DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
33. WAJAH FAMILIAR


__ADS_3

...FAWN pov...


...-------...


Pada dasarnya, jujur saja, aku adalah gadis desa yang tidak punya banyak kenalan di kota. Ketika aku masih berusia 14 tahun, Ibu yang sakit-sakitan menerima bantuan semacam program berobat gratis yang dibuat oleh keluarga Rashid. Bantuan itu adalah awal mula aku mengenal tentang keluarga nona Indira. Aku sangat bersyukur mengenai pertolongan mereka, tentunya, tapi penyakit ibu bukan berarti hilang begitu saja. Kami terpaksa pindah ke kota untuk mendapatkan pengobatan dengan teknologi yang lebih baik.


Keluarga Rashid tidak pernah lepas tangan dalam memberikan bantuan kepada kami. Mereka bahkan memberikanku beasiswa gratis untuk bergabung di akademi. Aku sangat bersyukur dan sangat merasa tertolong jadi aku bertekad untuk mengabdikan jasaku, kelebihanku yang mungkin tidak banyak kepada keluarga ini. Jadi, itulah awal mula aku melatih kemampuan bela diriku sebelum bergabung sebagai pengawal nona Indira.


Aku selalu berusaha keras untuk melatih kemampuanku, menjadi unggul dari yang lain, menjadi senjata tertajam atau paling tidak, menjadi perisai terkuat adalah misi-misiku. Tekad itu membuatku tidak pernah memikirkan tentang bersosialisasi pada orang lain. Aku tidak berkenalan dengan teman sebayaku dan hanya memikirkan cara mengimprovisasi skill-ku. Hanya ketika aku mulai bekerja di keluarga Rashid lah aku mulai berkenalan dengan beberapa pengawal lain.


Keterbatasanku dalam bersosialisasi sejak usia 15 tahun membuatku tidak mengenal banyak orang. Karena keterbatasan itulah, kendati aku sudah di luar, aku masih sulit menemukan wajah yang familiar. Aku tidak mengenal siapa pun.


"Well, di sini sangat ramai..." nona Margot yang menyusul kami di belakang bersuara agak enggan saat kami menapak masuk di Arcade itu. Bunyi nyaring tawa bersama musik dari mesin permainan berbaur di udara. Lampu neon berkilau di mana-mana.


Aku yang berjalan di samping Ace sudah menyerah mencari wajah yang familiar yang mungkin bisa membantuku.


Maksudku, lihat...kami di arcade. Arcade adalah tempat terakhir aku bisa menemukan wajah yang familiar. Kebanyakan kenalanku adalah orang-orang serius dan tidak suka membuang waktu di tempat riuh seperti ini.


"Kapan terakhir kali kita ke Arcade?" Jem melangkah maju dan berdiri di sampingku. Kupikir dia menanyai Ace, jadi aku bungkam.


"Terakhir kali..., itu sudah lumayan lama." kata Ace.


Wew, aku tidak tau Ace biasa bermain di Arcade? Pria itu terlihat seperti pekerja kantoran yang hanya tau tentang masalah akuntan dan diagram batang.


"Bagaimana denganmu, Fawn, kapan terakhir kali kau kemari?" Ace menanyaiku.


"Entahlah. Mungkin tiga bulan yang lalu." Selama bekerja di bawah nona Indira, kami kerap pergi ke tempat ini. Bukan karena nona Indira suka bermain, tapi karena dia memberikan kami waktu luang untuk bersenang-senang. Selama kami bermain, nona Indira akan duduk bersantai sambil menikmati slurpee berukuran besar.


"Huh, kau tidak terlihat seperti tipe perempuan yang suka bersenang-senang di mall."


"Kau tidak tau aku sama sekali."


"Jangan bertengkar, kita baru sampai." Margot menyela jarak antara aku dan Ace dan merangkul pundak kami berdua. "Bagaimana kalau kita mulai bermain?"


Yah, itu ide baik. Lagipula, karena aku sudah di sini, aku harus memanfaatkan waktuku sebaik-baiknya untuk melepaskan kebosananku.


