DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
110. PENGALIH PERHATIAN


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Rencananya adalah, ketika Evan meninggalkan rumah bersama bodyguard andalannya--Theo, Joseph akan menyusup melalui balkon menuju kamar Evan. Mengenai Fawn--Fawn akan mengalihkan perhatian Aidan yang bertugas menjaga kamar Evan di luar. Fawn dan Joseph sudah merundingkan rencana ini tadi malam, lebih tepatnya, rencana ini dirancang oleh Fawn dan Joseph yang akan mengeksekusi hasil finalnya.


Mengikuti rencana itu pula, pagi ini, setelah melihat mobil Evan meninggalkan kediaman utama keluarga Caspian, Fawn dengan gerak cepat menghubungi Joseph untuk bertemu. Mereka perlu mendiskusikan ulang apa saja yang perlu dilakukan, memastikan kalau Joseph siap dan tidak melupakan satu poin pun.


"Hanya ada satu pelayan berjaga di kamar tuan Evan. Setelah dia keluar mempersiapkan sarapan untuk nona Indira, kau dan aku bisa mulai." Fawn berujar dengan santai, senyum bermain di bibirnya, seolah-olah dia sedang tidak merencanakan sesuatu yang terlarang di sana.


Joseph--di seberang meja--menyantap roti panggangnya dengan sangat serius. Tidak seperti Fawn yang terlihat seperti gadis remaja yang bercerita tentang cinta pertamanya, Joseph seperti sedang menghadiri sidang hukuman mati.


"Aku akan siaga di posisiku," balas Joseph, masih sangat tegang.


"Apa kau tidak bisa tersenyum sedikit?"


"Aku tidak bisa berakting sepertimu dan nona Indira" sahut Joseph. Dia memang tidak bisa.


Karena ketidakmampuan Joseph dalam berakting, saat Indira memintanya menyusup ke ruang kerja Evan Caspian beberapa bulan lalu, Joseph rela mematahkan kakinya sendiri agar bisa menunjukkan kepada bodyguard Evan kalau dia sungguh-sungguh kesakitan karena jatuh dari tangga, bukan karena melakukan aktivitas mencurigakan. Padahal Indira meminta dia agar cedera ringan saja.


"Kau benar-benar payah," keluh Fawn. "Apa kau yakin kau siap melakukan ini?"


"Aku sangat siap."


"Kupikir kau tidak mau mati."


"Bayaran yang ditawarkan tuan Angga cukup mengesankan, aku tidak bisa menolak." Joseph untuk pertama kalinya terkekeh.


"Uang membuatmu lebih rileks, rupanya. Aku tersentuh." Fawn memutar mata.


Tak berselang lama saat itu juga, seorang wanita yang Fawn ingat mempunyai akses bebas keluar masuk kamar Evan, melintasi cafetaria tempat ia dan Joseph sedang berunding. Wanita itu membawa troli berisikan pakaian kotor.


"Joseph," gumam Fawn memberi peringatan kepada rekannya itu dengan kerlingan mata. "Sekarang."


Tanpa memberikan respon panjang kepada Fawn, Joseph pun berdiri dan meninggalkannya. Dia tidak melangkah tergesa-gesa, tapi tidak juga dia menunjukkan sikap santai. Joseph menjaga ketenangannya dengan baik sampai dia menapak keluar dari cafetaria. Melangkah di titik buta cctv yang sudah ia pelajari, Joseph pun kemudian tiba di tempat yang sudah ia siapkan untuk mendaki balkon kamar Evan Caspian.


Fawn yang masih tinggal di cafetaria menyeruput susu cokelat di gelasnya sambil menyunggingkan senyum ramah kepada pegawai wanita yang bertugas di sana. Fawn sedang tergesa-gesa, sebenarnya. Tapi ia tidak akan menunjukkan kepanikan. Fawn bangkit dari tempat duduknya sambil mengunyah sisa roti di meja.


Setelah meninggalkan cafetaria, Fawn pun dengan segera menghubungi Joseph melalui ponselnya.


[.]


[.]


Sebuah isyarat untuk memulai operasi sudah dideklarasikan.


Fawn yang bertugas sebagai pengalih perhatian langsung mendaki tangga menuju lantai dua. Menuju kamar Evan Caspian yang berada di sudut ruangan.


