
...NORMAL pov...
...-------...
"Nona Indira!!!"
Di dalam suara berisik mesin mainan dan suara kacau dari tawa riuh rendah orang di arcade itu, Indira yang baru melenggang masuk bersama Eleanor dan Evan samar-samar mendengar namanya diserukan. Seperti datang dari Fawn.
Dalam keterkejutan, Indira berhenti melangkah dan melirik kiri kanan. Indira yang berhenti melangkah membuat Eleanor yang berjalan di sisinya turut berhenti.
"Ada apa, Indi?" Eleanor merangkul pundak Indira dan ikut menengok ke kanan dan kiri.
"Apa kau mendengar sesuatu--suara seperti seseorang memanggilku?"
Eleanor memantau sekeliling dan tidak menemukan satu pun wajah familiar di sana selain bodyguard mereka yang sekarang berbaur di keramaian. "Aku tidak mendengarkan apa pun, apa kau yakin?"
"Ah...," Indira meragu sebentar. Ia tidak tau apakah ia memang mendengarkan suara Fawn atau suara itu hanya ilusi yang kepalanya ciptakan karena dia belakangan ini terlalu banyak mencemaskan Fawn.
"Ada apa, kalian berdua?" Evan menimbrung.
"Ti-tidak." Indira menjawab dengan kecanggungan. "Bukan apa-apa."
"Hmmm, kalau begitu...,"
"Bos Evan," seorang pengawal pribadi Evan mendekat dan menginterupsi. Pria yang Indira kenali bernama Theo tersebut berbisik di dekat telinga Evan dan mengatakan sesuatu yang membuat wajah Evan berubah heran.
"Bos Evan, bodyguard keluarga Hunter berada di sini."
"Indira, kau dan Elle bisa bermain duluan." kata Evan setelah Theo mundur darinya. "Aku akan menunggu Angga...,"
"Apa ada sesuatu?" Giliran Eleanor yang heran pada sikap Evan.
"Hanya masalah pekerjaan," Evan menenangkan. "Kalian bersenang-senanglah, aku akan menyusul setelah berbicara dengan Angga."
"Baiklah," sahut Indira akhirnya.
Walau agak keberatan dan sedikit penasaran pada situasi Evan, Indira masih berada di situasi yang sangat awkward dengan Evan. Ia tidak bisa bertingkah sok akrab dan memperlakukan pria itu seperti suaminya sendiri, walau pada faktanya memang benar seperti itu. Evan membangun tembok tak kasat mata di antara mereka, Indira hanya bisa tersenyum palsu ketika Evan lagi-lagi menolak keterlibatannya di hidup pria itu.
"Kalau aku tau kalian bakal membicarakan pekerjaan selama hari libur juga, aku lebih baik pergi hanya bersama Indira. Kalian laki-laki sangat tidak tau cara bersenang-senang." Eleanor merutuk sebelum merangkul pundak Indira pergi. Si gadis berbibir merah itu pada realitanya sangat tidak bisa mengontrol ucapannya sendiri. Dia hanya manis ketika itu Jem yang di depan mukanya.
"Ayo, Indi. Aku akan menemanimu mencari suami baru."
"Elle, kau tidak boleh bicara kasar dengan Evan."
"Kenapa? Karena dia kepala keluarga Caspian?"
Indira menuju permainan bola basket dan memungut satu bola dari keranjang. "Jawabannya sudah jelas seperti itu, kan?"
"Kalian semua sangat gila pada jabatan, bahkan bila dia pemimpin negara ini, dia hanya manusia. Apa aku perlu berkomunikasi dengannya dalam bahasa formal agar harga dirinya tidak terluka?"
"Oh, Elle, bisa kau berhenti?"
"Baiklah, baiklah, aku tutup mulut. Ayo main dan siapa yang kalah akan mentraktir yang menang."
__ADS_1
"Apa ada sesuatu yang tidak mampu kau beli sendiri?"
...----...
Sementara Indira, Eleanor dan Evan mengeksplorasi mall terbesar di utara tersebut, Anggara yang sebenarnya tidak berminat untuk pergi terpaksa pergi dan sekarang sedang membeli segelas slurpee di dispenser yang berbaris panjang setelah pintu masuk Arcade.
