DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
108. KEAJAIBAN


__ADS_3

...FAWN pov...


...----------------...


Duduk di bibir pantai, kaki terbenam di dalam pasir, segelas wine, bintang-bintang dan angin malam, segala hal yang terjadi malam ini terasa seperti sebuah keajaiban. Dan di antara banyak keajaiban itu, hal yang paling membuatku terkesima adalah keberadaan Arcelio Hunter yang sekarang merangkulku hangat di dekapannya.


Ace Hunter, seorang pria yang dahulu kala--memimpikan berjabat tangan dengannya saja aku tidak pernah.


Jika seseorang bertemu pada diriku 7 bulan silam, dan mengatakan kalau di masa depan, aku akan duduk berdampingan dengan Ace Hunter, menggenggam tangannya dan menikmati segelas wine di bibir pantai, aku 7 bulan yang lalu tidak akan mempercayai hal itu.


Karena ini adalah kemustahilan.


"Aku masih tidak percaya ini," aku menggumamkan isi kepalaku. Mataku terpaku kepada jemari Ace yang bertaut dengan jemariku.


"Percaya apa?"


"Ini..." Aku menggenggam erat tangannya, membagikan keajaiban yang kurasakan saat ini padanya.


"Apa kau serius menyukaiku?" tanyaku lagi.


"Kalau aku bilang aku serius, apa kau akan bilang kau mencintaiku?" Ace menunduk dan menatapku di mata. Kami bertatapan untuk beberapa detik lamanya sebelum dia mendekat dan memberikan kecupan di keningku.


Sialan, kenapa dia sangat pandai dalam melelehkan hatiku? Ini curang!


"Aku menyukaimu." sahutku kemudian, suara diberani-beranikan. Jujur saja, terus kalah pada Ace memicuku ingin membuat pria itu kalah sesekali. Aku ingin membuat dia bungkam dan tersipu. Pasti menggemaskan kalau dia meringis dengan wajah bersemu merah. Ya, malam ini aku akan mengalahkannya. Lihat saja!


"Suka saja tidak cukup, aku mau kau mencintaiku."


"Hah?"


"Aku mau kau mencintaiku, Fawnia."


"Tsk..., permintaanmu terlalu berat." Jika itu cinta, aku tidak yakin mampu mengakui perasaanku sejauh itu. Maksudku..., aku takut bila aku mengakui perasaanku dan menyadari itu, aku akan jatuh sedalam-dalamnya pada Ace.


Itu buruk. Sangat-sangat buruk. Aku tidak mau jatuh terlalu dalam. Aku masih sulit menaruh kepercayaanku pada Ace. Aku takut bila aku jatuh cinta kepadanya, memberikan hatiku sepenuhnya, segala keajaiban yang kurasakan sekarang akan meluap di udara. Hilang tak bersisa.


Bagaimana bila dia tidak mencintaiku sebanyak aku mencintainya?


Pertanyaan itu membayang di benakku seperti hantu yang sudah mengikutiku selama ini. Aku tidak mau menjadi gadis menyedihkan yang dikalahkan oleh cinta. Karena aku tau, bila aku jatuh--aku tidak akan bisa bangkit lagi.


Ini sudah seperti kutukan bagiku. Ketika aku memberikan sesuatu, aku tidak akan pernah bisa menarik kembali apa yang sudah kuberikan, tidak pula aku mampu merelakannya. Ketika aku mendeklarasikan hidupku untuk setia pada bos Anggara, aku mengalami hal yang serupa. Aku tidak bisa mundur setelah mengeluarkan kata-kata itu dari bibirku.


Cinta sama dengan loyalitasku.


Karena itu, aku memilih menutup mulutku.


"Kau tidak perlu memaksakan diri." Ace sepertinya membaca ketidak-nyamanan yang muncul di wajahku. Dia menangkup wajahku di telapak tangannya dan menghujaniku dengan kecupan ringan. Di pipi, di kelopak mata, dahi, kening, rahang, dagu dan hidungku.


Ketika kecupannya mereda, aku kembali menatapnya. Mata hitamnya menghujam ke arahku seperti pedang. "Adalah tugasku untuk berusaha keras membuatmu mencintaiku. Kau tidak perlu memaksakan diri dengan berpikir. Akan ada hari ketika aku membuatmu mengakui perasaanmu padaku, Fawnia."


"Sangat percaya diri, heh?"


Ace mengangguk enteng. "Mau bagaimana lagi, aku selalu mendapatkan apa yang kumau."


"Sombongnya..."


Memikirkan seorang Ace Hunter menginginkanku..., seorang pria idaman dunia, seorang pria yang menakutkan, menawan dan penuh akan keangkuhan, aku merasakan kebanggaan tersendiri. Rasanya seperti aku memenangkan sebuah pertandingan marathon yang panjang. Berada di puncak paramida dengan mahkota di kepala.


