
...INDIRA pov...
...----------------...
Di depan bingkai jendela kaca berukuran raksasa, aku berdiri di sana sambil menatap keluar jendela. Pemandangan halaman belakang keluarga Caspian yang lapang mengisi mataku. Sementara aku menatap keluar jendela, suara langkah kaki menyapa telingaku. Aku seketika mendongak kepada pantulan samar di kaca bening itu. Melihat kepada sosok Joseph yang terdistorsi di sana.
"Selamat pagi, Bos." Joseph dengan suara yang lembut menyapaku.
"Pagi," sahutku dan berbalik sekilas untuk melihat wajah Joseph lebih jelas. Satu-satunya pengawal dari rumah lamaku itu masih memakai penyangga lengan akibat luka tembakan yang ia dapatkan beberapa hari lalu.
Seseorang yang tidak diketahui siapa dan entah apa motifnya, tiba-tiba menembak Joseph yang sedang menemaniku menikmati teh di cafe. Kejadian itu spontan saja menggemparkan seluruh keluarga Caspian dan Rashid. Aku yang saat itu berada di dekat Joseph--dan kemungkinan menjadi orang yang ditargetkan, sekarang dikurung di rumah. Aku tidak dibolehkan pergi sampai mereka memastikan situasinya aman.
Hanya saja, yang kupertanyakan adalah..., bagaimana mereka mampu menjamin kalau situasiku akan aman bila mereka bahkan tidak mendapatkan petunjuk apa pun tentang si pelaku yang keberadaannya seperti hantu?
Situasi ini hanya akan memberatkanku.
"Bos, seperti yang kau pikirkan, seluruh bodyguard dari bos Angga sudah dipecat."
Joseph membuat laporan yang tidak mengejutkan. Beberapa hari lalu juga, setelah kejadian yang menimpa Joseph, aku melihat Evan dan Anggara bertengkar. Aku tidak tau apa yang mereka perdebatkan, tapi sepertinya Evan memenangkan perdebatan itu. Anggara pulang dengan api berkobar di matanya.
Setelah hari itu, pengawal yang melingkupiku meningkat pesat. Mereka semua adalah orang-orang Evan.
"Bagaimana denganmu, Joe? Apa Evan mengatakan sesuatu tentangmu?"
"Bos Evan memintaku untuk tetap tinggal, tapi otoritasku sebagai kepala pengawal akan diserahkan kepada Aidan."
Dalam kata lain, bahkan Joseph pun dibatasi pergerakannya.
Semua ini terlalu janggal dan membingungkan. Katakanlah penembakan itu membuat Evan waspada, dia tidak perlu menyingkirkan segala bodyguard-ku dengan orang baru. Jika dia cemas, dia sebaiknya menambah perlindunganku saja, kan?
Sesuatu sedang terjadi di antara Anggara dan Evan, aku punya firasat aneh tentang mereka.
Aku memutar-putar cincin pernikahan di jariku sambil berpikir.
"Ini bagus," kataku setelah berdiam lama. "Karena kau tidak perlu terus menempeliku setiap jam, ambil kesempatan ini untuk menyelidiki situasi yang sedang terjadi di tempat ini."
Di rumah yang penuh oleh pelayan yang berkeliaran, kata-kata pasti keluar. Satu atau dua informasi akan bocor di antara mereka yang gemar bercerita. Aku menginginkan cerita itu, cerita apa pun yang mampu membuatku memahami situasi yang sedang dirahasiakan oleh Evan dan Anggara.
"Aku akan berusaha keras, Bos." sahut Joseph, dia sangat patuh.
"Juga..., aku punya pesan untuk Ace." tambahku kemudian.
Aku sedang tidak bisa keluar sekarang. Aku tidak tau sampai kapan aku akan dikurung di tempat dingin ini. Tetapi, hanya karena aku tidak bisa menemui dunia luar, bukan berarti aku tidak mampu melakukan apa pun.
"Surat akan berbahaya untuk kau bawa kemana-mana, jadi aku mau kau mendengar setiap kata yang keluar dari mulutku. Sampaikan segala kata yang kuucapkan tanpa kekurangan ataupun kelebihan."
"Baiklah," Joseph mengangguk dengan telinga siaga.
Mengatur napasku sebentar dan menyusun kata di kepalaku agar keluar dengan singkat dan tepat, aku lalu berbalik menghadap Joseph. Punggung bersandar di dinding kaca.
