DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
128. SIAPA?


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Membenci Arcelio Hunter adalah cara termudah bagi Anggara untuk bisa melanjutkan kehidupannya.


Lahir di keluarga yang menuntut kesempurnaan, Anggara yang mengetahui sejak awal kalau dirinya tidak begitu sempurna, memutuskan kalau ia hanya perlu menyalahkan segala kesialan yang terjadi di hidupnya kepada Ace. Karena, hanya dengan begitu ia bisa merasa lega. Ia bisa merasa segala kesalahan dan kesialan yang telah terjadi di hidupnya bukanlah kesalahan dirinya sendiri, melainkan karena Ace Hunter menciptakan standar yang terlalu tinggi untuk dirinya mampu tandingi.


Bukan salahnya yang tidak mampu memperoleh nilai sempurna, bukan salahnya yang tidak bisa menguasai berbagai bidang. Bukan salahnya ia tidak mampu menandingi Ace Hunter yang merupakan seorang prodigi di dunia hitam ini.


Anggara tidak pernah mau menyalahkan dirinya sendiri, karena itu tidak adil. Dia sudah cukup menderita, menyalahkan dirinya sendiri hanya menambah luka di hidupnya.


Karena itu, apa pun yang terjadi di dunia ini, segala hal-hal buruk yang menimpanya, semua itu salah Ace.


Vera yang menghilang dan kemungkinan besar menjadi tawanan Evan Caspian sekarang..., adalah salah Ace. Andai saja Ace tidak menjadi musuh Evan, tidak memancing amarah Evan dengan tingkahnya yang arogan...


Andai saja Ace tidak ada...


"Lagi," Anggara duduk di bibir ranjangnya, wajah terbenam dalam telapak tangan. Pikirannya berkabut hitam.


Vera menghilang. Situasinya akan lebih baik bila Vera menghilang karena Vera membuangnya, meninggalkannya dan membencinya. Namun, situasinya tidak seperti itu. Vera--gadis yang belakangan ini telah menciptakan ketergantungan, kecanduan di hidup Anggara, menghilang karena sesuatu yang Anggara sendiri ketahui alasan dan jawabannya.


Semua ini karena Ace, semua ini salah Ace.


Bagaimana bisa si bajingan itu membiarkan bodyguard-nya tertangkap?


Tidak, bagaimana bisa dia tidak menyelamatkan bodyguard-nya sama sekali ketika dia mempunyai segudang bodyguard berpengalaman?


Anggara tidak mengerti. Ah, tidak. mungkin Anggara mengerti..., apa lagi alasannya kalau bukan karena Ace adalah bajingan sialan yang hanya melihat orang lain sebagai alat yang bisa dia buang?


Vera seharusnya tidak bekerja dengan Ace. Anggara seharusnya menganjurkan Vera untuk berhenti bekerja ketika pertikaian itu terjadi. Namun, ia menutup mata. Ia mengira Vera akan baik-baik saja. Ia terlalu naif untuk menyadari kalau setiap orang yang terlibat pada Ace adalah ancaman di mata Evan. Ia terlalu meremehkan situasi yang sedang terjadi. Ia hanya terpaku kepada situasinya sendiri dan mengira semuanya akan baik-baik saja bila ia pasif.


Memuakkan!


"Apa yang harus aku lakukan?" Anggara bergumam, tubuhnya menggigil dalam kecemasan dan amarah yang berpadu-padan. Vera seharusnya tidak begitu berarti di hidupnya, tapi entah bagaimana Anggara merasakan ketakutan yang luar biasa. Pemikiran bahwa gadis itu bisa saja terluka dan menderita membuat Anggara terbakar oleh api murka.


Evan Caspian tidak akan melepaskan Vera, tidak..., Vera hanya akan menjadi media lain yang Evan gunakan untuk mengekangnya, mengendalikannya.


"Sialan, sialan, sialan!" Anggara menggigit ujung kukunya, ia berusaha menemukan celah untuk menyelamatkan Vera. Ia berusaha menemukan cara agar menjadi berguna.


