
...ACE pov...
...----------------...
Aku berdiri di balkon lantai dua, menyesap rokok yang sudah nyaris terbakar habis. Bibirku terasa asam namun perasaan tenang yang datang dari kepulan asap yang memenuhi paru-paruku membuatku nyaman. Emosiku yang sebelumnya meninggi telah mereda dengan sendirinya. Terima kasih kepada rokok yang sudah menemaniku dan terima kasih kepada udara malam yang menyapa wajahku, aku merasa sedikit lega.
"Bos Ace," Carcel datang menyapaku. Pria dengan gaya potongan rambut baru itu membuatku menoleh ke arahnya sedikit terkejut.
"Ada apa?"
"Oh, aku datang untuk menyampaikan informasi tentang Joseph." Oh, Joseph. Benar, aku hampir lupa kalau aku memerintahkan Carcel untuk mencaritahu kabar Joseph yang kuperintahkan untuk disingkirkan tadi sore.
Tentu saja, aku tidak benar-benar meminta bodyguard-ku agar membereskan nyawa pria itu. Aku hanya meminta mereka untuk melukai Joseph, cukup terluka sampai Fawn merasa berdosa.
Ya, itu adalah tujuan awalku.
Aku tidak akan semudah itu menyingkirkan orang-orang yang Fawn sayangi, itu akan menjadi tindakan yang sia-sia. Sebaliknya, aku akan menggunakan sedikit demi sedikit luka yang dirasakan orang-orangnya tersayang untuk menjinakkannya.
"Bagaimana kabarnya?" tanyaku.
"Dia berada di rumah sakit sekarang. Peluru yang mengenai pundaknya telah dikeluarkan dan dia akan pulang setidaknya dua atau tiga hari."
"Hmmm, bagaimana dengan Indira?" Gadis batu itu tidak akan tinggal diam kalau orang-orangnya dilukai, aku penasaran apa yang akan dia dan suami tidak bergunanya akan lakukan.
"Keluarga Caspian meningkatkan keamanan di kediaman utama mereka. Oh, nona Indira juga mendapat setidaknya tiga pengawal baru dan beberapa lagi mengawalnya dalam bayang-bayang."
"Mereka bereaksi cepat," aku terkekeh senang memikirkan bagaimana stresnya Evan dan Anggara sekarang. Gadis yang menjadi kelemahan mereka berada di posisi terancam. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Walaupun penyerangan itu hanya kesialan Indira karena kebetulan Joseph adalah pengawal pribadinya, aku sangat senang menyadari kalau dua orang itu mencemaskan kondisi Indira. Akan sangat menarik bila aku bisa melihat reaksi Anggara sekarang juga.
"Apa mereka mendapatkan petunjuk mengenai pelakunya?"
Carcel menggeleng. "Rio menyelesaikan misinya dengan baik."
"Anak itu mempunyai talenta," kataku menyangkut Rio. Dia adalah penembak terbaik yang sudah bekerja 2 tahun di keluarga kami. Aku menemukannya ketika dia baru menyelesaikan pertandingan menembak tingat internasional di xxx dan merekrutnya seketika. Aku kagum bahwa pilihanku tidak salah.
"Ah--mengenai Rio juga, dia meminta upah tambahan bulan ini..." Carcel berucap dengan ketidaknyamanan. "A-aku sudah mengatakan kalau dia sudah mendapatkan upah yang cukup tapi---"
"Aku akan memberikannya," tukasku. Aku tidak keberatan mengeluarkan sejumlah uang bila itu berarti Rio bekerja dengan baik. Sebaliknya, bila dia bekerja dengan kacau dan meminta upah tambahan, aku akan memastikan kepalanya berpisah dengan badannya.
"Kau sudah bekerja dengan baik, aku pikir cukup untuk hari ini." kataku kepada Carcel. Aku menyelesaikan rokokku dan menjatuhkan putungannya ke dalam asbak kaca. Kepulan asap menguar di udara, lepas dari paru-paruku.
Aku berlalu dari hadapan Carcel sambil mengeluarkan ponsel dari saku celanaku. Aku membuka game online dan mulai bermain sepanjang perjalanan menuju kamar. Mungkin karena rumah ini sudah terpeta kuat di benakku, tanpa mendongak pun, aku tetap sampai dengan selamat ke kamarku yang omong-omong--gelap?
