DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
26. PERTIKAIAN DUA SAUDARA


__ADS_3

...ACE pov...


...--------...


Sejumlah uang dengan nominal yang sangat besar mendarat di rekening anak angkat Fabian. Margot menelusuri asal-muasal uang tersebut dan menemukan kalau uang itu berasal dari rekening orang yang merupakan salah seorang korban diledakan cafe tempat orang tua kami meninggal.


Hasil penyelidikan itu membuat Margot sangat syok. Tidak hanya penyelidikan itu berakhir di jalan buntu, tapi juga mengingatkan kami kembali pada tragedi lama yang menimpa orang tua kami. Seakan-akan seseorang di balik insiden ini mengejek upaya kami untuk menemukannya.


"Aku tidak bisa membiarkan ini, Ace. Aku sudah tidak tahan dengan situasi ini lagi! Kau harus menemukan orang ini secepatnya!" Margot yang bersama kami di ruang diskusi--masih kesulitan meredam amarahnya. Dia mondar-mandir di depan meja kaca dengan tangan yang tidak bisa berhenti mengacak rambut.


"Orang ini---, dia bermain-main dengan kita! Dia menghina kita!"


"Tenanglah sebentar, Mar." Aku yang duduk di samping paman berbagi stress yang sama. Tingkah frustasi Margot tidak membantu sama sekali. Sebaliknya, dia membuat kami tertekan dalam suasana yang semakin suram.


"Tenang? Kau pikir aku bisa tenang setelah apa yang sudah terjadi? Pembunuh ayah dan ibu berkeliaran di luar sana dan memanfaatkan bodyguard-ku sebagai mata-matanya. Bodyguard-ku? Kau tau betapa banyak aku mengasihi Fabian selama ini? Aku bahkan hendak membiayai kuliah anaknya andai saja Fawn tidak menemukan kejanggalan di sana."


"Fawn? Kau memberikan dia akses ke internet?" Mataku melebar seketika.


"Apa kau gila, Margot? Apa kau lupa dia adalah tawanan di rumah ini?" Aku sangat terkejut pada fakta ini.


Bagaimana mungkin Margot bisa sangat tolol! Sebuah pertikaian antar keluarga Rashid dan Hunter dapat terjadi kapan saja bila keluarga Rashid tau kami menawan pengawal mereka!


"Aku melakukannya di bawah pengawasanku. Kau tidak perlu mencemaskan yang tidak penting!" Margot meneriakiku balik.


"Mencemaskan yang tidak penting, dengkulku! Apa kau mau bertanggung jawab bila keluarga Rashid bersama keluarga Caspian menyerang kita? Kita sedang tersudutkan sekarang, Margot? Pakai otakmu!"


"Apa kau meremehkan kekuatan keluarga kita?"


"Ini bukan masalah meremehkan tapi tentang berpikir rasional! Sedikit kesalahan bisa membuat kita berada di posisi yang merugikan. Kita. Adalah. Musuh. Semua. Orang! Ingat ini!" Aku berdiri dan mengacungkan telunjukku ke muka Margot. Amarahku semakin meninggi dalam perdebatan ini.


Kenapa mereka semua sangat tolol, demi Tuhan! Aku bisa mati hanya karena orang-orang di sekitarku tidak tau cara menggunakan otak mereka!


"Kalau kau tidak mau ada pertikaian, seharusnya kau tidak menyandera Fawn sejak awal. Kau yang duluan melanggar peraturan dengan membuat bodyguard dari keluarga lain sebagai mainan sementara kau tau itu dapat memicu pertikaian, tapi kau tetap melakukannya." Margot sepertinya ingin situasi ini menjadi pertumpahan darah. Dia yang terus melawanku membuat situasi ini akan berubah lebih buruk.


"Aku adalah pemimpin di keluarga ini, Margareth! Aku tau apa yang aku lakukan---"


"Kau tidak! Faktanya, kau tidak mencemaskan tentang pertikaian antar keluarga yang kemungkinan dapat terjadi, kau mencemaskan kemungkinan Fawn akan melarikan diri dari sini!"