Tidak ada hal yang lebih mendebarkan dari perasaan bahwa kau diinginkan, dan itu bukan dari sembarang orang, tapi Ace Hunter. Ace Hunter.


Apa yang kumakan sampai Ace Hunter menyukaiku?

__ADS_1


"Kenapa kau tersenyum?" Ace bertanya tiba-tiba.


Tunggu, apa aku tersenyum? Sial. Aku pasti melakukannya tanpa sadar.


"Mungkin karena aku senang bersamamu." Aku menjawab dengan godaan. "Nah, Ace..., katakan, kenapa kau menyukaiku?"


"Ya?"


"Maksudku..., aku tidak punya hal spesial sama sekali. Kau tau aku tidak spesial. Jadi, kenapa? Lagipula, kupikir kau akan membunuhku? Kenapa dengan perubahan rencanamu?"


Ace menatapku lama sebelum terkekeh tipis. Ia menarikku ke dalam rangkulannya dengan lebih erat, cukup erat sampai aku terhuyung ke arahnya dan kami jatuh di atas pasir. Kepalaku berada di atas lengan Ace. Tatapanku mengejar wajahnya, masih menunggu tanggapannya.


"Ayo, jawab..."


"Bukankah jawabannya sudah jelas?" Ace menjawabku dengan pertanyaan. Dia berbaring miring ke arahku, jemarinya menyibak rambut yang jatuh di pipiku. "Aku menyukaimu karena kau adalah kau."


"Klise." komentarku. "Aku saja tidak menyukai diriku sendiri, bagaimana bisa kau menyukaiku yang seperti ini?"


"Pertanyaan itu seharusnya kau tujukan pada dirimu sendiri. Aku saja menyukaimu, bagaimana bisa kau tidak menyukai dirimu sendiri?"


"..."


"Fawnia, kau tidak tau seberapa besar kau mengubahku. Kau tidak tau--hanya dengan keberadaanmu, kau sudah menjadi sosok yang sangat istimewa bagiku. Aku tidak mau kau menjadi sosok spesial yang ada di imajinasimu, kau yang sekarang adalah apa yang kuinginkan."


Sialan, sialan, sialan!


Bukankah aku yang seharusnya mengalahkan Ace malam ini? Kenapa kata-kata pria itu malah membuatku kehilangan suara? Kenapa tatapan matanya membuatku..., sial, kenapa pandanganku berkaca-kaca?


"Apa kau terharu?" Ace terkekeh lagi. Kali ini dia mengusap sudut mataku dengan ibu jarinya, menghapus air mataku yang menumpuk di sana.


"Aku terkejut, idiot." Aku bergumam separuh tertawa, helaan napasku berat saat itu juga. "Aku tidak pernah mendapat apresiasi sebesar itu dari orang lain. Kau kedengaran sangat puitis."


"Aku hanya bicara jujur."


Menghela napas sekali lagi, aku dengan susah payah menarik diriku agar duduk kembali. Aku melihat Ace yang masih berbaring di sampingku. Memelintir rambutku di ujung telunjuknya. Saat itu juga, aku menunduk kembali ke arahnya dan memberikan kecupan di bibirnya. Sebuah kecupan yang ingin kuberikan karena aku tidak tau harus mengatakan apa pada sepasang manik hitamnya yang menawan. Sebuah kecupan yang seharusnya menjadi balasan apresiasiku, tapi berubah ketika dia menarikku lebih rapat ke arahnya, jatuh di dadanya dan aku tertawa.


"Apa kau berniat mematahkan hidungku?" Aku bergumam tepat di atas wajahnya.


"Tidak," sahut Ace, deru napasnya panas di wajahku. "Aku berniat melakukan ini."


Tepat setelah Ace memberikan jawabannya, tangannya berlabuh di sekitar rahangku, ibu jarinya menyapu daguku. "I want you, Fawnia."


Dengan bisikan itu saja, kami kembali bergumul dalam pagutan yang lebih intens dari sebelumnya.


Aku memejamkan mata, berusaha mendominasi pria yang kutau selalu lebih unggul dariku. Mencoba mengalahkannya di permainan yang selalu ia menangkan. Selagi bibir kami bertemu, lidah yang saling membelit satu, aku mendaki ke atas Ace. Menangkup wajahnya, menyentuh setiap bagian tubuhnya.


Aku sudah bertekad akan membuatnya kalah malam ini. Aku tidak akan menjadi Fawn yang selalu didominasi olehnya. Aku akan menjadi Fawn yang menciumnya dengan kasar, menyentuhnya lebih awal, merasakannya, menghirupnya seperti udara. Aku sudah bertekad, aku ingin membuat Ace tau kalau aku menginginkannya sama banyak seperti dia menginginkanku. Aku ingin dia tersipu. Sekali saja.


