DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
109. KEUNTUNGAN


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


"Aaaaaaa!!!"


Sebuah suara teriakan muncul dari kamar Fawn. Beberapa bodyguard yang berlalu-lalang di sana berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan aktivitas mereka.


Mungkin karena ini sudah ke empat kalinya dalam minggu ini mereka mendengar Fawn berteriak dari kamarnya, para bodyguard yang berbagi lorong kamar yang sama dengan Fawn sudah berhenti bertanya-tanya atau menaruh cemas kepadanya.


Tentu saja, situasinya tidak seperti sekarang, tidak tenang dan santai ketika keanehan itu di mulai. Awal ketika mereka mendengar Fawn menjerit di kamarnya, para bodyguard yang kebetulan mendengar teriakannya spontan berlari pontang-panting menuju kamar Fawn. Penasaran dan cemas berpadu padan.


"Maaf, aku hanya mengalami mimpi buruk." adalah jawaban Fawn waktu itu, lalu esok harinya lagi, dan esok harinya lagi dan mereka pun berhenti peduli.


Tentu saja, jawaban itu adalah kebohongan.


Fawn berharap teriakannya memang datang dari sebuah mimpi buruk, tapi..., ada yang lebih suram daripada sebuah mimpi buruk. Yaitu realita.


Fawn--demi Tuhan--ingin membenamkan kepalanya di tanah.


"Kenapa aku melakukan itu?" Fawn membenamkan kepalanya di bantal. Frustasinya belum hilang. Sudah empat hari berlalu semenjak ia bertemu dengan Ace, dan sejak saat itu..., dia belum pulih sama sekali. Pikirannya belum pulih dari kenyataan kalau dia..., seorang Fawnia Alder memprovokasi Ace Hunter untuk melakukan hal kotor bersamanya.


"Aku mau mati, aku mau mati, aku mau mati!" Fawn berguling-guling di tempat tidurnya dengan wajah memanas merah lagi.


Setiap kali dia teringat pada apa yang terjadi malam itu, Fawn menjadi sangat sangat frustasi. Ia terbenam dalam perasaan malu yang luar biasa, dan jijik. Oh, betapa Fawn jijik dengan dirinya sendiri karena sudah bertindak agresif.


"Aku membenci diriku sendiri, sumpah. Fawnia kau bodoh!!!" Fawn mau menangis karena malu yang luar biasa. Ia tidak menyangka dirinya mampu melangkah sejauh itu, mampu bertindak seliar itu?


"Ini pasti karena wine-nya, kan?" Fawn berusaha mencari penyangkalan atas kegilaan yang sudah dia lakukan. Mencari kambing hitam atas tindakan yang dia ingat dengan sangat jelas, dilakukannya dalam keadaan sadar dan sangat-sangat waras.


"Tuhan, kenapa aku melakukan itu?" Fawn berbaring telentang. Mata menatap kepada langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Segala tindakannya, suaranya, sentuhan yang ia inisiatifkan, setiap pagutan dan...oh, semua itu muncul dengan segar di ingatannya setiap pagi. Seperti air dingin yang mengguyur kepalanya, mengingatkan dia kalau sialan, dia sudah tidak waras.


Jika bisa mengulang waktu mungkin... Fawn memikirkan probabilitas yang sama setiap pagi. Kemungkinan untuk dapat mengulang waktu ke malam itu..., akankah ia melakukannya bila ia kembali ke momen yang sama pada saat itu juga?


Fawn menyapu bibir bawahnya, menyapu rasa panas yang tertinggal di sana setiap kali ia mengingat tindakannya dan Ace malam itu. Ketika ia dengan keberanian yang entah datang dari mana--bersimpuh di antara kaki pria itu..., melakukan itu...,


"Keparat!" Fawn bangun dan mengacak rambutnya.


Dia sudah benar-benar tidak waras.


Fawn sangat yakin karena..., bagaimana mungkin dia bisa menjadi sangat membenci dirinya sendiri atas ulah yang dia ciptakan, dan disaat bersamaan..., merasa tergerus setiap kali ia memikirkan momen-momen itu kembali?


"Fawnia, singkirkan semua hal kotor itu dari benakmu." Fawn bicara pada dirinya sendiri sementara memejamkan mata erat. Ia berusaha menepikan segala ingatannya tentang kejadian malam itu di sudut benaknya, jauh-jauh agar dia bisa menjadi normal sehari lagi.

__ADS_1


"Aku tidak boleh seperti ini," gumam Fawn kembali dan berdiri. Dia menyeret kakinya ke kamar mandi. Dia tidak boleh terus-terusan memikirkan Ace karena dia punya pekerjaan khusus hari ini.


Pekerjaan khusus untuk menyusup ke kamar Evan Caspian.


...----------------...


Di hari yang sama dan tempat yang berbeda...


"Pertemuannya diadakan hari ini, bukan?" Margareth Hunter bersandar di bingkai pintu kamar Ace--adik laki-lakinya yang sedang mengancing kemeja satin merahnya sambil menatap pantulan dirinya di cermin.


Kendati Ace memang terkenal tampan dan memukau mata orang-orang akan penampilannya yang elegan, ada sesuatu tentang Ace yang mengenakan warna merah membuatnya menjadi lebih menggairahkan. Seperti sebuah apel yang menarik minat Hawa, seperti dosa yang memancingmu untuk terjun ke dalamnya. Dia selalu indah dan berbahaya, dan warna merah itu mendukungnya.