Anggara baru saja menarik satu gelas berukuran besar dari bawah dispenser dan hendak mengambil slurpee rasa blueberry dari konter ketika seseorang datang dan berdiri di dekatnya.
"Tuan Anggara?" Suara itu seperti keterkejutan.
Anggara menengok ke samping dan menemukan seorang wanita dalam setelan jas hitam dan rambut cokelat ikal sepundak sedang berdiri di sampingnya sambil memegang gelas plastik yang sama. Mata gadis itu melebar terpana.
Asing. Anggara tidak mengenal sosok itu sama sekali.
"Ah-ma-maaf. Aku sudah tidak sopan, maafkan aku." wanita itu lalu membungkuk dua kali dalam kecepatan dan kegugupan.
"Siapa kau?" Anggara menaruh gelas plastiknya di meja dan melirik ke belakang gadis itu untuk menemukan kalau-kalau ada wajah familiar di dekatnya yang mampu Anggara kenali. Anggara yang tadinya merasa santai--menjadi sedikit waspada. Ia menyesal sudah meminta Julian (bodyguard-nya) pergi mendampingi Indira. Sialan, bagaimana kalau gadis ini adalah musuh?
"Oh, aku Vera." Gadis itu kembali membuka mulutnya. "Aku pengawal pribadi bos Margot. Oh, maksudku bos Margareth Hunter."
Hunter? Oh, jadi dia adalah pengawal dari wanita suram itu?
"Maaf, aku tidak mengenalimu." Anggara menyunggingkan senyum palsu. "Apa itu artinya Margareth juga berada di sini?"
"Ya?"
"Bosmu?"
"Oh, apa mereka berada di area bowl--" sebelum Anggara sempat menyelesaikan ucapannya, Vera seketika maju dan menutup mata Anggara yang berusaha mengintip ke area bowling yang tidak jauh dari tempat mereka hendak mengambil minum.
"Hei!!! Apa yang kau lakukan?!" Anggara kepanikan saat Vera menutup matanya paksa dengan telapak tangannya yang beraroma tajam seperti minyak aromaterapi. Tidak hanya menutup matanya paksa, Vera bahkan menggelantung di pundaknya.
"Maafkan aku tuan Angga, aku melakukan ini demi kebaikanmu!" Vera melirik ke arah arena bowling dan menatap ke sekeliling tempat itu dengan gugup.
Fawn sedang bersama dengan Ace sekarang, akan sangat berbahaya kalau Anggara melihat Fawn. Pertikaian antar keluarga dapat terjadi karena mereka sudah melanggar kode etik yang dibuat masing-masing kepala keluarga terdahulu.
"Sialan, lepaskan aku!" Anggara berusaha memberontak, tapi usahanya tidak dapat menandingi kuat pertahanan Vera. Gadis itu adalah bodyguard, sudah masuk akal dia kuat. Hanya saja, Anggara tidak menyangka dia sangat kuat.
"Vera?" Di tengah kericuhan yang diciptakan Vera, suara Margot menengahi mereka. Wanita dalam jumpsuit hitam dan boots hitam itu mempelototi pengawal pribadinya dengan sorot mata 'apa kau gila?'.
"Bo-bos Margot?" Vera lekas melepaskan Anggara dan berdiri kikuk. Ketakutan merayap di tubuhnya. "Ma-maafkan aku."
"Apa yang kau lakukan? Apa kau gila?"
"Oh..., itu...," Vera kehilangan kata-kata.
Saat itu juga, Anggara yang baru dilepaskan langsung mengonfrontasi Vera. Telunjuknya teracung di muka si bodyguard yang sekarang memucat.
"Apa yang kau pikir baru saja kau lakukan? Siapa yang kau pikir baru saja kau sentuh? Apa kau tidak tau siapa aku?!!"
"MA-MAAFKAN AKU!" Vera seketika membungkuk dalam. "A-ah-aku melihat lebah mendekatimu, jadi aku mencegahnya mendekat dengan menarikmu."
"Apa aku terlihat bodoh?" Sesuatu pasti terjadi yang menyebabkan gadis ini bertingkah aneh. Anggara sangat yakin. Apa yang berusaha keluarga Hunter tutup-tutupi? Sialan!
