
...NORMAL pov...
...----------------...
"Mulai hari ini, tugasmu adalah menjadi pengawal nona muda Margot." Seorang pria paruh baya berbicara kepada seorang gadis muda yang melenggang di belakangnya. Mata pria itu kemudian menyorot keluar jendela, kepada seorang gadis lain yang berpenampilan seperti pagi musim semi, cerah dan ceria.
"Beliau adalah nona Margot, dia adalah puteri sulung di keluarga ini dan merupakan calon pemimpin kita di masa depan."
"Pemimpin?" Vera--gadis dengan piercing tajam menikam telinga--ikut menatap keluar jendela. "Kupikir pewaris utama keluarga ini adalah tuan muda Ace." Vera yang saat itu baru bergabung di keluarga Hunter tidak tahu-menahu tentang situasi di dalam mansion itu. Ia pun mengetahui tentang Ace hanya karena ia perlu mencaritahu keluarga seperti apa yang hendak ia layani.
"Kulihat kau sudah melakukan penelitian tersendiri." Felix--si pria paruh baya--tersenyum samar atas kecermatan Vera dalam membaca kejanggalan yang terjadi di sana. Kejanggalan mengenai mengapa seorang Margareth Hunter dijadikan pemimpin ketika adiknya--Ace Hunter masih bernapas dengan sehat di luar sana.
"Aku hanya membaca sedikit di internet," Vera tidak mau kedengaran sok tau, jadi ia segera meralat Felix.
"Pengetahuanmu tidak salah, hanya saja..., beberapa hal sudah berubah."
Vera melenggang melewati satu-persatu dinding kaca. Matanya memindai ke arah Margot yang sedang berbaring santai di atas bangku panjang yang menghadap kolam renang. Gaun floral kuning terang yang Margot pakai berbaur indah dengan lingkungan hijau dan biru kolam yang melingkupinya. Margot sedang membaca, dan saat itu..., ia terlihat amat damai.
"Apa itu artinya tuan muda Ace tidak akan menjadi pemimpin di sini?"
Sepengetahuan Vera, Arcelio Hunter adalah sosok yang dikenal sebagai penerus keluarga Hunter. Image itu sudah tersebar di mana-mana, menjadi topik perbincangan hingga di berita. Pemuda itu tidak hanya gemilang dalam segala hal, juga terkenal mempunyai rupa yang mampu menakhlukkan hati wanita. Vera sendiri pernah kagum pada wajah muda Ace yang terpatri di koran, sampai dia sadar Ace adalah langit dan dia adalah bumi. Kotoran di bumi. Kekaguman itu berubah menjadi keseganan.
"Tuan Ace..., memutuskan untuk menarik diri dari penerus keluarga Hunter."
"Eh?"
"Karena kau baru di sini, Vera. Aku akan memberikanmu nasihat yang harus perlu kau ingat. Tuan Ace bukan sosok yang bisa kau singgung namanya dengan enteng. Setidaknya, di rumah ini..., nama itu cukup tabu. Kuharap, kedepannya kau tidak melakukan kesalahan dan membuat bos Harkin dan bos Hannah marah."
"Tapi, kenapa?" Vera pikir si bungsu itu adalah anak mereka. Mereka terlihat sangat akrab di foto dan berita. Vera tidak ingat sudah melihat Ace sebagai sosok yang dikucilkan oleh keluarganya sendiri.
"Ketidaktahuan adalah berkah, Vera. Aku akan sangat senang kalau kau hanya fokus pada pekerjaanmu dan oh, aksesoris dilarang di sini." Setelah Felix membungkamnya mengenai masalah Ace, Vera tidak lagi bertanya apa-apa pada pria paruh baya itu.
Namun, beberapa hari setelah ia menetap di mansion itu, Vera mengetahui satu hal. Arcelio Hunter mencabut dirinya sebagai pewaris utama di Diamonds dan Hunter lantaran sebuah ide yang ia ciptakan membuat Harkin Hunter bergidik tidak senang.
