
...FAWN pov...
...-----...
"Trik untuk membuat Ace bosan adalah..." Margot mendekati telingaku dan hendak berbisik, tapi tindakannya terhenti ketika Jem berdeham keras.
"Ekhhmmmm!!!" Si keparat itu, kenapa dia tiba-tiba membuat suara---oh!
"Ace, kau dataaaang." Jem menyapa Ace yang baru memasuki kamar. Senyumnya mengembang lebar dalam kecanggungan dan keakraban yang dibuat-buat. "Aku dan Margot baru saja mencarimu."
Apa Jem berdeham keras agar memberi peringatan pada nona Margot tentang keberadaan Ace?
Sialan, padahal sedikit lagi aku akan tau rahasia mengenai cara membuat Ace bosan. Sekarang, aku perlu menunda keingintahuanku dan melibatkan diri dalam konversasi tidak penting mereka.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" Ace menanyai Jem dan sesekali melempar pandangan ke arahku. Aku menatapnya dengan kejengkelan tertahan. Aku masih marah atas tindakan Ace malam itu. Aku tidak percaya dia memaksaku berhubungan dengannya hampir semalaman. Dia bahkan tidak memberiku waktu beristirahat. Pria keparat mesum! Aku harap dia tersedak dan mati!
"Aku sedang menunggumu. Kudengar dari Jerome kau sedang melakukan inspeksi ke gudang dan akan kembali pagi ini."
"Huh, jadi..., kau memutuskan menungguku di kamarku?" Ace sepertinya tidak suka pada tindakan Jem. Yah, itu masuk akal. Aku sendiri pun tidak akan merasa nyaman bila ada orang yang masuk ke kamarku sesuka mereka. Ini sudah termasuk pelanggaran privasi. Ditambah lagi, aku tidak suka melihat Jem masuk ke sini. Pria itu memancarkan energi misterius yang tidak menyenangkan.
"Aku bersama Margot," jawab Jem, seolah-olah tidak bersalah.
"Jangan bawel, aku membawa Jem ke sini karena aku tidak mau dia menunggumu di ruang diskusi sendirian. Lagipula, di sini lebih seru, kan? Kami bisa mengobrol dengan Fawn yang kelihatannya sudah bosan bermain monopoli dengan Haru." Margot menyelamatkan Jem dari Ace. Aku penasaran, apa ada hubungan di balik kedekatan mereka? Hmmm, ini lebih menarik.
Ace melonggarkan dasinya dan duduk di bahu sofa. Sepasang netra kelamnya menyapu meja yang masih berantakan oleh permainan dan cemilan. Seulas seringai tipis terukir di parasnya ketika dia melihat ke arahku. Entah apa yang ada di otak mesumnya itu.
"Jadi Ace..." Jem menarik perhatian Ace dariku sambil memiringkan postur duduknya menghadap Ace. "Aku punya ide menyenangkan."
"Apa itu?"
Jem menyatukan kedua tangannya di dada dan membuat senyuman lebar yang membuatku sakit mata. Pria itu tampan, tapi entah mengapa, segala tentangnya terasa seperti kepalsuan. Aku sulit melihatnya dalam lensa positif mengingat apa yang sudah berusaha ia lakukan pada nona Indira.
"Bagaimana kalau kita pergi ke mall hari ini? Apa kau tidak bosan bekerja? Mari bermain, ya, ya, ya?" Jem memohon kepada Ace seperti bocah yang memohon pada ibunya. Aku menatap interaksi mereka dengan kening mengkerut bingung. Apa kepala Hearts tidak malu bertingkah kekanakan?
"Aku tidak tertarik. Bermain hanya membuang waktuku."
"Oh, ayolaaaah..., sekali-sekali kau juga butuh istirahat."
"Aku memang pulang untuk beristirahat, Jem. Kalau aku tidak meladenimu sekarang, aku sudah pasti pergi mandi dan tidur."
