
...NORMAL pov...
...----------------...
Ketika mendengar kata penyerangan dan Margot di dalam kalimat yang sama, jantung Vera nyaris melompat dari rongganya. Ia--tanpa menaruh perhatian pada Anggara lagi, langsung meninggalkan pria itu dan Leviathan tanpa pertimbangan, tanpa keraguan.
Pikiran Vera saat itu hanya satu, kondisi Margot. Ia mencemaskan nona mudanya yang seingat Vera, seharusnya berkurung di rumah. Margot tidak punya jadwal di luar hari ini. Dia bahkan mengatakan tidak membutuhkan Vera karena dia hanya ingin bersantai di rumah.
Apa yang terjadi?
Vera tiba di depan kediaman Hunter dengan langkah tergesa-gesa. Tanpa memperhatikan sekitarnya yang entah bagaimana--terlihat biasa-biasa saja--Vera terus menuju kamar Margot. Saat itu juga, ketika ia membuka pintu kamar Margot, Vera disambut oleh ketenangan. Vera keheranan. Jika Margot diserang, mustahil mansion Hunter akan menunjukkan ketenangan.
"Selamat datang kembali," sebuah suara familiar menyapa telinga Vera, menarik perhatiannya. Ia menoleh ke arah balkon dan menemukan bosnya sedang duduk bersantai di sana, segelas wine di tangan dan rambut hitam terurai panjang. David dan Willa menemani Margot. Mereka menatap Vera dengan ekspresi bersalah.
"Apa yang terjadi di sini?" Vera melangkah dengan kekesalan tertahan. Sedikitnya, ia sudah bisa menebak apa yang Margot lakukan. Ia hanya berharap..., berharap agar bos sintingnya itu punya alasan yang lebih baik daripada yang sudah ia pikirkan.
"Aku tidak menyangka kau benar-benar percaya," Margot tertawa kecil.
"Bos Margot, ini tidak lucu." Vera mendekat. "Apa kau menipuku?"
"Jangan menanyakan sesuatu yang sudah ada jawabannya." tukas Margot.
"Jadi kau memang menipuku."
"Aku bosan." Margot membuat alasan.
Vera mengepalkan tangannya, "Bos Margot, apa kau tau betapa cemasnya aku di sepanjang jalan kemari? Aku..., aku hampir terkena serangan jantung karena informasi itu. Kau juga David..., aku pikir kau lebih bijak."
"Jangan menyalahkan David, itu perintahku." Margot menyeringai. Jemari lentiknya melingkupi gelas kaca itu seperti godaan.
"Daan, apa tujuannya ini?" Vera sama sekali tidak menyukai tindakan Margot.
"Aku menguji loyalitasmu, apa lagi?"
"Aku pikir uji loyalitas sudah kita lewati beberapa tahun lalu. Aku bahkan melindungimu ketika organisasi lain berusaha menyerangmu di kota M? Oh, jangan lupakan upaya penculikan saat hari wisudamu? Aku ada di sana, kepalaku hampir putus!"
__ADS_1
"Tentu saja aku ingat. Itu adalah era-era ketika kau berpenampilan seperti gangster emo yang mempunyai lubang sangat banyak di tubuhmu, sangat banyak, jangan dramatis." Margot mengelap keringat imajinasi di keningnya sebelum memiringkan kepala, "Juga, seingatku, kau yang menggorok orang kesana kemari, Vera. Jangan mengubah narasinya. Kau masih membuatku kesulitan makan karena kenangan menjijikkan itu."
"Intinya, aku sudah membuktikan loyalitasku sejak lama, bos. Kenapa kau mengerjaiku?"
"Manusia berubah, mau bagaimana lagi? Aku yang mempercayaimu kemarin bisa saja tidak mempercayaimu yang hari ini. Kepercayaan adalah hal yang berbahaya dan tidak bisa kuberikan secara percuma hanya karena kita melewatkan beberapa waktu bersama."
"Yayayaya, terserah." Vera menyerah mendebat Margot. Karena kepanasan sudah berlari, Vera pun berjalan menuju balkon. Ia melepas dua kancing teratas kemeja flanelnya dan bersandar di pagar besi. Angin malam seketika menyapanya, mendinginkan tubuhnya yang panas seperti loyang kue yang baru keluar dari oven.
"Jadi, bagaimana kencanmu dengan Anggara?" Margot menggodanya. "Apa kau terburu-buru kemari sementara masih melakukan ini...?" Margot membuat isyarat tangan yang tentu saja bermakna kotor. Hal itu membuat David memutar badannya menghadap tembok. Dia tidak senang dengan konversasi itu dan mulai berpikir kalau lompat dari lantai dua kamar Margot mungkin bukan ide yang buruk.
Vera--berbeda dari David--tidak menunjukkan ketidak-nyamanan. Dia menatap Margot dengan seringai. Vera tidak akan mengalah dengan kegilaan bosnya itu.
