DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
30. TRIK BOSAN


__ADS_3

...FAWN pov...


...-----...


Memakai baju training berwarna merah dengan celana pendek di atas lutut, aku duduk berseberangan dengan Haru. Selembar kertas monopoli terurai di antara kami. Uang mainan, kartu dan pion-pion dari plastik dan dadu berserakan di lantai, berdampingan dengan sepiring biskuit cokelat dan dua gelas sirup strawberry.


Hari ini lagi, aku yang masih terkurung di rumah utama keluarga Hunter tidak dapat melakukan apa-apa selain mencari hiburan agar tidak gila. Hiburan itu salah satunya adalah bermain permainan tolol ini bersama Haru. Haru yang untungnya adalah anak laki-laki terbaik yang rumah ini miliki. Dia adalah cahaya, satu-satunya pria dengan moralitas yang tinggi dan sangat baik hati.


Haru membawakan mainan monopoli ini dari rumahnya. Kucurigai, mainan ini adalah milik adiknya. Haru bilang, agar tidak bosan, aku sebaiknya bermain dengannya. Beberapa hari yang lalu juga, Haru membawakanku sekotak kartu.


Kupikir dia prihatin pada kondisi mentalku, jadi dia berusaha keras agar aku tidak bosan dan berteriak seperti orang gila. Oh, ya..., benar. Aku nyaris gila di sini. Tidak ada kenyamanan sama sekali ketika hari-harimu hanya di isi oleh bangun, tidur, makan, bengong, dan kalau Ace sedang muncul psikopatnya..., dia akan melakukan hal-hal mesum yang membuatku merinding.


Tidak ada penyiksaan fisik yang diberikan, tapi kalau dikurung lama-lama, mentalku lah yang tersiksa. Aku jadi bertanya-tanya, bagaimana orang dapat dipenjara bertahun-tahun dan keluar dalam keadaan normal?


"Apa kau mulai bosan?" Haru bertanya.


"Cepat atau lambat pasti bosan." kataku. "Tempat ini lebih buruk daripada penjara."


"Aku pikir di sini tidak begitu buruk." tukas Haru. Itu wajar baginya berpikir begitu. Dia tidak di posisiku. Haru datang dan pergi ke ruangan ini hanya kalau Felix sedang sibuk mengurus nona Margot.


"Setidaknya, Haru..., di penjara kau diberi aktivitas agar tidak mati gila. Kau tau, semacam berkebun, melaundry pakaian, perpustakaan, dan pekerjaan memasak. Di sini, aku tidak punya aktivitas apa pun selain ini..., ya..., ini." Aku menatap kertas monopoli di meja. Apa aku anak-anak? Kenapa aku menghabiskan separuh hariku hanya dengan bermain?


Aku dihari-hari bebasku biasanya lebih banyak bekerja. Berlatih menembak, mengasah skill bela diriku, mengobrol dengan pengawal lain atau paling simple, mengawasi nona Indira melakukan aktivitas hariannya. Aku adalah manusia normal, bukan burung di dalam sangkar. Demi Tuhan, otakku mendidih dalam kekesalan.


"Kau harus membuat dirimu terbiasa dengan situasi ini, Fawn. Bagaimanapun, itu adalah satu-satunya cara agar kau bisa bertahan di sini."


"Huh, ya. Bertahan, kan? Siapa yang tau sampai kapan aku bisa bertahan di sini." Ace tidak menunjukkan tanda-tanda dia akan segera membunuhku. Ditambah lagi belakangan ini dia bertingkah aneh, aku tidak tau sampai kapan dia akan bermain-main denganku!


"Bos Ace sangat menyukaimu, Fawn. Sejak keberadaanmu di sini, bos Ace sudah berhenti memesan wanita dari luar. Itu adalah perubahan yang mengejutkan, kau pasti luar biasa."


"Apa maksudmu luar biasa, Haru?" Apa maksud Haru aku lebih hebat dari para pelacur di luar sana? Keparat! Aku siap mematahkan leher Haru kalau dia sampai-sampai menghinaku seperti itu.


"E-eh, aku..., tidak. Sepertinya ada kesalahpahaman...." Haru sepertinya memahami makna menyimpang dari ucapannya sendiri. Dia menegapkan duduknya dan mengibaskan tangan panik. "Maksudku adalah..., keberadaanmu di sini membuat perubahan pada bos Ace. Aku hanya memikirkan kepribadianmu, serius. Aku tidak punya maksud lain."


"Ace tidak peduli pada kepribadianku." komentarku, emosiku yang nyaris meledak sedikit mereda karena wajah ketakutan Haru. Pria ini tau cara membuat orang bersimpati padanya. Sialan.


Aku bersandar di punggung sofa dan memeluk sebelah lututku. "Ace itu keparat sadis. Aku tidak tau apa yang membuatnya belum membunuhku."


"Se-seperti yang kubilang, Fawn. Bos Ace menyukaimu."

__ADS_1


"Menyukaiku, huh? Suka membuatku menderita?"


"Tidak seperti itu. Kupikir, mungkin lebih ke arah yang romantis?"


"Ro--apa?" Ucapanku seketika terjeda, tergantikan oleh keheranan luar biasa. Romantis? Apa aku mendengar kata romantis keluar dari mulut Haru? Oh, laki-laki polos ini. "Tidak mungkin Ace menyukaiku secara romantis. Apa kau gila?"


Peluang Haru gila lebih besar daripada peluang Ace menyukaiku secara harfiah.


