
...NORMAL pov...
...----------------...
Fawn menghela napas panjang, menyiratkan lelah dan banyak pikiran. Fawn sangat lelah karena beban yang ditanggung pikirannya sudah nyaris mencapai kapasitas penuh.
Fawn memikirkan Indira, jujur saja. Bahkan ketika dia berkunjung ke rumah sakit tempat ibunya berada, duduk di samping ibunya yang masih membutuhkan topangan peralatan medis untuk bertahan karena operasinya waktu itu tidak berjalan mulus, Fawn masih memikirkan pekerjaan.
Fawn mencemaskan Indira.
Sejak Joseph turun dari kamar wanita itu dan mengungkapkan situasi Indira kepada Fawn dengan sangat mendetail, Fawn menjadi uring-uringan. Indira--nona muda yang ia layani sudah sejak lama--terperangkap di kamar Evan seperti tawanan. Tangan terikat di ranjang, memar di tubuh menyiratkan jejak sentuhan intim yang yah, Fawn tidak bodoh untuk tidak tau apa yang dijelaskan Joseph padanya.
Nona Indiranya, gadis yang hidup seperti bangsawan dan selalu penuh kelembutan, menjalani kehidupan yang penuh kekangan. Memikirkan situasi itu saja, Fawn rasanya ingin kembali mendaki kamar Evan dan menyelamatkan Indira dari sana.
Oh, andai saja dia bisa.
Sayangnya tidak.
Indira memberi ultimatum kepada Joseph agar siapa pun itu, baik Fawn maupun Anggara, agar tidak menyelamatkannya. Tidak sampai Indira memang sudah membutuhkan penyelamatan. Sekarang belum. Sekarang, Indira merasa masih sanggup bertahan di samping Evan. Di samping suami gila yang oh, Tuhan..., suami macam apa memborgol istrinya sendiri?
Fawn tidak paham sama sekali.
Apa Evan benar-benar sudah kehilangan kemanusiaannya? Atau dia adalah binatang sejak awal?
"Rasanya sangat membingungkan, Bu." Fawn menumpahkan isi hatinya pada sosok Lilian Alder yang terbaring lemah di ranjang besi rumah sakit. Mata Lilian terpejam erat, menunjukkan kalau dari segi kesadaran, ia tidak berada di sana untuk mendengar keluhan puterinya.
"Aku tau ini bukan urusanku," lanjut Fawn lagi. "Tapi, memikirkan nona Indira, aku jadi mengingat situasiku sendiri. Saat aku juga..., berada di posisi yang sama dengan nona Indira."
Fawn tau betapa tersiksanya hidup tanpa kebebasan. Ketika satu-satunya hal yang dapat ia kendalikan hanyalah pikirannya sendiri. Fawn tau dan Fawn masih ingat bagaimana borgol Ace melingkar di pergelangan tangannya, dan ingatan itu terkadang membawa mimpi buruk ke tidur Fawn. Ia..., walau sudah bebas, masih kerap terbangun dari tidur dengan napas sesak dan takut. Seolah-olah dia masih terperangkap dalam tempat yang sama.
Jejak borgol di pergelangan tangannya masih terasa panas setiap kali Fawn mengingat benda itu kembali. Seolah-olah besi itu masih di sana, mencekal pergerakannya.
Huuuuuh~
Fawn menghela napas jengah.
Dia masih mempertanyakan hal yang sama, bahwa..., apakah baik-baik saja mengikuti ucapan Indira? Apakah pilihan ini benar, meninggalkan Indira di sana? Fawn tidak ingin Indira menderita.
Kendati Joseph meninggalkan, pisau, kunci cadangan, dan ponsel sekali pakai untuk Indira, Fawn masih merasakan resah luar biasa. Fawn hanya akan bisa bernapas lega kalau dia melihat Indira bebas dengan mata kepalanya.
"Apa yang harus kulakukan?" Fawn bertanya lagi pada Lilian. Kali ini, ia merebahkan kepalanya di lengan ibunya. Bersandar di sana sementara kantuk mulai menguasai matanya.
Fawn berniat beristirahat dari pekerjaan saat dia datang dan mengunjungi Lilian, tapi..., dengan segala perasaan yang berkecamuk di benaknya sekarang, Fawn tidak yakin ia bisa melarikan diri barang sekejap saja dari pekerjaannya. Tidak.
Jawabannya sudah pasti tidak.
__ADS_1
...----------------...
Waktu menunjukkan pukul lima sore ketika Fawn menapak keluar dari rumah sakit. Langit sudah menjingga dan matahari sudah menggantung rendah di ujung horizon, siap terbenam sebelum malam datang.
Sementara Fawn melangkah, ia tidak menyadari sama sekali saat seseorang..., seorang yang berada cukup jauh darinya, dengan kamera menggantung di leher, membayangi langkahnya.
Fawn terus melangkah sampai seseorang yang lain menginterupsi langkahnya. Menyapanya.
"Selamat sore, Fawn." suara tegas itu menyapa kupingnya sebelum ia mendongak. Fawn mengangkat pandangannya dan cukup terkejut saat menemukan Carcel--bodyguard utama Ace--menyapanya.
"Carcel?" Fawn agak bingung. Ia tidak ingat sudah membuat janji dengan Ace hari ini.
"Aku datang untuk menjemputmu."
