
...NORMAL pov...
...----------------...
Secangkir kopi diletakkan di atas meja, untuk Ace yang sekarang baru kembali dari pekerjaannya.
Angin malam masuk melalui jendela balkon yang terbuka, memberikannya sensasi dingin yang nyaman dan menenangkan. Kendati saat itu Ace baru pulang dari kantornya, ia tidak serta-merta beristirahat. Sebaliknya, alasan ia berada di ruang studi dengan sebuah laptop di atas meja--berdampingan dengan kopinya--adalah karena ia hendak melanjutkan pekerjaannya.
Jerome--asisten Ace--ikut pulang bersama Ace. Dia duduk di seberang meja dan ikut mengevaluasi berkas yang berada di depannya.
Saat itu juga, sementara mereka bekerja dalam keheningan, ketika hanya suara kertas yang dibalik lah yang terdengar, sebuah ketukan datang dan menginterupsi ketenangan mereka.
Carcel yang berada di sana, duduk di bangku terpisah dari mereka, spontan berdiri dan menuju pintu.
"Selamat malam," sosok itu adalah Rio. Pria bersurai klimis dengan aroma matahari yang masih melekat di tubuhnya berdiri di depan pintu.
"Biarkan dia masuk," ujar Ace, masih serius pada kertas yang terlipat di tangannya.
"Bos Ace, aku datang untuk memberikanmu laporan mengenai Lilian Alder." Rio melenggang masuk ke dalam ruang belajar tersebut. Ia melirik Jerome sekilas sebelum kembali menaruh perhatian pada bosnya yang sekarang bersandar di sofa, mata kelam tertuju ke arahnya dengan aura dingin yang menakutkan.
"Bagaimana dengan wanita itu?" tanya Ace. Perhatian tertuang penuh kepada Rio.
"Aku sudah menemukan keberadaannya. Beliau dipindahkan ke rumah sakit yang berada di Utara, Serion hospital Center."
"Serion, kah?" Di negeri ini, ada cukup banyak rumah sakit besar yang merupakan backing-an keluarga Rashid dan Caspian. Keluarga Hunter tidak terlalu berinvestasi pada dunia medis tersebut, jadi mereka hanya membangun setidaknya..., 10 rumah sakit?
Intinya, dari sekian banyak rumah sakit yang terkenal mempunyai reputasi tinggi, Evan memilih memindahkan ibu Fawn ke Serion. Itu cukup mengejutkan.
'Apa karena dia ingin menyembunyikan keberadaan Lilian dariku, dia jadi menaruh wanita itu di rumah sakit yang biasa-biasa saja?'
Ace memiringkan kepala, telunjuk mengetuk-ketuk dagunya. "Rio, apa rahasia mengenai kesehatan Lilian masih aman bersama kita?"
"Tidak ada yang tau sama sekali, bos Ace."
"Hmm, ini bagus. Lanjutkan pekerjaanmu dan pastikan rahasia itu tetap aman sampai Evan menghubungiku."
__ADS_1
'Aku ingin melihat dia hancur dalam sekali pergerakan,' batin Ace bergembira senang.
"Bos Ace..., mengenai rahasia itu...," Rio hendak mengutarakan keraguannya, tapi ia menelan kembali apa yang hendak ia ucapkan saat ia merasakan kedatangan seseorang dari belakang.
"Jadi kalian semua berkumpul di sini," Margot menyela konversasi. Ia melewati Rio dan melempar bokongnya ke atas sofa tunggal yang berada dekat dengan Jerome. "Apa kalian mendiskusikan sesuatu yang penting?"
"Itu cukup penting, tapi kurasa kau tidak perlu mengetahui apa pun." Ace yang menanggapi.
"Haaa, kau benar-benar menarikku dari kasus ini, bukan? Kau bahkan tidak membiarkanku melakukan sesuatu."
"Jangan khawatir, aku punya pekerjaan spesial untukmu."
Margot mengernyit. Apa Ace serius? Setelah apa yang pria itu lakukan padanya? Mengecam tindakannya? Apa Ace akan kembali melibatkannya?
"Aku yakin kau mengenal Eleanor Rashid," ujar Ace. Mengungkit nama sebuah kerikil yang mungkin akan menggoyahkan kereta rencananya di masa depan.
"Bukankah dia wanita murahan yang senang mengekori Jem? Ada apa dengannya?"
Ace tersenyum tipis, "Aku mau kau menyingkirkannya untukku."
