DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
29. MISI KHUSUS


__ADS_3

...ANGGARA pov...


...-----...


Membuka mata. Terkejut dan menahan napas. Aku tidak terbiasa bangun di tempat yang bukan kamarku, jadi ketika aku melihat langit-langit kamar berwarna cream halus itu, aku menjadi sangat kaget. Rumahku tidak berwarna seperti ini dan jelas sekali, tidak mempunyai desain minimalis dan jendela tinggi yang pemandangan di luarnya adalah kota di utara yang penuh bangungan pencakar langit.


"Di mana aku?" Aku memandang ke sekeliling ruangan dan menyadari tempat ini adalah kamar hotel. Siapa yang membawaku kemari? Aku berupaya mengingat tapi yang muncul di kepalaku hanya sebuah kabut hitam, musik memuakkan, makian dan harum tajam dari minyak aromaterapi.


Dengan pakaian yang masih sama seperti semalam, kemeja biru gelap dan celana hitam, aku melenggang menuju sofa tempat jas dan ponselku berada. Aku hendak menghubungi rumah tapi sebuah note kertas di atas layar HP-ku membuatku sedikit ingat apa yang terjadi sebelum aku muntah di kamar mandi. Aku bertemu Margareth Hunter dan pesan ini jelas sekali darinya.


Berterima-kasih lah aku sudah baik hati, tolong jangan muntah di depanku lagi. Kau menjijikkan!


Margareth Hunter, your enemy.


Selalu dramatis. Aku menggumpalkan kertas itu sebelum melemparnya ke lantai. Jika yang membantuku semalam adalah Margareth, maka kemungkinan orang yang membantuku di kamar mandi adalah orang-orang Margareth juga.


Menjijikkan, bagaimana bisa aku sebagai kepala keluarga Hunter menunjukkan sisi tidak sempurna itu kepada mereka? Aku bisa dijadikan bahan tawa oleh keluarga Hunter, sialan.


Menelan kekecewaan pada diriku lagi, aku pun menghubungi rumah. Kepada Julian yang mungkin mencemaskan keberadaanku semalaman. Aku menunggu panggilan terhubung dan pada dering pertama, suara 'Halo' Julian yang panik nyaris membuat ponsel terlepas dari tanganku.


"Bisa kau tidak berteriak di telingaku pagi-pagi?" Aku mengeluh iritasi.


"Maafkan aku, Bos. Habisnya..., aku tidak mendengar kabar darimu sejak semalam. Kami seisi rumah sangat cemas."


"Aku berada di hotel..." Aku melihat sebentar kepada pemandangan di luar dan langsung tau jelas di hotel mana aku berada. Aku berada di Hearts, jemput aku sekarang."


"Baik, bos."


Keparat, Evan Caspian. Dia bahkan memulai rencananya tanpa persetujuanku sama sekali. Aku belum siap, bajingan! Aku tidak bisa melakukan ini. Argh!


Rasanya kepalaku semakin sakit dengan segala kegilaan yang terjadi.


"Bertemanlah dengan Margareth Hunter. buat dia percaya padamu, bersimpati hanya padamu dan manfaatkan kedekatan itu untuk mencari tau apa yang sedang mereka lakukan. Kau adalah harapan terakhirku, Angga. Pikirkan Indira dan keselamatan keluargamu juga."


Perintah Evan kembali menggaung di kepalaku, memicu darahku mendidih.


Kenapa situasi ini harus terjadi padaku? Sialan! Bajingan!


Kepalaku mau meledak, tapi aku tidak bisa berlama-lama termenung dalam dilema. Sementara aku berdiri di depan jendela kamar hotel ini, dunia terus berputar. Aku tidak bisa berleha-leha dengan hati yang lemah. Aku harus melakukan apa yang harus kulakukan. Semuanya demi mempertahankan nama baik keluarga kami. Tidak, lebih tepatnya semua ini demi Indira. Aku harus melakukan yang terbaik agar dia tetap aman.


...----...


