DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
120


__ADS_3

...FAWN pov...


...----------------...


Pertemuanku dengan Vera membuatku berpikir panjang. Aku mencemaskan Vera, tapi di satu sisi--aku juga memikirkan diriku sendiri.


Apa yang Vera katakan mengenai keinginan untuk melindungi orang yang ia sayangi, keinginan untuk mengutamakan hatinya sendiri--membuatku terpaku. Ada ketakjuban merayap di dadaku, berpadu dengan kecemburuan dan dilema.


Ini bukan pertama kalinya aku ingin mengutamakan perasaanku di atas segalanya. Namun, setiap kali pertanyaan ini muncul di kepalaku, setiap kali keinginan untuk memihak Ace muncul di benakku, aku selalu meredam perasaan itu kembali ke dasar hatiku. Menguncinya dan menepikannya jauh-jauh.


Aku tidak ingin mengkhianati tuan Anggara adalah tekadku sejak lama. Aku tidak menyesal akan tekad dan tujuanku, aku hanya merasa..., pahit?


"Fawn?" Joseph mendatangiku yang sedang duduk sendirian di cafetaria. Kopi hitam yang menemaniku masih memancarkan uap panas.


"Ada apa?" Aku memandang Joseph dari ujung kaki hingga kepala, menilainya yang terlihat tergesa-gesa dan heboh?


"Enam orang sudah mati," bisik Joseph. Dia menggeserku dan duduk di sebelahku. Pundak kami bertemu. "Bagaimana ini?"


"Bagaimana apa? Siapa yang kau maksudkan?" Aku tidak tau apa-apa.


"Tuan Max mengirim enam orang untuk membunuh tuan Ace..." suara Joseph semakin samar saat ia mengucapkan nama Ace. Namun, aku tidak begitu peduli. Aku lebih peduli kepada kata 'membunuh' yang berdampingan dengan nama Ace.


Sesuatu yang gelap dan hitam seakan berkumpul di pandanganku, menekan jantungku. Aku tidak tau perasaan apa itu, tapi aku merasakan kemurkaan berbaur di sana. Membuat tanganku bergetar ketika memikirkan kalau Ace dalam bahaya.


Mereka membuat Ace dalam bahaya.


"Fawn..."


"..."


"Fawn?" Aku tidak tau itu panggilan Joseph yang keberapa, tapi dia berhasil menarik kesadaranku kembali ke realita. Tanganku masih bergetar dan aku tidak bisa mengendalikan reaksi tubuhku sama sekali. Panas dingin membaur menciptakan ngeri.


"Bagaimana ini, Fawn? Bagaimana kalau kita dikirim untuk membunuh tuan Ace?" Alasan kehebohan Joseph akhirnya terucap. Joseph mencemaskan dirinya sendiri adalah hal yang wajar.


"Apa tuan Ace baik-baik saja?" Aku mengkhawatirkan Ace, dan itu kesalahan. Ace adalah lawanku sekarang, setidaknya di permukaan dia adalah lawan. Tapi..., hatiku sakit memikirkan kalau dia terluka. Ace benci terluka, itu memancing amarahnya tidak terkendali dan aku tidak ada di sana. Aku tidak berada di sisi Ace untuk menenangkannya. Semua ini membuatku depresi.


"Apa kau dengar apa yang kuceritakan barusan? Enam orang sudah mati dan itu dari pihak kita. Kita." Joseph mendramatisir ucapannya. "Mereka adalah orang-orang suruhan tuan Max, sebenarnya. Tapi..., tetap saja, enam orang itu berarti enam nyawa, dan mereka terhapus dari bumi ini dengan gampangnya. Oh, sial! Aku sudah pasti akan mati kalau aku disuruh membunuh tuan Ace!"


"Kenapa mereka melakukan ini?"

__ADS_1


Maksudku..., tidakkah mengirim enam orang agar mati di tangan Ace adalah tindakan sia-sia? Berhadapan langsung dengan Ace--dengan tujuan pembantaian bukanlah sisi yang dapat dimenangkan keluarga Caspian.


