DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
52. SALING MEMBACA


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Tidak perlu bertanya, tidak perlu mengatakan apa-apa, Jack Hunter--pria yang baru melangkah masuk di depan kediaman utama keluarga Hunter hanya menutup mulut ketika melihat keriuhan terjadi di rumah itu.


Jack--tanpa bertanya sudah tau kalau satu di antara keponakannya tersebut sudah berulah. Juga, tidak perlu IQ tiga digit untuk paham siapa di antara keponakannya yang sudah membuat separuh pengawal rumah berkeliaran membawa kaleng cat, tirai, bahkan mengangkat tempat tidur. Semua itu jelas sekali ulah Margot. Satu-satunya yang suka membuat keributan tidak penting semacam ini adalah si sulung Hunter itu.


"Selamat pagi, paman." Sementara Jack menatap para bodyguard di rumah itu lalu-lalang penuh kesibukan, Ace muncul sambil menenteng secangkir kopi di tangannya. Si keponakan bungsunya tersenyum hangat, menyapanya ramah dengan sedikit perasaan bersalah.


"Maafkan kericuhan ini." kata Ace. "Margot hanya--"


"Tidak perlu menjelaskan apa-apa. Aku tidak datang ke sini untuk omong kosong."


Senyuman Ace seketika memudar.


"Panggil Margot, aku perlu mendiskusikan sesuatu kepada kalian berdua."


Ace mengangguk dan memerintahkan Carcel untuk melakukan apa yang pamannya minta hanya melalui lirikan mata. Setelah Carcel pergi, Ace pun menggiring Jack menuju ruang belajar. Tempat ia, Margot dan Jack kerap melakukan rapat keluarga.


Tidak perlu menunggu lama setelah mereka duduk di sofa, pintu kemudian terbuka. Margot menapak masuk dengan jubah tidur hitamnya menyeret lantai.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Margot langsung bertanya.


Mengabaikan penampilan konyolnya yang serba extra, suara Margot saat itu sangat jernih dan tegas.


"Duduk dulu, Margie." Jack mempersilakan keponakan sulungnya itu untuk duduk. Margot menurutinya dan duduk di sofa tunggal yang seharusnya diduduki oleh kepala keluarga. Ace duduk di sofa yang berseberangan dengan Jack demi menghormati pamannya yang masih bisa dikatakan sebagai pemimpin juga.


Ketika semua sudah dalam posisi siap mendengarkan, Jack pun memulai dengan meletakkan sebuah koran di atas meja. Di halaman depan koran itu, foto Margot yang bergandengan tangan dengan Anggara menjadi headline utama. Tercetak besar hampir mengambil seluruh halaman.


"Aku tidak akan bertanya kenapa, karena kau sudah melakukan apa yang kau lakukan," ujar Jack tenang. Ucapannya lebih tertuju kepada Margot. "Aku juga tidak akan menanyai keberadaanmu, Ace, ketika Margot melakukan ini."


"Aku melakukan semuanya tanpa sepengetahuan Ace, dia tidak tau apa pun." Margot berucap sambil menyilangkan kaki.


"Apakah itu mampu menjadi alasan untuk menutupi kelalaiannya dalam memantaumu?"


"Paman bisa memandangnya sebagai keberhasilanku dalam mengelabui Ace. Itu saja." sahut Margot lagi. Kali ini, dia tidak ingin pamannya sembarang melempar amukan kepada Ace. Itu membosankan dan menjengkelkan. Di mata Margot, Ace yang dalam mood buruk tidak bisa berfungsi lebih baik dibandingkan Ace yang tenang dan penuh perhitungan. Untuk memanfaatkan seseorang, Margot perlu menyadari kalau alat yang dia gunakan benar-benar dalam kondisi sempurna.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kau mengatakannya seperti itu..." Jack tidak mau menyeret topik itu lebih dalam. Ia melirik Ace sekilas dan melihat keponakannya itu masih dalam keadaan tenang. Tidak terganggu oleh tudingannya barusan. "Jadi, Margie..., bisa kau jelaskan apa yang sedang kau lakukan di sini?"


Margot menatap gambar dirinya di koran tersebut dan mengendikkan bahu. "Aku sedang berpose."


"Margareth?" Jack mengulang penuh penekanan.


"Baiklah, ugh! Aku hanya melakukan apa yang hendak Anggara lakukan." Margot meniup ujung kukunya sambil sesekali mengayunkan ujung kaki. "Aku pikir dia punya motif tersembunyi untuk mendekatiku. Aku hanya mengambil peluang itu..."


"Peluang untuk apa?" Ace menyambung akhirnya.


"Untuk lebih dekat dengan mereka, apa lagi? Aku juga ingin menggali informasi tentang keluarga mereka, Ace."


"Kau pikir apa yang kulakukan bersama Indira selama ini?" Ace sangat tidak setuju pada tindakan Margot. Selain karena itu membahayakan keselamatan Margot, Ace tidak ingin kakaknya terlibat terlalu dalam dan terlalu dekat dengan Evan ataupun Anggara. Tidak seperti Jem yang masih abu-abu, dua orang itu sudah jelas berdiri di posisi musuh.


"Apa yang kau lakukan kepada Indira berbeda, Ace..." Margot sudah menduga akan terjadi perdebatan bila ia mengatakan dirinya mendekati Anggara. Karena perdebatan yang terjadi sekarang lah dia tidak menginformasi keduanya lebih awal. Mereka semua pasti merengek keberatan. Menjengkelkan. "Kali ini..., aku merasakan sesuatu yang lain."


