
...FAWN pov...
...----------------...
Aku membuka mata dengan pening luar biasa. Setruman kuat bersarang di pinggulku ketika aku bergerak bangun. Sialan, apa yang terjadi padaku tempo hari telah membuatku kesulitan bangun dan berdiri.
Mataku memantau jam dinding yang masih menunjukkan pukul 6 pagi, mungkin tidur lebih lama lagi tidak masalah. Toh, nona Indira mempunyai banyak bodyguard di rumah ini. Dia juga tidak akan kemana-mana.
Aku merebahkan punggungku kembali dan menatap langit-langit kamar. Karena segala sakit yang menjerit di tubuhku, aku kembali teringat kepada Ace dan aktivitas gila yang kami lakukan semalaman. Di dalam kamar bernuansa biru itu, aku pertama kalinya menjadi sesosok manusia yang tidak kukenali. Sialan, apa aku memang mempunyai sisi sebuas itu atau Ace menciptakan sosok hitam itu?
Aku malu sendiri pada ulahku, aku bisa mengubur diriku sendiri bila aku mengenang kembali kata-kata yang kuracaukan hari itu.
Ah, memalukan. Aku mau mati.
Aku menatap kemeja flanelku yang tersampir di bangku kayu. Kemeja itu adalah kemeja yang kukenakan saat bertemu Ace, kemeja yang sudah menyaksikan sisi binatangku. Kemeja yang merasakan bagaimana Ace menyentuhku. Merasakan hangat pria itu.
"Aku mencintaimu, Fawnia. Aku tidak akan menyerah untuk membawamu berpindah ke sisiku." Ace mengatakan itu ketika kami berpisah. Dia ingin aku berpaling dari bos Anggara dan hanya menjadi miliknya. Itu rasanya sangat mendebarkan, tapi..., sial. Kenapa aku merasa sangat malu!
Tidak, ini tidak boleh. Aku masih berhutang budi pada bos Anggara. Tapi aku akan memikirkan tawarannya. Setidaknya, untuk sementara aku akan bertingkah seperti aku masih enggan menerimanya. Hehehehe.
Aku senang melihat Ace berusaha meluluhkanku. Walau dia tidak seromantis romeo yang akan memanjat jendelaku dengan tangga dan melempar batu ke kamarku, dia menunjukkan keseriusannya dengan caranya sendiri. Cara yang tidak bisa kuanggap romantis juga. Mesum, sebenarnya, lebih tepat. Tapi aku lebih suka dia yang seperti itu daripada dia yang romantis. Karena Ace tidak romantis.
Sementara aku berbaring dan termenung dalam pikiranku, sebuah keramaian terdengar dari luar. Setidaknya, aku sudah mendengar beberapa langkah mondar-mandir di depan kamarku. Langkah tergesa-gesa.
Tidak bisa tenang dengan keriuhan di luar, aku mau tidak mau kembali bangkit. Aku berdiri membawa tubuhku yang masih letih, menyeret kakiku ke lemari kayu dan memakai sebuah jaket training hitam dan celana training yang berwarna senada dengan jaketku. Aku belum ada niat untuk pergi bekerja pagi ini, aku hanya ingin mengecek situasi di luar sebelum kembali ke kamar dan bersiap-siap.
...----------------...
Jam dinding raksasa yang terpajang di ruang tengah keluarga Caspian saat itu menunjukkan pukul 7 pagi. Aku yang pagi itu berencana mengecek situasi di luar berakhir melangkah terlampau jauh sampai ke tempat ini.
Mataku memindai aktivitas para bodyguard yang sudah siaga di sana, mereka tidak begitu mempedulikanku dan sibuk mendongak kepada lantai dua. Kepada sebuah ruangan yang kuketahui adalah ruang kerja Evan Caspian.
Suara teriakan Evan Caspian terdengar keluar.
"AKU TIDAK AKAN MELAKUKAN ITU KALAU KAU TIDAK BERTINGKAH, INDIRA!!!"
"KAU PIKIR SALAH SIAPA AKU BERTINGKAH?!"
"KAU MENYALAHKANKU? AKU SUDAH MEMPERINGATIMU BERKALI-KALI AGAR MENJAUHI BAJINGAN ITU!!!"
"OH, SEKARANG KAU MAU MENGONTROL SIAPA TEMAN-TEMANKU JUGA? AKU BUKAN BONEKAMU, EVAN!!!"
"KAU..., MEMANG! BONEKAKU! PUNYAKU! INDIRA!"