Waktu menunjukkan pukul sebelas menjelang siang ketika aku masuk ke dalam kediaman keluarga Rashid. Semenjak kepemimpinan ayah jatuh di tanganku, ayah dan ibu sudah kurang dalam hal mencampuri urusanku. Mereka masih mengawasi dan memberikan kritik di sana-sini, tapi tangan kasar ayah sudah kurang turut bermain. Biasanya, pria itu bila tidak menyukai sesuatu yang kulakukan akan melayangkan pukulan keras di wajahku. Tapi sekarang, bahkan ketika dia melihatku baru pulang setelah menghilang semalaman, dia tidak naik pitam.

__ADS_1


Mungkin karena ayah adalah pemimpin sebelumnya, dia mengerti keras kehidupan yang harus kujalani sekarang.


Aku tersentuh oleh ilusi dan asumsi yang kubuat sendiri.


"Selamat siang, ayah." Aku menyapa ayah yang duduk di sofa ruang tamu, menikmati secangkir kopi dan sebuah buku bacaan tebal.


"Indira datang dan mencarimu," kata ayah. "Dia sepertinya mempunyai banyak waktu luang sampai hampir setiap hari ke sini."


"Dia hanya belum terbiasa di rumah Caspian."


"Kalau begitu ajari dia cara terbiasa di lingkungan baru, Angga." Ayah memberikanku tatapan tegas dan mengancam. "Dia adalah bagian keluarga Caspian sekarang, jangan sampai dia mempermalukan nama baik keluarga kita hanya karena dia 'belum terbiasa'. Apa kau paham?"


"Bagaimana dengan ayah? Apa ayah sudah mengatakan sesuatu pada Indira?"


"Aku menahan diriku agar tidak mengatakan apa pun. Adikmu itu--entah bagaimana--hanya mendengarkanmu." Tidak, itu adalah penilaian yang berlebihan. Aku bisa berbicara sampai mulutku berbusa, dan Indira akan tetap berpegang teguh pada keputusannya.


"Jika aku turut berbicara," lanjut ayah lagi, "Itu tidak akan berakhir baik untuk kami berdua."


"Huh, ya. Indira beruntung ayah menyadari itu."


Ayahku--Callum Rashid merupakan pria yang tidak cakap dalam berkomunikasi dari hati ke hati. Setiap kali dia berusaha menyampaikan maksudnya, kekerasan kerap terjadi. Bukan berarti dia tidak menyayangi kami, aku pikir itu mungkin hanya cara dia dididik membuatnya sulit untuk menjalin hubungan baik dengan anak-anaknya.


Sejak kami kecil dulu, aku selalu melindungi Indira dari ayah dan ibu yang menumpahkan harapan mereka pada kami. Aku tidak mau kebebasan Indira hilang, jadi aku menyanggupi segala hal yang sebenarnya bisa kubagi pada Indira.


Ayah dan ibu sangat ingin kami anak-anaknya bisa membawa impian pemimpin keluarga sebelumnya menjadi realita. Menjadi pemimpin dari seluruh pemimpin, menjadi keluarga yang mendominasi tiga keluarga lainnya. Itu adalah harapan yang sudah diwariskan seperti kutukan.


Ketika harapan itu jatuh padaku karena ayah gagal mewujudkan harapan yang diberi kakek, aku menjalani hidup seperti di neraka. Aku hidup dengan ambisi untuk menjadi yang terbaik, tapi ambisi hanyalah ambisi. Api yang tidak terekspos pada oksigen cepat atau lembat akan mati. Ambisiku yang tidak dibarengi pada kemampuan yang mumpuni membuat ambisiku mati. Saat ini, yang ingin kulakukan hanyalah bertahan hidup satu hari lagi.


Tentu saja sekarang, terima kasih pada Evan, pria itu memberikanku satu alasan lagi untuk bertahan di dunia yang kelam ini.


"Ayah dengar dari Evan, kau sedang melaksanakan pekerjaan khusus darinya. Jika mengatasi tugas dari Evan membuatmu kesulitan menangani bisnis keluarga kita, kau bisa meminta bantuan pada ayah untuk sementara. Pastikan saja kau fokus pada apa yang Evan tugaskan, dia adalah harapan keluarga kita sekarang. Mengingat kau sudah menciptakan kegagalan..."


"Ayah...."