Ace mempunyai pengawal yang terlatih dan tindakan yang terlalu blak-blakan seperti itu hanya seperti lelucon membosankan di mata keluarga Hunter. Enam orang telah mati secara percuma. Apa yang dipikirkan tuan Max?


"Pikirkan dirimu, Fawn." Joseph mengeluh. "Tuan Ace itu monster. Kau mungkin tidak begitu tau karena kau tidak pernah berhadapan lama dengannya, tapi aku..., aku pernah bernapas di ruang yang sama dengannya. Hanya berdua, dan saat itu seperti paru-paruku berhenti berfungsi. Dia bukan pria biasa. Dia iblis."


"Joe, perhatikan ucapanmu. Tuan Ace adalah sahabat nona Indira." Dia juga adalah..., orang penting bagiku. Meskipun apa yang Joseph baru saja lontarkan tentang Ace bukanlah kesalahan atau kebohongan, tetap saja aku tidak suka bila Ace dijelek-jelekkan. Ace memang monster, tapi dia monsterku.


"Siapa yang peduli dia teman siapa. Kita akan mati, Fawn."


"Aku peduli." tukasku. "Jaga ucapanmu. Juga, kalau kau mau mati lebih awal, terus saja sebutkan nama tuan Ace dengan mulutmu itu. Tuan Evan pasti akan sangat senang mengirimmu ke mansion keluarga Hunter."


"Sialan." Joseph mengumpat, ia melirik kiri kanan dan merasa lega sudah tidak menemukan siapa pun menyimak konversasi kami. Karena itu berbahaya. Nama Ace sudah sangat tabu di sini.


"Enam orang itu, katakan apa yang terjadi?" Aku meminta informasi lebih detail menyangkut topik itu. Seingatku, sebelum aku pergi kemarin, aku melihat sekitar enam orang bersiap untuk pergi. Enam orang itu..., apa itu mereka?


"Mereka mati. Apa yang mau kau tau?" Joseph menjawabku dengan agak heran. "Satu tembakan bersarang di masing-masing tengkorak mereka. Tepat sasaran di antara kening. Seolah-olah area itu sudah ditandai."


"Itu..."


"Mengerikan," potong Joseph. Seolah-olah memahami apa yang hendak kukatakan. Padahal tidak sepenuhnya.


Memang, itu mengerikan, tapi tidak dapat ditepikan juga, kalau itu luar biasa. Mampu menembak enam orang dengan tepat sasaran, tepat di posisi yang sama, membutuhkan skill dan mata elang. Aku sendiri tidak mempunyai kemampuan dan presisi yang sesempurna itu.


"Fawn, apa menurutmu tuan Max akan memerintahkan kita membunuh tuan kau tau siapa?" Joseph mensensor nama Ace dari ucapannya, tapi itu tidak benar-benar menutupi atau menghapus sosok yang dia maksudkan. Orang tuli pun masih akan mengerti siapa yang dimaksudkan Joseph.


"Aku rasa tidak." Aku merasa tuan Max tidak mempunyai kepercayaan pada kami sama sekali. Jika dia percaya sedikit saja padaku dan Joseph, atau pada bos Anggara..., bodyguard yang berjaga di kediaman Rashid sudah pasti akan bergabung di sini, bukannya tentara bayaran.


"Menurutku, ya, peluang untuk menyingkirkan tuan ukhm..., aku pikir membayar asasin lebih tepat, kan? Mereka bekerja dalam diam dan tersembunyi, peluang mereka untuk menyusup dan bang..., lebih besar daripada mengonfrontasinya langsung seperti orang dungu."


"Kau mungkin benar." kataku, tapi aku tidak menyukai ide itu. Pemikiran bahwa tuan Max akan menyewa asasin untuk membunuh Ace membuat perutku terpulas mual.


Aku teringat kepada pembunuhan tuan Harkin dan istrinya. Walau aku belum memahami detailnya, aku mendengar dari Ace kalau pelakunya adalah Evan atau Anggara, aku percaya itu Evan. Pembunuhan, mau alasannya apa pun, demi apa pun, pembunuhan adalah pembunuhan. Akar dari semua masalah yang terjadi sekarang adalah karena keserakahan keluarga Caspian yang sudah berani menyentuh pemimpin keluarga Hunter.