Aku terhenyak pada suara teriakan mereka yang bersahutan. Apa lagi yang terjadi sekarang?
"Fawn?" Joseph datang--si bajingan keparat itu datang dan mengejutkanku dengan tepukan tangannya yang kuat. Sial, apa dia tidak tau betapa rapuhnya aku sekarang. Ototku menjerit nyeri atas jejak pukulannya.
"Kau belum siap?" Buta terhadap dampak tindakannya, Joseph kembali bicara.
"Aku baru bangun," kataku. Napasku berembus panjang, mata memandang kembali pada situasi tegang yang mengatmosfir di ruangan sunyi ini.
"Joe, apa yang terjadi di sini?" Aku berbisik rendah kepada Joseph. Rekan kerjaku itu tersenyum kaku.
"Sesuatu," jawabnya.
__ADS_1
"Jangan ambigu," tukasku.
"Mari kembali ke kamarmu, kita akan bicara di sana." Joseph kali ini berbicara padaku dengan gestur yang agak kaku. Dia melangkah duluan menuju kamarku dan aku mengikutinya dengan kaki yang terseret lelah. Sialan, Ace..., dia benar-benar tidak memberi ampun pada tubuhku!
...----------------...
"Jadi...," Di dalam kamarku, dengan suara agak rendah, Joseph bicara sambil menggulung lengan kemejanya. "Bos Indira bertengkar dengan tuan Evan."
"Uh, ya?" Apa terjadi sesuatu selama aku libur?
"Tidak."
"Apa?"
"Kau pasti bertanya-tanya apakah masalah ini terjadi kemarin, bukan? Maka jawabannya adalah tidak."
Aku terkesima. "Apa kau membaca pikiranku?"
Joseph mengendikkan bahu. Dia yang duduk di tempat tidurku menatapku yang sekarang duduk di bangku kayu. Tanganku memeluk kemeja flanel kotorku. Sesekali, aku mengendus aroma yang melekat di sana. Mengendus aroma parfume yang menciptakan kupu-kupu berterbangan di perutku.
"Kau mungkin tidak tau karena kau punya tugas sampingan, tapi..., setelah pernikahan dengan tuan Evan, bos Indira tidak pernah menjalani kehidupan yang harmonis di sini. Mereka tidak bertengkar, tentunya. Tidak sampai hari ini, tapi..., emosi yang dipendam bos Indira sudah ada sejak lama."
"Apa masalahnya?" Aku tidak mengerti. Kupikir, meskipun pernikahan mereka adalah perjodohan, nona Indira dan tuan Evan adalah sahabat. Teman dekat yang berkompromi pada pernikahan dan akan berusaha untuk saling mencintai satu sama lain, begitu?
"Ada banyak masalah, Fawn. Tuan Evan yang tidak membiarkan bos Indi bebas adalah satu hal, tapi pria itu sumpah..., dia tidak menjalankan tugasnya sebagai suami sama sekali."
"Eh, eh, eh..., apa ini?" Mataku memicing sangsi. Tidak biasanya Joseph terbawa suasana pada drama atasannya.
"Aku serius, makanya aku mengajakmu bicara di sini. Kalau orang luar mendengar aku berbicara buruk tentang si Evan keparat itu, aku bisa mati."
"Tenang saja, mereka semua pasti lagi menyaksikan keributan di atas."
"Katakan, apa yang terjadi selama aku pergi?"
"Yang tidak terjadi lebih banyak, sebenarnya." Joseph menyilangkan lengan di dada. "Tuan Evan tidak pernah tidur di kamar yang sama dengan nona Indira, aku tidak pernah melihat mereka seperti pengantin baru yang penuh cinta dan oke--, aku tau kau akan mengatakan situasi itu terjadi karena mereka dijodohkan, tapi serius Fawn, usahanya untuk menyukai nona Indira itu tidak ada. Zero!"
"..."
"Mengurung bos Indi juga tidak membantu sama sekali. Apa kau tau dia pergi dengan wanita lain ke pesta? Dia tidak memikirkan perasaan bos Indi, serius. Demi Tuhan, aku akan lebih senang kalau bos Indi menikah dengan tuan Ace saja. Setidaknya, kurasa mereka akan--"
UHUKKKK!!!
Aku terbatuk besar sampai Joseph menghentikan ocehannya. Dia menatapku dengan kebingungan yang kentara.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik...," kataku. Meskipun aku mengerti penderitaan nona Indira, bukan berarti aku akan mengikhlaskannya menikah dengan Ace. Jangan sembarang bicara, Joseph!
