DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
132. REAKSI


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Anggara keluar dari sel Vera tanpa suara. Pengakuan yang dikeluarkan Vera barusan membuatnya kehilangan lisan. Pikiran Anggara sekarang terpaku penuh pada keberadaan Fawn belakangan. Gadis itu--gadis yang selalu mematuhinya, mempercayainya--adalah sosok yang menjadi kelemahan utama musuhnya.


Tidak hanya informasi itu mengejutkan Anggara, Anggara juga mulai menyadari satu atau dua hal yang terlewat di depannya.


Bagaimana bisa ia tidak menaruh kecurigaan kepada Fawn yang berhasil lolos dari misi bunuh dirinya? Bagaimana gadis itu pernah tertangkap matanya mengobrol dengan Vera di Leviathan?


Bicara soal keterkaitan Vera dan Fawn, Anggara kembali teringat pada kali pertama Vera menyelamatkannya. Saat itu, karena Anggara agak mabuk, ia tidak mendengar ucapan Vera dengan benar. Tapi sekarang, seperti semuanya berhubungan, Anggara mendengar dengan jelas apa yang sudah Vera ucapkan padanya. Sejelas kristal.


"Ugh, kalau bukan karena Fawn, aku akan membiarkanmu mandi dengan muntahanmu sendiri." adalah keluhan Vera hari itu, di kamar mandi Leviathan. Ketika Anggara tenggelam dalam alkohol dan tekanan dari Evan.


Fawn.


Benar, Vera saat itu mengatakan Fawn. Kalau bukan karena Fawn, kah? Jadi Vera sudah mengenal Fawn dan menolongnya hari itu karena ia tidak ingin mengecewakan Fawn? Sedekat apa mereka saat itu sampai Vera rela membantu pria asing sepertinya demi Fawn?


"Melihat kebungkamanmu, kau sepertinya terkejut sepertiku." Evan mengajak Anggara bicara, tapi tanggapan yang ia terima adalah delikan tajam menikam. Anggara belum memaafkan Evan hanya karena topik lain muncul di antara mereka.


"Apa kau masih marah karena aku nyaris membunuhmu?" Evan seperti tidak tau diri, terus bicara.


"Kau biadab, Evan."


Daripada tersinggung, Evan malah tertawa samar. Kekehannya seperti menjelekkan emosi Anggara, meremehkannya.


"Oh, Angga, jangan dramatis. Toh, aku tidak jadi membunuhmu. Juga..." Evan melirik ke arah Vera yang masih terpaku dengan air mata tumpah di wajahnya.


"Berkatmu, kita berhasil mengeluarkan informasi menyangkut kelemahan Ace. Ini adalah kemenangan, Angga. Kau seharusnya berbahagia."

__ADS_1


"Tutup mulutmu."


"Membosankan. Kau seharusnya berterima kasih padaku karena aku tidak jadi membunuhmu atau kekasih murahanmu itu." Evan merotasi matanya pada tanggapan Anggara yang masih keras dan sok bijaksana.


Di sisi lain, Anggara mengepalkan tangannya, menahan amarah yang membuncah akibat perkataan Evan yang sudah sangat keterlaluan.


Sementara waktu berlalu di antara mereka dalam keheningan, sosok yang dijemput oleh Rishan akhirnya datang.


Fawnia Alder.


"Oh, dia sudah tiba." Evan mengerling jenaka ketika matanya menatap ke arah sosok Fawn yang memasuki pintu basement dengan langkah penuh keragu-raguan.


Rishan mengikuti Fawn dari belakang, seperti penjaga yang siap meringkuk Fawn kalau-kalau dia hendak melarikan diri.


Saat itu, kendati cahaya yang menerangi mereka cukup temaram, Evan mengambil kesempatan singkat untuk memindai Fawn dari ujung kaki hingga kepala. Memperhatikannya bukan sebagai bodyguard Indira yang terkenal sangat disiplin dan berani, melainkan sebagai wanita. Wanita yang berhasil mencuri hati Arcelio Hunter.


Perhatian Evan jatuh kepada postur tubuh Fawn yang ramping. Postur tubuh seorang bodyguard yang pada umumnya selalu proposional. Normal.


Oh, bicara soal penampilan, wajah Fawn juga tidak bisa dilewatkan. Fawn--di mata Evan, tidak semenarik gadis yang sudah Evan temui selama hidupnya. Tidak juga dia menandingi gadis-gadis yang selama ini terlibat pada Ace.