Wajah Ace kembali muncul di benaknya, menyeringai jenaka.


"Kalau kau seperti ini terus, Anggara. Kau hanya akan menjadi kegagalan di keluarga kita."


"Kau seharusnya bisa lebih baik, Ace menyelesaikan tugas ini di usia yang lebih muda darimu."


"Kau sangat buruk, bagaimana mungkin kau bisa menandingi Ace dengan kemampuanmu yang sekarang."


"Apa kau tau, Ace berhasil melakukan ini..."


"Kau akan menghancurkan keluarga Rashid dengan ketidak-mampuanmu, Angga."


Ace...Ace...Ace....Ace...


"Anggara?" Seperti air dingin yang tiba-tiba menimpa kepala, Anggara yang terbenam dalam pikirannya sendiri spontan terbangun saat ia mendengar suara seorang wanita menyapanya.


"Elle?"


Itu Eleanor. Dia berdiri di depan kamar Anggara, mata menunjukkan keingintahuan. "Apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik." Anggara berkilah. Keringat yang menumpuk di dahinya ia seka begitu saja dengan ujung lengan kemejanya.


"Kenapa kau kemari?" tanya Anggara.

__ADS_1


"Aku datang untuk mengecekmu. Kau tidak bergabung saat makan malam."


"Aku tidak lapar."


Eleanor mengerutkan dahi. "Apa sesuatu terjadi?"


"Tidak, tidak ada."


"Oh, kalau begitu..." Eleanor menahan dirinya agar tidak terus bertanya. Sebaliknya, ia hanya menatap Anggara dari ujung kaki hingga kepala. Memindai pria itu dengan kecemasan samar di matanya. "Ngomong-ngomong, Evan memanggilmu ke mansionnya besok."


"Evan?"


"Ya."


Anggara menarik napas dalam-dalam. Semakin kalut dan tertekan.


"Angga," panggil Eleanor sekali lagi. "Aku tau ini bukan posisiku untuk bicara. Juga, ini akan terdengar agak kasar jadi...,"


"Katakan saja."


"Aku tau kau sebagai pemimpin di keluarga ini pasti mempunyai banyak tanggungan dan beban pikiran, lalu peperangan antara Evan dan Ace juga terjadi. Ugh, yang ingin kukatakan adalah, kau tidak perlu memikirkan semuanya seorang diri. Sekarang, seperti yang kau ketahui Evan mengontrol kita semua..., jadi...,"


"Jadi?"


"Bagaimana kalau kau menyerah mengambil bagianmu dan membiarkan Evan mengontrol semuanya. Maksudku, memang itu agak buruk, tapi itu lebih baik daripada berusaha menentangnya."


"Apa kau pikir aku berusaha menentang Evan, Elle. Aku di bawah kendali Evan sepenuhnya, asal kau tau saja." Di tambah lagi Evan sudah memiliki Vera.


"Bukan seperti itu, kau..., kau masih menunjukkan pemberontakan. Yang kupikirkan adalah, kalau kau akan diperalat olehnya, mengapa tidak menjadi alat saja sekalian. Alat yang tidak perlu memikirkan apa-apa, hanya melakukan tugasnya."


"..."


"Setidaknya, jika suatu kesalahan terjadi..., kau tidak perlu terbebani oleh apa pun. Kau hanya perlu menyalahkan Evan."


"Kau melakukannya lagi," Anggara menatap Eleanor dengan mata meruncing tajam. "Apa kau tidak bosan berusaha meracuni pikiranku dengan omong kosong itu?"


"Apa aku pernah gagal melakukannya?" Eleanor tersenyum samar.


Tidak. Jawabannya adalah tidak.


...----------------...


Vera menemukan kesadarannya ketika ia merasakan sentakan kuat di rantai yang melingkupi tangannya. Kepalanya berdengung, menjeritkan rasa sakit yang luar biasa. Butuh beberapa kali kedipan untuk Vera mampu bisa membuka mata dan beradaptasi pada cahaya lampu yang jatuh di atas wajahnya.


