
...ANGGARA pov...
...-----...
"Aku tidak akan bertanya kalau kau tidak mengambil bodyguard-ku sesukamu, Angga. Ini sudah sebulan lamanya dan aku tidak mendengar apa pun tentang Fawn. Apa kau yakin dia baik-baik saja?" Suara Indira ketika meneriakiku tadi sore menambah beban berat di ubun-ubunku.
Fawn, Fawn, Fawn!
Indira terus mencemaskan kabar bodyguard-nya. Mencecarku pagi malam agar mengatakan keberadaan Fawn. Aku ingin menjawab Indira 'tidak tau, dia mungkin sudah mati', tapi aku tau itu akan membuat Indira berubah gila.
Sialan, kenapa dia menjalin ikatan terlampau kuat kepada pengawalnya sendiri? Mereka bekerja untuk melindunginya, bukan sebagai aksesori yang bisa dia ajak bermain kapan saja. Peluang untuk mereka hilang dan digantikan oleh pekerja lain sangat besar, dia seharusnya mengerti saat aku mengatakan Fawn kupindahkan ke tempat lain dan berhenti bertanya.
Apa dia mau aku sebegitu frontalnya dan mengatakan Fawn sudah mati?
Indira, oh, Indira.
Terkadang menanganinya membuatku semakin sakit kepala. Tidak hanya Indira adalah sosok yang keras kepala, dia juga bukan sosok yang mudah diyakinkan. Dibalik kelembutan dan sikapnya yang penuh kasih sayang, dia adalah gadis yang sekeras batu. Aku tidak tau apalagi yang dia rencanakan di balik keras tempurung kepalanya tersebut. Aku pikir dia akan membunuhku kalau dia tau Fawn sudah mati.
Apa Fawn sudah mati?
Sialan, aku jadi memikirkan ini. Gadis itu terhebat dalam bela diri, tapi aku tidak yakin. Bila lawannya adalah peluru, bela diri tidak akan cukup untuk melindunginya.
Aku ingin menyelamatkan Fawn, jujur saja..., memberikan bantuan kepadanya kalau-kalau dia berhasil menghubungiku tentang lokasinya. Tapi nihil. Aku bahkan tidak tau siapa yang menculik Fawn. Semua informasi itu dipegang oleh Evan. Evan yang mengatakan tentang kemungkinan penculikan Indira di hari pernikahannya, dia jugalah yang memintaku menyiapkan seorang pengantin pengganti untuk mengelabui lawan.
Sekarang sudah sebulan berlalu, persentase nyawa Fawn masih terselamatkan sudah menyusut ke nol persen. Siapa yang mau mempertahankan nyawa seorang pengawal yang tidak berguna?
Evan juga--ular berbisa itu. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan sekarang. Dia memintaku bertemu dengannya seminggu yang lalu. Sejak saat dia dan aku melakukan pertemuan, ini sudah ke lima harinya aku berkurung ke Leviathan, sebuah club malam terbesar di Selatan. Beban di kepalaku menumpuk, tempat pelarian terbaik adalah alkohol.
Aku ingin merendam habis segala depresiku, aku ingin lupa terhadap perjanjian yang Evan paksakan padaku. Aku ingin lupa segala rahasia yang seharusnya tidak kuketahui.
Keparat, aku ingin mati! Dunia ini terlalu penuh akan hal-hal yang tidak mampu kuhadapi.
Duduk di sofa merah yang terpajang di bibir pagar balkon lantai dua sambil bermandikan kemilau cahaya dari lampu club malam yang membutakan mata, pikiranku perlahan-lahan mengembara. Musik yang memekakan telinga membuat jantungku berdentum mengikuti nadanya. Aku mendesahkan napas lelah saat lagi-lagi ucapan Evan menyusup kepikiranku.
"Lakukan ini demi keluargamu, Anggara. Sebagai pemimpin keluarga Rashid, ini saatnya kau menunjukkan kalau kau adalah sosok yang kompeten dan dapat diandalkan."
__ADS_1
Si bajingan itu bicara seolah-olah dia lebih hebat dariku. Kalau bukan karena tindakan orang tuanya yang biadab, dia tidak akan berdiri di singgasana tertinggi sekarang. Aku--walaupun aku tidak kompeten dan tidak lebih baik dari Ace Hunter, aku tidak akan pernah mengotori tanganku sejauh yang sudah Evan lakukan.
Aku tidak akan mau menapak ke levelnya. Aku seharusnya tidak.
Argh! Aku mau berteriak saat lagi-lagi ingatan tentang aku yang menyetujui perintah Evan muncul di benakku.
Dengan frustasi, aku menenggak habis segelas tequila di meja. Menelan alkohol itu hingga leherku sepanas api tungku.
"Well, well, well..., lihat siapa yang kita temukan di sini." Sebuah suara feminim wanita menyapa telingaku. Aku tidak tau siapa, tapi ketika aku menoleh..., wajah penuh kesinisan itu menjadi sangat familiar.
"Margareth Hunter," kataku. Melafalkan nama itu seperti melafalkan kutukan. Aku sangat jemu sekarang, dan keberadaan gadis itu di sini tidak memperbaik situasi. Aku semakin teringat oleh wajah Evan. Si bajingan Caspian itu sudah memakukan ucapannya di benakku layaknya mantra hitam.
"Apa yang kau lihat!" dengusku, aku kembali menuangkan sebotol tequila ke gelasku dan menenggaknya sedikit.
"Aku pikir kepala keluarga Rashid adalah pria teladan yang anti terhadap club malam." Margareth bergerak maju dan duduk di sofa seberangku. Pakaian hitamnya sesaat menarik perhatianku. Sesuatu tentang Margareth adalah, dia tidak seperti ini sebelumnya. Dia adalah gadis secerah pelangi, dan melihatnya dalam pakaian serba suram membuatku masih tidak terbiasa.