Fawn masih dalam kategori cantik, tentunya, tapi hanya di garis rata-rata. Ia tidak memiliki wajah yang membuatmu terkesan dan menggiurkan, dia hanya ada di sana..., simple dan biasa.


Dalam kata lain, gadis itu tidak seindah Indira, tidak pula ia setara dengan banyaknya wanita yang sudah pernah dirumorkan sebagai kekasih Ace.


Benar-benar, apa Vera menipunya dengan informasi barusan?


Mustahil Ace menaruh rasa pada gadis dengan penampilan rata-rata ini, kan?


"Fawn..." Anggara menyapa Fawn yang tiba di depan mereka. Tidak seperti Evan yang memindai Fawn seperti memindai makanan di etalase kaca, Anggara menatap Fawn dengan sedikit keprihatinan.

__ADS_1


"Aku dengar kalian membutuhkanku," kata Fawn, ia menatap Evan sebelum beralih menatap kepada sosok yang berada di balik jeruji besi. Saat itu juga, kendati Fawn tau ia seharusnya berpura-pura, Fawn tidak bisa. Matanya terbelalak terpana saat ia berhasil mengidentifikasi siapa gerangan yang sekarang terduduk lunglai di lantai.


Itu..., Vera!


"Apa kau mengenalnya..., Fawn?" Evan melontarkan pertanyaan itu dengan suara yang mengindikasikan kalau dia sudah tau jawabannya. Bahwa, Fawn sudah ketahuan. Sialan!


Vera mendongak kepada Fawn yang berdiri di seberang selnya, menatapnya dengan binar mata penuh iba. "Ma-maafkan aku," suara Vera serak. Ia memaksakan dirinya berdiri dan berupaya menghampiri Fawn, tapi kekangan di tangannya membuat ia tidak bisa bergerak lebih banyak dari dua langkah.


"Ma-maakan aku, Fawn. Maafkan aku!" Vera mengulang ucapannya dengan isakan. "Aku..., aku tidak..."


Kendati Vera terus meneriakinya dengan permohonan yang penuh akan penyesalan, Fawn yang berdiri berseberangan dengannya tidak mengeluarkan tanggapan apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, terpaku di kakinya. Mata Fawn sibuk memindai memar yang terlukis di tubuh Vera, setiap jejak darah yang mengering di kulitnya. Fawn merasakan perih di dadanya.


Bagaimana bisa ia tidak mengetahui situasi ini sama sekali? Bagaimana bisa ia duduk tenang di atas sana sementara Vera terluka, berupaya menyembunyikan statusnya?


"Melihat ekspresimu sekarang, sepertinya kalian memang saling mengenal, bukan?" Evan--entah sejak kapan--berdiri di samping Fawn, berbisik di telinga Fawn sementara matanya memindai gadis itu dari samping. Menatap perubahan ekspresi Fawn yang memberikannya jawaban.


Benar, gadis ini sudah jelas mempunyai kaitan pada Ace. Karena, bagaimana mungkin kemurkaan muncul dengan buas di matanya bila dia tidak terkait pada Ace?


Ekspresi normal seseorang ketika pertama kali melihat orang lain terluka adalah iba, tapi untuk Fawn, ia menunjukkan murka. Amarah sebesar itu tidak akan muncul di matanya bila ia tidak mempunyai ikatan istimewa kepada sosok Vera di dalam sana.


Tanpa sempat memberikan tanggapan pada Evan yang berbisik di telinganya, Fawn menemukan dirinya tumbang dengan kesadaran yang perlahan menghilang. Sebuah pukulan kuat mendarat di tengkuknya, pukulan yang berhasil menuai kesadarannya.


"Kurung dia dengan keamanan yang lebih ketat. Aku tidak mau angsa emasku terluka." Evan bertitah sambil menyerahkan Fawn yang tumbang di lengannya.


Selepas memberi perintah kepada Rishan juga, Evan lalu melirik Anggara yang masih terkesiap atas tindakannya.


"Anggara, kau dan aku sepertinya perlu bicara empat mata." Evan tersenyum tipis pada Anggara, senyum kemenangan yang muncul akibat hasil jerih-payahnya hari ini. "Menyangkut hal-hal yang perlu kita rencanakan kedepannya."


Anggara tidak bersuara, tapi tetap mengikuti langkah Evan. Sementara ia membalikkan badannya pula, ia tidak memberikan perhatian lagi pada Vera yang masih membeku di belakangnya.

__ADS_1


Terluka.


...----------------...


__ADS_2