
...NORMAL pov...
...----------------...
Arcelio Hunter tidak pernah menarik ucapan yang telah keluar dari bibirnya. Itu adalah aturan mutlak yang tidak banyak orang ketahui, yang 'sayangnya' tidak banyak orang ketahui. Jika saja mereka tau peraturan itu, mereka mungkin tidak akan berani melakukan sesuatu yang melanggar ucapan Ace.
Hal tersebut juga berlaku kepada Fawn. Kemalangan yang telah ia dapatkan tidak lain dan tidak bukan datang dari ketidak-tahuannya terhadap sosok Arcelio Hunter, pria yang tidak pernah menarik ucapannya sendiri.
Hari ketika Ace memberikan ultimatum kepada Fawn agar gadis itu tidak melarikan diri dari hidupnya, bahwa, bila Fawn memutuskan melarikan diri, Ace akan menyingkirkan tiga orang terpenting di hidup gadis itu--peraturan itu masih berlaku. Ace hanya tidak menunjukkan reaksi spontan atas keputusan yang Fawn buat. Sebaliknya, Ace membuktikan ucapannya dengan perlahan-lahan.
Hingga akhirnya hanya satu orang tersisa di hidup Fawnia...
'Jika saja kau tidak melarikan diri dariku,' Ace membatin sambil mengusap helai hitam Fawn yang berada di lengannya. Terurai lembut dan beraroma seperti bunga. Fawn terlelap di sampingnya, lelah menangis seharian. Setiap kali ia mengingat tentang sosok Lilian, Fawn akan terisak dengan kesenduan yang memprihatinkan.
Ace coba menenangkannya untuk beberapa waktu, tapi percobaan itu hanya bernilai sebagai basa-basi saja karena Ace tidak begitu peduli pada kesedihan Fawn saat ini. Bukan, lebih tepatnya, Ace tidak memahami situasi itu sama sekali.
Minim simpati yang ia rasakan bukan lagi hal baru, Ace pun bukan tipe pria yang menangis keras saat orang tuanya meninggal dunia, jadi sesuatu semacam duka adalah hal asing baginya.
"Bos Ace..." Carcel muncul di depan pintu kamar inap Ace. Pria itu nampaknya membawa informasi penting.
"Aku akan keluar sebentar," kata Ace. Carcel mengangguk dan kembali menutup pintu. Setelah itu, Ace pun bergeser perlahan-lahan dari tempat tidur. Ia memastikan Fawn tertidur dalam keadaan nyaman, dan pergerakannya tidak mengganggu tidur gadis itu sama sekali.
Tak berselang lama, Ace pun menapak keluar dari kamar inapnya. Ia melenggang menghampiri Carcel yang berdiri sendirian di koridor yang sunyi.
"Apa ada sesuatu yang penting?"
"Rio telah menyelesaikan misinya, Bos. Sekarang dia sudah kembali di mansion," Carcel melapor.
__ADS_1
Bicara soal misi Rio, maka itu adalah menyangkut penyingkiran seseorang yang berada di barisan terakhir sosok terpenting di hidup Fawn. Seorang bernama Vita Harmons. Ace tidak mengetahui informasi mendetail mengenai wanita itu atau bagaimana dia bernilai berharga di mata Fawn. Tapi, demi menghindari kalau-kalau Fawn akan bergantung padanya, dia lebih baik disingkirkan juga.
"Bagaimana persiapan pemakaman untuk Lilian?"
"Upacara pemakamannya akan dilaksanakan pukul sebelas siang. Karena Lilian Alder tidak mempunyai satu keluarga pun yang dekat dan peduli untuk menghadiri pemakamannya, kemungkinan upacara besok hanya akan dihadiri oleh pihak kita."
"Itu baik," sahut Ace. "Aku tidak begitu peduli pada keberadaan orang lain yang bisa menjadi benalu di hubunganku dan Fawn." Bukan berarti menyingkirkan para benalu itu adalah sesuatu yang sulit, tidak, tidak sama sekali. Hanya saja, Ace malas mengeluarkan energinya.
"Apa yang paman Jack lakukan sekarang?" Ace akhirnya kembali membahas bisnis.
"Beliau sedang mempersiapkan diri untuk penyerangan senin nanti." Rencananya, Ace akan memimpin beberapa bodyguard-nya untuk menyerang kediaman utama keluarga Caspian senin nanti. Walau Ace tidak begitu menyukai pertikaian konyol yang melibatkan kekerasan, Ace tetap harus menaruh titik di akhir konflik yang akan terus terjadi bila salah satu dari mereka tidak mati. Jadi..., yah.
"Apa Max belum menunjukkan reaksi apa pun atas pesan yang kukirim tempo hari?"
"Dia sepertinya masih kesulitan menerima tawaran itu, Bos."