"Kalau begitu, ayo ke sana..." Aku menunjuk kepada tempat permainan basket dan tanpa menunggu Ace, aku menarik pria itu menuju delapan baris kabinet yang menyediakan masing-masing ruang untuk satu pemain. Ace mengekoriku dengan langkah yang terasa berat.


"Aku pikir kita akan bermain bowling," keluhnya setiba kami di depan keranjang bola. Skor digital di atas ring menunjukkan skor tertinggi adalah 40.


Aku memungut satu bola sambil melatih tanganku untuk melempar. Terborgol bersama Ace membuat pergerakanku terhambat dan ini sama sekali tidak menyenangkan. "Tolong bekerja sama, aku ingin mengalahkan skor tertingginya sebelum bermain bowling."


Ace menatapku dengan mata yang berbinar ambigu. Mungkin dia terkejut aku memerintahnya sesuka hatiku, tapi terserah.Hari ini adalah hari bebasku.


"Ace?" Aku menatapnya balik sambil menyentak borgol di tanganku. "Bayar tiketnya?"


"Tsk, baiklah!" Ace dengan suara keberatan--mengikuti apa yang kumau. Itu terasa lucu. Aku menahan senyum ketika melihat dia mau tidak mau berdiri di sampingku.

__ADS_1


Rasakan, hari ini aku akan membuatmu menderita sampai mau mampus!


Dengan sengaja, aku menyentak tanganku dan tangannya. Aku memungut bola dan mulai melemparnya ke ring.


Aku bermain dengan penuh ambisi. Tidak peduli halangan dari berat tangan Ace, aku memungut setiap bola yang bergulir jatuh dan melemparnya ke dalam ring. Hingga akhirnya timer yang tertera di atas skor digital itu jatuh pada angka nol. Aku berhenti bermain dan melihat skorku hanya mencapai angka 34.


"Sialan, apa mesinnya rusak?" Aku mengeluh tidak percaya. Perasaanku, aku sangat baik dalam permainan ini. Aku bahkan pernah mencapai skor 43 sebelumnya.


"Well, apa kau puas sekarang?" Ace menyambung. "Mesinnya tidak rusak, kau hanya payah."


"Siapa yang kau katakan payah, ulang sekali lagi." Aku tidak akan membiarkan ini.


"Apa?" Ace meninggikan alisnya, mata menatapku dengan tidak terima.


"Lakukan sekali lagi, aku tidak percaya dengan mesinnya." Aku tidak akan berhenti sampai aku mengalahkan skor tertingginya.


"Bagaimana dengan permainan lain?"


"Ace?"


Kalau kau mengajakku keluar, setidaknya jangan pelit. Mari gesek kartu itu sekali lagi, keparat!


"Baiklah, baiklah. Jangan mempelototiku." Ace memutar mata dan menuruti ucapanku. Ronde dua permainan di mulai lagi, dan lagi, dan lagi dan lagi.


24, 30, 36, 27...


"Apa-apaan ini?" Aku tidak habis pikir sama sekali. Kenapa skorku tetap rendah? Apa performaku menurun?


Melihat urat muncul di pelipis pria itu, aku menelan niatku untuk mengulang permainan.


"Lupakan saja, permainan ini tidak seru sama sekali." Aku melempar bola di tanganku ke dalam keranjang. Mataku menghindari tatapan tajam Ace dan beralih kepada pergelangan tanganku yang merah. Berkat sentakan dan tarikan yang terjadi selama permainan, lecet mulai timbul di sana.


"Ak tidak tau kau tipe orang yang sangat ambisius dalam bermain." Ace berbicara di sampingku ketika kami menuju sebuah mesin permainan yang lain. Aku menoleh ke arahnya sekilas sebelum tertawa kecil.


"Teman-temanku bilang aku tidak menyenangkan diajak bermain karena aku tidak mau kalah."


"Aku bisa mengerti. Kau bisa membuatku jatuh miskin hanya karena bermain di sini."


"Apa kau mengeluhkan masalah uang sekarang? Kupikir keluarga Hunter adalah keluarga kaya raya di Utara." Aku berucap seperti mengejeknya.