Dalam amarah yang menggelapkan mata, aku melangkah maju menghampiri Margot yang berdiri tanpa kegentaran sama sekali. Rahangku mengeras dalam emosi, urat-urat saraf di kepalaku seperti siap meledak saat itu juga.


"Katakan lagi!" tantangku tenang.


"Kau tidak mempedulikan keluarga kita sebanyak aku, Ace. Kau hanya mempedulikan kesenanganmu sendi--"

__ADS_1


Plak!


Tanganku akhirnya mewakili kekesalanku. Margot menerima tamparanku dengan mata yang melebar penuh keterkejutan. Dia berdiri terhuyung dengan wajah memerah padam. Paman Jack berdiri di belakangku, ikut terkejut dalam suara keras tamparan yang kuberikan kepada Margot.


"Aku ingatkan kembali padamu," Aku menggapai wajah Margot dalam telapak tanganku, memaksa wajahnya agar menghadapku. "Aku mungkin adalah saudaramu, tapi bukan berarti aku akan menoleransi segala perilakumu!"


Aku menepisnya dengan dorongan kuat hingga ia jatuh terduduk di sofa. Mataku lalu berpindah ke paman dan ke seluruh bodyguard yang hadir di dalam ruangan. 


"Aku ingatkan kalian kembali, aku adalah kepala yang sah di keluarga ini! Aku adalah pemimpin di sini! Jika kalian tidak bisa menghormatiku, aku akan menunjukkan kalian jalan keluar tercepat dari kehidupan ini! Aku adalah Arcelio Hunter! Aku tidak membawa keluarga ini ke posisi tertinggi untuk kalian mempertanyakan otoritasku!"


"Dan untukmu, Margot..." Aku kembali menatap saudaraku yang sekarang menekan amarahnya dalam-dalam. "Jika kau mengira kepedulianku hanya sedikit pada keluarga ini, kau sudah lama mati. Aku harap kau menghargai nyawamu karena jika bukan aku yang mencegah segala keparat di luar sana untuk mengejar kepalamu, kau tidak akan bertahan sampai sekarang!"


"Ace, aku pikir ini cukup." paman Jack berusaha menginterupsiku. "Margot hanya terpukul atas informasi menyangkut Fabian. Kita semua terpukul, Ace."


Paman Jack menatapku dengan mata yang memohon pengertian. Dia tau, jika aku lebih marah dari ini aku bisa menghancurkan segala upaya balas dendam mereka dan berlalu pergi.


Aku bertahan karena aku menyayangi Margot dan mengerti ambisi besarnya untuk menangkap pembunuh orang tua kami. Tapi..., TAPI!!! Jika keberadaanku di sini tidak dihormati sama sekali, aku tidak akan berpikir dua kali untuk membubarkan semuanya.


Masa bodoh dengan mencari pembunuh orang tuaku! Masa bodoh dengan pengkhianatan Fabian! Aku tidak akan membiarkan segala upayaku selama ini disia-siakan dan diremehkan hanya karena aku tidak menunjukkan kegilaan yang sama dengan mereka!


"Ace," paman melembutkan suaranya. "Tenangkan dirimu sebentar. Oke?"


Sialan...


"Apa kau bisa memainkannya?" Aku bertanya dan bergabung di sofa. Dia mendongak menatapku dan mengangkat bahu. Kupikir itu artinya tidak.


"Aku tolol dalam hal semacam ini," jawab Fawn. "Aku lebih suka bermain hal-hal yang asik di main bersama teman."


"Oh, semacam apa?" Aku tersenyum saat mendengar suara Fawn. Suaranya menenangkan api amarahku. Aku pikir aku tidak bisa marah bila di dekat gadis ini lagi. Segala sesuatu tentangnya membuatku merasakan kelegaan dan kenyamanan yang tabu. Sesuatu yang langka dan baru.


"Kau tau, semacam bowling? Aku biasa bermain di mall bersama teman-temanku saat hari libur. Aku merasa bisa mati karena tertawa terlalu banyak."


"Huh, begitukah? Kau sangat menyukai bowling sampai seperti itu?"


Aku tidak bisa membayangkan senyum sumringah Fawn yang diberikannya secara bebas kepada orang lain yang menyaksikannya bermain bowling. Apa dia berniat membuat orang-orang memperebutkannya seperti berhala?


