
...NORMAL pov...
...----------------...
Semilir angin yang bertiup pagi itu menjadi lebih dingin daripada sebelumnya. Vera merinding di bawah tatapan Anggara seperti ruhnya baru saja dicabut paksa oleh pria itu. Apa yang Anggara katakan barusan, apa yang Anggara maksudkan mengarahkan Vera pada satu kesimpulan. Kesimpulan yang sangat mengerikan dan disaat bersamaan mengejutkan.
Vera meneguk ludah seperti meneguk pisau di kerongkongan.
"Tuan Angga..., apa yang kau katakan?" Vera mendorong pria itu satu langkah menjauh dari hadapannya. Tapi, jejak dingin jemari Anggara yang menempel di kulitnya tidak hilang--panas tersisa di sana, membakar sekujur tubuhnya.
"Jangan berpura-pura bodoh, aku tau kau paham apa yang kukatakan. Atau kau mau aku menjelaskannya lebih detail?" Anggara--bertolak belakang dengan Vera yang pucat pasi--menunjukkan kepuasan atas reaksi Vera yang di matanya terlihat lucu.
"Bagaimanapun, senang sudah bisa bicara denganmu ketika kau tidak teler."
"Tuan Angga..., aku...," Vera mengepalkan kedua tangannya sangat erat hingga buku-buku jemarinya memutih. Ia benci kearoganan yang Anggara tunjukkan di depan mukanya sekarang, tapi Vera tau ia tidak bisa bertindak gegabah.
Anggara--bagaimanapun, adalah pria yang merupakan teman dan rekan bosnya. Ia bisa berakhir tanpa kepala bila ia berbicara macam-macam.
"Apa yang terjadi malam itu, aku tidak ingat sama sekali kalau itu adalah tuan Anggara." Vera memaksakan dirinya agar tetap tenang. Ia menatap Anggara dengan mata yang gelisah. "Maafkan aku, itu adalah kesalahan. Aku benar-benar minta maaf."
"Jangan merasa bersalah, kau menghiburku lebih dari cukup."
Sialan, Vera ingin membenturkan kepalanya sendiri ke tembok! Ucapan Anggara akan terdengar sensual dan menawan andai saja orangnya bukan Anggara. Bukan rekan bosnya, bukan pria yang mampu membunuhnya.
"Sekali lagi, maafkan aku." Vera membungkuk dalam. Satu-satunya harapan yang ia miliki saat ini adalah berdoa di dalam hati agar Anggara melupakan ketololannya dan pergi. Itu saja.
"Jadi, apa kau sudah lebih baik sekarang?"
"Y-ya?"
"Kondisimu..." Anggara menatap Vera dari ujung kaki ke ujung kepala. "Kita melakukannya semalaman, aku jadi mencemaskanmu."
"Tuan Angga," Vera menegur Anggara dengan kekesalan tertahan. Vera berusaha sopan di sini, tapi kenapa pria itu memancing emosinya dengan mengungkit sesuatu yang seharusnya tidak mereka bicarakan lagi?! Setidaknya, Vera tidak ingin mengungkit topik itu lagi. Itu...itu adalah kesalahan!
"Aku harap tuan Angga tidak mengungkit topik ini lagi. Demi kenyamanan bersama, juga...mengingat situasi itu terjadi karena aku sedang mabuk berat dan ahahaha...," Vera sampai kehilangan kata-kata. Anggara seharusnya sudah mengerti apa yang dia maksudkan, kan? Demi Tuhan!!!
"Aku merasa nyaman saja dengan topik itu," tukas Anggara. Sengaja. Memancing emosi.
"Tapi aku tidak!" Vera terpancing.
Sialan!
"Ma-maafkan aku." Vera buru-buru mengoreksi intonasinya. "Maksudku, tuan Angga. Itu hanya one night stand. Itu tidak berarti apa-apa."
"Kalau itu memang tidak berarti apa-apa, kau seharusnya nyaman saja dengan topik itu, bukan?"
Sialan, sialan, sialan!!!
"Tuan Angga..."
__ADS_1
"Vera?" Seperti malaikat yang jatuh dari langit, untuk pertama kalinya Vera merasa terselamatkan saat mendengar suara David. Pria yang merupakan atasannya tersebut muncul dari tangga paling atas, mata menyorot ke bawah--ke arah Vera dan Anggara dengan kebingungan.
"Selamat pagi, tuan Anggara. Apa ada yang dapat kubantu?" David melempar tatapan serius kepada Anggara.
"Tidak ada. Aku hanya...mengobrol dengan Vera." Anggara sengaja melantunkan nama Vera dengan intonasi menggoda. Vera seketika memejamkan mata, frustasi dengan situasi yang diciptakan Anggara untuknya. David pasti heran dan curiga!!!
"Oh..."David tetap tenang. "Maafkan aku sudah menginterupsi, aku datang untuk mengecek keberadaan tuan Anggara. Tuan Evan menunggumu di luar."
"Hn, baiklah." Anggara memutar mata saat nama Evan mencapai telinganya. Evan adalah definisi dari perusak suasana.
"Aku akan kembali...," kata Anggara kepada David lalu beralih kepada Vera. "Vera."
David dan Vera mengangguk sopan sebagai tanggapan.
Hanya setelah Anggara menghilang di perbelokan tangga, barulah David merilekskan pundak kakunya. Ia menghela napas berat sebelum melirik Vera.
"Apa yang terjadi di antara kalian?"
