DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
122. HITAM


__ADS_3

"Aku terlalu banyak menghabiskan waktuku di gym belakangan ini." Ucapan yang keluar dari mulut Joseph saat itu terdengar seperti keluhan, sebuah rengekan yang berpadu dengan kekesalan.


"Jika seperti ini terus," kata Joseph, dia berhenti bicara sebentar dan melirik kepada Fawn yang bersandar di pagar balkon. "Aku bisa-bisa menjadi pria dengan tubuh seperti atlet binaraga."


"Bukankah itu bagus?" Fawn menanggapi.


Saat itu, di bawah langit malam bulan September, Fawn bersama Joseph lagi-lagi menghabiskan waktu mereka dengan minum kopi bersama di sebuah balkon lantai dua yang sunyi. Tentu saja, di luar balkon ini para bodyguard banyak berlalu-lalang dengan misi misterius yang Fawn dan Joseph tidak ketahui. Mereka hanya orang luar di sini, keberadaan mereka seperti tidak kasat mata.


"Kau tau aku sering mengatakan tentang aku yang tidak mau mati sia-sia, bukan?" Joseph kembali bicara. Seakan tanggapan lempeng Fawn tidak cukup menjadi tanda kalau gadis itu malas bicara. "Sekarang, setelah menganggur nyaris 2 bulan di sini, aku pikir mati saat bekerja lebih baik daripada mati bosan."


"Jangan mendramatisir, Joe. Kau tidak akan siap ketika maut tiba-tiba menyapamu. Untuk sekarang, anggap saja ini liburan." Fawn mengatakan itu dengan kebijakan dan ketenangan yang membuat Joseph teringat mengapa gadis itu memiliki jabatan yang lebih tinggi darinya. Namun, yang Joseph tidak ketahui, walau sudah bijak, Fawn merasa ucapan Joseph ada benarnya.


Fawn merasa hidupnya seperti apel yang perlahan-lahan membusuk di atas meja. Tidak tersentuh sama sekali. Seakan-akan energi kehidupan perlahan memudar dari tubuhnya, meninggalkannya dalam kehampaan dan kehidupan yang sama dan membosankan.


Dia hanya bangun, mengelilingi rumah, memperhatikan keadaan mansion tanpa terlibat sama sekali di dalamnya, membaca pergerakan orang di sana. Lalu, ketika situasinya masih sama, belum berkelanjutan ke tahap ekstrim, Fawn akan berakhir di siklus yang sama lagi. Terus mengamati.


"Aku heran tuan Ace belum muncul ke depan gerbang ini dan meruntuhkan mansion keluarga Caspian. Apa yang dia tunggu, memangnya?"


"Kalau kau bicara begitu," tanggap Fawn. "Evan juga sama saja, kan? Mengapa dia belum menyerang keluarga Hunter?"


"Kalau itu sih jawabannya sudah jelas. Keluarga Hunter bukan keluarga yang bisa kau serang begitu saja. Di tambah lagi, mereka tinggal di bukit, mereka punya pertahanan yang tinggi. Kita yang menyerang dari bawah akan mati sebelum kita menekan bel pintu rumahnya."


"Sekali lagi, kau terlalu mendramatisir."


Fawn tau kalau secara geografis, letak mansion Ace yang berada di atas puncak memang sangat strategis. Mereka memiliki posisi yang membuat mereka mampu bertahan dan mampu menyerang musuh dengan efektif. Akan tetapi, hanya karena posisi itu strategis, bukan berarti posisi itu tidak mempunyai kelemahan.


Fawn merasa, Evan masih cukup cerdas untuk tau cara menggerilya mansion keluarga Hunter. Yang perlu dipermasalahkan adalah skill para bodyguard Ace. Mereka sudah seperti sarang monster.


"Aku dengar segala permasalahan menyangkut bisnis diambil alih oleh tuan Max."


Fawn mengangguk. Dia juga mendengar informasi yang sama.


"Kalau begitu, artinya sekarang lawan tuan Ace adalah tuan Max, kan?"

