DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
143. PESAN TERAKHIR


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Keadaan di Clubs dan Spades memburuk. Walau Max sudah bekerja keras untuk memperbaiki kerusakan yang sudah Ace ciptakan, menambal kapal yang cepat atau lambat akan karam adalah pekerjaan percuma. Max tau ini bukan berarti ia sudah menemukan jalan buntu, masih ada solusi untuk bangkit kembali. Hanya saja, pertanyaannya apakah ia siap untuk menempuh solusi terakhir itu?


Masalah Max sangat banyak dan sekarang ia mendengar kabar lagi mengenai puteranya yang berhasil meracuni Ace Hunter. Entah metode apa yang Evan gunakan, Max merasa tindakan itu tidak akan memberikan dampak baik kepada situasi yang sudah terjadi sekarang.


Max lelah, tapi ia tidak bisa menyerah. Ia tidak bisa membiarkan Evan terpuruk bersamanya. Tidak setelah segala hal yang ia lakukan agar putera tunggalnya tersebut berbahagia.


"Tuan Max..."


Sebuah ketukan muncul di pintu kerjanya yang terbuka. Sekretarisnya berada di sana.


"Seseorang hendak menemuimu. Dia berada di lobi sekarang."


"Siapa?"


"Margareth Hunter."


Haaa...


"Apa yang wanita itu inginkan?"


Max memicingkan matanya heran. Apakah Margareth datang untuk mendeklarasikan perdamaian? Itu bisa saja mengingat apa yang terjadi pada Ace. Pemimpin mereka melemah sekarang, solusi terbaik untuk bertahan adalah dengan mundur dari pertikaian.


Akan sangat bagus kalau mereka memang mendeklarasikan kekalahan, akan tetapi..., mengapa Max merasakan ketidak-nyamanan luar biasa? Apakah ini karena sosok yang mendatanginya adalah Margareth Hunter? Wanita yang bahkan tidak pernah melibatkan dirinya secara aktif dalam pertikaian keluarganya?


Apa yang Jack Hunter pikirkan sampai dia mengirim keponakan perempuannya ke pertempuran? Apa dia sangat pengecut sampai berlindung di balik punggung keponakannya sendiri?


Max mengetuk-ketuk telunjuknya di meja sebelum membuat keputusan. "Biarkan dia naik."


Setelah membuat keputusan tersebut, Max pun menegapkan punggungnya. Ia sekarang dalam mode siaga, siap untuk menyambut tamu yang membawa nama Hunter di belakangnya.


Sekitar sepuluh menit kemudian, sosok yang ia tunggu akhirnya datang. Margareth Hunter, seperti yang selalu dideskripsikan orang-orang, adalah wanita yang berpenampilan seperti di pemakaman.


Gaun hitamnya adalah hal pertama yang menarik perhatian Maximillian, sampai kemudian pria itu menyadari keberadaan 3 bodyguard di belakang Margareth. Max tidak begitu mengenali dua bodyguard Margareth, tapi ia mengingat tentang Vera. Wanita yang dikencani Anggara.

__ADS_1


Melihat wanita itu masih setia di belakang Margareth, itu artinya Anggara gagal menjinakkannya. Tidak, sejak awal..., rasanya memang agak janggal bila wanita itu menaruh hati pada Anggara. Terkecuali bila itu perintah dari tuannya.


"Selamat datang, Margareth." Max mempersilakan Margareth masuk ke dalam ruang kerjanya. "Rasanya sangat mengejutkan mendapat kunjungan dari pihak Hunter, terlebih itu dirimu."


Margareth bukan pion yang bergerak di depan, dia berada di belakang. Berdiri berdampingan dengan Ace dan mengamati jalannya permainan.


"Mau bagaimana lagi? Tidak ada banyak Hunter yang tersisa di keluarga kami." Margareth menyeringai tipis.


"Ah, itu masuk akal. Sekarang hanya ada kau dan Ace. Bicara soal Ace, bagaimana kabarnya? Aku mendengar berita kalau dia jatuh sakit? Itu mengejutkan."


"Ahaha..." Margot tertawa hambar sebentar. Sepasang iris obsidiannya menatap Max dengan ejekan yang berpadu dengan kejengkelan. "Well, rumor hanyalah rumor. Ace sangat sehat. Jika dia tidak sehat, mustahil bagiku berada di sini sekarang. Toh, yang memerintahkanku kemari adalah dia."


"Huh..., aku senang mendengarnya." Max tidak begitu yakin apakah Margareth mengutarakan kejujuran atau hanya berusaha menakut-takutinya. Kata Evan, racun yang Ace minum sangat berbahaya. Ace bahkan keluar dari restoran dengan ambulan. Jadi...