"Ya?"
"Kau dan tuan Angga, kalian berbicara cukup lama."
"Kau memata-mataiku?"
"Tidak juga. Angin di sini cukup kuat untuk aku bisa mendengar apa yang kalian bicarakan." David menanggapi tenang dan tanpa merasa bersalah.
"Vera, aku adalah kepala bodyguard nona Margot. Kau pasti paham posisiku, bukan? Aku menanyaimu--memantaumu bukan untuk ingin tau tentang kehidupan pribadimu, aku hanya melakukan tugasku."
"Tenang saja, apa yang kau lihat barusan tidak akan menempatkan nona Margot dalam bahaya. Aku tidak akan membiarkan itu juga."
David sedikit lega. "Maafkan aku. Kau tau, setelah Fabian, aku tidak mau kehilangan rekan-rekanku lagi. Itu termasuk kau juga, Ver. Aku harap kau tidak dekat-dekat dengan tuan Anggara, terlebih sekarang keluarga Hunter sedang perang dingin dengan keluarga Rashid dan Caspian."
"Tenang saja, Dave. Aku cukup tau diri dan tau posisiku di sini."
Di mata Vera, sebagai seorang bodyguard, ia tidak memiliki tempat atau bahkan peluang untuk berada di sisi orang-orang luar biasa itu.
Anggara juga, apa yang sudah terjadi di antaranya dan Anggara, Vera percaya itu adalah yang terakhir kalinya.
...----------------...
Tiga puluh menit kemudian, dalam perbincangan lama yang membosankan dan penuh kepalsuan--Ace memutuskan untuk mengakhiri konversasinya dengan Evan dan Anggara. Ia juga melirik Margot penuh peringatan agar saudara perempuannya itu berhenti memuntahkan omong kosong dari mulutnya.
"Gentleman, maaf merusak momen seru kalian, tapi aku harus bekerja sekarang," kata Ace. Ia memaksakan senyuman.
"Ah, benar juga. Sepertinya aku keasikan." Margot menyunggingkan senyuman masam.
"Mmm, kita harus bicara seperti ini lagi lain kali..." Evan tertawa ramah. Ia turut berdiri dan mengancing jas biru yang ia kenakan. Ace yang sudah berdiri pertama, menjabat tangan Evan dan Anggara bergantian sebagai formalitas dan perpisahan.
Anggara tidak banyak bicara. Ia hanya tersenyum tipis. Hingga matanya menangkap sosok Vera yang melenggang bersama David, barulah sepasang mata bosannya menjadi hidup.
__ADS_1
Anggara melirik Vera sesekali, sementara gadis itu menggaruk tengkuknya risih atas pandangan Anggara yang cukup kentara.
Sementara mereka semua berdiri meninggalkan meja, Margot lalu menghampiri Anggara dan memberikan pelukan perpisahan kepada pria itu. Vera memperhatikan dari samping dengan cukup takjub. Bos Margotnya benar-benar pemberani.
"Sampai bertemu lagi." Kata Margot, tangan masih menggantung di leher Anggara. "Jangan lupa dengan janjimu, oke?"
"Aku akan menjemputmu, tenang saja."
"Sedang merencanakan kencan?" Evan menyahut.
"Awww, ini hanya pertemuan dua orang teman." Margot berkilah.
"Kalian terlihat serasi, tau." Evan mengompori. "Akan sangat sia-sia kalau kalian hanya menjadi teman. Benarkan, Ace?"
Vera setuju dalam hati.
"Aku tidak tau." Ace tidak pernah setuju atas hubungan dua orang itu. Selain karena dia tidak menyukai Anggara, Ace sangat tau kalau Margot hanya bertingkah palsu dan membahayakan keselamatannya.
"Masih menutup mata terhadap asmara, Ace? Sayang sekali. Kau juga seharusnya mencari calon istri. Kau sudah 27 tahun."
Ace mendengus. "Apa karena itu kau menikah? Karena kau sudah 27 tahun?"
Evan spontan saja bungkam. Ia mengulum bibir bawahnya, menahan kekesalan agar tidak meledak di depan si bungsu Hunter itu.
"Sampai jumpa, kalau begitu." Ace pamit undur diri. Carcel segera menyusul punggungnya diikuti empat bodyguard lain. Sementara Carcel menghilang, David melangkah maju dan mengganti tugas Carcel sebagai pemimpin para bodyguard yang tersisa.
David--berdampingan dengan Vera, melenggang di belakang Margot yang baru saja berpisah dengan Anggara. Mereka melenggang dengan tenang sampai akhirnya langkah Margot terhuyung. Vera menangkap lengan bos-nya tersebut dan mengembalikan Margot ke posisinya semula.
"Bos Margot, apa kau baik-baik saja?" Vera dan David panik.
"Vera, tolong aku..."
"Iya, bos Margot. Apa yang dapat kulakukan?"
"Bawa aku ke gereja..." lenguh Margot. "Aku... aku perlu menyucikan rohaniku setelah menyentuh para bajingan itu."
"OH, BOS MARGOT!!!" Vera berseru kesal. Sialan, dia pikir wanita itu sakit. Ternyata hanya otaknya.
"Jangan membentakku, keparat!!"
"Maafkan aku," Vera menghela napas keras. "Bos Margot seharusnya tidak menakut-takutiku begitu."
"Apa kau cemas?" Margot tertawa.
Apa itu perlu dipertanyakan lagi?
Sialan!
...----------------...
__ADS_1