"Aku mendengarkan, apa itu?" Jack tidak sekering Ace. Dia masih menahan argumennya. Walau sebenarnya dia menganggap tindakan Margot cukup gegabah.


"Aku pikir Anggara sedang melakukan penyelidikan kepada kita, dan dengan penyelidikan--maksudku dia menggunakanku untuk mengetahui apa pun itu yang ingin dia ketahui."


"Apa dia menunjukkan minat pada hal-hal tertentu?"


"Aku tidak menyukai ini, Mar." Ace menyela dengan keberatan. "Apa pun motif Anggara, itu tidak menutupi fakta kalau kau mengekspos dirimu dalam bahaya. Apa kau lupa, tujuanku membantumu adalah agar kau tidak terluka sama sekali."


"Aku tidak akan terluka, Ace."


"Dari mana kau tau? Beberapa pekan yang lalu, kau nyaris mati di tangan bodyguard-mu sendiri. Apa kau lupa dengannya? Kita bahkan belum menemukan siapa yang sudah berada di belakang Fabian dan kau mau bermain-main dengan api sekarang."


"Aku tidak bisa berada di zona aman terus-menerus adalah hal yang perlu kau pahami juga, Ace. Aku ingin kasus ini segera selesai, aku..., aku tidak bisa hidup dengan pemikiran kalau orang tuaku--meninggal tanpa mendapatkan keadilan mereka sama sekali." Argumen Margot lebih keras lagi. Dia menatap Ace tepat di mata, melahap segala tekanan yang adiknya berikan dengan ambisinya yang lebih besar dan membara.


"Pada akhirnya, bila aku tidak bisa memberikan pembalasan atas kematian ayah dan ibu, aku akan membunuh diriku sendiri. Kau harus ingat itu! Bila nyawaku bisa membantuku untuk menemukan siapa pelaku yang sudah melenyapkan ayah..., melenyapkan ibu..., aku..., aku akan menukar nyawaku dengan informasi itu."


"Kalian berdua..." Jack menarik napas dalam-dalam, matanya menatap kepada dua keponakannya yang bersitegang pada topik yang lagi-lagi sama. Ace di satu sisi akan mencemaskan nyawa Margot, lalu Margot--tanpa mempedulikan kecemasan adiknya--akan mengatakan apa saja tentang kehilangan nyawa karena baginya hidup tidak penting selain balas dendam. Mereka benar-benar melelahkan.


"Aku pikir aku tidak perlu mengulang ini," kata Jack. "Tapi aku akan mengulangnya demi kewarasan kalian berdua, tidak akan ada yang mati bahkan setelah balas dendam itu terjadi. Apa kalian paham?"


"Margot tidak mengerti, Paman..."

__ADS_1


"Kau yang tidak mengerti ucapanku sama sekali Ace...!!!"


"Arcelio! Margareth!" Jack meninggikan suaranya dan dua bersaudara itu seketika bungkam.


"Haaaah, kalian benar-benar membuatku bekerja keras." Jack menyilangkan lengan di dada, sepasang matanya bergulir bergantian ke arah Ace dan Margot yang masih menahan amarah. "Aku mengerti kecemasanmu, Ace..., aku juga mengerti tujuanmu, Margot. Aku sudah memikirkan ini selagi kalian berdua bertingkah seperti bocah 5 tahun..."


"Aku tidak..."


"Shusshhhh!!!" Telunjuk Jack naik di udara, men-shush Margot yang hendak menentangnya.


"Aku pikir, demi mempelajari musuh kita, ada baiknya Margot melakukan apa yang sudah dia lakukan."


"Tapi paman..."


"Tentu saja, tentunya..." Jack menenangkan Ace yang hendak melawan. "Akan ada batas untuk seberapa jauh kau bisa melibatkan dirimu dengan Anggara, Mar. Aku akan memonitor setiap hal yang dapat kau bocorkan pada Anggara. Aku juga akan meningkatkan pengawasan padamu. David juga--di mana David sekarang?"


"David masih menyelidiki keberadaan Larson," ujar Margot. "Semenjak Larson berhasil melarikan diri, David kutugaskan untuk mengekori kemana tikus itu akan mencari naungannya dan bersembunyi."


Tentu saja, berhasil melarikan diri berarti Ace dan Margot sengaja melepaskan Larson agar si bajingan itu berlari ke kaki tuannya yang masih bersembunyi di dalam kegelapan.


"Apa belum ada petunjuk?"


"Hanya menghitung hari sebelum bau busuknya tercium..., Larson sudah tersudutkan. Dia tidak akan punya jalan lain selain mengemis kepada bajingan yang sudah membuat dia menari."


"Jadi, siapa yang menggantikan David selama ini?" Jack kembali ke topik utama.


"Vera melakukan tugasnya dengan baik."


"Apa dia bisa diandalkan?" tanya Jack dengan keseriusan.


"Aku pikir dia alat yang berguna." Margot mengulum senyum tipis ketika dia menjawab pertanyaan pamannya. Sesuatu sedang bermain di benaknya, menciptakan rangkaian benang yang seperti skema menakutkan. Jack tidak menaruh keingintahuan panjang pada maksud ucapan Margot.


"Bagaimanapun, aku akan menambah bodyguard-mu." Jack menutup topik tentang Margot sampai di situ sebelum beralih menanyakan pendapat Ace.


"Aku tidak suka ini..." jawaban Ace masih sama.


"Ace...??"

__ADS_1


"Aku tidak suka, tapi aku akan membiarkanmu melakukan apa yang kau mau. Aku menyerahkan keamanan Margot padamu, paman. Aku harap, tidak akan ada hari di mana aku menyesali keputusanku hari ini."


...----------------...


__ADS_2