Rasanya sangat menyakitkan, membuka mata dan menemukan cahaya. Bola matanya seperti tertikam.


"Makanlah." Seorang bodyguard yang mengawasinya memberikan sepiring makanan. Vera menatap makanan itu lama sebelum meraih sendok dan mulai menyekop sedikit demi sedikit makanan hambar dan sepertinya..., makanan sisa tersebut ke dalam mulutnya.


Keparat, kalau bukan karena dia tidak boleh mati di sini, Vera mungkin akan melempar piring kaca itu ke kepala si bodyguard seperti hari-hari kemarin. Sayangnya, Vera merasa ia sudah mencapai batasnya. Bila ia tidak makan lagi hari ini, kemungkinan besok ia akan terbangun dan langsung mengadap yang maha kuasa.


"Kalau kau tidak keras kepala, kau tidak perlu menderita sejauh ini." si bodyguard bicara. Seolah-olah Vera peduli saja.


"Pikirkan sikapmu lagi nanti ketika bos Evan kembali. Jika kau tidak mau mati dengan cara yang sangat menyakitkan, sebaiknya kau bekerja sama."


Vera menyelesaikan makanannnya tak lama kemudian. Tanpa menanggapi si bodyguard sama sekali, Vera lalu bermeditasi. Ia memejamkan mata, mengosongkan pikirannya dan mengabaikan rasa sakit yang mendera tubuhnya. Hanya tenang dan fokus. Tidak ada dinding yang lebih tinggi yang bisa memerangkap pikiranmu sendiri. Kau bebas selama kau tidak membiarkan siksaan itu menjadi penjara yang memerangkap akal sehatmu.


Benar, pikirkan hanya hal-hal menyenangkan. Hal-hal yang membahagiakan. Bayangkan dirimu berada di lapangan terbuka..., bermandikan hangat cahaya mentari musim semi. Dandelion berterbangan mengikuti tiupan angin sementara ujung jemarimu menyapu halus tangkai-tangkainya yang sayu...


Pikirkan Anggara di sana...


Tunggu, kenapa Anggara ada di sana?


Vera membuka mata dan mengernyit pada pikirannya sendiri. Ia seharusnya bermeditasi, bukan memikirkan sosok Anggara yang omong-omong, pasti mencemaskannya. Oh, Anggara.

__ADS_1


'Apa dia tau aku terperangkap di sini?' Vera bertanya-tanya sambil menggigit dinding pipinya. Ia merasa lebih baik setelah bermeditasi, tapi pemikiran tentang Anggara mengambil ruang tersendiri di benaknya.


"Kau terlihat lebih baik hari ini," Evan Caspian datang.


Sialnya, Evan Caspian datang.


Mood Vera yang baru saja membaik, seketika buyar saat ia melihat sosok arogan keriting itu memasuki ruangan. Vera menahan napasnya. Ia belum pulih dari pukulan yang dia terima kemarin, bila ia memprovokasi pria itu lagi hari ini, kemungkinan organ tubuhnya tidak akan sanggup lagi. Dia akan mati.


"Apa kau masih sekeras kepala kemarin?" Evan duduk di bangkunya, mata menyorot Vera seperti menatap seekor anjing di kandang. Senyumnya mengembang menyiratkan keramahan yang berpadu dengan kelicikan.


"Keras kepala adalah kepribadianku, jadi yah..., jangan terlalu berharap banyak tentang perubahanku." Vera memutar mata.


"Awww, itu imut. Setidaknya seseorang punya kepribadian selain menjadi anjing yang membosankan." Evan terkekeh. "Tapi, Vera. Kalau kau tidak berubah..., kau akan menjadi anjing yang akan disuntik mati. Tidak peduli betapa menggemaskannya seekor binatang, bila tidak bisa dijinakkan, mereka lebih baik dimusnahkan."


"Maaf sebelumnya, apa kau membicarakanku atau dirimu sendiri?"


PLAK!


Satu tamparan mendarat di wajah Vera, seperti biasa.


"Aku pikir kau mau bicara..." Vera meludahkan salivanya yang bercampur darah ke tanah. Kekesalannya kembali memuncak.