__ADS_1


"Begitulah." Fawn mengangguk lagi.


"Jika situasinya sudah seperti itu, kurasa tidak ada alasan untuk tuan Evan mengurung bos Indi lagi, kan? Maksudku, kalau yang mengontrol segala permasalahan dan segala urusan menyangkut keluarga Rashid sekalian adalah tuan Max, tuan Evan seharusnya tidak terlibat apa-apa lagi."


Fawn menyesap kopi di tangannya sebelum menaruh perhatian kepada cahaya kendaraan yang menerobos tidak jauh melalui tirai hutan. Sebuah mobil sepertinya sedang mendekat ke sini. Di malam hari ketika waktu sudah menunjukkan pukul 10.


"Aku rasa tuan Evan bukan tipe yang akan lepas tangan hanya karena tuan Max memutuskan terlibat dalam masalahnya." Fawn bersuara, pikirannya terbagi dua. Bertanya-tanya tentang siapa gerangan yang datang dan di sisi lain, ia menganalisa tentang keputusan Evan dalam situasi yang Joseph jelaskan.


"Dia adalah pria kompeten," gumam Fawn. "Setidaknya, meskipun dia tidak kompeten di mata tuan Max, tuan Evan merasa dirinya kompeten. Pria semacam tuan Evan dipilih menjadi pemimpin dan sudah membuktikan kepemimpinannya dalam tiga tahun belakangan sebagai pemimpin nomor 2 terbaik setelah tuan Ace. Pria seperti itu memiliki ego tinggi..."


Sebuah mobil RV hitam memasuki pintu gerbang, mata Fawn mengikuti mobil itu yang terus masuk menuju garasi pribadi yang hanya digunakan oleh Evan Caspian.


"Pria dengan ego besar seperti tuan Evan tidak mungkin akan lepas tangan terhadap masalah yang sudah ia kerjakan sebagian. Mereka haus apresiasi dan kredit."


Benar, sejak awal..., hasil dari pertikaian ini adalah tentang apresiasi dan kredit semata. Siapa yang bisa mengalahkan siapa akan berakhir menjadi dewa.


Balas dendam itu hanya berarti untuk Margot.


Bagi Ace, mungkin itu kelegaan karena sudah terbebas dari kutukan saudaranya.


...----------------...


...----------------...


5 jam sebelumnya.


'Belikan aku Caramel Macchiato dan chipotle.'---pesan itu datang dari Margot, mendarat di ponsel Vera tepat sebelum Vera memasuki gerbang depan kediaman Hunter. Security yang bertugas menjaga gerbang baru saja membuka gerbang untuk Vera, mempersilakan gadis itu masuk. Vera yang menerima pesan dari Margot menghela napasnya panjang-panjang. Tak berselang lama, kepalanya keluar dari jendela mobil.


"Tutup kembali gerbangnya," ujar Vera kepada si security. Ia kembali ke tempat duduknya sebelum memutar mobil kembali ke arah jalan raya.


"Sialan," Vera mengumpat sebelum melempar HP-nya ke kursi penumpang.


Sementara Vera menyetir mobil sedan hitam itu menuju sebuah rumah makan siap saji, sebuah RV hitam membayangi jejak mobil Vera. Mengikuti pergerakan Vera dalam jarak yang tidak begitu jauh untuk membuatnya kehilangan pandangan pada kendaraan Vera, namun tidak cukup dekat untuk membuat Vera curiga. Dan, itu berhasil. Vera memarkirkan mobilnya di area parkir tanpa perasaan waspada.

__ADS_1


Dengan langkah kaki yang berat, Vera memasuki rumah makan berwarna merah tersebut. Mata Vera memindai kiri dan kanan, memperhatikan jumlah pelanggannya yang kebanyakan remaja. Setelah tiba di depan meja kasir, Vera membuat pesanannya dan menunggu di sebuah meja kosong. Sambil menunggu, Vera membuka ponsel dan bermain game.


