
...ACE pov...
...---...
Ketika aku pulang, aku berselisih dengan paman Jack yang sepertinya baru keluar dari kamar Margot. Dari penampilan paman Jack yang masih sama seperti tadi pagi, aku menebak dia sudah berada di sini setelah pulang dari rumah sakit. Tiga bodyguard paman Jack yang mengekorinya ikut berhenti melangkah ketika paman Jack menghampiriku.
"Kau dari mana?" tanya paman Jack. Stress yang menumpuk di kepala paman terlihat jelas di ekspresinya yang selalu suram. Aku tidak akan terkejut bila sewaktu-waktu paman mengikuti jejak Margot dan memakai pakaian serba hitam. Mereka sama-sama stress.
"Aku bertemu dengan Indira," kataku dengan suara bosan. "Apa paman habis bertemu dengan Margot?"
"Aku mengabarinya tentang Fabian. Margot sangat terpukul sekarang."
"Well, setidaknya baju duka yang dia pakai akan berguna." Aku membuat lelucon.
"Ace!"
Aku menarik napas. Apa salahnya memang? Margot memang selalu memakai pakaian duka, kan? Setidaknya dengan kematian Fabian, pakaian duka Margot akan pas pada momennya.
"Kau terlihat cukup tenang menyangkut hal ini, Ace. Apa karena situasi ini tidak penting bagimu, kau menjadi apatis. Kematian orang tuamu pasti juga bukan hal besar di matamu."
"Apa yang kupikirkan tidak akan mengubah fakta kalau Fabian ataupun orang tuaku sudah meninggal, paman. Tidak seperti kalian, aku menjaga diriku tetap waras agar tidak terbenam dalam ambisi yang membutakan." Paman selalu tau cara memancing emosiku. Pria satu ini, dia benar-benar membuatku gatal ingin memukulnya.
"Kewarasanmu lebih terlihat seperti pengabaian, Ace. Aku harap kau tidak terlalu asik dengan duniamu sendiri karena bagaimanapun...," paman Ace melirik sekotak macaron yang kubawa. Aku meminta Carcel membelinya di cafe tadi, sebuah hadiah kecil untuk Fawn.
"Aku harap kau tidak lupa..., selama kau bermain dan bersenang-senang di luar sana, sebuah kekacauan dapat terjadi menimpa Margot kapan saja. Sama seperti dulu, ketika kau asik dengan duniamu sendiri dan orangtuamu berakhir menemukan kematian, aku harap keegoisanmu tidak akan terulang kedua kalinya."
Ucapan paman layaknya sebilah pidang yang merobek dadaku. Bibirku merapat kencang, menahan setiap umpatan yang siap kutumpahkan ke wajahnya. Darah di kepalaku seperti lahar panas, mendidih dan siap tumpah.
"Kau sepertinya cukup terikat dengan peliharaan barumu. Membelikannya makanan tepat waktu seperti ini, kau harus berhati-hati Ace. Keterikatan pun adalah bentuk kelemahan."
__ADS_1
"Aku tau." Aku menggenggam erat plastik kotak yang kubawa, dan ketika paman Jack berlalu dari hadapanku, aku membanting kotak itu ke lantai. Menginjak sekotak macaron itu dengan emosi yang menggebu-gebu.
Keparat! Keparat! Orang-orang bodoh ini memperlakukanku seperti aku adalah amatir yang akan melupakan apa tujuanku hanya karena aku bermain-main sedikit! Apa mereka pikir aku adalah robot yang tidak bisa bersenang-senang?! Aku adalah manusia juga, sialan! Apa yang kalian harapkan terlalu besar dariku!
"Jika dia sangat hebat seharusnya dia berada di posisiku sekarang!!! Bajingan, sialan!!! Apa kalian pikir aku mainan!!! Apa yang kalian tau tentangku, keparat!!!"
Menemukan pembunuh, menemukan pembunuh! Apa mereka pikir menemukan si keparat itu segampang membuka bawah kasurku dan tada...!!!
Apa mereka pikir aku tidak berusaha keras!
Jantungku mau meledak. Bahkan bila aku mati hari ini, apa ada satu pun dari mereka yang peduli???
"Bos Ace," Carcel mendekatiku dari belakang. Suaranya yang tenang samar-samar sampai ke telingaku. "Bos Ace, tenanglah sedikit."
"Apa kau pikir aku bisa tenang setelah apa yang dia katakan?" Aku tanpa sadar berteriak. "Aku adalah kepala di keluarga ini, dan dia masih tidak menghargaiku! Apa dia pikir aku hanya pion yang bisa dia gerakkan kemana pun dia mau!!!"