__ADS_1
"Ohohohohoho~" Margot tiba-tiba tertawa. Dia mendekati Anggara dan Vera yang bersitegang dengan langkah santai. "Sepertinya Vera ketahuan. Bagaimana ini, tidak ada cara untuk menyembunyikan rahasia lagi."
"Rahasia?" Anggara berbalik menatap Margot.
"Maafkan aku Anggara," Margot melembutkan suaranya seolah-olah prihatin. Sikapnya yang saat itu sangat palsu seketika membuat Vera mendongak penuh keheranan. Apa lagi yang sedang bosnya pikirkan? Jangan bilang dia berencana mengungkapkan tentang keberadaan Fawn pada Anggara!
"Veraku..., Vera kami sebenarnya..., uhm..., penggemar beratmu." Margot menjatuhkan bom verbal itu dengan tingkah malu-malu. "Aku terpaksa mengatakan ini, maafkan aku Vera."
"B-bos?"
"Penggemar?" Anggara sulit percaya hal tersebut.
"Vera sudah mengagumi sejak lama, dan kau tau cinta..., jika tidak tersampaikan akan mampu membuat seseorang gelap mata." Margot mengarang indah tanpa perasaan bersalah. Vera mempelototinya dengan raut penuh protes. "Dia pasti sangat putus asa ingin menyentuh pria yang dia sukai. Ahahahaha. Ini pasti salahku karena sudah memaksakannya untuk melupakanmu."
"BOS?"
"Vera, aku harap kau tidak menakut-takuti Angga lagi ke depannya. Ini memalukan bagi keluarga Hunter. Aku akan menghukummu pulang ini." suara Margot kembali meninggi. "Lalu..., mengenaimu Anggara, apa kau masih belum belajar dari pengalamanmu?"
"Huh?" Anggara masih belum mampu memproses ucapan Margot dan sekarang wanita itu sudah melemparkannya topik yang baru.
"Kau adalah kepala di Spades, sudah sewajarnya kau memiliki satu orang bodyguard di sisimu. Sangat miris."
Anggara menelan kekesalan. Andai saja ia tidak ingat siapa lawannya bicara sekarang, ia mungkin akan memaki wanita suram itu.
"Vera, ayo pergi. Aku sudah bosan di sini." Margot menarik Vera ke dalam gandengannya dan tindakan Margot saat itu juga mengingatkan Anggara pada suatu kenangan samar di benaknya. Tentang seseorang yang menyelamatkannya di kamar mandi, seseorang dengan harum aromaterapi.
Jadi itu dia?
Gadis yang menolongnya di kamar mandi dan disaat bersamaan memperlakukannya dengan kasar adalah..., Vera?
"Kau..., berhenti." Anggara dengan reflek menarik pergelangan tangan Vera, menghentikan gadis itu yang berlalu melewatinya bersama Margot.
"Huh?" langkah Vera pun terhenti. Ia menengok ke arah Anggara dengan perasaan ngeri. Apa pria ini masih marah karena tindakannya yang kurang ajar?
Margot turut berhenti. Sepasang netra kelamnya menyorot kepada pergelangan tangan Vera yang dicengkeram erat oleh genggaman Anggara.
"Apa yang kau lakukan?" Margot sedikit was-was.
"Aku...," Anggara menggantung ucapannya sebentar. Ia ingin mengatakan sesuatu kepada Margot, tapi menyadari sekarang bukan waktu yang tepat untuk ia memulai misinya. Margot terlihat tergesa-gesa, seolah ada sesuatu yang berusaha ia dan orang-orangnya sembunyikan.
"Apa kau akan diam saja?" Margot menegur tidak sabaran.
"Ah..., aku hanya ingin mengatakan...," mata Anggara bergulir kembali pada wajah Vera yang tercengang tak nyaman dalam genggamannya.
"Aku mengapresiasi perasaanmu, tapi maaf. Aku sudah mempunyai orang yang kusukai." Anggara menyunggingkan senyuman tipis sebelum menatap kepada Margot.
Tentu saja, itu semua adalah dusta.
"Huuh..., te-terima kasih." Vera menanggapi bingung.
Apa dia baru saja ditolak?
...-----...
__ADS_1