Belakangan, Vera sudah belajar. Untuk melawan kegilaan Margot, ia perlu meladeni kegilaannya dengan kegilaan lain. Karena itu, Vera sudah siap dengan omongan kotornya ketika dia menimpali bosnya itu.
"Karena David menyela, aku hanya bisa membuat tuan Angga keluar di mulutku, Bos. Kami tidak bisa lanjut ke tahap yang kau maksudkan karena kupikir kau akan sedih kalau aku terlambat datang. Aku pasti akan sangaaat terlambat."
"Apa-apaan, kalian baru bertemu beberapa menit dan dia sudah keluar dengan cepat. Sangat premature."
"Aku hanya sangat hebat, bos. Anyway, aku terkejut kau tau kami baru bertemu sebentar. Apa kau memasang CCTV di sana?"
"Jika dia sosok yang memalukan, kenapa dia lebih sering mempermalukanku di ranjang?"
"Pertanyaannya, Vera, apa kau dan Anggara pernah melakukan itu di tempat selain toilet umum?"
Vera mengendikkan bahu. "Tentu saja pernah. Walau sebenarnya, aku pribadi, lebih menyukai melakukannya di tempat terbuka."
"Bisa kita membicarakan topik lain?" David menyela dan kali ini..., dia benar-benar akan lompat dari balkon kalau topik itu berkelanjutan.
Tentu saja, David paham apa yang keduanya bicarakan tidak ada yang sungguhan. Akan tetapi, David tidak bisa menghentikan dirinya sendiri membayangkan hal kotor itu terjadi. Tidak, bukan berarti dia membayangkan Vera tanpa busana di luar dengan Anggara mendekapnya dengan liar.
Tidak, David hanya memikirkan kalau tempat umum yang biasa ia kunjungi---sekarang berubah menjadi tempat yang kotor dalam arti penuh penyimpangan dan ugh.
Bagaimana bisa ia datang ke toilet umum dan tidak bertanya-tanya, berapa orang sudah melakukan hal menjijikkan di sana?
Moral David ternoda.
__ADS_1
"Seseorang masih perawan rupanya," Margot mengejek David.
"Normal, lebih tepatnya." David menghela napas. Wajahnya menjelaskan kejemuan.
"Baiklah, Vera." Masih pengertian pada David, Margot pun meninggalkan leluconnya dan Vera. Ia lompat kepada poin yang lebih penting.
"Bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Anggara?" Margot menyilangkan kakinya. Willa menuangkan wine lagi ke gelasnya.
"Semuanya berjalan baik." Vera membuat laporan.
"Bagaimana dengan Evan?"
"Aku melihat orangnya di pintu keluar Leviathan."
Margot manggut-manggut. "Mereka pasti mengekori Anggara, melihat apa dia sudah melakukan hal yang tepat. Hehehehehe. Ini mulai menyenangkan."
"Dia tidak menyerah padaku, Bos." Vera sedikit bersalah ketika dia mengungkit itu. Dia merasa bersalah karena dia bisa saja membiarkan Anggara menyerah. Dia bisa saja membuat Anggara mendapat kepercayaan Evan dan tidak perlu menerima pukulan lagi. Namun, Vera mengacaukan rencana Evan. Ia merebut hati Anggara dan mengontrol pria itu di tangannya.
"Itu adalah poin utamanya, bukan?" Margot menyesap wine di gelasnya sebelum berbagi minuman itu kepada Vera. Vera menyambutnya dengan rasa hormat.
"Ketidak-percayaan, keragu-raguan adalah racun yang paling berbahaya dalam hubungan. Bila Evan sedikit demi sedikit hilang kepercayaan pada Anggara, dia tidak akan mendengar Anggara lagi. Anggara tidak pintar, tapi dia cukup rasional dan paham hal-hal yang harus dan tidak harus dia lakukan..., terkecuali tentangmu, Vera."
Ucapan Margot memang masuk akal. Anggara yang meninggalkan prioritasnya demi Vera adalah kesalahan pertama yang pria itu lakukan. Tapi Margot tidak akan serta-merta menganggap Anggara bodoh, Vera pada dasarnya memang mempunyai sisi atraktif. Dia memancing pria berbahaya dengan keberadaannya.
"Bila penilaian rasional Anggara tidak didengarkan dan seluruh kekuatannya dilucutkan, Evan akan melakukan apa yang sudah Ace perhitungkan. Evan itu..., terlalu percaya diri. Dia merasa bisa mengendalikan segalanya. Sekarang, saatnya kita yang mengendalikan dia."
"Dan bagaimana denganku?" Vera mendongak menatap langit.
Apa yang akan terjadi padanya setelah semua ini selesai?
"Kau akan menjadi poin penting. Aku akan menggajimu tinggi dan memberikanmu jatah libur 3 bulan."
"Itu kedengarannya menyenangkan," Vera menghela napas.
Dulu, setidaknya itu kedengaran menyenangkan.
__ADS_1
...----------------...