Sementara ia bertukar kata dengan Carcel juga, Ace kembali teringat pada konten surat yang ia serahkan kepada Maximillian melalui Margot. Sebuah surat yang memberikan Max sebuah pilihan. yaitu, jika Max menginginkan Evan untuk tetap hidup, Max harus menyerahkan pembunuh Harkin dan Vega--orang tua Ace--sebelum hari senin.
Itu adalah pilihan simple. Simple bila Max bukanlah pelaku pembunuhan Harkin. Namun, Max adalah pelaku utamanya. Demi memberikan lingkungan yang baik untuk Evan, agar puteranya mampu menjadi pihak yang dominan di antara empat kepala yang memimpin di Utara, ia mengotori tangannya sendiri dengan membunuh Harkin dan Vega, pemimpin keluarga Hunter.
Langkah itu bukanlah kesalahan andai saja Max tidak menyisakan dua anak Harkin bernapas dan berkeliaran sebagai penerus di Hunter.
Yah, mungkin dia masih punya sedikit hati nurani dengan bersimpati pada putera musuhnya sendiri. Tapi idiot tetap saja idiot. Apa dia berpikir anak dari musuhnya tidak akan membalas dendam?
'Aku mungkin saja tidak menaruh kepedulian besar pada kematian ayah dan ibu, tapi Margot...' Ace berpikir sambil mengingat kembali ekspresi Margot di pemakaman orang tuanya. Bagaimana wanita itu meraung-raung penuh murka setelah kehilangan nyawa yang sangat berarti di hidupnya.
'Yup, mustahil Margot akan baik-baik saja dan melupakan dendamnya.' Wanita haus darah itu berani melakukan apa pun, termasuk mengancam Ace dengan nyawanya sendiri bila dendamnya tidak terpenuhi.
__ADS_1
"Bos Ace, apa yang kau pikirkan?" Carcel sepertinya mencemaskan keheningan Ace yang datang secara tiba-tiba.
"Tidak ada yang penting," sahut Ace. "Mungkin karena besok aku perlu menghadapi pemakaman ibu Fawn, aku tidak bisa menahan diri dan sedikit bernostalgia pada pemakaman ayah."
"Oh..." Carcel tersentak atas pengakuan Ace. Ia tidak tau harus merespon seperti apa atas pengakuan atasannya yang terkesan memanggil iba.
Ace--meskipun terlihat seperti monster yang tidak akan berdarah bila ditikam--masih seorang pria yang mempunyai ikatan dekat kepada Harkin Hunter. Mereka mungkin berpisah dalam keadaan bermusuhan, tapi permusuhan itu tidak menutupi realita kalau Harkin adalah ayah sekaligus guru yang mendidik Ace hingga ia menjadi pria berdarah dingin seperti sekarang.
"Apa kau merindukan tuan Harkin, Bos?" Carcel bertanya dengan kesungkanan.
Mendengar pertanyaan Carcel, Ace pun terkekeh ringan. Ia melirik Carcel sekilas sebelum menggeleng-gelengkan kepala. Ia sangat tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut Carcel. Pria yang sudah menyaksikan bagaimana ia menjalani kehidupannya.
"Menyebut nostalgia yang kurasakan sekarang sebagai kerinduan terdengar agak salah, bukan?" Ace menjawab dengan pertanyaan lain.
"Itu..., kurasa wajar untukmu merindukan ayahmu sendiri, Bos."
"Mm..., tapi untuk seseorang yang menjalani kehidupannya di luar garis kewajaran, aku merasa kata rindu sangat tidak cocok untuk mendeskripsikan perasaanku terhadap ayahku. Aku mungkin memikirkannya, tapi entahlah..., kerinduan adalah sesuatu yang tidak akan pernah kurasakan." Itu sangat asing dan aneh di telinga.
Juga, bukankah kerinduan muncul dari keinginan untuk bertemu dengan orang itu kembali? Ingin melihatnya? Mendamba keberadaannya?
Mendamba keberadaan sosok Harkin Hunter, ingin bertemu dengannya atau sekedar melihatnya kembali adalah sesuatu yang tidak pernah Ace rasakan sama sekali. Jika ada sesuatu yang ia rasakan setiap kali ia mengingat ayahnya, maka itu adalah kebosanan. Ace bosan mengingat bagaimana kematian ayahnya membuat ia harus menderita di bawah tekanan Margot yang gila.
"Aku akan kembali ke kamarku sekarang," tukas Ace. "Setelah upacara pemakaman besok, aku dan Fawn akan kembali ke rumah. Aku ingin kau mengingatkan Felix untuk menyiapkan makan siang yang banyak untuk Fawn."
"Baik, Bos." Carcel mengangguk.
...----------------...
__ADS_1