Lalu, beberapa tahun kemudian berlalu..., ketika Harkin dan Hannah pergi dari bumi ini, pergi meninggalkan Margot menjadi sosok yang gila dan penuh api murka, Ace Hunter kembali menapakkan kakinya di mansion. Dia datang dengan keterpaksaan, tapi setelah beberapa waktu berlalu, di bawah pengawasan Vera, pria itu jelas sekali mulai menerima statusnya.
Malam itu juga, malam ketika Vera kembali setelah mengawal Margot di pesta perayaan ulang tahun Callum Rashid, Vera berhadapan dengan Ace. Berhadapan dengan pria yang dulunya adalah sosok terlarang di mansion ini.
"Kesalahan utama ayahku hingga membawanya kepada kematian adalah menolak ucapanku, Vera." Ace berujar dengan intonasi rendah dan tenang.
Vera pikir topik itu adalah tentang hubungannya dan Anggara yang sudah terekspos, tapi..., ada sesuatu yang lain di balik manik kelam itu. Sesuatu yang lebih hitam daripada kemarahan atas pemberontakan.
__ADS_1
Vera--selama hidupnya--tidak pernah mengetahui inti topik pembicaraan Ace dan Harkin yang membuat Harkin enggan menjadikan Ace pemimpin. Namun, jika ucapan itu--pengabaian Harkin terhadap Ace membawanya pada kematian, itu cukup menjelaskan mengapa Ace tidak menunjukkan sentimen atas kematian Harkin. Dia sudah pasti membayangkan situasi itu akan terjadi.
"Karena itu, aku harap kau akan mematuhi ucapanku." lanjut Ace lagi.
"Aku akan selalu mematuhimu, Bos. Akan tetapi...," Vera meneguk ludah.
"Ya...?"
"Boleh aku tau apa yang kau ucapkan kepada tuan Harkin sampai dia menolakmu?"
Ace cukup tertegun oleh pertanyaan Vera. Cukup berani, pikirnya.
"Kenapa kau tertarik?"
"Aku hanya penasaran. Maafkan aku."
Ace tersenyum samar. "Bukan masalah," Ace bersandar di bangku. Matanya menyorot kepada bulan yang terlihat jelas dari jendela balkon lantai dua. Jendela yang terbuka dan membawa angin malam masuk meniupkan surai hitamnya.
"Aku hanya memintanya menyingkirkan tiga kepala keluarga lainnya dan mengambil alih kepemimpinan mereka sebagai satu kesatuan. Semenjak hidup 'damai' berdampingan hanya akan membawa kami pada kehancuran."
Dan Harkin menolak ide itu.
Sayangnya, kekuasaan menciptakan candu dan keserakahan. Perdamaian di antara empat kepala yang mendambakan dominasi dan kekuatan adalah ilusi semata. Kematian Harkin adalah pembenaran atas ucapan Ace yang sudah Harkin anggap sebagai 'pemikiran brutal dan nista'.
Vera menghela napas.
Harkin mungkin mati dengan penyesalan bahwa Ace mengutarakan kebenaran, tapi apakah hidup dengan keinginan percaya pada perdamaian adalah kesalahan?
Apakah hidup untuk mematuhi Ace adalah kebenaran ketika ia tergantung di basement keluarga Caspian?
Jika Vera membantah apa yang sudah Ace perintahkan..., akankah situasinya berakhir lebih buruk? Akankah ia menjadi Harkin? Menjadi pria yang sudah menciptakan neraka untuk puterinya sendiri?
Lagi, di dalam basement yang dingin. Ditemani oleh dua orang pengawal yang menjaga selnya, Vera terbenam dalam pikirannya. Bertanya-tanya, sampai kapan ia akan tergantung di sana sebelum Evan Caspian murka dan mulai menunjukkan kegilaannya. Seperti yang Ace sudah perkirakan. Seperti yang sudah Ace perintahkan.
"Aku mungkin akan duluan mati kelaparan sebelum Evan Caspian datang kemari." Vera bergumam pada dirinya sendiri. Kepada tubuhnya yang terasa seperti kubangan luka.
...----------------...
"Masih memikirkan si tawanan?"