__ADS_1
Aku menyalakan saklar lampu dan melihat Fawn yang duduk bersandar di kepala ranjang. Dia sudah berada di sana sejak aku meninggalkannya tadi sore. Dia tidak akan bisa bergerak kemana-mana untuk sementara karena aku memborgolnya kembali di kepala ranjang. Itu adalah hukuman ringan yang bahkan tidak sebanding sama sekali atas tindakannya yang sudah memukulku.
Sialan, bagaimana bisa dia masih memiliki kekuatan yang besar dengan wajah seimut itu? Rasanya sangat tidak masuk akal.
"Huh, kau kembali..." Fawn bergumam lemah ketika dia mendongak ke arahku. Matanya masih menyiratkan kebencian, tapi sudah tidak seagresif sebelumnya. Aku tidak menanggapi ucapannya dan memilih berganti pakaian dengan kaos hitam. Pakaianku sebelumnya sudah beraroma seperti tembakau.
"Lepaskan aku," ujarnya sekali lagi, suara merintih depresi. "Aku tidak akan melakukan apa-apa kali ini. Aku tidak akan memukulmu, aku serius!"
Aku menaruh kaos kotorku di pundak dan meliriknya jenaka. "Apa kau pikir aku memborgolmu karena aku takut kau memukulku?"
Aku mendekati Fawn dan duduk berseberangan dengannya. Mata bertemu mata. Kebencian bertemu dengan ejekan. Tentu saja, kebencian itu datang dari mata Fawn dan itu terlihat menggiurkan. Aku suka keagresifan yang ditunjukkan mata itu.
"Ini adalah hukumanmu hari ini." ujarku di wajahnya. "Kau sudah membuat emosiku meninggi dalam satu hari ini. Apa kau tidak sadar itu? Aku sudah baik padamu..."
Tanganku dengan sengaja berlabuh di bawah daun telinganya, menyentuh kulit pucatnya yang terasa sangat halus di ujung jariku. Fawn berjengit ngeri dengan mata yang masih menyorotkan benci.
"Aku membawa anjingku keluar untuk bermain-main dan menghirup udara segar hari ini, tapi lihat apa yang kudapatkan..." aku menunjuk pelipisku yang memar. "Kau menggigitku, Fawn. Apa ini balas budimu atas kebaikanku?"
Fawn memejamkan mata ketika aku mendekat dan memberikan gigitan ringan di rahangnya. Aku tau apa yang kulakukan memicu kebenciannya semakin besar terhadapku, tapi aku tidak bisa berhenti. Menggodanya yang putus asa sudah seperti kecanduan yang baru bagiku. Semakin dia marah dan mengutukku dengan mata indahnya, semakin aku merasakan kupu-kupu mengepak hangat di perutku.
Fawn adalah sesuatu yang sangat baru bagiku. Dia adalah orang pertama yang membuatku menyadari kalau aku mempunyai sisi gelap ini di diriku sendiri. Bahwa, melihatnya merintih dalam kesakitan membuatku sangat bersemangat senang..., ini adalah kesalahan dan kegilaan, tapi dia adalah orang yang membangunkan kegilaan itu dari diriku. Karena itu, dia harus bertanggung jawab atas semua kegilaan yang dia ciptakan.
"Apa kau sadar apa yang kau ucapkan?" Fawn mendebatku dengan mata garang. "Apa kau pikir aku akan berterima kasih padamu karena sudah memberikanku kebebasan kecil itu? Bebas adalah hakku, Ace! Aku bukan anjingmu dan tidak akan pernah menjadi anjingmu. Kalau kau ingin memelihara anjing, kau sebaiknya mengadopsi anjing liar di luar sana. Sialan, kau gila!"
Fawn adalah gadis bermoral tinggi dan sangat bijak. Segala ucapannya mencerminkan kemuliaan hatinya, bahwa dia adalah gadis waras yang bermartabat. Tapi dia tidak mengerti satu hal, di dunia ini..., hal-hal ideal semacam kebebasan adalah omong kosong.
Aku mencubit pipi Fawn, membuat wajahnya membentuk ekspresi aneh yang menggemaskan. "Aku tidak akan mengadopsi anjing lain, kau sendiri sudah sangat menghiburku."
"Ugh..., lepaskan aku!" Dia kembali berteriak di depan wajahku, kemurkaan dan keputus-asaan itu membuat jantungku berdegup kencang. Aku ingin membungkamnya dalam ciuman yang dalam tapi aku tidak mau mengambil risiko digigit olehnya. Aku benci terluka.