Ucapan Ace memang benar. Terkadang, ketika Ace harus bekerja lembur dan pulang pagi, pria itu akan langsung mandi dan tidur. Satu-satunya alasan dia tidak melakukannya sekarang adalah keberadaan Jem di sini. Aku sudah hidup cukup lama di sini untuk paham kebiasaan Ace, ini menakutkan.
__ADS_1
"Fawn..." kata Jem lagi, mengungkit namaku. "Bagaimana dengan Fawn...?"
"Ada apa dengannya?" kata Ace.
Aku tidak mengerti kenapa diriku dibawa-bawa ke dalam percakapan mereka. Apa ini salah satu trik yang dibuat Jem agar Ace mau menurutinya? Sungguh tolol, aku tidak penting sama sekali untuk Ace. Dia tidak akan peduli pada apa pun yang kau katakan bila itu menyangkut aku!
"Fawn sedang bosan, tau."
"Lalu?"
Sudah kubilang, kan?
Jem menarik napas. Sepertinya dia juga agak frustasi pada tingkah apatis Ace. Rasakan, itu adalah temanmu!
"Fawn sedang bosan, Ace. Apa kau tidak mengerti. Peliharaan kesayanganmu perlu refreshing, jika tidak, dia akan mati bosan di sini." nona Margot menyahut sambil menjual namaku. Tapi, entah mengapa aku setuju. Aku juga sudah sangat bosan sekarang. Kalau ada jalan agar aku bisa keluar sebentar saja dari sangkar ini, aku rela menjual sebelah ginjalku untuk itu.
"Jadi, kau mau aku mengajak dia keluar? Apa kau tidak memperhitungkan bahaya dari membawanya keluar sana?" Ace nyaris tertawa saat bicara.
"Dia tidak akan melakukan apa pun, kau tau Fawn sudah menjadi gadis yang sangat penurut padamu selama ini." nona Margot meyakinkan. Dia bahkan sampai menarik leherku dalam rangkulannya. "Iya, kan Fawn? Kau pasti tidak akan berulah, kan?"
Aku tidak bisa berjanji. Tidak peduli seberapa besar kontrol mereka terhadapku, ada masanya ketika aku ingin melarikan diri dan lepas kendali. Tapi tentu saja, karena ini demi bisa keluar, aku menahan isi hatiku yang sesungguhnya dan membual dengan senyuman.
Gelang di kakiku adalah tanda kelemahanku. Bukti bahwa Ace memiliki kuasa atas hidupku saat ini. Sialannya, karena gelang yang dia pasang, aku sudah hidup seperti binatang. Aku benci mengakui ini, tapi setiap kali aku melihat gelang yang dipasang di kakiku, aku merasa sudah kehilangan jati diriku. Aku sudah tidak punya kendali pada hidupku sendiri.
"Apa kau sebegitu inginnya keluar?" Ace--mengabaikan Margot yang menjadi spasi di antara kami, meraih pipiku dalam jangkauan jemarinya. Dia mengusap pipiku dengan gerakan lembut yang membuatku merinding. Dia bertingkah manis dan itu sangat bukan dirinya. Kupikir Ace pasti berkepribadian ganda.
"Aku..., uh..." jemari Ace menyapu permukaan bibirku. Mata kami bertemu, tapi kelembutan itu membuatku seketika menghindari tatapannya. "Aku bosan di sini," kataku memberanikan diri.
Jantungku berpacu laju.
"Baiklah, kalau begitu...." Ace menyanggupi ajakan Jem setelah melepaskan tangannya dari pipiku. Dia kembali berekspresi datar dan bangkit dari bahu sofa. Matanya menatap Jem dengan kejemuan yang kentara. "Aku akan mandi dan sebelum itu..., Margot, aku mau kau mempersiapkan Fawn dengan pakaian yang lebih layak untuk dibawa keluar."
"Itu tugas yang gampang." nona Margot sangat senang. Aku tidak.
