
...FAWN pov...
...----------------...
Hari ketika aku memutuskan untuk menyingkirkan Anggara, aku sempat mempertimbangkan untuk menyingkirkan Evan Caspian juga. Mengingat keduanya adalah sahabat dan rekan yang berbagi tujuan sama, yaitu menyingkirkan Ace.
Wajar bagiku bila aku mempunyai keinginan untuk membunuh Evan sekalian. Meskipun Evan mempunyai Theo yang terbilang lebih kuat dan lebih berbakat dariku melindunginya, aku percaya bila aku mempertaruhkan nyawaku, aku bisa mengalahkan pria itu.
Aku percaya, tidak ada rintangan yang sulit di dunia ini setelah aku kehilangan segalanya. Aku tidak punya hal berharga yang membuatku harus peduli pada keselamatanku sendiri. Yah,tentu saja Ace adalah pengecualian. Ace sangat mencintaiku, kupikir dia akan terluka bila aku mati. Tetapi, bila itu untuk melindunginya, aku tidak takut pada kematian.
Aku hendak melibatkan Evan sebagai targetku. Namun, setelah aku mengingat kembali awal mula permasalahan ini datang dari Evan sendiri, rasanya tidak akan adil untuk Ace bila aku menginterupsi. Bagaimanapun, sosok yang dirugikan dalam pertikaian keluarga itu adalah Ace dan Margot, mereka bersaudara lebih berhak menyingkirkan Evan daripada aku.
Dengan pemikiran itu pun, aku menarik diri dari melibatkan Evan ke dalam misiku. Aku hanya akan menyingkirkan Anggara semenjak dia mempunyai hutang nyawa padaku.
Aku pikir aku tidak perlu terlibat dalam masalah Ace dan Evan, tapi di sini aku sekarang. Jauh dari keramaian, memantau dalam diam bagaimana Ace berhadap-hadapan dengan Maximillian. Hingga akhirnya Margot datang dengan sebuah pistol di tangan.
Dari kejauhan ini, aku masih bisa melihat bagaimana ekspresi Margot dipenuhi kepuasan dan kemurkaan yang berpadu-padan. Dia--dari semua orang di Hunter, adalah sosok yang sangat mendambakan momen ini.
Jack Hunter yang terbilang menuntut dendam yang sama sepertinya tidak menunjukkan agresi yang serupa. Dia masih mempertahankan ekspresi tenang dan berdiri di belakang Margot seperti pengawal.
Aku rasa, saat itu pun Jack Hunter mempunyai kepuasan samar di hatinya.
Tidak seperti Jack Hunter ataupun Margareth Hunter yang menapak maju untuk mengeksekusi Maximillian, Ace menyingkir mundur dan menyalakan rokoknya dengan tenang. Dia tidak menaruh ketertarikan pada pertukaran kata yang diberikan Margot kepada Max, tidak pula ia menaruh kepedulian pada tanggapan Max yang terang-terangan menunjukkan kebencian.
"Ketika aku melihatmu seperti ini, aku bertanya-tanya apa kau benar-benar manusia atau hanya sebuah robot yang dilapisi oleh kulit dan daging?" Aku bergumam pada diriku sendiri saat memperhatikan Ace yang masih skeptis pada situasi yang terjadi di hadapannya. Dia seperti bongkahan es di tengah samudera.
"Aku tidak menyesali apa pun. Bahkan bila aku mampu mengulang waktu, aku akan melakukan hal yang sama, Margareth. Tidak, bila aku bisa mengulang waktu, aku akan menyingkirkanmu dan saudaramu sekalian." Maximillian berujar cukup keras di sana, dia berdiri dengan dagu terangkat angkuh. Pistol yang terarah ke wajahnya dia tanggapi seperti guyonan semata.
"Untuk orang yang akan mati, kau cukup arogan."
"Seperti yang kukatakan, aku tidak mempunyai penyesalan. Kau sebaiknya membunuhku tanpa meminta apa pun dariku. Aku tidak akan mengatakan apa pun yang memuaskanmu."
"Haaa~" Margot bergetar dalam emosi yang membuncah.
Dalam pandanganku, apa yang Maximillian ucapkan adalah kejujuran. Daripada mengharapkan kata terakhir yang mengindikasikan permohonan maaf atau penyesalan, sebaiknya Margot langsung menyingkirkan Max saja. Itu lebih baik daripada membunuhnya setelah mendengar dia mengatakan sesuatu yang hanya akan meninggalkanmu dengan luka.
Kau seharusnya datang dan langsung menyingkirkannya, bukan mengajaknya bicara dan mendengar setiap untaian kata yang keluar dari mulutnya.
Benar.