Fawn melenggang dengan tenang, wajah tidak menunjukkan keseriusan. Malah, ketika dia menemukan Aidan di sudut koridor, berdiri dengan raut serius. Fawn menyunggingkan cengiran pada pria itu.


"Hei, Aidan..." Fawn menyapa ramah.

__ADS_1


"Fawn, apa yang kau lakukan di sini?" Aidan jelas tidak ramah sama sekali.


"Apa salahnya aku kemari?" Fawn mengubah intonasinya menjadi keluhan. "Tuanku berada di kamar ini, tau."


"Ya, dan bos Evan sudah memerintahkanmu untuk tidak mendekati ruangan ini."


"Tapi aku adalah bodyguard-nya, dan tuan Evan juga sedang tidak berada di sini. Begini..., bukan bermaksud melanggar larangan tuan Evan, tapi..., apa kau tidak penasaran pada kondisi nona Indira?" Fawn mencoba bernegosiasi.


"Begini, kalau kau membiarkanku mengintip sedikiiiit saja..., aku tidak akan membocorkan apa pun. Aku hanya penasaran, aku cemas pada tuanku, Aidan. Kau bilang aku tidak punya pekerjaan tempo hari, kan? Well, ini adalah alasan kenapa aku tidak punya kerjaan. Bosmu menyandera tuanku."


"Apa kau sadar siapa lawan bicaramu sekarang?" Aidan melebarkan mata. Dia adalah Aidan, salah satu orang kepercayaan Evan Caspian. Dia sudah mengabdi di rumah ini sejak lama. Mustahil sebuah wajah memelas dan keramahan dapat melunturkan kesetiaannya.


"Tsk, apa kau bukan manusia?"


"Aku adalah pengawal di sini."


"Hei..., meskipun kau adalah pengawal, kau tidak bisa menutup mata sepenuhnya pada ulah bosmu. Dia melakukan kesalahan dengan mengurung nona Indira. Bagaimana kalau nona Indira kenapa-napa di dalam sana? Nona Indira takut kegelapan..., tau!"


"Terakhir kali aku mendengar omong kosong itu, nona Indira menipu seisi mansion dan menyusupkan Joseph ke ruang kerja tuan Evan."


"E-eh?" Fawn meneguk ludah. Dia seharusnya tidak mengungkit topik takut kegelapan itu lagi.


"Sekarang, Fawn. Aku sarankan kau kembali. Aku akan menutup mata terhadap intervensimu. Tapi kalau kau terus mengganggu, aku akan melaporkan tindakanmu kepada bos Evan."


Fawn tidak mau menyerah. "Aidan..., sedikit saja. Berikan aku 10 detik. Aku hanya mau memastikan nona Indira baik-baik saja."


"Tidak ada alasan untuk nona Indira berada dalam kondisi buruk. Bos Evan menjaganya sendiri. Juga, tidakkah kau merasa pertanyaanmu sangat lancang? Bos Evan adalah suami nona Indira. Tidak ada alasan baginya bertindak jahat kepada istrinya sendiri."


"Kau mengatakan itu tapi..."


Bunyi besi yang jatuh terdengar dari dalam kamar. Menggema sangat nyaring sampai menarik mata Aidan.


Sialan! Fawn mengepalkan tangan.


"Se-sesuatu pasti sedang terjadi pada nona Indira." Fawn mengganti strateginya, ia perlu menciptakan keributan agar Aidan lebih menaruh fokus untuk menghentikannya alih-alih mencemaskan bunyi yang timbul dari dalam.


"Tidak ada yang terjadi," tukas Aidan penuh penekanan. "Kau sebaiknya pergi sekarang!"


"Bagaimana bisa aku pergi? Apa kau tuli? Nona Indira pasti mendengarku, dia pasti meminta tolong padaku!"


"Jangan bicara omong kosong!"


"Biarkan aku masuk!" Fawn mencoba menggapai gagang pintu.


"Kau tidak boleh masuk!" cegat Aidan, kali ini memberi kekuatan di dalam tangkisannya. Ia mendorong Fawn menjauh dengan susah payah.


Yah, bagaimanapun lawannya adalah Fawn. Dia sudah puas dibanting oleh perempuan itu saat sparing.


"Fawn! Berhenti! Apa kau mau dipecat!" suara Aidan meninggi.