"Aku bukan menyukai bowling-nya, aku menyukai waktu yang kulewati bersama teman-temanku." Fawn bernostalgia dan aku tidak suka itu. Siapa yang berada di pikirannya sampai dia tersenyum manis?


"Hei..." Aku menoyor kepala Fawn. "Lupakan soal bowling, apa kau sudah makan?"


"Oh, aku sedang menunggu Haru."


"Haru?" Oh, benar juga. Karena bodyguard utama termasuk Felix sedang berada di ruang diskusi bersama paman Jack. Haru yang merupakan anggota baru akan ditugaskan di tempat ini.

__ADS_1


"Apa dia membuatkanmu makan siang?" tanyaku kembali.


"Mm. Apa kau tau Haru sangat hebat dalam meracik roti panggang? Dia bisa mengoles mentega dan menaburkan garam di atasnya dan roti panggang itu akan terasa seperti surga, serius. Dia punya tangan ajaib."


"Oh, apa maksudmu dia lebih baik darimu dalam hal memasak?" Aku mengungkit nasi goreng yang pernah Fawn buatkan untukku. Bibir Fawn seketika mengerucut ketus. Matanya menyorotku dengan kekesalan yang malah membuatnya sangat imut. Aku menangkup kedua pipinya dalam tanganku dan mengguncangnya dengan kegemasan tertahan.


"Apa yang kau lakukan?" Fawn memprotesku dengan suara yang seperti menelan kelereng. Wajahnya sangat halus dalam tangkupanku, sangat lembut dan sangat empuk. Aku ingin menggigitnya.


"Katakan, apa yang kau makan sampai pipimu setembam ini?" Aku tertawa ketika aku melepaskan tangkupanku dari wajahnya. "Kau menjadi semakin menggemaskan, ini tidak baik untuk hatiku."


"Kenapa? Apa kau akan terkena serangan jantung?"


"Apa kau menyumpahiku mati?" Aku mengacak surai hitam Fawn dan bergerak maju hanya untuk melabuhkan kecupan di pipinya. Dia sedikit terkejut dan menatapku canggung, tapi tidak mengatakan apa-apa. Matanya menatapku seperti aku sudah gila.


Yah, mungkin aku sudah gila.


"Ace?" Fawn memanggilku dengan kening yang mengerut ragu-ragu. Aku menyamankan sandaranku di sofa dan menatapnya.


"Ada apa?"


"Apa Fabian benar-benar pengkhianat?"


Aku mengangkat bahu. Seketika, ketika topik itu kembali diangkat, segala warna cerah yang muncul di kepalaku kembali menjadi abu-abu.


"Jika penyelidikannya seperti yang Margot katakan, maka itu benar. Kenapa?"


"Tidak. Aku hanya tidak percaya kalau pengawal akan mampu melakukan penghianatan pada tuannya. Maksudku, tugas utama seorang pengawal adalah loyal kepada atasannya, bukan? Jika kau tidak loyal, maka kau tidak berhak melabelkan dirimu sebagai pengawal sama sekali."


Aku terkekeh. "Kau punya pemikiran yang ideal, tapi loyalitas adalah sesuatu yang abstrak, uang 500 juta tidak. Kau bisa membeli loyalitas dengan 500 juta, tapi loyalitas saja tidak menjaminmu mendapat imbalan sebanyak itu."


"Aku pikir aku tidak akan menjual loyalitasku untuk 500 juta." Fawn menanggapiku dengan kenaifannya. Aku tersenyum cerah dan menatap wajahnya sambil merasakan ketakjuban di dada, jantungku berpacu sangat gila.


"Jadi, apakah loyalitasmu masih merekat kepada keluarga Rashid?"


"Ya." Fawn menjawabku dengan jujur, tapi aku tidak membencinya.


"Suatu saat nanti, kalau keluarga Rashid memintamu membunuhku, apa kau akan melakukannya?"


"Pertanyaannya adalah apa aku akan bisa lepas dari sini dalam keadaan hidup dan bertemu keluarga Rashid?"


Aku menggeleng dan terkekeh. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."


"Sudah kuduga." Fawn memutar mata.

__ADS_1


...-------...


__ADS_2