DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
66. TAKUT KEHILANGAN


__ADS_3

...ACE pov...


...----------------...


"Aku sudah mengatakan ini dulu, tapi aku akan mengangkatnya kembali." Margot berucap sambil mendudukkan dirinya di sofa. Rambut hitam panjangnya yang tergerai seperti tirai, berayun elegan mengikuti pergerakannya. "Kita seharusnya membunuh Indira sejak awal. Dia sangat tidak berguna dan berbahaya. Lihat, karena pernikahannya dengan Evan, sekarang kita berada di posisi yang setara dengan para bajingan tidak bermoral itu."


"Kau tidak bisa asal bunuh-membunuh saja, Mar." Paman Jack menasehati keponakan sulungnya itu--tapi jujur saja, aku bisa merasakan dia menyesal sudah tidak menuruti ucapan Margot waktu itu.


Melenyapkan Indira bukanlah sesuatu yang sulit. Aku bisa saja melakukannya--baik dulu maupun sekarang. Tapi aku tidak mau tergesa-gesa. Pernikahan Indira dengan Evan pun, kendati ada banyak penyesalan dari paman dan Margot, aku tidak menyesal sama sekali. Aku tidak menyesal karena berkat pernikahan mereka--aku dipertemukan dengan Fawn.


Meskipun awal pertemuan kami sangat berantakan, aku tidak akan menyangkal apa-apa sekarang. Bahwa, Fawnia Alder sudah mengisi posisi terpenting di hidupku. Aku tidak tau bagaimana dia bisa menarik seluruh perhatianku, membuat rubuh pertahananku.


Maksudku, hanya lihat dia..., dia hanya gadis biasa dengan senyum yang menggemaskan. Dia bukan gadis yang mempunyai kepercayaan diri tinggi, dia tidak keras dan dominan, tapi tidak lemah dan tidak lugu sampai-sampai kau ingin melindunginya. Dia hanya..., dirinya.


Aku tidak memahami diriku sendiri. Apa yang menarik dari gadis itu sampai hatiku luluh kepadanya?


Aku tidak ingin menamakan perasaanku kepadanya dengan suatu label yang aku sendiri tau itu apa..., aku takut..., aku takut dia akan mempunyai kekuasaan atasku. Aku takut karena bagiku, cinta adalah kelemahan yang akan mengalahkanku.


"Fawnia..., aku hanya ingin dia menjadi milikku. Hidup untukku. Apakah yang kurasakan sekarang adalah sebuah keserakahan, kau mungkin bisa mengatakannya seperti itu. Aku tidak akan membaginya..., jadi tolong, hiduplah dengan damai dan lupakan anakmu."


Di dalam kamar rumah sakit yang tirai jendelanya terbuka, aku berbisik kepada seorang wanita yang terlelap di atas tempat tidur besi tersebut. Dia adalah Lilian Alder, seorang wanita yang mampu merebut Fawn dariku kapan saja. Sebuah kelemahan dan ancaman yang tidak bisa kusingkirkan. Karena menyingkirkannya berarti menyingkirkan Fawn.


Aku tidak ingin membagi Fawn dengan wanita ini, demi Tuhan. Tapi Fawn bukan milikku sejak awal. Tidak peduli betapa besar aku menginginkannya, mengklaimnya sebagai milikku, sepasang mata rusa itu akan terus berlari ke arah langit biru. Ke arah kebebasan yang berarti bukan aku.


"Bos Ace, tuan Jack menghubungimu." Rio--seorang pengawal yang kutugaskan mengawasi ibu Fawn--masuk ke dalam ruangan.


Terima kasih kepada koneksi kuatku, aku bisa menyusup ke dalam ruangan ini tanpa seorang penjaga dari pihak Anggara yang tau. Tidak mengherankan, mereka sama tololnya dengan Anggara.


"Aku akan pergi sekarang." Aku bergumam, bukan kepada Rio yang menunggu--melainkan kepada ibu Fawn yang tergeletak lemah di sana.


...----------------...


Aku bertemu paman Jack dan mendiskusikan masalah pekerjaan dan masalah menyangkut pemimpin di Hearts. Bahwa, sekarang sedang terjadi perang saudara di kediaman Emery. Terima kasih kepada Jeremy yang baru pulang, dia datang dan langsung menaruh pedang di tahta Jemaine yang memang akan goyah cepat atau lambat.


Mungkin karena pertikaian mereka lah aku jadi tidak pernah mendengar kabar tentang Jem belakangan ini. Biasanya dia akan menghampiriku dan mengomeli ini itu. Jem pandai, jujur saja. Tapi Jeremy jelas lebih kuat darinya dalam kecerdasan. Aku penasaran, siapa yang akan keluar hidup-hidup dari pertikaian itu. Apakah itu Jem atau Jeremy?


"Kau sudah kembali?" tepat ketika aku memasuki kamar, Fawn menyapaku duluan. Aku sudah biasa dengan keberadaannya ke tahap aku tidak terkejut sama sekali bila dia muncul tiba-tiba di depanku.


"Mm..., aku sudah selesai hari ini." aku menghampirinya yang sedang duduk di bibir ranjang. Rambutnya basah dan handuk yang melingkar di pundaknya membuatku tau kalau dia baru selesai mandi.


"Kau seharusnya menungguku," kataku. Aku akan sangat senang bisa mandi dengan Fawn, tapi kesempatan itu tidak pernah datang karena dia selalu menghindariku. Dia begitu takut pada kontak fisik yang terlalu jauh sampai-sampai dia rela tidur lebih awal agar aku tidak sempat melakukan apa-apa padanya.