"Apa masalahnya? Tuanku adalah nona Indira, aku tidak bisa membiarkannya sendirian di sana!"

__ADS_1


"Fawn!!!"


Saat itu juga, ketika selongsong peluru bersarang di pelipisnya, Fawn yang mencoba mendobrak pintu seketika membeku.


"Jangan buat aku bertindak lebih jauh dari ini." tegas Aidan.


"Baiklah, baiklah!" Fawn mengangkat tangannya seketika. "Aku menyerah."


"Dengarkan ucapanku dan jangan pernah membantahku lagi!" Aidan tidak berhenti.


"Oke..., bisa kau turunkan senjatamu sekarang?" Fawn memejamkan mata. Jantungnya berdegup kencang luar biasa.


"Kau bukan bodyguard di rumah ini, Fawn!!!" pistol di tangan Aidan tidak turun begitu saja. Aidan menggunakan senjata itu lalu menonjol kening Fawn , satu kali, dua kali. Cukup keras sampai kepala Fawn terdorong dan ya, itu agak sakit.


"Ketika aku bicara baik-baik, kau seharusnya mendengarkanku! Jangan bertingkah tolol lagi, apa kau mengerti? Aku adalah atasanmu di sini!"


"Apa kau akan membunuhku atau mau menceramahiku?" Fawn menggigil, bukan karena ia menahan ketakutan atas pistol yang tersodor di pelipisnya, melainkan karena ia menahan kekesalan yang luar biasa.


Jika bukan karena Fawn masih memikirkan pekerjaannya sebagai bodyguard Indira, ia juga perlu memikirkan Joseph di dalam sana dan Fawn mungkin..., tidak, Fawn pasti akan membunuh pria bersurai panjang itu.


Melawan Aidan, ada senjata atau tidak, bukanlah hal sulit di mata Fawn.


"Apa aku menyinggungmu?" Aidan menurunkan pistolnya ke dagu Fawn. "Apa kau masih merasa superior di depanku?"


"Omong kosong..." dengus Fawn. Jangankan merasa superior, merasa peduli pada Aidan saja Fawn tidak pernah.


"Kau sebaiknya bersyukur kau adalah pengawal favorite nona Indira, jika bukan karena itu..., kau pasti sudah mati."


"Heeh, begitukah?" Fawn dipaksa mendongak dengan senjata Aidan yang menekan dagunya. Ia melihat wajah pria itu cukup dekat dengan wajahnya. memantaunya teliti, mata penuh intimidasi dan provokasi.


"Aku dengar kau adalah kepala bodyguard Indira sebelumnya, tidak mengherankan. Sama seperti tuanmu, kau hanya berkualitas di tampangmu saja."


"Apa itu pujian?" Fawn menyeringai seperti setan.


Aidan melebarkan mata, kebencian membuncah di dadanya ketika bukannya mendapatkan ketakutan di sana, ia menemukan Fawn menyeringai atas ancamannya. Gadis itu sama sekali tidak mempedulikan nyawanya sendiri.


"Kau benar-benar tidak takut apa pun, huh?"


Fawn menatap Aidan dengan kening terangkat. "Aku takut banyak hal, sebenarnya. Tapi di sini, aku tidak merasa ada hal yang perlu kutakuti."


"Kalau begitu aku akan mengajarkanmu rasa takut..." tepat ketika Aidan hendak mengayunkan senjatanya agar menghantam kepala Fawn, sebuah suara menghentikannya.


"Tuan Aidan, apa yang terjadi di sini?" seorang pelayan muncul di sana. Membawa troli makanan.


Ayunan tangan Aidan berhenti sepersekian centi dari wajah Fawn. Dia mendelik ke arah si pelayan.


Aidan mendengus dan menurunkan senjatanya, "Bukan apa-apa." tukas Aidan lalu mendorong pundak Fawn dengan kasar.


Fawn menghela napas panjang. Ia menatap kepada pintu kamar Indira dengan harapan agar Joseph sudah keluar dari sana. Agar apa pun yang terjadi, Joseph sudah menemukan jawaban yang Anggara cari, yaitu kabar dan kondisi Indira.


"Aku akan membiarkanmu lepas kali ini." tegas Aidan, masih tidak tau diri.

__ADS_1


Siapa melepaskan siapa? Fawn mengeluh di kepalanya.


...----------------...


__ADS_2