
...FAWN pov...
...----------------...
Setelah pesta ulang tahun tuan Callum, ini pertama kalinya aku bertemu dengan bos Anggara. Pria dengan mantel cokelat gelap itu berdiri sendirian di depan kolam ikan keluarga Caspian. Bayangan dari rimbun pohon yang tumbuh subur dan besar di dekat kolam itu jatuh di atas bos Anggara, melindunginya dari cahaya matahari yang mulai meninggi.
"Selamat pagi, bos Angga." Aku menghadapnya sendirian. Aidan--pengawal nona Indira memperhatikan kami dari arah teras belakang. Aku pikir dia penasaran, tapi tidak mungkin dia berani mendekat.
Saat ini, di tempat ini hanya ada aku dan bos Angga yang masih berdiri membelakangiku. Ketika bos Angga mendengar sapaanku, dia menoleh sebentar dan kembali menatap pantulan dirinya di kolam.
"Aku dengar bos Angga memanggilku. Uh, jadi..., apakah ada sesuatu yang bos Angga inginkan?" Aku berdiri di belakang bos Angga dengan sedikit kecemasan. Apa dia akan memarahiku karena sudah tidak menjaga adiknya dengan baik? Maksudku, aku adalah satu-satunya pengawal nona Indira yang setuju pada apa pun itu pilihan nona Indira.
"Aku sebenarnya datang untuk mengecek kabar Indira," bos Anggara akhirnya memutar tubuhnya menghadap ke arahku. "Ayahku sangat cemas mendengar informasi yang beredar tentangnya."
Saat aku menatap bos Anggara, menatap kepada wajahnya yang memiliki jejak pukulan samar di pipi dan pelipisnya, aku tau kalau Callum Rashid berulah lagi. Pria yang merupakan pemimpin keluarga Rashid sebelumnya adalah pria keras yang memimpin anak-anaknya dengan kekerasan.
Melihat kondisi bos Anggara sekarang, aku terhenyak dalam kesedihan dan keprihatinan. Padahal dia adalah pemimpin di Spades sekarang, tapi dia masih tidak bisa lepas dari kuasa ayahnya.
"Maafkan aku, bos Angga. Semua ini adalah salahku." Aku menunduk dalam-dalam. "Maafkan aku yang sudah tidak bisa mencegah nona Indira."
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri." kata-kata bos Anggara tidak menenangkanku sama sekali, sebaliknya, aku makin merasa berdosa.
"Indira sejak awal bukanlah seseorang yang dapat dikendalikan. Baik oleh aku, ataupun sekedar pengawal biasa sepertimu."
"Wa-walaupun begitu..." Aku tidak melakukan upaya apa pun untuk mencegahnya. Setidaknya, aku seharusnya mencoba.
"Kita tidak akan kemana-mana dengan topik ini, Fawn." Bos Angga menyela ucapanku. "Saat ini, aku hanya mencemaskan Indira. Apa dia baik-baik saja dengan segala kerunyaman ini?"
"Aku..., aku pikir mereka berdamai?" Mustahil melakukan itu kepada orang yang kau benci, bukan? Maksudku..., nona Indira dan tuan Evan melakukan itu..., kemungkinan adalah sebagai bentuk perdamaian mereka, kan?
Entahlah, aku tolol.
"Indira adalah gadis yang sulit dikendalikan," ujar bos Angga dan aku setuju, sangat-sangat setuju. "Terutama jika dia sedang dalam keadaan marah."
"Oh, benar sekali." Sial, aku menyuarakan isi kepalaku. "Ma-maaf."
"Fawn,"
"Iya, bos Angga."
"Sebagai kepala pengawal Indira sebelumnya, kau adalah satu-satunya orang yang dapat kuandalkan. Kau pasti tau ini, bukan?"
"E-eh, iya?" Kenapa tiba-tiba?
"Aku tidak ingin mengatakannya di sini karena kurasa kita sedang diamati, tapi..." bos Angga menggantung ucapannya dan menatap ke arah Aidan yang masih memantau kami di pintu teras. "Indira sudah tidak aman di sini."
"Ah," aku kembali teringat pada perintah bos Angga yang memintaku agar membawa lari nona Indira bila sewaktu-waktu keributan terjadi.
"Aku mengandalkanmu, Fawn. Kau tau apa yang harus kau lakukan, bukan?"
"Baik, bos Angga."
