DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
144. DI DALAM SANGKAR


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Fawn duduk meringkuk di lantai rumah sakit, mengabaikan beberapa orang yang berlalu-lalang di depannya dan menaruh kecemasan samar atas kondisinya. Fawn saat itu hanya merasakan hampa. Hati dan pikirannya tidak berada di tubuhnya. Ia termangu dengan mata yang meredup sendu.


Tidak ada tanggapan setiap kali seorang perawat menegurnya, meminta ia bangun dari sana. Fawn tidak mempunyai energi sama sekali setelah segala hal yang terjadi. Setelah kehilangan banyak hal di hidupnya, terluka dan tersiksa--Fawn sudah mencapai batasnya.


Ia sudah hancur.


Lilian Alder, wanita yang sudah menemaninya tumbuh dewasa. Harta berharganya..., telah meninggalkan dunia. Fawn tidak mengerti apa yang salah, mengapa setelah segala pengorbanan yang ia lakukan, Lilian masih lepas dari genggamannya? Meninggalkannya?


Apa yang harus ia lakukan sekarang dengan keabsenan sosok ibu di hidupnya? Sosok yang menjadi alasannya hidup?


"Fawnia?"


Di tengah kekacauan yang mengacaukan isi kepalanya, memporak-porandakan benaknya.., sebuah suara menarik perhatiannya. Suara lembut yang menyiratkan keprihatinan, sebuah suara yang mampu membuatnya melupakan segala keriuhan di pikirannya.


Sumber ketenangannya...


"Ace?" Fawn membuka suara. Keheningannya yang cukup lama di sana membuat lidahnya sedikit kaku saat melafalkan nama itu. Pandangan Fawn bergulir sayu kepada sosok yang menyapanya dari kursi roda.


Arcelio Hunter, Ace, berada di depannya. Tersenyum sehangat mentari pagi.


Tanpa pertukaran kata-kata di antara mereka, Fawn beranjak dari posisinya dan menuju Ace. Segala keheningan yang membungkam emosinya seketika menyeruak keluar di sana. Fawn menangis sejadi-jadinya di pangkuan Ace yang mendekapnya.


Segala duka yang hatinya rasakan, segala kesakitan dan penyesalan..., Fawn meluruhkan habis perasaan menyakitkan itu kepada Ace. Sosok yang satu-satunya ia miliki sekarang, sosok yang ia cintai dan sosok yang paling berharga di hidupnya.


"Kumohon, jangan pernah tinggalkan aku lagi!" Fawn berujar dengan isakan bercampur dalam suaranya. Ace yang saat itu mengusap surai hitam Fawn, menyisir helaian rambutnya dalam kelembutan--tersenyum penuh kasih sayang.


"Tinggallah bersamaku, Fawnia. Aku akan melindungimu selamanya. Aku tidak akan membiarkan satu orang pun menyakitimu lagi."


Tanpa menjeda tanggapannya atau menunda lama keputusannya, Fawn mengangguk dengan kepatuhan. Ia mendekap leher Ace sekali lagi dengan kencang, merasakan kehangatan pria itu di tubuhnya, nyata. Fawn tidak menginginkan apa-apa lagi selain hidup bersama Ace. Melindunginya dan mencintainya selamanya.


"Aku berjanji, aku tidak akan meninggalkanmu, Ace." Fawn melonggarkan dekapannya dan menatap Ace tepat di muka.


Sebuah pengakuan yang selama ini tertahan di ujung lidahnya, sebuah pengakuan yang ia sembunyikan dari Ace sejak lama...

__ADS_1


Fawn mengungkapkannya di sana.


Di depan kamar rawat ibunya yang telah hampa, di lorong rumah sakit tempat perawat dan dokter berlalu-lalang...


"Ace, aku mencintaimu."


Di depan sepasang iris kelam itu, Fawn mendeklarasikan perasaannya. Itu bukan pengakuan romantis yang membuat hatimu berbunga-bunga. Itu adalah pengakuan yang penuh oleh kesedihan, keputus-asaan, dan penyesalan. Sebuah pengakuan yang muncul dari hati yang terluka, keluar dari hati Fawnia seperti alasan terakhir kehidupannya.


Saat itu juga, di depan pengakuan yang terasa seperti ikrar kesetiaan, Ace merasakan kemenangan. Seakan-akan jeruji tak kasat mata bangkit melingkupi dirinya dan Fawnia. Mengurungnya di dalam sangkar bernama cinta.


Ace--di depan Fawnia--menyadari satu hal yang krusial di sana. Bahwa, sangkar yang sudah ia siapkan untuk wanita itu, berakhir mengurungnya juga. Sama seperti Fawnia tidak mampu hidup tanpanya, Ace menyadari ia pun akan berada di neraka tanpa Fawnia di hidupnya.


