
...ACE pov...
...----------------...
Fawn sedang memangku Butter di sofa ketika aku pulang. Dia melirikku sekilas, menyunggingkan senyuman tipis lalu kembali menaruh perhatian pada kucing pemalas dan manja itu. Aku menaruh tas kerjaku di atas meja sebelum bergabung dengan Fawn di sofa.
Butter--kucing sialan yang berada di atas pangkuan Fawn itu membuka matanya malas dan menatapku. Aku menatapnya kembali dengan delikan sinis.
"Jangan mengajak Butter bertengkar, bisa?" Fawn menatapku dengan kejemuan.
"Kau seharusnya mengatakan itu padanya. Dia yang menatapku duluan."
"Itu karena kau selalu garang, Butter jadi waspada denganmu."
"Kau terlalu memanjakannya." Aku duduk di samping Fawn dan keberadaanku memang sukses membuat kucing berbulu abu-abu itu bangun dari posisi manjanya. Bagus. Sekarang pergi dan berhenti mengambil spotku.
"Butter, tenanglah. Ace tidak akan mengganggumu." Fawn mengusap kepala kucing penuh drama itu dengan penuh cinta dan kelembutan yang membuatku memutar mata tidak tahan.
"Aku di sini dan kau masih saja memikirkan kucing itu." Aku mengeluh. Serius, haruskah aku menyingkirkan kucing ini? Dia mulai membuatku iritasi. Fawn mencintainya sangat banyak dan itu tidak baik. Fawn seharusnya hanya mencintaiku.
"Kau bertingkah seperti anak-anak." Fawn mendorong pundakku dengan pundaknya. "Tidak perlu bertengkar dengan binatang, bahkan bila kau tidak menyukainya. Kau bisa mengabaikannya saja, kan?"
"Masalahnya, dia mengganggu orang yang kusukai." Aku menanggapi Fawn tanpa keseganan. Sebagai tanggapan atas kejujuranku, Fawn langsung terbungkam malu. Pipinya merona hingga ke telinga.
"Kau menjengkelkan, sebaiknya kau pergi mandi." Dia mengusirku sebagai gantinya.
Aku tidak menuruti Fawn, tentu saja. Sebaliknya, aku meraih Butter dari pangkuannya dan menaruh kucing itu ke lantai. Fawn hendak memprotesku tapi berhenti ketika aku mengambil posisi Butter di pangkuannya.
"Seriusan, kau memang anak-anak."
"Kau benar," kataku tanpa keberatan. Bila berada di pangkuannya membuatku menjadi anak-anak, aku baik-baik saja dengan sebutan itu. Fawn bisa melabelkan segala nama padaku selama itu berarti aku bisa berada sedekat ini dengannya, merasakan kehangatannya, menghirup aroamanya.
"Apakah ini adalah sisi Ace Hunter yang tidak pernah kulihat sebelumnya?" Fawn menunduk demi menatapku, tapi dia berakhir malu dan kembali mengangkat wajahnya. Lucu, sangat lucu. Aku bisa mati.
"Apa kau semanja ini ketika menyukai seseorang?"
"Apa kau penasaran karena kau cemburu?"
"Kenapa kau menarik kesimpulan sejauh itu, aku hanya penasaran, oke!"
__ADS_1
Tidak, masalahnya..., aku hanya senang membayangkan kalau Fawn memikirkan segala probabilitas tentangku. Aku ingin dia terus memikirkanku sampai dia melupakan kalau ada dunia lain di luar sana. Sampai ia melupakan segala hal selain aku.
"Aku tidak pernah menyukai orang lain sebelumnya" kataku.
"Bercanda ya?"
"Aku serius."
"Bohoooong. Mustahil sekali." Fawn menyangkal ucapanku dengan dengusan geli. Tapi aku tidak berbohong. Aku tidak pernah merasa ketergantungan sebesar ini kepada seseorang. Bahkan ketika aku masih hidup dalam kebebasan, aku hanya meluangkan waktuku dengan wanita untuk bersenang-senang. Tidak ada satu dari sekian banyak wanita yang kukenali, mampu membuatku jatuh seperti sekarang. Jatuh seremuk-remuknya kepada seorang Fawnia. Bodyguard yang datang ke kehidupanku seperti bintang jatuh.
"Aku mungkin terlihat populer di matamu, tapi aku tidak pernah menjalin hubungan serius sama sekali."
"Yayayayaya, tenang saja. Aku sangat mempercayaimu." Suara itu sarkastis. Aku tidak mengerti cara meyakinkan Fawn. Seperti apa aku di imajinasinya, gadis tolol ini...
"Bagaimana denganmu, apa kau pernah menyukai seseorang sebelumnya?" Aku menanyai itu tapi seketika menyesal. "Tidak..." selaku cepat. "Jangan menjawabnya."
"Huh, kenapa?"
"Aku tidak mau tau jawabanmu." Aku pikir aku bisa membunuh orang itu kalau aku sampai tau.
Fawnia--kendati aku adalah pengalaman pertamanya dalam hal 'kau tau apa', aku tetap tidak tau apakah dia pernah menjalin hubungan dengan seseorang sebelumnya. Memikirkan kalau dia pernah mendambakan seseorang sebelumnya sebagaimana aku mendambakan ia sekarang membuatku sangat sangat tidak senang. Aku mungkin bisa meremukkan tengkorak seseorang hanya dengan adrenaline yang muncul akibat emosiku.