"Uhm," aku membersihkan kerongkonganku dari apa pun itu. Sementara masih mendekap kemeja flanelku, aku menyandarkan dadaku di punggung bangku kayu yang kududuki dengan terbalik.
"Jadi, mengesampingkan masalah-masalah yang sudah terjadi sebelumnya, kali ini apa lagi masalah mereka?"
"Arcelio Hunter," Nama Ace lepas dari bibir Joseph. Nama yang membuat jantungku berpacu dan sial, jejak sentuhan pria itu di tubuhku kembali memanas, seperti itu baru.
"Ada apa dengan Ace?" gumamku.
__ADS_1
"Apa kau tidak membaca majalah? Ace dirumorkan orang ketiga di dalam rumah tangga bos Indi. Sebuah reporter entah dari mana menyebarkan sebuah foto pertemuan rahasia bos Indira dan tuan Ace di sosial media. Mereka mengatakan sesuatu tentang perselingkuhan dan yah, bos Indira sangat marah."
"Aku juga pasti akan marah," kataku. Siapa yang mau dirumorkan macam-macam seperti itu?
"Masalahnya, Fawn, bos Indira marah karena orang yang menyebarkan rumor itu adalah orang tuan Evan."
"HAH?"
"Aku tidak tau apa tujuannya melakukan itu, tapi kurasa..., untuk mempermalukan tuan Ace, mungkin?"
"Dia sendiri yang akan malu, Joe. Nona Indi adalah istrinya." Hanya orang tolol yang akan mempermalukan istrinya sendiri demi membuat musuhnya dibenci. Tuan Evan adalah seseorang yang mempunyai banyak keburukan, tapi tolol bukan salah satunya.
"Atau mungkin dia sedang berusaha menciptakan pengalihan isu." Joseph kembali bersuara. "Kau tau keluarga Caspian sedang disorot habis-habisan oleh media belakangan ini, bukan? Masalah di Clubs dan banyaknya pengurangan karyawan di pihak mereka membuat banyak buruh berdemo tentang kasus itu."
"Aku pikir bukan itu." Karena alasan itu sama tololnya dengan alasan yang pertama. Aku tidak tau apa yang sedang terjadi di antara nona Indira dan tuan Evan, tapi aku percaya, ada sesuatu yang lebih di sana. Sesuatu personal.
"Bicara soal keadaan di Clubs, apa kau sudah memikirkan apa yang akan kau lakukan, Fawn?"
"Apa maksudmu?" Aku kembali menaruh fokusku kepada Joseph.
"Clubs sangat berantakan sekarang, aku bahkan mendengar saham mereka turun drastis. Situasi ini karena tuan Ace, bukan? Sebuah perang antar keluarga mungkin akan terjadi ke depannya. Apa kau yakin mau mengabdikan nyawamu sungguh-sungguh pada pekerjaan ini?"
"Apa kau ragu?" Joseph masih muda. Dia pasti punya keresahan akan kehilangan nyawanya demi melindungi atasannya. Aku mengerti itu, tidak semua orang mampu membuktikan loyalitasnya sampai ke alam baka.
"Aku masih punya cita-cita, tau." Joseph menghela napas. "Aku hanya tidak yakin aku mau mati. Haruskah kita berdua melarikan diri?"
Aku tertawa seketika. Itu tawaran yang konyol. "Di antara semua orang, kau mau lari bersamaku? Dasar gila..."
"Yaah, apa masalahnya? Aku suka bersamamu, jadi..." Selagi Joseph bicara, sebuah getaran ponsel menyelanya. Dia merogoh saku dan menimpali dengan suara serius.
"Baiklah, bos Indi. Aku akan segera ke sana."
"Ada apa?" tanyaku setelah panggilan telepon mereka terputus.
"Bos Indira mengajakku keluar."
"Tapi dia belum boleh keluar." Aku ingat Evan masih melarangnya berkeliaran.
"Karena itu, kau harus bersiap-siap juga. Bos Indira sepertinya sangat marah."
"Ugh, baiklah."
Apa yang sebenarnya terjadi di antara pasutri itu?
"Satu lagi, Fawn." Joseph yang sudah hampir menapak keluar, mundur dan menoleh ke arahku.
"Ada apa?" tanyaku kemudian.
"Pakai turtle neck untuk hari ini." ujar Joseph. "Kau pasti tidak mau membuat orang-orang penasaran pada aktivitasmu saat libur, bukan?"
Oh?
Oh!
Benar juga, leherku. Sialan, Ace, sialan!
__ADS_1
...----------------...