__ADS_1
"Ace, aku sedang terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan sekarang, jadi aku tidak mampu menemuimu. Tapi jangan cemas, aku akan baik-baik saja. Aku mengirim Joseph untuk meminta bantuan padamu, sebagai sahabat yang mampu membantuku. Kau satu-satunya orang yang kupercayai saat ini."
Aku berhenti berujar sebentar dan menghela napas gusar. "Ace, tolong bantu aku mencari Fawn."
Sudah satu bulan berlalu semenjak pengawalku menghilang. Aku mencurigai situasi yang tegang di antara Evan dan Anggara saat ini juga berkaitan dengan hilangnya Fawn. Aku ingin tau apa yang sedang saudaraku dan Evan--suamiku lakukan di belakangku?
"Aku tau permintaan ini terkesan membuang-buang waktu, tapi tolong lakukan. Sebagai ganti kebaikanmu, aku akan memberikanmu beberapa informasi tentang keluarga Evan yang mungkin akan menguntungkanmu. Aku harap kau setuju, aku akan menunggu jawabanmu."
...----------------...
Aidan adalah seorang bodyguard yang sekarang bertanggung jawab atas keselamatanku. Dia tinggi, berkulit tan, raut dan ekspresinya keras dan tegas. Aidan memiliki poni menjuntai panjang nyaris mencapai dagu. Terkadang, ketika dia berdiri serius di sebelahku, dia sesekali menepikan poninya ke balik daun telinga. Seperti terganggu oleh gaya rambut yang dia pilih sendiri.
"Apa kau mau memakai ini?" tanyaku sambil menyerahkan sebuah jepitan rambut bunga matahari kepada Aidan yang sibuk menepikan poninya karena kuat terpaan angin.
Setelah berjalan bosan mengelilingi rumah, aku berhenti di sebuah gazebo yang menghadap kolam ikan.
"Ah, tidak perlu--"
"Jangan sungkan," aku tersenyum ringan. "Ambil saja. Aku tidak mau kau tercebur ke kolam karena terlalu asik membenahi rambutmu."
"Ma-maafkan aku. Aku akan memangkas poniku besok."
"Hei, tidak perlu seekstrim itu. Rambutmu sudah bagus, kau tidak perlu merasa tidak nyaman."
Hanya karena aku atasanmu, bukan berarti aku berhak mengatur bagaimana kau menjalani kehidupanmu. Apalagi gaya rambutmu.
"Menumbuhkan rambut pasti lebih sulit untuk laki-laki, biarkan saja panjang. Itu keren kok."
"Apa kata-kataku aneh?" Aku tidak merasa ada yang salah dari keren? Itu pujian, loh. Pujian. Joseph biasanya senang ketika aku memuji dia.
"Tidak, tidak ada yang salah. Maafkan aku." Aidan menunduk sopan sebelum menarik tiga langkah mundur menjauhiku. Yah, seperti aku virus!
Mengabaikan keanehan pengawal baruku, aku melempar pandanganku ke arah kolam ikan. Beberapa ikan dengan warna dan corak yang cantik menghiasi kolam tersebut. Aku sudah puas melihatnya sebelum ini, tapi tetap saja---melihatnya lagi aku tidak bisa menahan senyumanku.
Hei ikan-ikan, bagaimana rasanya terpenjara di kolam persegi panjang ini? Apa kalian menderita? Makan dan gerak kalian dibatasi. Kalian tidak bisa melihat dunia luar. Kalian indah, tapi keindahan itu hanya untuk dekorasi.
Kita--agak mirip, kan?
Menjadi puteri di keluarga Rashid dan dihujani pujian sebagai gadis yang menawan, kehidupanku tidak ada jauh bedanya dengan ikan-ikan ini. Aku masih terkurung di sangkar tak kasat mata yang dibangun orang-orang untukku. Aku selamanya--di mata mereka adalah gadis yang jelita, tidak lebih dan tidak kurang. Aku tidak mempunyai nilai lebih selain keindahanku.
"Evan, tunggu..." Di tengah lamunanku, aku mendengar suara seorang wanita. Lekas saja, aku mendongak dan mencari sumber suara.
