DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
60. INDIRA OH INDIRA


__ADS_3

...ACE pov...


...----------------...


Berangkat ke rumah Evan Caspian yang berada ratusan meter di kedalaman hutan membuatku bertanya-tanya, apa yang kepala keluarga Caspian pikirkan? Tempat itu tidak hanya suram untuk dijangkau, juga sangat jauh.


Aku pernah sekali berkunjung ke rumah Evan saat masih anak-anak dan aku sangat benci tempat itu. Sekarang, memikirkan aku akan kembali ke sana membuat segala gairahku yang membuncah akibat Fawn--memudar sepenuhnya. Memang, memikirkan hal yang kita benci adalah cara terbaik untuk menghapus nafsu yang tersisa di tubuhmu.


"Bos Ace, kita sudah sampai." Carcel mengabariku dari depan.


Segera setelah dia berucap juga, mobil kami berhenti tepat di depan gerbang tinggi yang terbuat dari dinding beton dan pagar besi.


Mengetahui siapa kami, pengawal yang berjaga di depan pintu langsung membuka pintu pagar mereka lebar-lebar. Aku memperhatikan ketat pengamanan mereka dan teringat laporan Indira tentang keluarga Caspian yang meningkatkan jumlah pengawal mereka. Untuk menjaga gerbang saja, ada sekitar tujuh orang yang terlihat.


Segera setelah kami masuk di pekarangan rumah keluarga Caspian yang bernuansa suram--iya, suram karena bangunannya yang dicat hitam.


"Margot akan sangat suka tinggal di sini," aku membuat lelucon dan Carcel yang mengekoriku dari belakang mengulum senyum tipis.


"Selamat siang di kediaman Caspian, tuan Arcel. Maafkan aku sebelumnya, tapi apa yang membawa tuan Arcel kemari?" Rishan--asisten pribadi Evan yang sudah berurusan denganku beberapa kali--datang menyapa. Penampilannya masih sama membosankan seperti biasa. Kacamata baca bulat dan rambut yang disisir licin ke belakang.


Aku dibawa oleh mobil.


Tidak, aku tidak bisa menjawabnya seperti itu. Aku adalah kepala di Diamond, bertingkah picik dan mengejek orang lain bukanlah gayaku. Walau sebenarnya pertanyaan Rishan barusan sangat idiot.


"Aku datang untuk mengunjungi temanku, Rishan." Aku menjawab dengan kesabaran.


"A-ah, tapi..., maafkan aku sebelumnya, bos Evan tidak mengatakan akan menerima kunjungan sama sekali hari ini.-


Jika tuan Arcel tidak membuat janji, aku pikir akan sulit bagi kami untuk menyampaikan kunjungan tuan Arcel kemari."


"Kenapa? Apa bosmu tidak menerima kunjungan dadakan?" Aku mulai hilang kesabaran, dan aku tau Carcel juga. Pengawal pribadiku yang satu itu sangat risih bila lawan bicaraku menunjukkan sikap arogan.


"Hanya..., jadwal bos Evan sudah ter-booking penuh hari ini. Aku minta maaf, tapi bagaimana kalau mengatur ulang jadwal kunjungan tuan Arcel?"


"Apa kau mengusir kami?" Carcel menyambung. Aku tidak terkejut.


"Bukan seperti itu tapi---"


Tapi itu memang benar. Intinya, Rishan menginginkan kami pergi karena kunjungan dadakan ini tidak ada dijadwal Evan. Itu adalah tanggapan yang masuk akal, sayangnya...


"Aku tidak datang kemari untuk bertemu Evan," tukasku sebelum Rishan dan Carcel saling menodong senjata di dahi satu sama lain. Aku melirik Carcel dan meminta dia untuk tenang sedikit.


"Maafkan aku," kata Carcel dan kembali berdiri selangkah di belakangku. Rishan--di sisi lain menatapku dengan kebingungan.


"Aku datang kemari untuk menemui Indira," jelasku santai.


Panjang umur, setelah aku mengatakan nama Indira, gadis itu muncul dari dalam rumah dengan langkah kaki yang melompat-lompat riang seperti kelinci.


Hebat. Dia tau bagaimana cara menipu dunia kalau dia tidak berbahaya. Jika Indira duduk dengan Margot, mereka mungkin akan menjadi teman baik.


"AAAACEEEE!!!" Indira menyapaku dan tanpa aba-aba, langsung menubruk dadaku. Tangan kurusnya mendekapku erat seperti melepas rindu. Walaupun aku tau itu bohong.


"Aku tidak menyangka kau akan datang mengunjungiku." Indira mendongak menatapku seperti menatap bingkisan kado natal. Wajahnya sumringah.


"Aku rindu gadis tolol yang sering merengek di wajahku." Aku menanggapi Indira sambil mengisyaratkan Carcel untuk mengeluarkan bingkisan buah dari pengawal kami yang berdiri di belakangku dan Carcel.