"Kenapa harus aku? Aku bahkan tidak melihat kaitannya dengan masalah ini."
"Juga, aku rasa kalian punya masalah yang belum diselesaikan, bukan?"
"Hah?"
"Fabian..., aku sebenarnya tidak menginginkan kau tau masalah ini, tapi..."
"Apa maksudmu?" Margot mendekat ke arah Ace dan menarik kerah kemeja adiknya tersebut.
"Orang yang membunuh Fabian adalah Eleanor," sahut Ace. Ia berekspresi tenang, mengabaikan kalau sekarang Margot menatapnya garang.
Margot--Margareth Hunter tidak punya dendam pribadi pada masalah pengkhianatan Fabian. Jujur saja, itu adalah kasus biasa yang bisa ia lupakan begitu saja. Selama ini, Margot mengira dalang di balik kasus itu adalah Jem. Yah, Jem memang melibatkan dirinya dalam hal kotor tersebut. Margot hampir mati karena pengeboman itu juga. Margot seharusnya tidak marah, tidak karena Jem sudah mendapatkan ganjaran dan kehilangan kekuatannya. Margot sudah melupakan kasus tersebut...
Jadi, kenapa Eleanor disebutkan di sini? Eleanor bajingan itu..., dia berani ikut campur pada masalah yang bukan urusannya sama sekali?
__ADS_1
"Aku rasa aku tidak perlu menjelaskan situasinya panjang lebar kepadamu. Namun, kalau kau menginginkan detailnya, kau bisa bertanya kepada Carcel."
"Aku akan menyingkirkannya."
Margot membuat keputusan saat itu juga.
Dia tidak akan membiarkan seseorang hidup di muka bumi ini setelah berani menginterupsi urusannya. Dia bisa mengompensasi Jem, tapi tidak lebih.
"Aku percaya kau mampu melakukannya dengan bersih." Ace melonggarkan cengkeraman Margot di kerahnya dan menggenggam tangan saudaranya tersebut. "Bila kau berhasil melakukan itu, aku akan dengan senang hati menghadiahi pembunuh ayah untukmu."
"..."
"Akhir September ini adalah hari ulang tahunmu, bukan?"
...----------------...
Ace belum bergerak dari tempat duduknya. Meskipun semua orang sudah beranjak meninggalkannya, ia masih terpaku di sofa dengan mata menatap kepada langit malam.
Bulan yang menggantung di langit sedang memasuki fase kuartal ketiga, fase ketika hanya bagian kiri dari bulan tersebut yang bersinar terang. Fase itu adalah fase sebelum bulan sabit akhir muncul dan menutupi seluruh fase pergantian bulan di bulan September ini.
Melihat bulan yang menggantung di langit, Ace jadi teringat pada Lilian Alder. Wanita itu, sama seperti bulan yang menggantung di langit, juga berada di fase kuartal ketiganya. Lambat laun, keberadaannya akan memudar.
"Jika saja keberadaanmu tidak menjadi kelemahan untuk Fawn, aku mungkin bisa..." Ace menggantung ucapannya. Ia menghela napas panjang. Ekspresinya berubah muram.
"Untuk menjadi beban pun, seseorang harus mengetahui batasannya." Ace menyandarkan kepalanya di bahu sofa, mata mendongak menatap kepada chandelier kaca yang menggantung di tengah ruang.
'Fawn adalah milikku. Meskipun situasi ini akan menghancurkannya, dia akan hancur di genggamanku. Aku hanya perlu membangunnya kembali, kepingan demi kepingan dirinya yang berantakan.-
Aku tidak melakukan kesalahan, Lilian. Jika kau sadar dan mengetahui situasi yang terjadi saat ini, kau pasti akan mendukungku, bukan? Meskipun aku menyingkirkanmu dari jalanku..., kau pasti tau..., aku melakukan ini semua agar puterimu dapat hidup damai tanpa perlu mencemaskan apa pun.-
Dia akan nyaman bersamaku, jadi..., tolong beristirahat dengan nyaman dan menghilanglah di penghujung bulan.'
Ketika akhirnya Ace kembali menegapkan punggungnya, ia tersenyum samar pada segala rencana yang sudah terangkai sesuai ekspektasinya.
Ace tersenyum ketika akhirnya, pesan yang ia tunggu-tunggu akhirnya tiba.
__ADS_1
[Ace. Ini aku, Fawn. Dapatkah kau meluangkan waktumu minggu depan?]
...----------------...