Satu pagi berlalu lagi tanpa ada yang benar-benar terjadi. Fawn yang masih betah melakukan rutinitasnya dengan mengamati pergerakan di luar kamar Indira, mengawasi apakah makanan yang keluar masuk kamar Indira dihabiskan? Apakah Indira makan teratur? Apakah Indira makan? Itu adalah pertanyaan paling utama yang muncul di benak Fawn.
__ADS_1
Lalu, hal kedua yang melekat di benaknya sekarang adalah..., seperti yang Joseph tanyakan, adalah si tawanan.
"Apa kau tau siapa orangnya?" Fawn mencemaskan sosok itu. Tidak seperti Indira yang mendapat asupan makanan 3 kali sehari, sosok yang sudah dikurung 2 hari di bawah sana tidak mendapatkan apa-apa. Fawn mulai takut kalau tawanan itu mati sebelum ia berhasil mengidentifikasi siapa gerangan yang terkurung di bawah sana.
"Sudah kubilang, mustahil aku tau." Joseph duduk di bingkai jendela, matanya menyorot kepada pemandangan hutan yang masih sama--masih membuatnya jengah luar biasa. "Tiadanya pergerakan ke bawah sana menunjukkan kalau tuan Evan ingin menyiksa orang itu dengan dehiderasi dan kelaparan. Kau tau, kita pernah mendapat ujian semacam itu, kan? Oh. Kau yang mengujiku, lebih tepatnya."
"Ujian dan siksaan sungguhan berbeda, Joe." Jika ujian, kau tau cepat atau lambat kau akan diselamatkan, tapi siksaan..., tidak ada yang tau kapan itu akan berhenti. Karena itu, mengharapkan kematian lebih baik.
"Aku percaya orang itu bakal selamat, kok. Tenang saja. Dia pengawal dari keluarga Hunter. Mereka keturunan monster." Joseph membuat lelucon.
"Kepercayaan tanpa landasan hanya membuatmu delusional."
"Bukankah latar belakangnya yang datang dari keluarga Hunter cukup sebagai landasan?"
"Lalu, apa itu artinya dia akan kebal terhadap siksaan?"
Joseph mencebik. "Kau sama sekali tidak mau mengalah."
"Aku mencemaskannya, mau bagaimana lagi?"
"Tau identitasnya juga tidak membantu dia keluar dari sana." Argumen Joseph membuat Fawn meneguk ludah. Jika Joseph meneliti lebih dalam alasan mengapa Fawn sangat peduli terhadap bodyguard keluarga Hunter, sangat penasaran identitasnya, Fawn bisa tersudutkan sepenuhnya.
Untung saja, untung saja Joseph tidak menuntut topik itu sampai ke inti. "Kalau kau mau membantu, bagaimana kalau mengabari tuan Ace mengenai bodyguard-nya yang menjadi tawanan di sini. Dia mungkin tidak tau."
"Itu..." Fawn memang sempat tergoda untuk menghubungi Ace. Namun, ia takut menciptakan masalah yang tidak perlu. Tidak ketika sekarang setiap mata sudah mengawasi mereka. Bagaimana kalau seseorang suruhan Evan yang mengawasi Ace melihatnya berkunjung kekediaman Hunter. Fawn bisa mati di panggang bersama dengan si bodyguard di basement.
"Jangan melakukan hal yang tolol." ujar Fawn, akhirnya.
"Kalau begitu..., bagaimana kalau kita bertanya pada tuan Angga. Dia mungkin tau."
Itu..., ah...
Senyum Fawn seketika mengembang.
"Joseph, kau pintar."
"Aku tau, aku tau..."
Karena Anggara mempunyai kaitan dengan Vera, tidak menutup kemungkinan Anggara mengetahui satu atau dua hal menyangkut bodyguard yang menghilang dari mansion keluarga Hunter. Vera mungkin mengangkat topik itu pada pertemuannya dengan Angga.
Ini bagus karena untuk beberapa alasan, Fawn tidak bisa menghubungi Vera belakangan. Tidak hanya Vera, David, Haru dan Carcel juga tidak bisa. Seolah-olah mereka mengisolasi diri dari luar.
__ADS_1
...----------------...