Aku mengangkat tanganku dan mencubit pipinya. Kulit halus itu seperti ekstasi bagiku.
Selagi aku menyamankan diriku di pangkuan Fawn juga, aku kembali teringat pada ucapan Rio kepadaku beberapa waktu lalu. Bahwa, ibu Fawn akan melaksanakan operasi seminggu lagi untuk memasang penopang yang mampu membantu jantungnya berfungsi lebih baik.
Aku jujur saja cukup terkejut. Aku tidak mengira penyakitnya akan menjadi sedrastis itu. Jika Fawn tau penyakit ibunya..., segala kebahagiaan yang kumiliki sekarang sudah pasti akan---
"Apa yang kau pikirkan?"
"Fawnia..."
"Mmmm?"
Ini sedikit serakah, tapi kumohon..., jangan pergi dariku. Aku akan memastikan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik di dunia ini. Hanya..., kau tidak perlu tau tentang segala hal itu.
"Lupakan saja."
...----------------...
__ADS_1
Margot mendatangiku malam ini. Di ruang diskusi ketika aku hanya ingin sendirian, merokok dan meminum segelas anggur dari lemari--Margot malah merusak malam tenangku. Dia dalam piyama satin hitam dan masker tisu yang membuat wajahnya seperti hantu--masuk ke dalam ruang diskusi dan duduk berseberangan dariku di bangku tunggal yang terpajang di dekat jendela. Asap rokokku berayun lembut di udara--mengikuti tiupan angin yang masuk melalui jendela yang terbuka.
"Kau tau merokok sangat tidak baik untuk kesehatanmu, bukan?"
"Karena kau menyinggungnya sekarang, aku pikir aku baru tau." Aku menimpalinya sinis.
"Kau harus menjaga kesehatanmu kalau kau mau hidup lebih lama."
Apa dia datang kemari untuk menghakimi pola hidupku?
"Katakan itu kepada kebiasaan minummu. Kau pikir aku tidak tau kau menghabiskan berliter-liter alkohol di Leviathan?"
"Well, tidak sepertimu--aku tidak ada niatan hidup panjang." Margot menimpaliku dengan ketenangan yang membuatku berpikir wanita itu serius. Serius gila.
"Aku hidup hanya untuk melihat musuh-musuhku berjatuhan." lanjut Margot lagi. "Dan terima kasih kepada adikku tercinta, aku bisa melihat kepala Evan Caspian sedang kebakaran sekarang."
"Apa kau tidak punya obsesi lain?" Aku penasaran pada hal ini karena Margot sangat sangat terobsesi pada kematian orang tua kami. Aku mencemaskan kesehatan mentalnya, jujur saja.
"Jika aku mempunyai obsesi lain, kupikir aku sudah mengkhianati ayah dan ibu. Bayangkan, bagaimana mungkin aku mampu berbahagia di atas kematian mereka?"
"Kau berhak berbahagia, Mar. Kau tidak bertanggung jawab atas kematian mereka." Aku tidak ingat sudah berapa kali aku mengatakan ini kepada Margot, tapi aku tidak bisa berhenti sampai dia mendengarkanku.
"Kau tidak mengerti Ace, kau tidak ada di sana ketika aku bersama mereka..., aku sangat berbahagia. Kau meninggalkan mereka karena kau bisa hidup bahagia tanpa mereka. Tapi aku tidak. Kau hanya akan tau itu ketika orang yang kau cintai pergi dari hidupmu."
Pembicaraan kami kembali berputar-putar di topik yang sama. Bahwa ucapanku tidak akan pernah mencapai Margot dan Margot--dia tidak akan pernah lepas dari obsesinya.
"Lupakan masalahku---aku dengar kau berhasil menyegel proyek dengan beberapa orang yang bekerja sama dengan Evan sebelumnya. Aku sangat senaaang. Ini luar biasa. Kepala si Evan Caspian itu pasti mendidih panas sekarang kalau dia tau klien-nya mengkhianati dia."
"Jangan terlalu senang, ini masih awal." Lagipula, semua ini berkat Indira yang mengkhianati suaminya sendiri. Dia menjual nama klien Evan kepadaku sebagai janji kosong bahwa aku akan mencarikan Fawn untuknya. Sungguh tolol. Fawn bersamaku. Aku tidak akan memberitahu kalau orang yang memisahkan mereka sejak awal adalah aku sendiri. Orang yang paling Indira percayai sekarang.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Ace?"
"Ya, apa?"
"Kau terlihat...., aneh." Margot mengomentariku dengan mata penuh keingintahuan. "Kau tau, aku bisa membantumu kalau kau punya kesulitan."
"Tidak, tidak ada." Aku lekas menggelengkan kepala. Aku tidak mau memberitahukan Margot yang gila tentang kecemasanku terhadap keberadaan Fawnia. Hanya Tuhan yang tau bagaimana cara otak wanita sinting itu bekerja.
Segala hal tentang Fawnia...aku hanya ingin memerangkapnya di hidupku selamanya.
__ADS_1
...----------------...