut dalam ketenangan--Ace mendekat dan memberikan kecupan di bibirku. Jantungku seperti jatuh ke perut.
Kecupan itu sangat lembut dan halus, seperti mencium kelopak bunga sakura di musim semi. Aku memejamkan mata dan kembali membukanya ketika aku merasakan bibirnya meninggalkanku dalam sepersekian detik yang sangat tidak cukup.
"Itu saja?" Aku terpana.
"Apa maksudmu itu saja? Apa kau mau aku memberikanmu lebih?"
Si keparat ini bermain-main denganku. Entah sejak kapan, Ace mulai sering melakukan ini. Menggodaku dengan sentuhan ringan lalu berhenti ketika aku sudah bernafsu. Aku membencinya yang seperti itu. Kemana perginya Ace Hunter yang tidak memberi ampun bahkan ketika aku menangis di bawahnya?
Eh?
Bukan berarti aku mengharapkan sisi psikopatiknya kembali kumat seperti dulu. Aku hanya..., memberikan contoh. Ya. Benar.
"Ace Hunter, kau seharusnya berhenti bermain-main denganku!" Sudah cukup dengan si pria bajingan ini. Dia pikir dia bisa mempermainkanku. Aku juga..., aku juga bisa melakukan hal yang sama, keparat!
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhku lagi!" Aku membuat peraturan itu dengan lengan tersilang di dada. Mataku kuarahkan garang kepadanya. "Mulai hari ini, kau harus tidur di sofa."
"Ini rumahku, kenapa aku harus menuruti ide gilamu?"
"Kalau begitu aku yang bakal tidur di sofa." Ini tidak sulit.
"Apa kau marah karena aku tidak bermain denganmu?"
"Jangan bercanda. Aku sangat bersyukur, sangat senang, sangat le--mmmppp!!!"
ACE HUNTER SIALAN, INI CURANG!!!
Kenapa dia menyerangku tiba-tiba? Ini sangat tidak adil. Ugh!!!
Aku berusaha mendorongnya yang merangkak maju ke atasku, wajah menekan bibirku terus mundur sampai aku terbaring di atas sofa. Cokelat yang berada di pangkuanku jatuh dan mengotori lantai.
Tidak seperti sebelumnya, ketika kecupan yang Ace berikan hanya sebuah kecupan ringan--kali ini dia memborbardirku dengan sebuah pagutan liar yang membuatku kesulitan bertahan. Napasku tersengal-sengal kala pagutannya yang dalam dan memenuhi rongga mulutku tidak lepas bahkan ketika beberapa menit telah berlalu.
"Mhmmm--" Aku melenguh. Berharap agar lidahnya yang mengeksplorasi mulutku berhenti barang sejenak.
Seperti memahami keputus-asaanku, Ace akhirnya mundur beberapa milimeter dari wajahku. Dia menatapku dengan sepasang bola mata berkilau jenaka. "Kenapa? Sudah menyerah?"
"Sialan, apa kau mengerjaiku? Tsk. Apa kau puas sekarang?" Aku mengatur napasku. Mataku menyorot si bajingan itu dengan kekesalan tertahan. Dia bajingan, aku serius. "Minggir!"
"Siapa bilang aku sudah puas?" Ace menekan pinggangnya di pinggangku, menyadarkanku bahwa sesuatu di sana sedang dalam keadaan yang--uh, bangun. "Ini semua salahmu."
Ace berbisik di telingaku sambil menggesekkan tubuhnya dengan tubuhku. Membangunkan gairahku dan mengundangku ke dalam kegilaannya yang lagi-lagi membuatku panas luar biasa. Ini memalukan dan aku tau aku tidak bisa menang. Tidak ketika aku tidak mau menang.
Memberanikan diriku dengan menatap kepada sepasang netra kelamnya yang terbungkus kabut gairah, aku pun menjawab bisikannya dengan bisikan. "Jangan banyak bicara kalau begitu."
Ace menyeringai atas tanggapanku sebelum kembali memberikan kecupan dalam di bibirku. Untungnya, kali ini dia bermain lembut. Aku menarik tengkuknya lebih dalam kepada wajahku sebelum kembali membalas pagutannya dengan intensitas yang sama. Tubuh kami merekat di sofa, berbagi kehangatan ketika matahari mulai tenggelam di luar sana.
"This is so sweet, you're so sweet." Ace berucap di dekat telingaku. Ia menghirup tengkukku dalam-dalam sebelum memberikan gigitan dan hisapan yang menggelapkan mataku. Aku tidak tau mengapa--pemikiran bahwa kami melakukan ini setelah Ace mengakui perasaannya padaku membuat hatiku berbunga-bunga. Rasanya sangat berbeda. Seperti setiap sentuhannya adalah bentuk cinta. Bahwa, pria dengan keindahan tiada dua ini mendambaku di dekapannya--luar biasa.
Aku memejamkan mata. Melepaskan beberapa erangan dan ******* yang merupakan memenuhi ruangan.
Aku tidak tau apa yang kurasakan pada Ace sekarang. Tapi sesuatu--sesuatu yang menakutkan itu mulai terukir di hatiku. Merambat dalam diam dan mencengkram jantungku. Keinginan untuk membuatnya lebih mencintaiku, hanya untukku, obsesi hitam itu melahapku.
__ADS_1
Ini adalah kesalahanku.
...----------------...