"Jadi, Margareth..., apa yang dapat kubantu?"


"Awww, aku bahkan belum duduk..., tidak bisakah kita bicara santai sambil meminum teh?"


Max tertegun. Ia mengira kedatangan Margareth tidak akan lama. Ini langka. Apa yang hendak ia bicarakan? "Maafkan ketidak-sopananku..., mari." Max mau tidak mau menuruti Margareth dan berpindah dari meja kerjanya menuju sofa abu-abu yang terpajang di dekat dinding kaca. 


"Ingatkan aku untuk berendam dalam air garam nanti," kata Margareth, suara rendah dan jengah.


"Baik, Bos." Vera menanggapi sambil mengulum senyum tipis.


Setelah itu juga, Vera kembali mundur dari sisi Margareth dan menjaga jarak aman dari bosnya tersebut.


"Mungkin karena aku yang jarang menghadiri pesta dan jarang bertemu denganmu, aku tidak menyadari perkembanganmu sama sekali, Margareth. Ini pertama kalinya kita berbincang lama." Max kembali berbicara.


"Aku bukan orang yang aktif dalam menghadiri pesta," tanggap Margareth.


Perbincangan itu mulai membosankan ketika tidak ada kesamaan topik yang bisa dijadikan bahan pembicaraan. Margareth sendiri bukan tipe gadis yang senang memulai pembicaraan, terlebih ketika orang yang berada berseberangan dengannya adalah Maximillian. Mereka lebih cocok saling melempar pisau daripada melempar obrolan.


"Permisi," sekretaris Max kembali masuk dengan membawa dua cangkir teh.


Ia menyerahkan segelas ke hadapan Margareth, sementara segelas lagi kepada Max.


"Maaf sudah merepotkan," kata Margareth kepada Max.

__ADS_1


"Jangan sungkan."


Saat itu pun, ketika Max menyesap teh di gelasnya, ia menyadari sebuah kejanggalan dari cara Margareth menatapnya. Gadis itu seperti menunggu ia menyesap teh dari gelas itu, seakan-akan...


"Aku tidak menyangka kau meminumnya langsung," ucapan Margareth membuat jantung Max seperti jatuh ke perut. Mata pria itu melebar dalam keterkejutan sementara teh yang berada di dalam mulutnya--belum habis ditelan--merosot keluar dan membanjiri dagunya.


Apa Margareth meracuninya?


Max seketika meludahi teh yang masih tersisa di mulutnya, kehebohan dari reaksinya membuat para bodyguard dan sekretarisnya berkumpul di pintu dengan siaga.


"Apa yang terjadi bos?" Si sekretaris maju dan menyerahkan tisu.


"Benar? Apa yang terjadi?" Margareth terkekeh. "Apa kau takut sekretarismu meracuni minumanmu, tuan Max?"


"..." Apa Margareth mempermainkannya? Mustahil wanita itu mampu meracuninya di sini, bukan? Hah?


Kenapa aku bisa termakan kepanikan?


"Jangan mencemaskan apa pun, Maximillian. Melihat caramu menatapku, kau mencurigai aku meracunimu." Margareth menyilangkan kakinya dengan elegan. "Akan sangat mudah bila aku mau melakukan itu, jujur saja. Tapi, aku punya nama Hunter yang perlu kujaga reputasinya."


"..."


"Tidak seperti seseorang, kami bukan pengecut yang akan menggunakan racun sebagai metode eliminasi. Jika kami menginginkan menyingkirkan musuh, kami lebih senang ketika mereka datang ke pangkuan kami dan menyerahkan diri." Margareth melirik David dan meminta bodyguard-nya tersebut untuk menyerahkan sebuah amplop kepada Max.


"Itu adalah pesan khusus dari Ace. Tugasku adalah untuk menyampaikan surat itu kepadamu langsung. Aku harap kau membaca isinya dengan baik-baik dan teliti, karena ini akan menjadi hari terakhir kami Hunter menahan diri."


Dengan deklarasi yang keluar dari bibir merahnya, Margareth pun berdiri dari sana. Tidak ada lagi yang perlu Margareth tunggu di sana, tidak ada yang perlu dibicarakan pula. Margareth hanya menginginkan satu hal, yaitu pulang dan membakar gaun yang ia pakai untuk bertemu dengan Max hari ini.


"Apa kau pikir aku akan membiarkanmu pulang begitu saja setelah menapakkan kakimu di sini?"


"Jangan melakukan sesuatu yang sia-sia, Max." Margareth berhenti di depan pintu. "Jika aku jadi kau, aku lebih memilih membaca isi surat itu daripada melukaiku."


"Kalian para Hunter memang sangat arogan!"


"Aku akan dengan senang hati menganggap ucapanmu sebagai pujian."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2