"Aku hanya bercanda," Ace menimpali ucapanku dengan nada jenaka. "Aku bisa membelikanmu tempat ini kalau aku mau."


"Belikan kalau begitu," aku menantangnya.


"Apa kau sanggup membayar gantinya?"


Ucapan Ace seketika membuatku menarik selangkah menjauh darinya. Mataku meliriknya dengan delikan jijik. Pria mesum ini, tanpa mengatakan apa pun secara terperinci, aku sudah paham apa isi kepala hitamnya. Benar-benar menggelikan.

__ADS_1


"Lupakan, aku tidak tertarik pada tempat ini. Aku juga tidak mengharapkan apa-apa darimu." Selain kebebasan, tentunya, aku tidak mengharapkan apa-apa dari Ace.


"Kau salah tingkah begini cukup menggemaskan, bukan? Apa kau tidak merasa kita seharusnya sudah melewati proses ini sejak lama? Kapan kau akan terbiasa padaku?" Ace kembali memutuskan jarak di antara kami dan berdiri terlampau dekat.


Aku melirik kiri dan kanan dengan tidak nyaman. Tempat ini adalah zona anak-anak dan remaja, dia tidak seharusnya bertingkah seperti ini! Kenapa otak pria ini sangat kotor?


"Ace..." keluhku sambil mendorongnya menjauh. Sialnya, pria itu sekering baja! "Apa kau tidak tau malu?"


"Kenapa? Apa yang harus membuatku merasa malu?"


"Kau menjijikkan," aku menghindari tatapan Ace dan terus membuang muka sampai aku mendengar kekehan lirih Ace di dekat telingaku.


"Apa kau tau wajahmu berubah sangat merah kalau sedang malu?"


Apa pentingnya informasi itu?


"Aku tidak tau. Aku tidak berkaca setiap kali aku malu." Aku mendorong Ace menjauh dariku, dan kali ini..., dia mundur dengan suka rela. Mengesampingkan jari kami yang masih bertaut, Ace lalu mengajakku pergi menuju mesin permainan yang lain.


Kami menari, membunuh zombie, memukul tikus, mengukur kuat pukulan, bermain basket sekali lagi, lalu pergi ke area bowling.


Nona Margot dan Jem sedang bermain bowling ketika kami datang. Keduanya melambaikan tangan dengan senyum riang.


Aku melirik Ace dan mengerutkan kening, "Apa mereka pacaran?" tanyaku tiba-tiba. Rasa penasaranku mengambil alih kewarasanku. Sial, kenapa aku peduli?


"Tidak, tidak mungkin terjadi." kata Ace, dia menuju sofa dan menarikku agar ikut duduk dengannya. Kami duduk berdampingan sambil melakukan peregangan. Aku sangat lelah setelah bermain kesana-kemari.


Keringat membasahi wajahku dan jujur saja, aku haus.


"Vera," Ace tiba-tiba memanggil Vera yang sedang berdiri di dekat pintu. Vera bukan satu-satunya bodyguard yang menemani kami. Kalau kuhitung dari jumlah kami ketika pergi, ada sekitar 15 orang pengawal melingkupi kami dari segala arah. Mereka berbaur dalam keramaian hingga tidak terdeteksi sama sekali.


"Ada apa bos Ace?" Vera datang menyapa.


"Belikan kami minuman dingin." titah Ace.


"Baik bos." Vera menyanggupi dan mundur dari hadapan kami.


Melihat Vera, aku jadi prihatin. Aku mengikuti arah kepergian Vera dan saat itu pula...


Nona Indira?


Mataku menangkap sosok yang sangat familiar berada di kejauhan. Dia melangkah dengan keanggunan dan senyum yang elegan.


Saat itu pula, seperti menemukan tali harapan di dasar sumur yang gelap, aku berdiri spontan dan...


"Nona Indira!!!" Teriakanku lepas dengan keras.


Aku harap tersampaikan padanya karena detik berikutnya, aku merasakan pukulan kuat di leherku dan pandanganku berubah gelap.

__ADS_1


...Nona Indira, selamatkan aku!...


...-----...


__ADS_2