
...NORMAL pov...
...----------------...
Fawn menunduk sendu. Pandangannya jatuh layu kepada jemarinya yang bertaut di bawah meja. Ucapan Ace saat itu--kendati memberikan kehangatan di hatinya, juga memberikan luka. Fawn tidak bisa mengangkat kepalanya, tidak mampu menatap Ace yang sudah sangat mencintainya.
Ia takut..., bila ia menatap sepasang iris kelam pria itu, ia akan kehilangan tekadnya dalam menyelesaikan misinya.
"Fawnia?" Ace memanggil Fawn dengan suara baritone-nya yang ramah. "Apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik..." Fawn menimpali dengan bibir yang bergetar. "Maafkan aku, Ace."
"Kau tidak salah sama sekali, Fawn." Senyum Ace mengembang. "Kau hanya melakukan apa yang harus kau lakukan."
"Kau tidak mengerti, kau...., kau..."
Kau seharusnya tidak datang!
Fawn menggigit bibir bawahnya kuat hingga ia merasakan darah memencar di dalam mulutnya. Perasaan bersalah dan kecemasan yang melingkupinya membuat ia semakin kesulitan bicara.
Apa yang harus ia lakukan? Fawn bertanya-tanya sampai akhirnya ia mendengar suara dentingan gelas dari meja. Fawn melebarkan mata. Ia memperhatikan gelas wine yang berada di tangan Ace dengan ketakutan yang kentara.
"Ja-jangan..." lirih Fawn dalam kegugupan.
"Oh, jadi itu di sini?" Ace menatap Fawn melalui gelas kaca tersebut. Wine yang berada di gelas itu seperti membenamkan sebagian wajah Fawn dalam cairannya yang kelam.
"Jujur saja, bisa bertemu denganmu hari ini adalah hal yang sangat menyenangkan bagiku. Meskipun aku tau ini adalah jebakan yang dibuat Evan untuk membunuhku, aku tidak takut sama sekali, Fawnia."
"Kau...," Apa yang Ace pikirkan? Fawn sulit menaruh fokus pada ucapan Ace, terlebih ketika wine beracun itu berada di tangan Ace seperti senjata berbahaya.
"Fawnia, aku pernah mengatakan padamu tentang perasaanku, ingat. Bahwa aku mencintaimu. Meskipun aku mengakui perasaanku, meskipun perasaanku telah berubah padamu, aku masih tidak bisa menghapus kesalahanku di masa lalu.-
Mungkin karena itulah kau tidak bisa membuka hatimu padaku. Karena aku sudah merusak pertemuan pertama kita dengan menjadikan hidupmu seperti di neraka.-
Aku bersalah, dan karena itu...,bila aku meminum ini untuk menyelamatkan ibumu..."
"A-Ace, apa yang kau katakan?" Fawn berdiri dan menggebrak meja. "Kau..., kau tidak serius, kan?"
"Aku mendengar apa yang terjadi pada ibumu. Karena itu, aku tidak mau kau dimanfaatkan oleh Evan lagi. Seperti yang kubilang sebelum-sebelumnya, pertikaian ini adalah antara aku dan dia. Tapi aku tidak bisa menjaga ucapanku dan kau malah terseret ke dalam konflik ini..."
"..."
"Fawnia, kau juga harus membunuhku, bukan?"
__ADS_1
"Aku..." Ace benar. Ia mempunyai misi yang perlu ia patuhi. Misi untuk menyingkirkan Ace agar ia mampu melindungi ibunya. Akan tetapi...
Pemikiran tentang kehilangan Ace dari muka bumi ini menakutkan Fawn. Ia takut kehilangan pria yang sudah mengutamakan hidupnya di atas segalanya. Ia tidak mau kehilangan pria yang sudah mencintainya, memilihnya dan meskipun awal hubungan mereka penuh kesalahan, Fawn tidak mau kehilangan Ace sekarang.
"Jangan lupakan misimu, Fawn."
Ace menatap gelas wine tersebut. Kepada pantulan samar matanya di sana yang berkilau jenaka. "Aku harap, dengan ini aku mampu menebus kesalahanku padamu di masa lalu."
Huh?
Tidak. Tidak. Tidak. Tidak.
Mata Fawn melebar terpana ketika Ace meneguk wine tersebut. Menyantap habis isinya tanpa keraguan atau ketakutan. Tanpa sempat berpikir panjang, Fawn mendaki meja. Berusaha menggapai gelas wine yang diteguk Ace. Namun, tindakannya tersebut sia-sia.