"Aku hanya mengatakan ini untuk membantumu, tidak perlu terluka dan malu. Kau memang tidak bisa melakukan apa-apa tanpa bantuan keluarga Caspian. Sekarang ini, meskipun memalukan, lakukan apa yang Evan inginkan. Selamatkan keluarga kita."


"Bahkan bila itu berarti aku harus menjadi anjingnya?" Aku mengepalkan tangan, menahan geraman dan keinginan untuk mengguncang ayahku. Menyadarkannya dari kegilaan yang terus dia ucapkan.


"Jika itu membuatmu berguna, lakukan."


Keparat!


"Angga, kau baru pulang?" Dari dalam rumah, sambil melenggang ringan, Indira datang. Wajahnya merekah sumringah. "Aku menunggumu dari tadi!"

__ADS_1


"Hn..." Ekspresi keras yang timbul akibat emosiku kepada ayah tidak bisa kupudarkan begitu saja. Indira menyadari ekspresi suramku dan melempar tatapan tidak suka kepada ayah di sofa. "Apa yang kalian bicarakan?"


Aku merangkul Indira ke dalam lenganku dan menariknya agak paksa agar mengikutiku. "Bukan apa-apa. Mari berbicara, kau menungguku untuk mengatakan sesuatu, bukan?"


"Tsk! Baiklah!" Indira mengikutiku mau tidak mau. Kami melangkah beriringan menuju kamarku yang berada di lantai tiga, di sudut bangunan yang seperti menara. Indira mengikutiku sambil berupaya membaca atmosfir di antara kami. Dia sepertinya ingin bicara, tapi enggan membuatku murka.


Melihat keragu-raguannya, aku menebak ini akan menjadi topik tentang Fawn lagi.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanyaku mengambil inisiatif.


"Oh, Angga..., mengenai Fawn..."


"Fawn lagi." suaraku seperti mengejek. "Aku mulai cemburu pada bodyguard-mu itu. Kau memikirkannya setiap hari."


"Haah, itu wajar karena kami sudah dekat seperti saudara. Aku sudah menganggapnya seperti adik perempuanku sendiri."


"Tapi dia adalah bodyguard-mu, Indi. Mau sampai kapan kau mengabaikan fakta itu?"


"Aku tidak mengabaikan fakta itu, tapi aku tidak akan menganggap keberadaannya tidak berharga hanya karena pekerjaannya."


"Lalu, apalagi yang mau kau tanyakan? Kalau kau pikir aku--"


"Bukan..." Indira menyelaku. Dia tiba-tiba bergerak maju dan memblokade jalanku. "Aku--ummm, aku pikir aku akan menyerahkan segala hal tentang Fawn padamu. Kalau dia memang melakukan apa yang kau katakan, maka aku tidak akan menuntutmu untuk mencarinya lagi."


"Hah?" Itu meragukan.


"Aku..., selama Fawn aman, aku akan merelakan perpisahan kami." Tapi, bukankah kemarin malam Indira adalah orang yang sama yang nyaris kehilangan keanggunannya karena meneriakiku tentang aturan-aturan utama bodyguard dan isi kontrak mereka. Bahwa aku tidak boleh seenak hati mencuri bodyguard-nya?


"Apa yang terjadi padamu?" tanyaku curiga.


"Tidak ada apa-apa." Indira mengangkat pundak dan memamerkan cengiran samar. "Aku hanya move on. Oh, ya...." Indira menepi dari hadapanku dan kembali berjalan. "Aku berencana bermain di mall minggu ini untuk refreshing, apa kau mau ikut?"


"Apa aku anak-anak?" Bukan, apa Indira anak-anak adalah pertanyaan yang seharusnya kutanyakan. Pantas ayahku mencemaskannya.


"Aku tidak pergi sendirian, Evan dan Eleanor juga akan bergabung. Evan pikir itu ide baik."


"Aku akan memikirkannya." kataku.


Untuk saat ini, yang perlu kupikirkan adalah cara menjalin kedekatan pada Margareth Hunter. Karena, saat ini misiku hanya itu. Caraku menjaga kehidupan nyaman Indira adalah dengan mengotori tanganku untuknya.


'Apakah Fawn mengutukku sebelum kematiannya, mengapa kehidupanku semakin kelam saja?'


...------...

__ADS_1


__ADS_2