Aku tidak mau refreshing sambil memakai pakaian serba hitam! Hei! Setidaknya pinjamkan aku baju bodyguard Haru, maka itu sudah cukup. Sialan!
"Haru, panggil Vera dan beritahu dia untuk membawakan tas belanjaanku kemarin."
"Baiklah, bos Margot." Haru menuruti permintaan nona Margot dan bergegas keluar.
"Kalau begitu, aku sepertinya akan menunggu di ruang diskusi." Jem ikut bangkit dari sofa dan melemparkan seulas senyum jenakanya pada aku dan nona Margot. "See you later."
__ADS_1
"Hmmm, later." nona Margot menanggapi Jem dengan cengiran sebelum akhirnya berbalik menghadapku. Cengiran nona Margot masih sangat lebar. Aku tidak tau kenapa dia sangat antusias. "Ini akan seru, aku selalu ingin menghias perempuan lain."
"Huh, begitukah?" Aku menanggapi dengan senyuman paksa. Apa nona Margot tidak pernah bermain boneka sebelumnya? Sikapnya yang antusias pada hal yang tidak penting semacam ini sangat asing bagiku.
"Bos Margot?" Vera datang dengan sebuah paperbag merah berukuran besar. Nama brand ternama terukir di bagian depan tas tersebut. "Aku sudah membawakan ini."
"Bagus," jawab nona Margot, dia merebut kasar tas yang dibawa Vera dan mengambil isinya dengan agresif. Aku dan Vera saling lirik tapi tidak mengatakan apa-apa.
Sebuah midi dress musim panas berwarna biru muda dengan motif bunga daisy memenuhi latarnya dikeluarkan nona Margot dari tas itu. "Pakai ini," ujarnya padaku seperti perintah.
"Ini?"
Tidak. Aku tidak mau! Dress? Aku tidak pernah memakai dress! Terlebih dress dengan potongan yang memamerkan tubuhku. Aku, jujur saja, sangat tidak percaya diri dengan tubuhku sendiri! Aku adalah gadis yang merasa cantik bila memakai pakaian bodyguard, bukan dress mewah dengan belahan lebar dari pangkal paha ke betisnya. Apa guna roknya yang panjang bila pada akhirnya kakiku akan terekspos setiap kali aku melangkah?
"Uh, apa tidak ada yang lain? Kupikir aku akan nyaman dengan kaos dan celana jeans saja, nona Margot."
"Kau akan hangout dengan keluarga Hunter dan Emery, Fawn. Kau sudah seharusnya tampil layak dengan pakaian simple ini."
"Tapi aku tidak..."
"Fawn," Vera menengahi keluhanku dan bergerak maju untuk membisikkanku sesuatu. "Sebaiknya kau menurut sebelum dia memaksamu memakai pakaian yang ada di lemarinya, Fawn. Percayalah itu lebih ekstrim dari yang di tanganmu sekarang."
"Kau serius?" Aku menanggapi Vera dengan bisikan rendah.
"Dia punya selera yang sangat absurd, percaya padaku."
"Apa yang kalian berdua bisikkan?" Margot berbicara dengan suara sangat keras. Tangannya terlipat di dada, kesal luar biasa.
"Bukan apa-apa, bos Margot. Aku hanya menyampaikan kalau dress yang bos Margot pilihkan adalah dress yang sangat cantik. Fawn pasti sangat cocok memakainya." Vera berbohong dengan lancar, aku takjub.
"Huh? Aku harap kau tidak menghinaku." nona Margot menunjukkan kecurigaan.
"Mana mungkin, bos Margot. Ahahahaha, aku tidak mungkin melakukan hal senista itu. Benarkan, Fawn?"
"Y-yaa." Kenapa aku dipaksa berbohong juga?
"Kalau begitu..., pakai dress itu sekarang juga. Jangan menunda waktu, Ace akan keluar sebentar lagi dan kau belum dirias sama sekali."
Oh, apa riasan juga perlu?
...--------...
__ADS_1