"Untuk saat ini, kau pasti tau situasi yang terjadi di Clubs dan Spades, bukan?"
"Aku membaca berita." Oh, dan aku ingat melihat di suatu malam Evan Caspian menghancurkan barang-barang di ruang kerjanya. Aku ingat Rishan berlari menuruni tangga dengan kepala berdarah. "Situasinya memang sangat buruk. Apa bos Angga akan baik-baik saja?"
"Aku tidak tau tentang baik, tapi aku tidak akan diam." bos Angga menimpaliku sambil mengambil satu langkah maju. "Spades adalah tanggung jawabku, apa pun yang terjadi di antara Evan dan Ace, mereka tidak akan kubiarkan menodai rumahku."
Tapi, bos Anggara..., masalahnya kau adalah salah satu target Ace juga. Selama kau menjalin kerja sama dengan Evan, kau akan selalu menjadi musuh di mata Ace.
__ADS_1
Benar-benar, situasi ini membuat kepalaku pusing. Apa yang harus kulakukan agar bos Anggara, pria yang sangat kuhormati..., dan Ace, pria yang kucintai, tidak saling mengejar leher satu sama lain?
Apakah ada peluang untuk mereka berdamai?
"Fawn," bos Angga memanggilku sekali lagi.
"Apa kau mengenal Vera?"
"Huh?"
"Aku melihatmu malam itu di Leviathan, minum bersamanya."
SIAL, SIAL, SIAL? TUNGGU SEBENTAR? APA ADA KEMUNGKINAN BOS ANGGA MELIHATKU DEKAT DENGAN ACE JUGA?
...----------------...
Bertemu di Leviathan adalah kesalahan. Aku tidak tau kalau tempat itu adalah tempat yang kerap bos Anggara kunjungi, tidak..., karena sial, pantas saja. Dari mana bos Angga bisa menjalin relasi dengan Vera kalau bukan karena mereka kerap bertemu di tempat keramat itu? Nona Margot juga sering ke sana, kan?
Sial, sial, sial!
Aku tidak tau sudah berapa kali aku mondar-mandir di dalam kamarku. Aku panas dingin memikirkan kalau sedikit saja, nyaris saja, bos Anggara mengetahui hubunganku dengan Ace. Itu tidak boleh. Aku tidak ingin orang-orang tau kalau aku dan Ace mempunyai kaitan, terlebih ketika Ace adalah musuh tuan Evan. Mereka bisa membantaiku habis.
Tidak, mereka mungkin bisa melakukan hal yang lebih buruk dari sekedar membunuhku!
Aku tidak ingin menaruh risiko bahaya baik itu kepada Ace atau padaku.
Sekali lagi, aku menatap layar ponselku yang menyala. Menatap kepada pesan Vera yang tertera di sana.
Haruskah aku pergi?
Haruskah aku menemui Ace ketika situasinya segenting ini?
Oh, sialan.
Aku lebih baik tidak pergi.
[Maafkan aku, Vera.]
[Aku tidak akan datang.]
[Kau sebaiknya tidak menungguku. Selamat tinggal.]
Setelah mengirim pesan itu, aku pun memblokir nomor Vera dari ponselku. Apa pun itu, aku tidak akan meninggalkan jejak pada konversasi kami. Aku tidak akan membiarkan diriku lengah lagi.
Ini adalah pilihan terbaik. Aku sudah membuat pilihan terbaik. Bagus, Fawnia. Kau sudah melakukan pilihan yang bijaksana. Jangan hanya mengikuti kata hatimu saja, kau tidak boleh membuat situasinya lebih buruk dari yang sekarang!
Aku tidak boleh menempatkan Ace dalam bahaya!
...----------------...
Langit di luar sana sudah berubah warna menjadi jingga.
Ketika aku keluar dari gym bersama Joseph, aku dikejutkan oleh pemandangan para pelayan yang memindahkan beberapa barang nona Indira keluar dari kamarnya. Aku dan Joseph segera menghentikan salah satu pelayan itu.
"Apa yang terjadi?" Joseph mendahuluiku. Dia menahan lengan seorang pelayan yang membawa pakaian nona Indira.
"Kami memindahkan barang-barang nona Indira."
"Ke?"
__ADS_1
"Kamar tuan Evan."
"Hah?" Aku terkejut. Maksudku, wow..., mereka benar-benar berdamai, kan? Sangat cepat dan oh, tidakkah ini terlalu cepat? Haruskah aku mengharapkan kelahiran bayi pertama nona Indira minggu depan? Hubungan keduanya mekar seperti kilat!