Tepat ketika aku merotasikan mataku ke arah taman bunga yang terbentang lembut di dekat jembatan kayu, aku melihat seorang perempuan dalam kaos putih kebesaran, hotpants hitam dan sepatu converse merah mengejar langkah Evan yang lebar. Evan di sisi lain, membiarkan gadis itu menangkap lengannya sementara ia tidak mengangkat wajah sama sekali dari buku yang dia baca.
"Aidan," panggilku kepada si bodyguard.
"Iya, Bos." sahut Aidan.
"Siapa gadis itu? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?"
__ADS_1
"Oh, itu adalah nona Norah. Beliau merupakan sahabat bos Evan."
"Sahabat? Aku tidak tau Evan punya sahabat." Selama ini, bahkan ketika aku belum menjadi istri Evan, aku tidak tau sama sekali tentang keberadaan gadis bernama Norah. Ini pertama kali aku melihat sosok itu. Bila dia sahabat Evan, mengapa dia tidak datang di acara pernikahan kami?
"Haruskah aku menyapanya?" Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri.
Sebagai istri Evan, sudah kewajibanku untuk menyambut siapa pun itu yang Evan bawa ke rumah, bukan? Terlebih lagi gadis itu adalah temannya.
"Yaah, sepertinya memang harus." Aku tidak boleh bertingkah masa bodoh. Aku sekarang adalah seorang istri, aku tidak boleh mempermalukan keluarga Caspian dengan bertingkah apatis kepada rekan dan kawan mereka.
"Bos Indi, kau mau kemana?" Aidan tiba-tiba menyelaku yang baru saja mulai berdiri.
"Aku akan menyapa Evan dan..., Norah?"
"Maafkan aku, tapi jam-jam sekarang adalah waktu untuk bos Evan beristirahat."
"Ya, lalu?"
"Bos Evan tidak pernah membiarkan orang lain mengganggu waktu istirahatnya."
"Orang lain?" Aku? Orang lain?
"Maafkan aku, bos Indira. Tapi ini sudah ketentuan yang dibuat bos Evan sejak lama. Beliau memerintahkan kami para pengawalnya untuk tidak menginterupsi kegiatannya di jam-jam seperti ini."
"Huh, begitukah? Lalu..., bagaimana dengan Norah?"
"Nona Norah merupakan pengecualian. Bos Evan sudah membiarkannya."
Aku diam beberapa saat. Mencerna setiap untaian kata yang Aidan ucapkan. Bila aku--seorang istri sah Evan tidak diperbolehkan mendekati pria itu di jam istirahatnya, lantas..., mengapa gadis yang hanya menyandang posisi sahabat itu bisa? Rasanya sangat tidak masuk akal dan pahit di kerongkongan.
Aku menelan ludah seperti menelan batu.
Bila Aidan melarangku, itu hanya berarti satu. Evan tidak memberikan pengecualian apa pun pada bodyguard-nya tentang keberadaanku. Bahwa, tidak peduli apa pun posisiku di rumah ini, aku masih orang lain yang tidak berhak menginjak zona nyamannya.
"Baiklah, aku mengerti." Aku kembali duduk dan termenung diam. Ikan yang berenang di kolam sudah tidak menarik minatku. Aku melihat arah pergi keduanya yang sudah menghilang entah kemana. Lalu, dalam ketidaknyamanan yang merayap di hatiku, aku melihat Joseph muncul dari arah pintu dapur. Dia membawa senampan berisi satu gelas jus melon dan sepiring kue kering berbentuk hati.
"Permisi," Joseph menyapa Aidan sopan sebelum berlalu menghadapku.
"Bos Indi, aku membelikan kue kering favorite-mu dari toko kue yang sama." Joseph memamerkan cengiran tipis ketika dia menaruh nampan itu di atas meja kayu. Dia berlutut di depanku dengan sepasang mata yang berkilat ambigu.
"Nona Yvone menitip salam padamu, Bos. Dia bilang akan membuat kue yang bos suka bila bos mampir ke tokonya lagi."
"Ah, itu kabar menyenangkan. Terima kasih."
Aku mengambil tangan Joseph dan menggenggamnya hangat. "Terima kasih, kau adalah yang terbaik."
Mata Joseph saat itu mengatakan hanya satu : Pesanku pada Ace sudah tersampaikan.
Sekarang, apa yang harus kulakukan?
__ADS_1
...----------------...