"Teruslah berteriak," aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan mencuci muka. Sementara aku beranjak dari tempat tidur, Fawn kembali lepas kendali dan menendang-tendang selimut dengan marah. Amukan dan makian lolos dari bibirnya seperti nada jenaka. Aku menikmati setiap raungannya dengan kekehan.
Fawn sudah pasti benar terhadap satu hal, aku pasti sudah gila.
...----------------...
"Aku sudah mendengar apa yang terjadi di mall tempo hari," adalah kata-kata yang keluar dari bibir paman Jack ketika kami bertemu di elevator perusahaan. Sementara kotak besi dengan udara yang sangat dingin itu mengangkat kami menuju lantai 45, paman Jack kembali melanjutkan ucapannya. Hari ini lagi, kupikir pria ini tidak berhenti memarahiku. Dia adalah pria dengan kekecewaan pada dunia.
"Aku sangat takjub pada kau dan Margot," lanjut paman kembali. "Sepertinya kalian sangat bersenang-senang belakangan ini sampai melupakan apa tujuan utama kita."
"Aku tidak melupakan apa pun," tukasku.
__ADS_1
Jika aku lupa, aku sudah pasti tidak berada di sini dan tidak menggunakan nama Hunter di belakang namaku. Hanya karena aku bersenang-senang di mall dalam durasi yang bahkan tidak mencapai 5 jam, bukan berarti aku sudah lupa pada tujuan utama kami untuk membalas dendam.
"Aku dan Margot hanya butuh waktu istirahat."
"Membuang-buang waktu bukan istirahat, Ace. Aku tidak tau jelas apa yang merasukimu belakangan ini, tapi kupikir aku sedikit mengerti."
"Apa?" Aku benci seseorang yang bicara dengan kemisteriusan. Katakan dengan jelas apa yang kau pikirkan di mukaku langsung!
"Fawnia Alder," ujar paman dengan suara mencemooh. "Kau begitu terpaku pada mainan barumu itu, bukan?"
"Haah? Dia tidak ada sangkut-pautnya..."
"Kau mengatakan hal itu tapi kau menyakiti Margot semata-mata demi melindungi gadis itu. Jangan lupakan fakta kalau kau juga membuat keluarga kita dalam bahaya hanya agar gadis itu bisa menghirup udara segar di luar sana."
"Apa maksudmu bahaya? Kami hanya pergi berma--"
"Bermain dan nyaris terekspos oleh keluarga Caspian dan Rashid? Kau memberikan peluang untuk dua keluarga itu menyerang kita demi seorang gadis! Jangan lupakan ini Ace, kalau Anggara mengetahui Fawn berada di tanganmu, dia bisa menjadikan gadis itu sebagai alasan untuk mendeklarasikan perang kepada keluarga kita!"
"Itu tidak akan terjadi..." Aku tidak akan pernah membiarkan situasi itu terjadi.
"Selama Fawn masih hidup, peluang untuk perang keluarga dapat terjadi kapan saja. Kau hanya mengabaikan fakta itu karena kau mempunyai keterikatan pada gadis bodyguard itu."
"Aku tidak--"
"Dengar, Ace. Kau sendiri tau bagaimana keterikatan mampu membawa kita pada kejatuhan, bukan? Ingat foto yang Margot temukan di kabin berburu Harkin? Kelemahan ayahmu adalah kalian berdua, anak-anaknya..., karena kelemahan itu, dia disingkirkan."
Paman Jack mendekatiku, menatap wajahku lekat-lekat dengan kekecewaan terpendam. "Kebahagiaan anak-anaknya adalah hal utama bagi Harkin. Demi membuatmu dan Margot tetap bebas dan egois, dia tidak mengamankan kalian ke tempat lain walau sebenarnya dia tau kalian dalam bahaya. Dia tidak mau merenggut kebebasanmu dan itu membuat dia semakin mudah dikendalikan."
"...."
"Cinta adalah hal yang membunuhnya, cinta adalah keterikatan yang sangat tidak kita butuhkan sekarang."
"Apa yang paman inginkan?" kataku dengan rahang mengencang.
"Hilangkan segala keterikatanmu, Ace. Buktikan padaku kalau kau tidak selemah ayahmu."
Ting!
Pintu elevator terbuka dan paman menarik dua langkah menjauhiku. Dia menapak keluar meninggalkanku sementara aku masih terpaku dalam pikiranku.
Menyingkirkan keterikatanku pada Fawn adalah apa yang paman inginkan.
__ADS_1
Aku tau paman benar tapi...
...----------------...