Aku seharusnya melakukan hal itu ketika menghadapi Anggara. Aku seharusnya tidak mendengar sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Sekarang segala pikiranku menjadi runyam dan kacau berantakan. Aku tidak tau yang mana yang putih dan mana yang hitam. Situasinya menjadi sangat suram.
Aku harap aku tidak mendengar apa pun saat itu.
"Kalau kau sangat ingin mati, aku akan memberikannya padamu. Aku akan membunuhmu, aku akan membunuhmu!" Margot berujar sambil melangkah maju. Dia mendekati Maximillian dengan pistol yang berada tepat di antara kening pria itu.
"Kau merampas kebahagiaanku, kau sudah menghancurkanku. Aku akan membunuhmu untuk itu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
__ADS_1
Margot adalah wanita yang kuat. Dia mencintai dengan kekuatan juga. Cintanya pada orang tuanya sangat besar ke tahap ia rela menggunakan nyawanya untuk bernegosiasi pada Ace yang sama sekali tidak peduli. Ia keras kepala dan penuh ambisi yang berapi-api.
Tentunya, untuk wanita yang memelihara dendam di dada, dia akan mengharapkan pembalasan dendamnya berakhir dengan kepuasan. Seperti kembang api yang menutupi akhir acara, dia mau dendamnya berakhir dengan luar biasa.
Sayangnya, Maximillian tau aspek itu dan tidak mau memuaskan Margot. Well, mengharapkan Maximillian putus asa juga bukan sesuatu yang kupikirkan akan terjadi di dunia ini. Pria itu--dia mirip dengan Ace dalam berekspresi. Dia bukan tipe pria yang akan meringkuk di kakinya ketika dihadapkan kepada kematian. Katakan saja itu dipengaruh oleh posisinya sebagai pemimpin, harga dirinya pasti lebih penting daripada nyawanya.
Margot tidak akan mendapatkan kepuasan yang ia inginkan terkecuali..., oh.
Tidak, dia tidak mungkin datang.
Evan Caspian tidak mungkin kembali. Aku menyaksikan sendiri pria itu pergi dari mansion ini bersama Theo. Dia membawa barang-barangnya, itu berarti dia melarikan diri dan meninggalkan ayahnya sebagai tumbal dari konflik ini. Jika dia kembali, dia hanya akan membuat pengorbanan ayahnya sia-sia.
Aku tidak tau mengapa aku datang ke sini dan menyaksikan ini.
Aku pikir aku akan menemukan jawaban untuk kekacauan yang terjadi di benakku sekarang..., tapi aku tidak tau apa pun. Apa yang kurasakan, dan apa yang kuinginkan? Apa yang benar untuk dilakukan? Semuanya seperti benang kusut.
Ace Hunter, apakah wajar mengemban cinta dan benci dalam kadar yang sama?
Aku tidak ingin membencimu.
Aku...
Dorr!!!
Suara senapan menginterupsi ruangan. Aku yang berdiri jauh dari keramaian ikut terperanjat saat mendengar bunyi ledakan yang datang tiba-tiba dan memecah keheningan. Dari sumber suara ledakan itu juga, aku melihat samar-samar kedatangan Evan Caspian bersama Theo memasuki ruangan. Mereka menembak kesana-kemari, menargetkan siapa pun yang muncul dan menyerang balik.
Mataku seketika mencari keberadaan Ace, namun aku kehilangannya. Dia tidak di posisinya berdiri lagi.
Bunyi pot yang pecah berpadu dengan ledakan senjata yang bersahutan. Aku berusaha menemukan Ace di keramaian, tapi aku malah menemukan keberadaan Ozan yang tersudutkan. Aku melihat ia menerima tembakan di pundaknya. Margot berada di bawah perlindungan Jack Hunter sementara Evan bertemu dengan ayahnya.
Ini adalah peperangan yang tidak berharap kusaksikan.
"Carcel..." Aku mendengar suara Ace di keramaian, tapi aku tidak melihat keberadaannya. Carcel yang dipanggil tersungkur di lantai, darah mengalir dari perutnya.
Sialan, aku tau Theo adalah sosok yang sangat terlatih, tapi aku tidak tau dia sehebat ini. Mengapa situasinya jadi terbalik?
Apa yang harus kulakukan?
Carcel sudah tumbang. Ozan tidak di posisi yang mampu menyerang.
Haruskah aku...
Aku?
Tidak, jika Ace berakhir di sini, maka itu baik untukku, bukan? Dia menyingkirkan semua orang yang kusayang.
Sosok Vita yang tiba-tiba menghilang, ibuku yang meninggal dan Joseph..., ketiga orang yang berharga bagiku, mereka semua musnah bukan tanpa alasan atau sebuah kebetulan. Mereka bertiga, hanya Ace yang tau betapa penting mereka bertiga bagiku. Hanya Ace yang tau, akan seputus asa apa aku bila aku kehilangan mereka.