"Fawn, apa yang kau lakukan?" Ace menatapku dengan sebelah alisnya terangkat sebelah.


"Apa?" tanyaku kembali, berpura-pura santai kendati kini tanganku turun menuju area paling berbahaya.


"Kau tidak boleh bermain-main seperti ini." Ace bangkit tiba-tiba dan aku yang duduk di atasnya spontan merosot ke atas pangkuannya.


"Ke-kenapa? Kupikir kau mau...?" Sial. Aku tidak akan mundur dengan mudah. Aku tidak akan kalah.


"Tidak sejauh ini. Nanti saja."


"Kenapa?"


"Karena kau harus bertanggung jawab penuh pada permainan yang kau mulai." Ace mengecup rahangku ringan. "Kau sangat menggemaskan, tapi aku tidak mau kau kelelahan. Kau harus bekerja besok."

__ADS_1


"Tiba-tiba perhatian, apa kau sehat?"


"Aku selalu perhatian padamu, oke?"


"Ka-kalau begitu..., lakukan saja. Aku tidak selemah yang kau pikirkan." Aku memberanikan diri sekali lagi, melihat Ace mencoba menahan dirinya seperti itu memang sangat menggemaskan, tapi aku akan lebih senang kalau dia lepas kendali. Aku ingin dia lepas selepasnya dari kontrol diri yang ia punya.


Aku mau personanya yang tenang menghilang...


Aku mau dia menunjukkan sisinya yang menakutkan.


"Di sini?"


"Apa masalah?" Aku tidak melihat orang di mana-mana.


"Kau benar-benar menguji kesabaranku, bukan?" Ace terkekeh. "Sudahlah, berhenti bermain-main."


"Aku serius." tegasku, kali ini sambil memcengkeram erat pundak Ace. Aku ingin upayaku tersampaikan padanya. "Kenapa? Apa kau takut?"


Dan tambahkan sedikit provokasi.


"Fawn, jangan..." Ace memberiku peringatan dengan seulas senyuman di wajahnya. "Apa kau sudah mabuk?"


"Aku hanya minum dua gelas, aku tidak teler." Aku menarik kerah kemeja Ace sampai dia mendongak menatapku. "Aku menginginkan ini."


Aku kembali melakukan apa yang sejak awal berusaha kulakukan. Menyentuhnya. Menyentuh sesuatu yang terlelap di tubuhnya.


"Fawnia..." Ace mendesiskan namaku dengan mata yang menyorot ke arahku seperti cahaya sebilah pedang. Indah dan berbahaya.


"Apa kau tidak suka?"


Ace mengepalkan tangannya. Aku bisa melihat betapa keras dia menahan dirinya ketika aku tidak menggubris peringatannya sama sekali. Tanganku masih setia menyentuhnya, membangunkannya dengan godaan yang jujur saja..., aku tidak tau dari mana aku mempelajari ini?


Aku mencium Ace sekali lagi, mencoba meredakan ketegangan di tubuhnya dan menyelipkan lidahku di mulutnya. Dia menyambut pagutanku saat itu juga, sebelah tangan mendekap pinggangku sementara tangan yang lain berlabuh di tengkukku.


Lenguhan lolos dari bibirku ketika ciuman itu mulai menggebu-gebu. Aku memang bukan ahli di bidang ini, merasakan Ace membalas pagutanku, rasanya aku sudah dikalahkan saat itu juga.


"Kalau kau mau melakukannya, lakukan dengan benar." Ace berbisik di telingaku, separuh menggeram.


"Huh?" aku linglung.


"Ini..., Fawnia." Tangan Ace menyentuh tanganku, melapisi genggamanku dengan telapak tangannya yang hangat dan besar.


"Seperti ini..." Ace kembali berbisik rendah.


Dia mendongak dan mata kami kembali bertemu. Kendati saat itu aku membeku di bawah tatapannya, tanganku yang berada di bawah sana terus bergerak mengikuti tuntunannya. Naik turun.


"Karena sudah melakukannya sejauh ini...," sebelah tangan Ace berlabuh di kancing kemejaku, dia dengan lihainya melepas satu persatu kancing kemeja ku tanpa mengalihkan tatapannya dari mataku. "Kau tau aku tidak akan berhenti, bukan?"


"Apa aku memintamu berhenti?"


"Tidak."


"Good then."


"Aku tidak akan berhenti bahkan bila kau memohon padaku untuk berhenti."


Aku tertawa gugup. "Kedengarannya bagus."


Ya, itu kedengaran bagus.


Kan?

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2