"Memang benar, aku mau bicara. Karena itu, sebaiknya kau menghormati lawan bicaramu."


"Apa aku melukai harga dirimu, yang mulia?" Vera berucap pada Evan sebelum mendelik kepada si pengawal yang berada di dekatnya. "Apa anjing di keluarga Caspian tidak punya kepribadian sama sekali? Mereka seperti kloningan es batu yang diberi nyawa."


"Kepribadian tidak dipentingkan di sini, selama mereka bisa bekerja dengan baik."


"Yaa, katakan itu kepada bawahanmu yang kupukul hari itu. Ah, bagaimana kabar mereka?" Vera mengejek. "Aku yakin salah satunya sudah mati."


"Kau kelihatan senang sudah membunuh orang, Vera. Apa itu kriteria bodyguard di kediaman Hunter? Psikopat?"


"Kau bisa berpikiran seperti itu," kata Vera sebelum menyeringai.


Tidak. Bukan berarti Vera membenarkan kalau seisi bodyguard di kediaman Hunter adalah psikopat haus darah. Vera hanya mengatakan apa saja untuk membuat Evan iritasi. Mungkin, dengan memberikan Evan informasi palsu itu Evan akan merasa waspada atau ketakutan.


Terserahlah, Vera hanya tidak suka membantah. Ia lebih senang menuang bensin ke dalam api. Menciptakan keributan yang lebih besar daripada yang sudah ada.


"Kalian orang-orang yang cukup menarik." Evan tidak terpancing emosinya kali ini. Dia membiarkan Vera dan lebih memilih melanjutkan ucapannya. "Anyway, aku mendengar informasi menarik belakangan ini, Vera. Informasi tentang kelemahan seorang Ace Hunter."


"Kelemahan? Pfft. Omong kosong dari mana itu?" Vera membuang muka, ia menatap kepada apa pun itu selain Evan Caspian karena ia merasa ia menemukan kemana topik itu akan berlanjut. Itu berbahaya dan ia harus menghindari topik itu sepenuhnya.


"Aku juga akan menganggap itu omong kosong andai saja Ace tidak memukul rekannya sampai hampir mati karena perihal itu." Evan kembali melanjutkan. "Jemaine Emery bukan pria baik, tapi dia adalah sosok yang masih Ace hargai keberadaannya. Tidak peduli betapa beracunnya Jem, Ace tidak menaruh kepedulian pada pria itu untuk sampai menyentuhnya, menghancurkannya."


"Aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu."


"Tidak, aku rasa kau mengerti." Evan terkekeh saat ia membaca perubahan ekspresi di wajah Vera. Benar, gadis itu pasti memahami sesuatu. Dia adalah sosok yang cukup dekat dengan keluarga Hunter. Sesuatu yang penting pasti sudah terjadi.


"Ace tidak akan membuang-buang energinya dengan menyakiti Jem sampai menghilangkan segala kekuatan yang Jem miliki, tetapi Ace melakukan itu. Melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan."


"Ini mulai membosankan," Vera tidak mau mendengar ini. Sialan.


"Aku adalah teman Ace, asal tau saja. Kami cukup dekat saat sekolah. Aku tau Ace adalah orang seperti apa. Aku tau dia tidak suka menaruh kepedulian pada hal yang tidak menarik minatnya. Jadi..., apa itu? Apa hal yang sudah menarik minatnya?"


"Oh. Jadi, apa itu pertanyaanmu?" Vera menatap Evan, menatap pria itu dengan ketegaran dan sikap cuek yang dipalsukan. "Aku tidak tau apa pun. Kenapa aku harus tau hal-hal yang di luar tanggung jawabku."


"Berhenti bermain-main denganku, aku tau pembohong ketika aku melihatnya."


"Haaa..., apa untungnya aku membohongimu?"


Evan bertepuk tangan sekali. "Benarkan? Apa untungnya kau membohongiku, Vera? Katakan saja..., apa hal yang sudah menarik minat Ace saat itu, atau lebih tepatnya..., siapa?"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2