"Ini untukmu," kataku. "Aku sudah lama tidak melihatmu, kupikir kau sudah mati."


"Hei!!" Rishan menyela tanpa sengaja. Dia sepertinya tersinggung, begitu juga seorang pengawal berwajah baru yang mengekori Indira sekarang. Dari informasi Joseph, pengawal itu bernama Aidan. Melihat gestur dan postur Aidan, aku tau dia sudah sangat berpengalaman di pekerjaan ini. Dia pasti dipilih dengan sangat istimewa oleh Evan. Menarik. Apa dia pikir satu pria cukup?


"Jangan berlebihan, Rishan." Indira mengubah intonasinya menjadi sangat protektif. "Aku adalah tuanmu di sini. Aku akan sangat marah kalau kau menginterupsi perbincangan kami."


"Tapi nona Indira, tuan Arcel sudah keter--"


"Rishan!!!"

__ADS_1


"Maafkan aku."


Aku mau tertawa. Sungguh opera sabun macam apa yang sedang terjadi di sini? Aku lebih baik tidur.


"Aku dan Ace akan menghabiskan waktu mengobrol di green house, siapkan cemilan yang banyak dan manis untuk kami." Selesai mengutarakan kata-katanya yang terkesan manja, Indira berpaling ke arahku sambil tersenyum ceria.


"Ayo.."


Aku melewati Rishan dan menyeringai jahanam. Lihat dan ingat apa yang kau lihat. Lihat dan laporkan apa yang kau ingat kepada Evan Caspian agar si keparat itu mati kepanasan.


...----------------...


Di green house yang lagi-lagi, seperti hutan belantara--aku dan Indira duduk berhadap-hadapan dengan cemilan terbentang luas di hadapan kami. Berbeda jenis dan rasa.


Aku tidak tertarik pada satu pun, tapi aku jadi memikirkan Fawn. Dia pasti sangat senang bila mendapatkan cemilan ini.


"Maafkan aku, pasti sulit untukmu." Indira membuka suara setelah berhasil mengusir Aidan dan pengawal-pengawalnya agar mundur dan menjauhi kami.


"Kau tidak tau apa yang sulit bagiku, Indi." Datang ke rumah keluarga Caspian tidak sulit sama sekali untukku, yang sulit adalah menahan diri agar tidak melubangi kepala orang-orang yang menghuni rumah ini.


"Bagaimanapun, terima kasih. Kau satu-satunya orang yang bisa kuandalkan saat ini..., dan Joseph."


"Kau tau kau punya Anggara dan Evan, bukan?"


"Mereka mungkin suami dan saudaraku, tapi..., kau tidak tau, Ace. Mereka tidak melihatku sebagai manusia di rumah ini. Apa kau lihat bagaimana Rishan memperlakukanku tadi? Aku perlu meninggikan suaraku untuk membuat mereka menurutiku."


"Jangan terlalu tegang," ujarku dan meraih tangan Indira di atas meja. Aku menggenggam jemari-jemarinya yang dingin dan menenangkannya dengan kebaikan palsu yang kucontoh dari buku. "Kau membuat para pengawalmu waspada padaku."


"O-oh, maafkan aku. Apa aktingku sangat buruk?"


"Kau sangat baik tadi..." itu jawaban yang jujur dariku. "Jadi, katakan Indi..., apa yang kau inginkan di sini?"


"Huh?"


"Kau melakukan sesuatu di belakang suami dan saudaramu, apa tujuanmu?"


"Aku...,"


"Kenapa kau menyelidiki kematian orangtuaku?" tanya itu pun kulanjutkan tanpa segan.


"Aku..., aku...,"


"Indi...?"


"Aku tidak tau apa yang sebenarnya kuinginkan, Ace." Indira melepaskan jawabannya seperti melepaskan beban berar di dada. Aku memperhatikan bagaimana netra hazel-nya bergumul dalam perdebatan yang hanya dia sendiri paham.


"Jujur saja..., yang kuinginkan sekarang adalah hidup Ace. Hidup sebagai diriku sendiri..., bukan seseorang yang luar biasa, puteri keluarga Rashid yang jelita, atau istri Evan Caspian yang menawan. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, Indira."


"..."


"Aku tau keinginanku terdengar kekanakan, tapi..., aku menginginkannya. Aku ingin menjadi lebih dari seorang boneka."


"Kau bisa menjadi apa pun yang kau inginkan, Indira."


"Tidak di sini, Ace. Tempat ini mengurungku. Namaku mengurungku di sini. Jika aku bukan seorang Caspian, bukan seorang Rashid--aku mungkin akan mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku bosan..., aku benci dengan kehidupanku."


"Lalu...,"


"Aku akan melarikan diri dari sini."


Itu tolol, dia bukan sosok yang sulit untuk dicari.