__ADS_1
Dia menyapu bersih orang yang kusayang, meskipun aku tidak tau tujuannya, adalah suatu hal yang tidak dapat kumaafkan. Jika dia mati di sini aku mungkin..., ini adalah hal yang benar.
Dia pantas mendapatkannya.
Arcelio Hunter, kau tidak akan bisa mengendalikanku dengan melemahkanku. Aku tidak akan berada dalam sangkar yang sama untuk kedua kalinya. Aku akan bebas dari cengkeramanmu dan..., dan...
"Aku pikir kau akan melarikan diri dan bersembunyi selamanya, Evan." Ace keluar dari persembunyiannya. Aku tidak tau apa yang dia pikirkan, tapi dia berada di sana. Berhadap-hadapan dengan Evan dan Theo yang sudah mengendalikan situasi di sana.
Margot berdiri di belakang Jack yang mengacungkan pistol ke arah Theo.
"Aku bukan pengecut." Evan menanggapi dengan suara yang jenaka. Ia mungkin merasa sudah menang di sana. Setidaknya, ia berada di posisi yang lebih menguntungkan. "Kau pikir aku akan membiarkanmu melukai Ayahku."
"Evan, kau seharusnya tidak datang!" Max memprotes keberatan.
"Ayah, aku bukan remaja yang perlu kau lindungi lagi. Aku adalah pemimpin Caspian, aku yang akan melindungimu mulai sekarang." Evan berujar tanpa menurunkan pandangannya dari Ace yang omong-omong, masih memiliki rokok di bibirnya.
Pria itu tidak memiliki kepedulian pada kematian. Aku penasaran pada hatinya yang kelam, apakah dia pernah memiliki kecemasan? Kemungkinan tidak, kan? Melihat situasinya sekarang yang masih tenang ketika pistol teracung ke arahnya, Ace mungkin tidak menaruh peduli pada keselamatannya sendiri.
"Lakukan sekarang juga," ujaran Ace membuat mataku melebar sempurna. Apa yang baru saja dia katakan?
"Kalau kau mau membunuhku, lakukan sekarang. Berhenti menunda-nunda dan bicara." Permintaan Ace dibarengi dengan langkah lebarnya menuju Evan, dia yang mendekat membuat Evan dan Theo seketika mundur dan waspada.
"Aku akan melakukannya, kau tidak perlu memerintahku." Evan membuat keputusannya, dan saat itu juga Margot berteriak hendak mencegahnya. Ia meronta-ronta di balik pertahanan Jack. Mencoba mencegah adiknya untuk menerima serangan Evan. Mencoba menghentikan pembantaian untuk terulang.
"ACEEE..."
Evan menarik pelatuknya, dan bersamaan itu juga..., bunyi ledakan senjata memekakan telinga. Mata Margot melebar terpana. Dia berpegangan kuat pada lengan Jack Hunter sementara di hadapannya..., Evan Caspian tumbang ke tanah.
"Evan?" Maximillian memekik penuh keterkejutan.
Sialan!
Mau tidak mau aku keluar dari persembunyian. Aku tidak mau melakukan ini, aku seharusnya tidak ikut campur sama sekali. Aku tidak seharusnya melibatkan diriku dalam pertikaian ini tapi...,
"Fawn?" Margot bergumam terbata-bata saat perhatiannya terarah padaku yang muncul dari rimbun pepohonan.
Maafkan aku yang sudah merebut nyawa musuhmu, tapi aku harus melakukan itu untuk melindungi Ace. Ya, sialnya..., aku sepertinya tidak bisa membiarkan Ace mati. Perasaanku padanya menjawab segala keraguan yang muncul di hatiku saat itu juga. Ketika Ace hendak menerima kematiannya dengan lapang dada, aku..., aku tidak bisa.
Ini adalah pilihanku.
Untuk saat ini, hatiku menginginkan Ace untuk selamat. Aku tidak menginginkannya terluka. Aku sudah kehilangan cukup banyak untuk bisa kehilangannya.
Aku pikir, selama aku mencintainya, aku akan menutup mata pada dendam yang kumiliki padanya. Setidaknya..., aku hanya ingin berbahagia. Meskipun ini adalah kesalahan, aku ingin tetap bersamanya.
Maafkan aku, Tuhan. Bila melakukan kebenaran berarti menyingkirkannya dari hidupku, aku mungkin akan terus menutup mataku dan terbenam dalam kesalahanku. Aku serakah, aku tidak bisa membiarkan Ace lepas dari genggamanku.
Aku tidak bisa membiarkannya mati.
__ADS_1
Tidak sekarang, ketika aku sangat mencintainya.
...----------------...