Dasar menyebalkan, tapi aku memaafkannya karena dia lucu.

__ADS_1


"Apa kau punya hal baik untuk dikatakan selain hal-hal menjijikkan?"


"Ada, aku mau memakanmu." aku kembali memprovokasinya sampai mata rusa itu memicing geli.


"Kau menjengkelkan."


Kendati jengkel dengan sikapku, Fawn tidak memberikan penolakan ketika aku menangkup pipinya dalam tanganku. Merasakan pipi lembutnya di ujung jemariku membuat aku merasa seperti seluruh bebanku terangkat. Dia adalah obat dari segala kejemuanku, rumah untuk aku pulang.


"Apa kau sudah makan?"


"Mm...," Fawn mengangguk.


"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Main dengan Butter."


Aku mengecup kelopak matanya. "Jangan main dengannya, temani aku saja."


"Menemanimu biasanya menyangkut sesuatu yang mesum jadi tidak." Fawn menangkap pergelangan tanganku, ia sepertinya sudah jemu dengan tanganku yang terus mengusap wajahnya. Tapi aku tidak bosan sama sekali. Aku senang menyentuh pipi halus Fawn, senang mencubitnya, senang membuat wajahnya menjadi berbagai ekspresi.


"Aku tidak akan memintamu melakukan sesuatu yang mesum, tenang saja." Aku menurunkan peganganku di wajahnya, turun dan jatuh di pundaknya. Aku menekannya sampai dia terbaring di tempat tidur. Aku menyusul berbaring di sampingnya.


Ugh!!! Fawn meringis.


"Temani aku beristirahat," kataku, lalu menggenggam tangannya yang berada di sisiku. Jemari kami bertaut satu.


Fawn melirikku sekilas sebelum mengendikkan bahu. "Kau sendiri?"


Aku memikirkan cara agar menyimpanmu secara permanen di sisiku. "Aku sedang memikirkan apa yang sedang kau pikirkan."


"Jawaban macam apa itu," Fawn mengeluh.


"Jadi, apa yang kau pikirkan?"


"Kenapa kau penasaran?" Fawn kali ini menoleh dan menatapku heran. Aku turut memalingkan wajahku dan menghadapnya.


"Apa sangat rahasia...?"


"Yaah, tidak juga." pipi Fawn merona. Kontak mata adalah hal sulit baginya. "Aku hanya..., memikirkan ibuku."


"..." aku merasa seperti dipukul di perut.


"Aku mencemaskannya setiap hari. Apakah dia makan teratur? Istirahat teratur? Apa yang dia lakukan? Aku memikirkan hal-hal semacam itu..., kau tau."

__ADS_1


"Hnn, kau anak yang baik, bukan?"


"Aku pikir itu hal yang wajar untuk dipikirkan oleh seorang anak yang jauh dari orang tuanya." Fawn kembali menatap langit-langit. Aku tidak. Aku hanya diam di sana, menatapnya yang kembali merana.


"Kau berbeda, Fawn." bahkan aku tidak mencemaskan orangtuaku seperti dia. Aku kenal puluhan manusia yang tidak merasakan kecemasan yang dia rasakan, aku kenal seorang anak yang rela melakukan kejahatan pada orang tuanya demi profit. Aku hanya mengenal seorang Fawn yang mengabdikan diri dan hidupnya kepada ibunya.


"Berbeda..., jangan bilang kau akan mengataiku tolol lagi."


Aku terkekeh. "Tidak, kau sangat unik."


"Kalau itu dari mulutmu aku ragu. Kau hanya menghinaku sepanjang waktu." Fawn mengomel.


Aku kembali tertawa dan Fawn turut tertawa samar di sebelahku. Gadis ini, bahkan disaat tersulitnya masih bisa tertawa. Dia masih menerimaku di sisinya kendati segala hal nista dan jahat yang pernah kuberikan padanya. Dia seharusnya ketakutan, menatapku dengan kebencian dan kemurkaan, dia seharusnya tetap mengutukku seperti dulu. Seperti ketika kami masih saling membenci.


Tapi seperti dia yang berubah, aku juga berubah. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan dengan perubahan ini. Aku ingin menjadikannya milikku, merengkuhnya ke dadaku.


Tapi, atas segala kejahatan yang kulakukan padanya, segala hina dan siksaan yang kuberikan..., apakah masih ada jalan untuk perbaikan?


Meskipun dia melunak padaku, akankah dia menetap di sisiku bila gelang itu tidak berada di kakinya, membelenggunya?


Aku harap dia menetap.


Tapi aku tau itu harapan yang sia-sia.


"Fawnia,"


"Ya..."


"Pikirkan aku sesekali."


"Kenapa?"


"Aku tidak suka kau memikirkan orang lain."


"Orang itu ibuku, sialan."


Aku tidak peduli. "Bahkan bila itu ibumu."


Memikirkan orang yang jauh darimu hanya membuatmu tersiksa. Keinginanmu untuk pergi akan semakin membesar juga. Aku tidak mau itu.


Tok! Tok! Tok!


"Bos Ace...," suara Carcel membuatku menghela napas panjang. Apalagi maunya?

__ADS_1


"Ada apa?" aku melepaskan genggamanku dari tangan Fawn dan menuju pintu. Carcel berbisik padaku, menyampaikan informasi yang tidak penting sama sekali--setidaknya, tidak lebih penting dari apa yang aku dan Fawn lakukan barusan.


...----------------...


__ADS_2