"Aku berhak pergi kemana pun aku mau," tukasku. Hanya karena aku dirumorkan sebagai anak baik-baik di luar sana, bukan berarti aku akan mengikuti reputasi itu. Aku adalah aku. Jika aku mau tenggelam dalam lautan gin dan vodca, maka aku akan melakukannya.
Aku--aku seharusnya orang yang sebebas itu.
Ucapan Evan malam itu hadir di pikiranku seperti setruman listrik. Aku yang sedikit teler, melirik Margareth yang duduk bersilang kaki di depanku.
Jadi...
Jadi..., inilah yang dimaksudkan Evan sebagai awal yang baik untukku? Dia benar-benar ular berbisa!
Sialan, keparat! Aku tidak bisa melakukan ini!
"Kau sudah teler, Anggara. Berhentilah minum dan pikirkan martabatmu sedikit."
"Apa pentingnya martabat," aku sudah dilucuti habis oleh keluarga Caspian. Aku tidak punya apa pun yang mampu kulakukan selain menjadi boneka yang jika dia mau aku menari, aku akan menari. Aku akan berakhir sebagai alat dan kepala palsu di keluargaku. Aku benar-benar tidak pantas hidup.
Semua ini kesialan, kutukan. Semua ini salah Ace Hunter! Dia seharusnya tidak lahir dengan sangat sempurna! Tuhan seharusnya tidak pilih kasih terhadap anak itu! Ace membuatku berantakan, hidupnya yang sempurna menghancurkanku. Melihat saudaranya duduk di seberangku membuat emosiku semakin memuncak.
"Ohoh, laki-laki ini sangat tolol. David, apa kau melihat keberadaan bodyguard-nya?" Suara Margareth samar-samar menyusup ke telingaku, tapi aku tidak mengerti sama sekali apa yang dia ucapkan. Aku lebih tertarik kepada ruangan ini yang mulai berputar. Rasanya seperti berada di angkasa.
__ADS_1
"Aku tidak melihat siapa pun, Bos. Kemungkinan dia datang sendiri."
"Tsk, sangat idiot. Tidak heran dia jauh lebih tolol dari Ace. Siapa yang pergi tanpa membawa bodyguard-nya. Dia pikir mengganti kepala keluarga segampang mengganti ****** *****? Kita sebaiknya pergi saja. Tinggalkan si dungu ini kalau-kalau kau tidak mau tertular dungu."
"Baik, bos Margot."
Aku memejamkan mata, panas alkohol yang mengisi perutku tiba-tiba merayap naik ke kerongkonganku. Membuat aku menjadi mual luar biasa. Kepalaku yang pening semakin pening ketika aku berdiri. Aku tidak tau kemana Margareth Hunter dan pengawalnya pergi, tapi aku yang sudah sangat ingin mengeluarkan isi perutku meraba-raba jalan menuju toilet.
Warna lampu yang berkedip-kedip menyakitkan tambah membuat pijakanku tidak seimbang. Aku terus melangkah, menggapai-gapai jalan sampai aku merasa seseorang menarik pinggangku dan membawaku menuju toilet. Tubuhku seketika limbung ketika aku memuntahkan segala isi perutku di lantai kamar mandi.
"AAAGGHH!!" Teriakan jijik dari orang yang membawaku samar-samar terdengar. Keparat, aku ini adalah kepala keluarga Rashid! Muntahanku lebih berharga daripada kepalamu, bajingan!
"Ugh, kalau bukan karena Fawn, aku akan membiarkanmu mandi dengan muntahanmu sendiri." suara itu lagi-lagi merengut. Tapi nama Fawn dalam ucapannya membuatku bingung. Siapa orang ini?
Kepalaku masih pusing, jadi untuk membuka mata sangat sulit bagiku. Aku hanya merasakan air menyentuh wajahku dan sebuah tangan yang mencuci jejak muntahanku dengan kasar. Aroma lembut seperti minyak aromaterapi menusuk hidungku samar, datang dari pergelangan tangan orang itu.
"Berdirilah dengan benar! Sialan, kau berat!"
Masalahnya, aku tidak bisa berdiri dengan benar. Tulangku seperti jelly. Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri dan saat ini, hanya kepala dan telingaku lah yang berfungsi. Aku--seberapa banyak tequila yang kuminum tadi?
"Bos Margot..., Bos Margot...." Diseret oleh sosok asing itu, aku yang sadar tidak sadar kembali mendengar suaranya. Dingin angin luar menyapaku seketika. Suara yang berdentum dan menyakitkan telingaku juga sudah tergantikan oleh suara angin malam.
"Apa-apaaan?" Suara Margareth mengisi telingaku. "Kenapa kau membawanya kemari? Apa yang kukatakan tentang tidak dekat-dekat dengan orang dungu agar kita tidak tertular tadi tidak sampai ke telingamu?"
"Bukan begitu masalahnya, Bos. Aku pikir dia sudah tidak bisa bangun."
"Lalu apa yang kau harapkan? Aku membangunkannya?"
"Kita tidak bisa meninggalkannya di sini." suara di sampingku agak memelas. "Bagaimana kalau mengantarnya pulang?"
"Tsk..., ini memuakkan. Baiklah, lempar dia ke bagasi!"
"Bos Margot!!!" suara di sampingku mengejutkan.
"Sialan, aku datang ke sini untuk melepas penatku, kenapa aku harus berurusan dengan sampah keluarga Rashid ini? Sudahlah. Bawa dia masuk!"
__ADS_1
...-----...