"Aku tau kau menganggapku idiot," Indira membaca isi kepalaku, terima kasih kepada reaksi wajahku yang untuk sepersekian detik--tidak mampu kukendalikan karena ucapannya sangat konyol.


Karena itu dengarkan, jalan satu-satunya aku bisa pergi adalah bila aku berhasil lepas sepenuhnya dari rumah ini."

__ADS_1


"Kau bisa bercerai, tau?"


"Wow, kenapa aku tidak kepikiran?" Indira memutar mata, tiba-tiba menjadi sangat kesal. "Kalau aku punya opsi itu, aku sudah melakukannya ketika aku menyadari tempat ini tidak mempunyai masa depan untukku."


"Baiklah, katakan kalau begitu..." Aku bersandar di bangku. Berbicara tentang masalah Indira yang selalu merasa seperti kerang di dalam cangkang bukan pertama kalinya bagiku, tapi kali ini aku tidak bisa bersabar...aku penasaran kemana gadis ini melayarkan rencana bodohnya. Mengapa dia menyangkut-pautkanku di dalamnya?


"Ace, aku tau kau sedang mencari bukti siapa yang membunuh orang tuamu, bukan?"


"Dari mana kau mendapatkan informasi itu?" genggamanku di tangan Indira mengencang.


"Aku hanya...tau."


"Indira, topik yang kau bicarakan sangat sensitif bagiku. Aku tidak akan segan membunuh seluruh garis keluargamu untuk mengeluarkan informasi itu dari mulutmu."


"Ace..."


"Indira...,"


"Po-pokoknya aku tau. Tenang saja..., aku bukan musuhmu, oke!!!" Indira segera menarik tangannya yang nyaris remuk di dalam cengkramanku.


"Jangan menguji kesabaranku, Indira."


"E-Evan, aku mendengarnya dari Evan." ucapan Indira meredakan amukanku seketika. Dia pintar. Kalau dia memperpanjang kekesalanku, dia mungkin akan melihat kepala Joseph di atas meja saat ini juga.


"Evan tidak mungkin menceritakan hal sepenting ini padamu. Katakan, hal tolol semacam apa yang kau lakukan?"


"Aku memasang penyadap di kamarnya, apa kau puas?"


Indira bodoh.


"Evan belum tau, tenang saja. Aku melakukannya dengan sangat bersih."


"Aku pikir ada baiknya kau tidak menghilangkan nama Rashid dari belakang namamu Indira. Dengan melihat kebodohan yang kau lakukan, kau tidak akan bertahan lama di luar sana."


Aku tidak habis pikir sama sekali dengan tindakan Indira. Aku pikir hanya Anggara yang bodoh, siapa yang menyangka kebodohan itu menurun?


"Aku tidak bisa menyelamatkanmu bila sesuatu terjadi di sini, Indira. Tolong jangan bermain api yang tidak bisa kau padamkan sendiri." Aku mengembuskan napas panjang.


Persentase Evan sudah mengetahui tentang tindakan Indira sangat besar. Evan adalah pria cerdas dan licik. Aku membenci betapa dia sangat pandai bermain bersih dan mencuci tangan atas kesalahan yang sudah dia perbuat. Ular!


Sekarang, aku tidak akan heran mengapa si brengsek keriting itu tidak muncul di sini dengan jenggot yang terbakar. Dia pasti sudah memperhitungkan segala langkah yang hendak Indira buat.


"Indira, aku ingin kau melakukan sesuatu..." kataku. Dalam sepersekian detik, aku menemukan titik untuk menyelamatkannya dari ulah gila yang sudah dia lakukan.


"Evan pasti tau kau mengambil gambar tentang laporan kematian itu di mejanya, dia juga pasti sudah memperkirakan tentang apa yang kau dan aku bicarakan sekarang..."


"A-apa kau bercanda? Tidak mungkin..."


"Indira, dengar... Kau pandai bermain bodoh, bukan? Maka lakukan ini untuk menyelamatkan dirimu sendiri..."


"Apa?"


Indira adalah pion yang masih berguna, aku tidak bisa membiarkan Evan merantainya. Aku akan menyelamatkan Indira sebelum bajingan itu besar kepala.


Oh,


Mengenai Evan yang menggali informasi tentang kematian orang tuaku, aku sedikit mengerti alasannya. Dia kemungkinan besar menginginkan informasi tentang seberapa jauh hasil penyelidikan kami. Karena itulah dia juga mengirim Anggara untuk menjilat kaki Margot.


Semuanya sudah jelas.


Mereka yang ingin tau hanya punya satu alasan untuk penasaran, : mereka ingin menutupi jejak dan mendahului kami sampai ke petunjuk berikutnya.


Mereka yang berusaha menutupi jejak kasus itu pasti terlibat dalam ledakan hari itu. Antara mereka tau siapa pelaku di baliknya, atau...mereka sendirilah yang melakukannya.


Aku akan memburu kalian semua.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2