Hingga akhirnya, setelah sepuluh menit berlalu, pesanan Vera pun siap.


Vera keluar dari rumah makan itu dengan menenteng sebuah paperbag. Vera harap, ini adalah pesanan terakhir Margot. Ia tidak mau wanita itu mengerjainya dengan mengirimkan pesanan tambahan setelah Vera di ujung gerbang. Itu menjengkelkan. Juga, ingatkan Vera kembali mengenai keberadaan Felix yang sebenarnya mampu membuatkan pesanan Margot. Bosnya itu hanya senang membuat ia tersiksa.


Vera terus merutuk dalam kepalanya sampai..., sampai rutukan itu teredam oleh perasaan lain.


Vera, di pertengahan jalannya menuju mobil, menaruh perhatiannya kepada beberapa orang berpakaian hitam yang berada tidak jauh dari mobilnya. Lebih tepatnya lima orang.


Vera awalnya mencoba mendeteksi mereka dari wajah, tapi ia tidak mengenal siapa pun. Lalu, perhatian Vera tertuju kepada cincin yang melingkupi jari kelingking orang-orang itu, cincin di jari kelingking adalah identitas bodyguard keluarga Caspian. Vera mengingat seseorang bernama Rishan mengenakan cincin di lokasi yang sama dan ugh.


Mereka pasti menargetkanku.


Vera tidak butuh mata elang atau insting tajam untuk mampu membaca situasi yang ia hadapi sekarang. Intinya, sekarang ia sedang dalam kesialan.


Saat itu juga, kendati Vera memiliki opsi untuk segera berlari, Vera memilih terus melangkah. Ia mengatur napasnya, menjaga jantungnya agar tetap berdetak dalam ritme normal.


Ini tidak akan berakhir lama, lima orang seharusnya bukan masalah. Setidaknya, begitulah yang Vera pikirkan sebelum ia merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya, cukup kasar dan memutarnya. Vera menepis tangan itu seketika dan memberikan tendangan memutar yang membuat spasi di antara dirinya dan ke lima orang yang sekarang mengitarinya. Paperbag yang berisi pesanan Margot sudah jatuh di tanah.


Vera dalam mode siaga, kaki terbuka dalam kuda-kuda, tangan siap menggapai pistol di punggungnya.


Satu serangan datang dari kiri, dengan kecepatan tinggi. Vera menghindari tinju itu sementara memberikan serangan balasan dengan meninju lawan yang lebih besar darinya tersebut di lutut. Si pria terjatuh dengan satu lutut di tanah, dan sebelum ia bangkit, Vera menambah serangannya dengan menyiku wajah pria itu dengan lututnya. Cukup kuat sampai lawannya itu jatuh ke tanah.


Setelah itu juga, serangan datang silih-berganti. Tanpa menunggu satu melawan satu, mereka mengerumuni Vera dengan serangan yang tidak bisa Vera halau semuanya. Sebagian dari pukulan dan tendangan berhasil sampai kepada Vera, membuat gadis itu terpental dengan darah mengalir di sudut bibir dan pelipisnya.


Vera--kendati menerima serangan dari segala arah juga berhasil mengurangi jumlah penyerangnya menjadi tiga orang. Dua orang telah tumbang, salah satunya Vera percaya telah mati karena..., yah, Vera memelintir lehernya. Satunya lagi, Vera ragu..., dia tidak bergerak, tapi serangan Vera di lehernya tidak cukup untuk membunuh.


Napas Vera tersengal.


Saat ia berhasil meruntuhkan satu orang lagi tanpa sempat meraih pistol di punggungnya, Vera hendak menyerang orang berikutnya..., orang yang sialnya...


Vera merasakan setruman kuat mendarat di pinggangnya. Mengejutkannya. Menggelapkan seluruh pandangannya. Hitam.

__ADS_1


Sebelum Vera menyadari apa yang terjadi di belakang sana, sebuah tinju sudah menyegel kesadarannya. Ia jatuh di tanah. Wajah berbaur keringat dan darah.


...----------------...


__ADS_2