Mereka sama-sama terikat, seperti dua burung yang terjebak di dalam sangkar.


...----------------...


"Apa kau yakin kau sudah dalam keadaan lebih baik?" Di hari yang sama, setelah Ace menghampiri Fawn di koridor rumah sakit, Fawn belum berpisah dari Ace sama sekali. Mereka bergandengan tangan, enggan melepaskan satu sama lain.


Meskipun Fawn agak mencemaskan Ace yang belum beristirahat sama sekali, Fawn tidak merasa bersalah sudah menjadikan Ace tawanan di genggamannya.


Fawn pun tidak ingin berpisah dengan Ace, bahkan barang sebentar saja.


"Situasinya sangat buruk, bukan? Aku meracunimu demi keselamatan ibuku, tapi pada akhirnya upayaku sia-sia. Mungkin ini adalah hukumanku karena sudah berusaha mencelakaimu."


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kau sudah cukup menderita."


"Aku tau..., tapi sulit untuk menutup mata ketika aku menyadari segala masalah yang menimpa diriku terjadi karena aku yang tidak pandai dalam membuat keputusan."


"Kau tidak salah. Yang salah adalah orang yang sudah memanfaatkan loyalitasmu." Ace merangkul Fawn ke dalam dekapannya dan memberikan gadis itu usapan lembut di lengan. "Aku akan menyelesaikan semuanya sekarang. Akan kupastikan, baik itu Evan ataupun Anggara, mereka tidak akan pernah bisa menyakitimu lagi."


"Aku akan membantumu," ujar Fawn. Kali ini dengan keseriusan dan kesungguhan.


"Kau sedang dalam keadaan berduka, Fawn. Aku tidak mau melibatkanmu lagi ke dalam masalahku."


"Tidak..., ini bukan hanya masalahmu sendiri." Fawn menarik tangan Ace, menggenggamnya dan memangkunya dengan kehangatan. Sepasang iris hazel Fawn berbinar sarat akan tekad kuat.


"Karena kau adalah sosok terpenting di hidupku sekarang, aku akan melindungimu."

__ADS_1


"Tapi Fawnia, aku tidak ingin kau terluka."


"Percayalah padaku, aku tidak akan terluka lagi. Tidak oleh orang yang sama."


Ace meragu sejenak. Matanya menatap Fawn dengan penuh penilaian. "Kau tau kau tidak perlu melakukan ini, bukan?"


"Aku tau, tapi aku tetap ingin membantumu. Juga..., aku punya sesuatu yang perlu kutagih dari Anggara."


"Sesuatu?"


"Janjinya," jawab Fawn tanpa konteks dan penjelasan. Saat itu, Fawn memikirkan tentang ucapan Anggara yang bertekad melindungi ibunya. Namun, siapa yang menyangka pemindahan Lilian memperparah kondisinya. Rumah sakit tempat Anggara menyembunyikan ibunya pun bukan rumah sakit dengan fasilitas yang memadai.


Dalam arti lain, penyebab dari merosotnya kesehatan Lilian hingga ia meninggal pun dipengaruhi oleh kelalaian Anggara.


Fawn tidak akan membiarkan pria itu melangkah dengan bebas di luar sana setelah apa yang dia lakukan.


Setiap kata dan janji yang Anggara ucapkan mengenai perlindungan Lilian, akan Fawn tagih dengan bayaran yang seimbang.


"Selama kau tidak terluka, aku akan mendukung apa pun keputusanmu, Fawnia." Ace tersenyum samar. Bukan senyum yang menyiratkan kasih sayang dan kelembutan, senyum Ace adalah senyum seorang pengrajin yang telah berhasil menyelesaikan karyanya.


Fawnia Alder..., dia begitu berkilau seperti sebilah pedang tajam. Dia adalah pedang yang sudah Ace tempa dengan penuh kehati-hatian.


"Besok aku sudah boleh pulang dari rumah sakit," ujar Ace kembali. "Bagaimana kalau melakukan pemakaman ibumu, besok?"


Fawn mengangguk dengan mata kembali sayu. "Baiklah."


"Jangan sedih, Fawnia. Aku akan berada di sisimu selamanya."


"Terima kasih, Ace. Aku tidak tau apakah aku masih mampu hidup bila aku juga kehilanganmu."


"..."


"Kau adalah sosok yang sangat berarti di hidupku sekarang, aku mencintaimu."


Ace mengangguk dan memberikan Fawn kecupan di dahi. "Aku tidak pernah mengharapkan lebih dari ini."


Ini sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2