Margot menatap Ace dan diam-diam bangga kepada penampilan adiknya.


"Begitulah," sahut Ace.


"Apa kau siap untuk melakukan ini?"


"Apa ada alasan untuk aku menjadi tidak siap?" Ace berbalik dan menatap Margot.


"Tidak ada. Aku mempercayai tugas ini kepadamu, Ace. Bagaimanapun, aku sudah menunggu terlalu lama." Margot menatap Ace tepat di mata, memperingatkannya tanpa kata. "Ayah dan Ibu akan bangga atas tindakanmu hari ini."


"Ini terlalu awal untuk merasa bangga. Kita bahkan belum cukup dekat untuk menjatuhkan Evan Caspian."


"Terima kasih sudah membantuku, Ace."


"Aku tidak melakukan ini untuk membantumu," gumam Ace. Dia mengeluarkan sebuah pistol dan pisau lipat dari brankas besi, sebuah alat yang selalu ia bawa untuk keamanan. "Aku melakukan ini karena kau mengancamku," lanjut Ace kembali.


"Well, itu ada benarnya." Margot tersenyum miris. "Katakan, Ace..., apa kau tidak akan melakukan apa-apa bila aku tidak memaksamu? Apa kau tidak mempunyai sentiment kepada orangtuamu sendiri?"


"Ayah dan Ibu tau dunia seperti apa yang mereka pilih untuk jalani." sahut Ace.


"Jadi kau mewajarkan kematian mereka?"


"Tidak juga. Tapi aku tidak merasa begitu ambisius terhadap misteri kematian mereka. Tidak sepertimu, aku tidak mempunyai ikatan yang kuat dengan Ayah dan Ibu. Aku merelakan mereka." respon Ace.


Selesai mempersiapkan dirinya, Ace pun bersandar di bibir meja mahogani yang merupakan meja kerjanya. Ia menatap Margot dengan lengan tersilang di dada.


"Apa menurutmu aku melakukan kesalahan?" Margot menajamkan matanya, ada ketidaksenangan dalam suaranya usai mendengar ucapan Ace barusan.


"Kau tidak melakukan kesalahan karena menginginkan balas dendam. Hal itu adalah kewajaran, mengingat posisimu kembali, kau adalah anak yang paling dicintai di keluarga ini, kau mencintai mereka sama besarnya. Jika aku merasakan afeksi yang sama besarnya denganmu aku akan menginginkan hal yang sama juga."


"..."

__ADS_1


"Kesalahanmu adalah, kau memanfaatkanku untuk melakukan balas dendammu." Ace melanjutkan sedetik setelah ia berhasil membuat ekspresi keras Margot melunak. Sekarang, giliran Ace yang memberikan gadis itu tatapan tajam.


"Kau bisa membiarkanku mati kalau kau tidak mau melakukannya. Jangan menyalahkanku." Margot berkilah.


"Hanya karena kau masih bernapas, bukan berarti kau hidup, Mar." Ace mendekat kepada saudaranya itu dan menyamaratakan tinggi wajah mereka.


"Kau sudah lama mati ketika ayah dan ibu mati. Hari ketika balas dendammu usai, kau tidak akan punya apa-apa lagi untuk bertahan hidup di dunia ini. Ketika hari itu datang, kau akan mati. Sendirian, aku tidak akan mencegahmu lagi."


"Kenapa?" sahut Margot. "Kenapa kau membiarkanku hidup kalau kau berpikir aku akan mati nanti?"


"Mungkin karena..., aku berubah pikiran." Tidak, lebih tepatnya seseorang sudah berhasil mengubah pikirannya.


"Huh?"


Ace mengecek jam di tangannya sendiri. "Aku akan memanfaatkanmu untuk kepentinganku. Juga, Diamond..., aku tidak bisa menelantarkan perusahaan itu begitu saja. Tidak kepadamu, tidak kepada paman Jack."


"Kupikir kau tidak peduli pada perusahaan kita? Bukankah itu alasan kenapa kau melarikan diri dari rumah dulu?"


"Aku tidak menyukai keputusan ayah dan ibu, itu saja. Mereka menganggapku terlalu sempurna untuk memimpin tempat itu, mereka takut padaku."


"Ah..., jadi..., kau akan memimpin Diamond dengan sungguh-sungguh sekarang?"


"Aku tidak pernah bermain-main." ujar Ace.


"Jadi balas dendam ini..., ini menguntungkanmu juga, kan?" Margot berujar ragu-ragu.


"Hanya sekarang." sahut Ace. "Sekarang, aku melihat ada keuntungan dari balas dendammu yang picik itu."


"Aku penasaran apa itu."


"Kau akan tau ketika aku mendapatkannya."


Jawaban Ace tidak begitu memuaskan. Margot masih penasaran. "Jadi, peperangan ini..., ini bukan hanya tentang balas dendam lagi, kan?"


"Aku tidak sepicik dirimu, Mar." Ini bukan tentang balas dendam lagi. Ace mempunyai tujuannya sendiri sekarang. Sesuatu yang lebih mahal dari balas dendam. Sebuah kemenangan. Sebuah penakhlukan.


Evan Caspian bukan lagi targetnya.


Target Ace sekarang hanya satu.


Fawnia.


...Untuk memasukkan gadis itu kembali ke dalam sangkarnya, Ace akan melakukan apa saja....

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2