"Eh? Kenapa?"
"Bos Ace ingin mendiskusikan situasi yang penting padamu." ujar Carcel. "Menyangkut hasil rapatnya kemarin."
Ah!
Fawn seketika mengerti. Sesuatu sudah pasti terjadi setelah pertemuan itu, atau hendak terjadi? Yang mana pun itu, sesuatu yang lebih serius dan lebih berbahaya akan segera menyapa mereka. Fawn juga..., cepat atau lambat akan segera menghadapi bahaya yang sama.
"Di mana Ace sekarang?"
"Apa baik-baik saja kalau aku pergi bersamamu?" Fawn takut seseorang akan memergokinya atau melihatnya masuk ke mobil Carcel--Carcel dari semua orang, ketika peperangan antar keluarga akan segera terjadi. Dia seharusnya tidak terlihat dekat dengan orang-orang dari pihak Ace.
"Jangan mencemaskan apa pun." Carcel seperti membaca ketakutan di ekspresi Fawn. "Aku datang dengan penuh persiapan."
"O-key..."
...----------------...
Persiapan yang ternyata dimaksudkan Carcel ternyata adalah sebuah helikopter yang mendarat di atap rumah sakit. Fawn..., untuk pertama kali di hidupnya, mendaki naik ke dalam kendaraan udara dengan suara baling-baling yang bising itu. Tangan Fawn bergetar luar biasa, paduan antara ketakutan dan ketakjuban.
Carcel yang melihat ekspresi Fawn jadi tersenyum. Iya, si pria yang kerap berekspresi sedatar papan setrika itu akhirnya tersenyum. Dia menenangkan Fawn dengan isyarat tangan. Bahwa situasinya akan baik-baik saja.
Fawn tau situasinya akan baik-baik saja, tentunya. Fawn hanya..., oh Tuhan..., terkesima.
Seumur hidupnya, Fawn mengira dia akan mati tanpa pernah menaiki kendaraan ini. Karena ini sangat di luar jangkauannya, di luar nalarnya...
Bagaimana bisa, dia yang hanya seorang bodyguard biasa, memperoleh layanan semewah ini?
Fawn merasa sangat gugup selama perjalanan di udara itu. Tatapan Fawn berpindah-pindah dari pilot yang beroperasi di depan, dan kepada pemandangan kota yang dilintasinya.
Sempat sekali saja, Fawn bertanya-tanya bagaimana kalau mereka jatuh?
__ADS_1
Pertanyaan itu pula seketika ia tepis karena hei..., itu tolol dan tidak baik. Fawn tidak mau mati muda. Tidak ketika dia sudah susah payah bertahan hidup sampai sekarang.
Beberapa menit kemudian...,
Setelah perjalanan yang sebenarnya singkat, tapi terasa sangat lama dan mendebarkan, Fawn turun dan menapak di helipad dengan kaki bergetar. Carcel sampai menggenggam tangannya karena dia sangat gugup dan sulit berjalan.
"Apa kau takut ketinggian?" Carcel mencemaskan situasi Fawn.
Demi menutupi sisi kampungannya, Fawn mengangguk saja. Akan memalukan kalau dia jujur tentang alasan kegugupannya adalah karena ini pertama kalinya dia menaiki helikopter. Itu memalukan. Fawn tau Carcel bukan tipe pria yang akan mencemoohnya di belakang, tapi tetap saja, memalukan adalah memalukan!
"Di mana ini?" Fawn bertanya ketika dia sudah bisa mengendalikan sedikit kegugupannya.
"Diamond Hotel."
"Dia..., ah...," Fawn seketika paham. Dia sedang berada di wilayah Ace sekarang.
"Tuan Ace menunggumu di Dining Hall." lanjut Carcel lagi.
"Kalau kutau perjalanannya akan sedekat ini, aku lebih memilih menaiki taksi saja." Fawn mendumel jengah pada kemewahan yang baru saja dia terima tidak masuk akal. Diamond Hotel dan rumah sakit ibunya tidak begitu jauh.
"Akan mencurigakan kalau kau memasuki hotel kami dari pintu depan, Fawn."
"Kenapa?"
"Sekarang ini, setidaknya ada sepuluh orang suruhan keluarga Caspian memantau pergerakan bos Ace."
"Jadi tuan Evan sudah mulai bergerak."
"Dia sudah mengamati kami belakangan ini. Karena itu juga, saat kau dan bos Ace ada janji bertemu di pantai, kami perlu mengakali mereka dengan berbagai cara."
"Jadi itu penyebabnya Ace telat..." Fawn agak bersimpati pada situasi Ace sekarang. Kalau terus seperti ini, mereka akan menjadi sangat sulit untuk bertemu.
"Fawn..."
"Ya?"
"Apa kau sudah memilih akan memihak siapa di peperangan ini?" pertanyaan Carcel membuat Fawn seketika berhenti melangkah. Ia menoleh dan menatap kepada bodyguard Ace yang sekarang juga menatapnya.
"Aku tidak akan memihak siapa pun," jawaban Fawn sudah absolut.
Carcel menerima tanggapan Fawn dengan helaan napas dan anggukan.
Sepertinya, situasi memang akan menjadi seperti yang Ace prediksi, Carcel tidak ragu lagi.
...----------------...
__ADS_1