DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
48. SEBUAH KESALAHAN


__ADS_3

...FAWN pov...


...----------------...


Mencuci muka dan menyikat gigi adalah apa yang kulakukan di kamar mandi nona Margot. Aku berencana akan tidur setelah ini karena makanan yang kukonsumsi mulai membuatku mengantuk. 


Terima kasih kepada Ace--aku akhirnya tidak akan tidur sambil menahan lapar. Pria itu baik kadang-kadang, dan itu membingungkan. Aku tidak akan komplain bila dia baik sepanjang hari, tapi perubahan suasana hatinya itu aneh. Aku tidak tau bagaimana cara otaknya bekerja, seperti dia bisa menjadi psikopat dalam sekejap mata dan malaikat pembawa makanan dalam sekali kedipan juga.


Aku tidak akan pernah terbiasa.


"Okee.." Aku selesai mencuci muka dan menatap pantulan wajahku di cermin. Aku memaksakan senyum lebar-lebar mekar di wajahku. Aku kerap melakukan ini belakangan, memaksa diriku tetap ceria kendati tempat ini mulai membuatku gila.


Satu-satunya hal yang kumiliki sekarang adalah kewarasanku, kalau aku putus asa dan meratap dalam depresi, aku akan membusuk di sini. Aku perlu percaya bahwa aku punya peluang untuk bebas. Bahwa aku baik-baik saja.


Segala hal akan berjalan baik.


Aku meyakini diriku sambil menepuk-tepuk pipiku keras. Berharap pukulan di pipiku tersebut membuat pesan itu tertanam di dagingku--otakku.


Setelah menyelesaikan urusan di kamar mandi, aku keluar dan melihat kamar nona Margot yang masih bercahaya putih terang. Aku hendak mengganti warnanya kembali merah muda sebelum nona Margot kembali, tapi perhatianku mengabaikan cahaya lampu--sesuatu menarik perhatianku.


Seseorang--tepatnya.


"Kau masih di sini?" tanyaku.


Aku melenggang pelan, mata mengarah kepada si bajingan Ace yang sedang bersandar di kepala tempat tidur nona Margot. Tangannya mengutak-atik HP.


Saat itu, jas hitam yang dikenakan Ace sudah tidak melekat di tubuhnya. Jas itu berada di bahu sofa, ditinggalkan tuannya. Ace sekarang hanya mengenakan kemeja hitam--lengan di gulung hingga siku, dan celana yang berwarna senada dengan kemejanya. Rambut Ace masih rapi dengan beberapa juntaian panjang jatuh di dekat pipi.


Dia terlihat seperti model pria di majalah parfume. Andai saja dia bukan bajingan kaya, dia bisa menjadi model.


"Aku bosan di kamarku." Ace menimpaliku tanpa mendongak dari layar HP-nya.


Omong-omong, aroma makanan yang menyeruak di kamar ini sudah hilang. Tergantikan oleh aroma harum lemon dari penyegar ruangan.


"Kalau kau bosan, kau seharusnya pergi keluar." Aku tidak menemukan tempat menghibur di kamar ini. Kamar nona Margot sama membosankannya dengan kamar Ace.


"Kau mengusirku?" Ace kali ini mendongak. Sepasang mata kelamnya menyorotku dengan kemisteriusan yang hanya dia dan Tuhan yang tau apa maksud sorotan tajam itu.


"Aku tidak mengusirmu..." Aku memutar pandanganku ke arah lain dan mencari remot. Ruangan ini terlalu terang, sialan. Melihat wajah Ace membuat jantungku berdegup kencang. Aku mungkin ketakutan.


Huuuuh, tenanglah jantungku. Dia akan mendengar keributanmu!

__ADS_1


Sementara Ace tidak menimpali ucapanku sama sekali, aku mengganti warna ruangan menjadi kembali warna merah muda. Tanganku bergetar seperti orang tolol, memencet tombol di remot dengan kepanikan sampai warna merah muda itu datang.


Untuk pertama kalinya--cahaya merah muda itu membuatku mengembuskan napas lega. Setidaknya--aku tidak perlu melihat Ace dengan jelas. Hahahahaha!


Pria itu menakutiku.


"Apa yang kau lakukan?" Ace bersuara. Ketenangan di suaranya membuatku tidak bisa membaca suasana hatinya.


"Aku mengembalikan cahayanya seperti semula."


Cahaya HP Ace meredup seketika, membuatku agak kesulitan menangkap ekspresinya. Dia berdiri, melenggang di atas karpet bulu dengan sepatu yang membuat tingginya bertambah 5 inci. Langkahnya tertuju ke arahku.


"Apa kau sebegitu betahnya berada di dalam ruangan gelap ini?" Suara Ace menyapaku cukup jelas dari yang sebelumnya. Mungkin karena pencahayaan yang redup, indera pendengaranku menjadi lebih sensitif dari mataku.


Sial, jantungku kembali menggebu-gebu.


"Bukan berarti aku betah, aku hanya melakukan ini sebelum nona Margot kembali." Bagaimanapun, ini adalah kamarnya. Aku tidak mau nona Margot mengira aku mengutak-atik kamarnya. Wanita itu--walau kelihatan gila, mempunyai insting yang tajam. Aku tidak mau dia salah paham.


"Kau sangat pengertian," kata Ace lagi. Dia berdiri di hadapanku, menunduk di dekat wajahku. Sepasang netra hitamnya memantulkan cahaya samar merah muda yang jatuh di wajahnya. "Aku tidak ingat kau pernah sepengertian ini padaku."


Topik ini lagi?


"Aku sudah bilang kau dan nona Margot berbeda..., kau adalah penjahat. Aku tidak menyukaimu. Nona Margot--meskipun dia agak mengerikan--aku tidak punya masalah dengannya."