"Di mana bos Indira sekarang?" Joseph kembali bertanya.
"O-oh, itu..., beliau ada di kamar tuan Evan." wajah pelayan itu agak bersemu ketika dia memberikan respon terhadap pertanyaan Joseph. Seolah-olah ada yang salah di sana? Apa jangan-jangan terjadi sesuatu yang buruk pada nona Indira?
"Aku akan ke sana," kataku. Aku mengatakan ini tidak hanya pada si pelayan, tapi juga kepada Joseph. "Aku akan mengabarimu nanti." Aku melanjutkan.
Setelahnya, aku dan si pelayan wanita melenggang bersama-sama menuju kamar tuan Evan. Tempat itu tidak jauh, tapi cukup terisolasi dari keramaian. Berada di paling ujung ruangan dengan pengawasan yang ketat. Ketika aku dan si pelayan sampai di sana, Theo menyapaku tanpa kata. Pria yang merupakan kepala bodyguard tuan Evan tersebut menunjukkan ketidak-senangan atas kunjunganku.
"Maaf, apakah aku bisa bertemu dengan nona Indira?" Anggap ini sebagai kesopanan saja, ya, sialan. Seharusnya aku tidak meminta ijin darimu!
"Boleh aku tau apa keperluanmu pada nona Indira?"
"Apa aku perlu melaporkan urusanku padamu?"
"Ini adalah perintah tuan Evan. Mulai hari ini, setiap aktivitas nona Indira, siapa yang dia temui akan di monitor ketat oleh kami."
"Kami itu..., kau?"
"Ya."
"Lalu apa yang kami, pengawal nona Indira lakukan bila tugas kami sekarang menjadi bagian tanggung jawabmu juga, Theo?" lupakan kesopanan. Suara monoton pria ini membuatku kesal. Apa dia pikir dia keren dengan mata menukik tajam itu? Asal tau saja, ya, bajingan, kau terlihat seperti burung elang!
"Kau bisa kembali ke kediaman Rashid kalau kau tidak punya pekerjaan di sini."
"Huh?" Apa dia mengusirku? "Bagaimana kalau kau yang kembali pada pekerjaanmu? Menjaga nona Indira adalah kewajibanku!"
"Apa kau membantah perintah tuan Evan?"
"Tuanku adalah nona Indira, Theo. Aku dikirim dari kediaman Rashid untuk mengawal nona Indira." Dan ya, bayaranku masih datang dari keluarga Rashid. Hanya karena aku makan dan minum di sini, bukan berarti kalian mempunyai kuasa atasku, bodoh!
"Kalau kau punya keberatan, kau sebaiknya mengatakan itu padaku langsung, Fawn." suara tuan Evan menyela adu mulutku dan Theo. Secepat kilat, aku memutar kepalaku ke arah tuan Evan yang sudah berdiri di sampingku.
Pria itu tampak santai dalam kemeja hitamnya. Surai keritingnya yang memanjang, bergulung di keningnya seperti mie.
"Selamat sore, tuan Evan." Aku menyapa sebelum kembali bicara, "Boleh aku memahami apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
"Haruskah aku menjelaskan hubunganku dan Indira..., kepadamu?"
"Aku adalah pengawa--"
"Dan aku adalah suaminya, Fawn. Aku percaya ada ketimpangan yang cukup jauh dari posisi kita. Menurutmu, siapa yang lebih berhak terhadap Indira sekarang? Kau, atau aku?"
Sialan, pantas saja dia mempunyai pengawal seperti bajingan, dia sendiri lebih-lebih seperti setan.
Aku tidak bisa membantahnya, aku tidak boleh ditendang dari rumah ini. Aku punya misi khusus untuk melindungi nona Indira. "Setidaknya, katakan, apa nona Indira baik-baik saja?"
"Kau menghinaku kalau kau berpikir aku akan melukainya."
"Lalu, boleh aku bertemu dengannya?"
Evan menyeringai tipis, dan ketika dia membuka mulutnya, aku tau jawaban pria itu akan membuatku semakin membencinya. Sialan, aku ingin mencekiknya!
"Tidak."
Apa yang terjadi pada nona Indira sekarang, sialan?
__ADS_1
Oh, orang-orang di rumah ini tau benar cara membuatku naik pitam!
...----------------...