"Aku harap kita tidak mati, Fawn." Joseph masih gelisah. Namun, aku berhenti menaruh perhatian padanya dan kembali menyesap kopiku yang menghangat.


Aku harap Ace tidak mati.


...----------------...

__ADS_1


Bos Anggara dipanggil menghadap kediaman Caspian pagi ini.


Ketika jam menunjukkan pukul delapan pagi, aku menemukannya melenggang di pintu depan. Kemeja putih, celana hitam. Aku dengar dari Vera, hubungan bos Anggara dan Vera sudah diketahui oleh Evan, itu cukup mengejutkan dan tidak juga. Tuan Evan bukan orang yang gampang dipermainkan, jadi aku tidak begitu terheran-heran saat dia tau. Tuan Evan pasti menemukan caranya sendiri.


Kembali pada topik utama, kalau bos Anggara datang kemari. Aku segera menghampirinya. Roti berselai nanas masih menggantung di mulutku ketika aku menyapanya. Membungkuk dalam sebelum menghadap ke arahnya penuh kelegaan.


Aku sudah lama ingin menemuinya, tapi bos Angga pernah memberikan kami peringatan agar tidak menemuinya dan fokus hanya pada Indira. Namun, masalahnya terletak di perintah itu..., bagaimana mungkin aku mampu fokus kepada nona Indi bila aku bahkan tidak melihat batang hidungnya sama sekali?


"Selamat pagi, bos Angga." Aku menyapanya sambil memegang roti nanasku di depan dada.


"Selamat pagi, Fawn." Bos Anggara tidak terlihat begitu senang.


"Apa ada masalah?" Aku tanpa sengaja menyuarakan kecemasanku.


"Ya?" bos Anggara terkejut atas pertanyaanku.


"Maaf," sialan. Kenapa dengan mulutku? "Aku hanya merasa bos Angga terlihat tidak senang."


"Aku tidak bisa senang dengan adikku menjadi tawanan di sini, Fawn." bos Anggara menimpaliku dan kembali membuka langkahnya. Kami berjalan berdampingan menuju ruang kerja tuan Evan di lantai dua. Selama perjalanan itu, kami membicarakan nona Indira yang belum mempunyai kabar sama sekali.


Aku meminta agar aku dipindah-tugaskan untuk mengawali bos Anggara saja, karena demi Tuhan, aku tidak bekerja sama sekali di sini. Sayangnya, seperti yang sudah kuduga, bos Anggara memberikan penolakan.


"Hanya fokus saja pada Indira." tukasnya.


Ya ampun, aku nyaris gila di sini. Apa bos Angga tidak mengerti betapa frustasinya hidup di sini dengan perasaan terasingkan? Para pengawal lain menatap kami tanpa kepedulian. Kami hanya ada di sini untuk menghabiskan makanan dan kopi.


"Tuan Max mengirim enam orang untuk membunuh tuan Ace beberapa hari lalu." Aku mengungkit topik itu. "Apa bos tau?"


"Tidak."


Itu aneh. Apa tuan Max mengecualikan bos Anggara dari perencanaannya. Kupikir keluarga Rashid memberikan support-nya pada keluarga ini? Apa wajar bagi mereka untuk melakukan sesuatu tanpa notifikasi kepada keluarga Rashid terlebih dahulu?


"Aku tau apa yang kau pikirkan," Bos Anggara seperti membaca ekspresiku. Dia berhenti di ujung tangga, mata menatapku tenang. "Jangan cemaskan apa pun. Hanya pikirkan Indira."


"Tapi bos Angga, apa kau akan baik-baik saja?"


"Aku akan berusaha..." bos Angga mengembangkan senyum samar di sana. "Ingat apa yang kuucapkan Fawn, kau hanya perlu ada untuk Indira. Dia tidak tau apa-apa."


"Baiklah."

__ADS_1


Tidak. Aku merasa tidak baik.


...----------------...


__ADS_2