"Aku tidak menyukaimu," bisikku. Kegugupan menjalar di sekujur tubuhku--pengaruh ujung jemarinya yang meninggalkan jejak api di kulitku. Aku tidak ingat kapan terakhir kali Ace menatapku seintens ini. Dia memindaiku dengan sepasang mata yang mendamba--dan aku takut aku menatapnya dengan cara yang sama.


Wajahnya dan cahaya merah muda yang tumpah di sana sangat tidak mendukung sama sekali. Jantungku akan meledak.


"I want to kiss you," suaranya rendah menggoda, seperti bisikan setan kepada hawa.


"Huh, kenapa tiba-tiba?" Aku bersuara jenaka, menekan kepanikanku dengan kepura-puraan yang kentara.


"Kau bisa menolakku dan mengatakan tidak..." Ace berbisik di tengkukku, menjatuhkan hawa panas napasnya di sana sebelum mengendusku dalam-dalam seperti oksigen terakhirnya. "Aku tidak akan memaksamu." ujarnya kembali sebelum menarik matanya naik menatapku.


"Kau boleh menolakku, dan aku akan kembali melakukan apa yang kulakukan sebelumnya."


"..."


Jika kesempatan untuk menolak Ace ada--tentu saja aku akan menolaknya. Dia adalah pria pemaksa yang selalu melakukan apa yang dia mau tanpa pertimbangan kepada kondisiku. Aku selalu membencinya, tekadku adalah menanamnya enam kaki di dalam tanah. Aku--bila diberi kesempatan untuk menolak perlakuanya selama ini dan sekarang..., aku pasti akan menolaknya.


"Bagaimana Fawn?" Ace menyatukan keningnya di keningku, mata terpaut satu.

__ADS_1


"Ini adalah kesalahan..." Aku menyambut ucapannya dengan napas terengah. Situasi ini mencekikku, bahkan ketika dia tidak melakukan apa-apa, aku merasa seperti jantungku dicengkeram kuat oleh tangan tak kasat mata. Desiran kuat di dadaku menggebu-gebu.


Apa yang sudah dia lakukan padaku...?


"Ini adalah kesalahan...," ucapanku terulang dan aku tidak menyangkal sama sekali..., ketika aku menarik kerah Ace kuat-kuat ke arahku, aku sudah melakukan kesalahan.


Ace terbelalak dalam keterkejutan, tapi itu tak berlangsung lama. Seringai mengembang di bibirnya sebelum dia menyantapku dalam antusiasme yang sama.


Apa yang kupikirkan saat ini, aku tidak tau. Tapi aku merasakan bibir itu di bibirku. Menyapaku dengan kehausan sentuhan yang membakarku dalam perasaan bersalah yang menyenangkan.


Ini adalah kesalahan, demi Tuhan. Tapi seperti Hawa yang menyerah pada godaan setan, aku melahap kesalahan itu dengan keserakahan.


Tangan Ace di tengkukku, mengacaukan rambutku disela-sela jemarinya yang menekanku lebih dalam di pagutannya. Ruangan merah muda itu gelap di mataku, aku tidak melihat apa pun selain merasakan bagaimana panas tubuh Ace merapat di dadaku. Menarikku di dalam dekapannya sementara pagutan kami saling bersambut dengan buasnya.


Bagaimana bisa kami sampai ke situasi ini? Aku bertanya-tanya ketika pagutan kami terpisah. Juntaian saliva jatuh di daguku dan mataku bertemu dengan mata Ace yang berkilat jenaka. 


Apa yang sudah kulakukan? Aku bertanya-tanya tapi tidak menemukan jawabannya.


Detik berikutnya, yang kutau Ace kembali melabuhkan kecupan dalam di bibirku. Menarikku di dalam dekapannya, mendorong langkahku dengan tubuhnya yang tidak kusadari menjatuhkanku di atas tempat tidur. Dia berada di atasku, mengecup tipis keningku sebelum merayapkan kecupannya di daguku. Panas napasnya, dingin ujung jemarinya membuat perutku melilit dalam sensasi asing yang membuatku hampir meledak.


Aku mengerang tertahan. Mengerang namanya, dan itu membuat dia bangkit dan kembali menatapku di muka.


"Lakukan itu lagi..." ujarnya.


"Huh?"


"Panggil namaku lagi..." Senyum tipis bermain di parasnya, membuatku kebingungan tapi tidak bisa tidak menolaknya.


"Ace?"


Senyum puas mekar di parasnya. Memperindah wajah yang seharusnya menakutiku, tapi bukannya membuatku merinding ketakutan..., senyuman itu memancing senyuman di wajahku.


Sesuatu sudah salah padaku, ini bukan diriku. Mungkin aku sedang bermimpi sekarang, karena demi Tuhan, aku tidak mungkin melakukan ini dengan Ace--Ace dari semua orang. Aku---


"Mmmh..." Aku memejamkan mata erat, menahan sensasi geli yang merayap di kulitku kuat. Jejak bibir Ace yang berpadu dengan isapan dan gigitan membuatku menggeliat gerah dan resah.


"Ace...," aku mencengkram lengannya yang masih terbungkus kemeja, menanamkan seluruh jari-jariku di sana sementara dia melakukan sesuatu di tubuhku yang membuatku gila.


Mataku berkunang-kunang dalam kenikmatan yang seharusnya tidak kurasakan. Semua ini adalah kesalahan, tapi reaksi yang ciptakan ditubuhku adalah apa yang kuinginkan sekarang.


Aku menginginkan lebih--dan pemikiran ini menakutkan.

__ADS_1


Fawn, apa yang kau pikirkan?


...----------------...


__ADS_2