"Selamat sore, bos Ace." Haru menyapaku, tapi tanpa mau menggubrisnya, aku masuk ke kamar dan membanting pintu keras-keras. Emosiku belum mereda dan panas di dadaku sangat luar biasa.
Dengan penat yang kembali memenuhi kepala, aku melenggang menuju meja kerjaku dan melayangkan tendangan kuat di sana. Buku-buku, aksesoris lampu, peralatan belajar bahkan monitor yang terpajang di sana melompat ke lantai dan menimbulkan keriuhan. Aku melihat pulpen yang berguling di kakiku dan memberikan tendangan kuat di sana. Melampiaskan emosi dan energiku yang melimpah-ruah akibat emosi yang meroket.
Aku hendak mengamuk lagi saat akhirnya aku melihat Fawn berdiri di dekat tempat tidurku, tangan memeluk bantal dan mata yang melebar besar. Dari ekspresinya yang dipenuhi oleh keterkejutan, tindakanku barusan pasti sangat membuatnya ketakutan.
"Apa yang kau perhatikan?" Aku menatapnya tajam, suaraku penuh permusuhan. Saat itu, aku sangat ditutupi oleh api amarah hingga dunia terlihat seperti musuhku. Baik itu Carcel atau Fawn, aku memperlakukan mereka dengan kekejaman.
"Apa kau senang sekarang?" Aku mendekati Fawn, mencari masalah padanya demi melepaskan tekanan yang memberatkan dadaku. "Kau pasti sangat senang ketika tau aku menghadapi masalah, kan? Kau dan kalian semua adalah bajingan!!! Keparat!!!"
Aku meneriaki Fawn yang masih bungkam dengan pundak bergetar. Ketakutan yang kentara di matanya mengingatkanku pada hari pertama kami bertemu. Dia menatapku seperti iblis yang akan melahapnya ke dalam neraka. Aku adalah monster di mata mereka semua, aku--tidak ada yang pernah melihatku sebagai aku!
"Apa yang terjadi?" Suara Fawn yang bergetar menyapa telingaku. Matanya menatapku ragu-ragu. "A-apa kau baik-baik saja?"
__ADS_1
"Apa aku terlihat baik-baik saja di matamu?" Aku sudah diambang kehancuran, sialan. Aku akan kehilangan diriku sendiri dalam segala kekacauan ini. Aku tidak tau lagi.
"Semua ini salahku!"
Jika aku tidak mengutamakan cita-citaku, jika aku tidak meninggalkan rumah demi mengejar jalan yang kuinginkan, pembunuhan itu tidak akan terjadi. Ayah dan aku akan bekerja sama membangun Diamond ke puncak dunia. Aku akan mendampingi ayah dan menyadari segala hal yang salah. Aku bisa menyelamatkannya dari kekacauan yang tidak pernah kuketahui, atau mungkin, aku bisa mati bersamanya.
Itu lebih baik daripada hidup dan dikejar oleh hantu yang bernama perasaan bersalah!
"Aku sudah berusaha keras, tau!" Aku jatuh terduduk di lantai dan bersandar di bibir ranjang. Fawn memegangi lenganku dan ketika aku duduk, dia duduk di sampingku.
"Aku hanya ingin mereka membiarkanku sendiri. Aku tidak mau hidup di sini! Aku ingin pergi!" Aku kembali meracau, aku ingin menumpahkan emosiku kepada siapa pun itu.
"Aku hanya ingin Margot bahagia, tapi aku tidak tau lagi..., terlalu banyak beban dalam mencapai keinginan ini. Semua ini..., aku pikir aku akan mati sebelum aku bisa memperbaiki keluarga ini."
Aku pikir, ketika aku menumpahkan segala penat yang menyumbat jantungku, aku akan merasakan lega luar biasa. Tapi, ketika aku mengatakan semuanya, ketika aku meratapi segala duka yang melukai hatiku, aku semakin merasakan cengkraman kuat di dadaku. Semakin aku sadar aku sangat jauh dari tempat yang kuinginkan.
Kebahagiaan yang kudambakan layaknya fatamorgana.
Aku melirik Fawn yang duduk di sampingku tanpa suara. Fawn tidak mengatakan apa-apa. Dia mendengarkanku tapi di satu waktu, tidak menginterupsiku. Ketenangan yang datang dan kesunyian yang mengatmosfir di antara kami membuat ngilu di hatiku perlahan-lahan memudar menjadi kantuk.
Aku ingin tidur selamanya.
Aku lelah dengan segala harapan yang tidak ada habisnya.
Aku memejamkan mata dan cairan hangat mengalir di pipiku saat itu juga. Hanya sebelum aku benar-benar pergi ke alam mimpi lah aku mendengar suara Fawn mengantarku pergi.
"Tidurlah, semuanya akan baik-baik saja setelah kau bangun."
...---...
__ADS_1