Dalam upayanya menggapai udara, Ace telah melabuhkan gelas kosong itu kembali ke atas meja.
"Rasanya tidak buruk," ujar Ace sambil tersenyum.
Kendati senyum Ace merekah dengan indah, Fawn yang menatapnya perlahan-lahan menumpahkan air mata.
"Jangan merasa bersalah, aku ingin melakukan ini untukmu." Ace menyondongkan tubuhnya maju. Menyeka air mata yang mengalir di pipi Fawnia.
Uhk!
"ACE..."
Fawn berteriak histeris. Ia mendekati Ace dan mendekap pria itu erat di dadanya. Ia mengguncang Ace berulang kali, berupaya membangunkan pria yang kini bersimbah darah dari mulut dan dagunya.
Di saat yang bersamaan pula, pintu ruang makan itu terbuka. Carcel muncul dari sana bersama lima bodyguard lainnya. Mereka merampas Ace dari Fawn dan bergegas membawa Ace menuju ambulan. Fawn di sisi lain, terduduk di lantai dengan isakan keras. Ia tidak ingat berapa lama ia berada di sana, menangisi kesalahannya, mengutuk tindakannya...
Ketika ia merasa tangisnya mereda, ia menemukan Anggara berusaha menariknya bangun. Anggara, pria yang sudah menjadi penyebab utama masalah di hidupnya.
Andai saja ia mendengar Ace sejak awal dia tidak akan...
"Fawn, kerja bagus." Ucapan pujian itu sangat tidak diperlukan. Namun, seperti menumpahkan garam di lukanya, Anggara memujinya. Mengingatkan ia kembali pada kenyataan bahwa ia baru saja membuat Ace menenggak racun dengan suka-rela.
"Aku membencimu, Anggara. Demi Tuhan, aku membencimu." Fawn menarik dirinya menjauh dari Anggara. Dengan langkah yang terhuyung, Fawn menapak keluar dari kamar VIP tersebut.
Fawn hendak menyusul Ace, mencaritahu kabarnya dan menemaninya, tapi perasaan bersalah yang memenuhi dadanya mengingatkannya kembali atas kesalahan yang sudah ia perbuat.
Jika Ace mati...,
Jika Ace sampai mati, Fawn percaya ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan?" Fawn duduk meringkuk di jalan, kepala terbenam dalam lipatan siku.
"Ace, kumohon, bertahanlah..., aku belum mengatakan kepadamu perasaanku. Setidaknya, dengarkan aku terlebih dahulu. Kenapa kau memutuskan semuanya sendiri?"
Apa kau pikir menebus kesalahanmu di masalalu dengan kematian akan membuatku bahagia? Aku tidak menginginkan ini sama sekali. Kumohon, Tuhan..., tolong selamatkan Ace. Jangan bawa dia pergi.
Jangan tinggalkan aku!
Tiiiinnnn!!!
Suara klakson mobil menegur Fawn yang masih duduk meringkuk di bibir jalan. Fawn mengabaikan mobil itu dan mengiranya sebagai orang asing, tapi..., setelah mendengar langkah kaki mendekat, Fawn menyadari kalau orang itu datang untuknya.
Fawn seketika mendongak.
"Fawnia Alder,"
"..."
"Naiklah, aku akan mengantarkanmu kepada ibumu." Dari semua orang, Fawn tidak mengira ia akan menemukan Jack Hunter menyapanya.
"Kau tau ibuku berada di mana?" Fawn berdiri dan mengikuti langkah Jack.
"Ace memintaku menemukannya untukmu...,"
"Kau menemukannya? Kapan?"
"Beberapa jam lalu. Kami telah menginterogasi bodyguard Caspian dan menemukan keberadaan ibumu darinya. Kau mengenal pria itu, Aidan..."
"Ah..." mereka menangkap Aidan?
"Kau mungkin tidak tau ini, tapi kami memulai penyerbuan di Caspian malam ini. Karena itu, pertama-tama aku perlu mengamankanmu dan ibumu..."
"E-eh? Bagaimana dengan Ace?"
Jack terdiam sesaat, nampak bimbang untuk memberikan penjelasan.
"Bagaimana dengan Ace?" Tanya Fawn sekali lagi, lebih mendesak.
"Mari berharap dia akan baik-baik saja."
"..."
"Untuk sekarang, kau tidak perlu mencemaskan apa pun selain ibumu."
__ADS_1
...----------------...