Pria bajingan psikopat itu tidak punya hati untuk mencintai orang lain. Dia kasar, mau menang sendiri, pemaksa, jahat dan arogan. Pria seperti itu sangat mustahil untuk jatuh cinta. Terutama kalau sosok yang menjadi objek cintanya adalah sosok seperti aku. Seorang bodyguard dari kampung dengan pendidikan minim dan kekayaan yang hanya cukup untuk membeli gorengan. Itu adalah lelucon garing. Sangat memalukan untuk dikatakan. Ace mungkin akan muntah darah kalau mendengar asumsi Haru yang lugu.


Ace yang maha arogan, tidak mungkin menyukai perempuan yang tidak segaris derajat dengannya.


"Dari ekspresimu, kau tidak mempercayai ucapanku, kan?" Haru menudingku dengan mata meruncing tersinggung. "Apa kau pikir ucapanku salah?"


"Apa kau merasa benar?"


"Ya." Haru tidak menunjukkan keraguan, dan sikapnya yang seperti itu memancing cengiran mengejek mekar di parasku.


"Jatuh cinta bukan hal yang mustahil, Fawn. Apalagi kalian sudah bersama sudah berapa minggu? Sebulan? Jika kalian terus menghabiskan waktu bersama, saling mengenal kelebihan dan kekurangan masing-masing, bukan tidak mungkin kau menjadi terpesona pada bos Ace."


"Kau sangat bijak.Novel romansa apa yang kau baca baru-baru ini? Bagikan padaku..."


Bukan tidak mau mendengarkan, aku cuma tidak peduli pada omong kosong itu.


"Siapa jatuh cinta pada siapa?" sebuah suara datang menyela perbincanganku dan Haru. Aku yang duduk di sofa memiringkan kepala dan menengok kepada seorang pria yang bersandar di dinding dekat sofa. Dia datang sendirian.


"Tuan Jem? Apa yang kau lakukan di sini?" Haru berdiri menyapa. Aku tidak peduli.


"Aku bersama Margot tadi, tapi dia melupakan sesuatu dan menyuruhku masuk duluan ke sini."


"O-oh." Haru tampaknya agak segan membiarkan Jem masuk. Tapi karena nama Margot sudah disebutkan, mau bagaimana lagi.


Aku memperhatikan Jem yang melenggang menuju sofa tunggal. Dia duduk di sana sambil memungut satu biskuit cokelat dari piring. "Monopoli? Menarik. Apa ini hiburanmu di sini?"


Kupikir Jem bicara padaku, jadi mau tidak mau aku menanggapinya dengan anggukan.


"Ini membosankan, bermain catur lebih seru daripada ini."


"Aku tidak tau bermain catur," kataku. "Aku tidak tau cara menyusun strategi untuk menjatuhkan orang lain."

__ADS_1


"Apa itu bermaksud personal?" Jem tersenyum, dan senyum itu terasa agak palsu. Aku sengaja menyinggungnya, mengingat dia adalah otak utama dari penculikan nona Indira. Dia adalah alasan mengapa aku terkurung di sini!


"Entahlah."


"Bemain secara strategis bukan semata-mata untuk menjatuhkan orang lain, Fawn." Jem memungut dadu di meja dan memutarnya. "Strategis dan kalkulatif dalam melakukan apa pun adalah cara yang perlu dilakukan untuk mencapai kemenangan."


Seperti aku peduli padamu saja!


"Kau mungkin tidak tau perihal itu karena kau hanya seorang bawahan. Tugasmu sama seperti pion di papan catur. Kau hanya salah satu dari sekian banyak prajurit yang perlu dikorbankan."


"Oh..., dia bukan pion siapa-siapa sekarang." nona Margot datang dan menyambung ucapan Jem. Aku memperhatikan wajahnya demi mencari jejak pukulan yang ditinggalkan Ace, tapi nihil. Mungkin Ace tidak memukulnya cukup keras. Sial, berarti aku mencemaskan sesuatu yang tidak perlu.


"Aku tidak tau tentang itu," Jem tersenyum sambil menatapku. "Setiap orang pada dasarnya adalah pion, kau hanya perlu tau cara memainkannya. Kalau dia tidak berguna, kau hanya perlu menyingkirkannya."


Apa si keparat ini mengancam keberadaanku?


Ucapannya yang ambigu dan matanya yang penuh ekspresi misterius membuat tubuhku merinding kaku.


"Dia adalah mainan favorite Ace sekarang. Kau tidak bisa menyingkirkannya. Aku pernah berusaha menyingkirkannya  dan berakhir digampar, tau." nona Margot duduk di sampingku dengan mata yang berbinar jenaka.


"Dia pasti sangat berharga di mata Ace." sahutan Jem disertai kerlingan jenaka padaku.


"Aku tidak tau tentang berharga, tapi Fawn sangat menggemaskan. Aku akan menjadikannya mainanku kalau Ace bosan dengannya. Kau tau, lagipula dia tidak bisa pergi hidup-hidup dari sini."


"Bagaimana cara agar Ace bosan denganku?" Kesal sudah menjadi objek pembicaraan yang tidak kasat mata di sini, aku memutuskan ikut bersuara. Jem dan nona Margot menaruh perhatian kepadaku dengan sepasang mata berbinar tertarik.


"Apa kau ingin menjadi mainanku, Fawn?"


"Tidak," sahutku seketika. Aku ingin bebas.


"Jadi kau ingin mati?" Jem membuat kesimpulannya sendiri yang lebih masuk akal. Aku tidak menjawab ucapan Jem dan hanya menatap kepada nona Margot.


"Kalau kau ingin Ace bosan padamu, maka kau harus melakukan ini..."


Ketertarikan muncul di kepalaku seketika. Keinginan untuk lepas dari cengkraman Ace dan bebas darinya. Aku akan melakukan apa pun yang akan membawaku kepada kebebasan.


"Apa itu?"


...--------...

__ADS_1


__ADS_2