DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
142. KRITIS


__ADS_3

Berkat dikurung seminggu di kediaman Caspian dengan perasaan cemas dan ketakutan, aku belakangan selalu terbangun dalam keadaan seperti habis diguyur air es. Kesadaranku datang seperti setruman, dan sebelum aku menyadari situasiku, aku sudah berdiri dengan napas memburu laju.


Mataku melebar waspada. Menatap kiri dan kanan tajam seperti binatang buas yang mengawasi sekitarnya--terancam.


Hanya ketika aku menyadari ibuku berbaring di tempat tidur dengan suara lembut mesin yang menemani kami berdua, barulah aku kembali duduk. Napasku berembus panjang penuh kelegaan.


Ini sudah kelima harinya aku terbangun dengan keterkejutan. Aku pikir hari ini akan berbeda, tapi tidak. Aku masih bangun dengan keringat dingin membasahi wajah dan telapak tanganku. Mungkin aku sudah tidak setangguh dulu.


"Selamat pagi, Ibu." Aku menyapa ibuku yang masih terlelap di tempat tidur.


Masih sama seperti kemarin, Ibu masih terbenam dalam tidur panjangnya. Ia tidak menunjukkan perkembangan apa pun dan tubuhnya juga semakin kurus. Melihat situasi ibuku sekarang, aku penasaran apa yang akan ia pikirkan bila ia tau kalau dirinya sempat dijadikan tawanan? Apa Ibu akan membenciku karena sudah gagal melindunginya?


Apa yang akan Ibu pikirkan bila dia tau mengenai pria yang sudah dia anggap seperti puteranya sendiri, Anggara sudah menempatkannya dalam bahaya?


Ugh!


Memikirkan soal Anggara, aku percaya para bajingan itu sedang berpesta sekarang. Mengingat misi mereka berjalan sebagaimana yang mereka inginkan. Ace--di bawah atap rumah sakit yang sama dengan Ibu--sekarang dalam keadaan kritis. Semua itu karena kesalahanku. Karena kesombonganku yang mengutamakan loyalitas daripada hatiku, aku menempatkan orang-orang yang kusayang ke dalam bahaya.


Aku tidak tau apa yang harus kulakukan untuk menebus dosaku kepada Ace. Meskipun dia tau aku adalah senjata yang akan digunakan Evan untuk membahayakannya, dia tetap datang. Ace tetap menemuiku, dan dia bahkan menyelamatkan ibu.


Jika saja aku bisa memutar waktu, hari ketika Ace memintaku untuk tidak meninggalkannya..., aku mungkin...


Tok! Tok! Tok!


Sebuah ketukan terdengar dari luar.


Dengan langkah gontai, aku menuju pintu dan menengok siapa yang datang berkunjung. Saat itu juga, tepat ketika aku membukakan pintu, sesosok wanita dengan wajah familiar menyapaku. Sebuket bunga matahari berada di dekapannya, dan dalam hati aku menebak buket bunga itu pasti akan diserahkan padaku.


"Selamat pagi, Fawn. Apa aku berkunjung terlalu awal?"


Itu Vera.


"Tidak, tidak sama sekali. Masuklah." Aku melebarkan pintu dan membiarkan Vera masuk. Tidak seperti Vera yang kutemui malam itu, Vera yang babak-belur dan kotor, Vera yang berada di depanku sekarang berpenampilan lebih rapi dan sehat. Tentunya, dia masih memiliki jejak memar samar di tubuh dan wajahnya, tapi itu tidak menyakitkan untuk dilihat.


"Aku dengar Ace berhasil menyelamatkanmu malam itu, aku sangat senang mendengarnya."

__ADS_1


"Bos Ace memberikan banyak pengorbanan untuk menyelamatkanku, kupikir aku merasa lebih baik tidak diselamatkan saja karena pengorbanan itu."


"Apa maksudmu?"


Vera terlihat muram. Aku tidak tau apa yang ia pikirkan.


"Saat David menginfiltrasi kediaman Caspian, misi itu berjalan dengan sedikit kekacauan. Kami kehilangan dua rekan dalam baku tembak dan bos Ace juga..., aku dengar dia kritis dan tidak boleh ditemui oleh siapa pun. Semua ini, jika aku tidak membuka mulutku dan menjual namamu, situasi ini tidak akan terjadi sama sekali."


Ah, jadi itu maksud Vera.


Sama sepertiku, Vera pasti merasa berdosa sudah mengkhianati Ace dengan membuka kelemahan bosnya. Namun, apakah ini wajar bagi kami untuk terus terbenam dalam penyesalan ketika sosok yang benar-benar salah masih berkeliaran bebas di luar sana?


"Vera, ini bukan salahmu sama sekali..." Aku mendekat ke arah Vera dan memberikan tepukan ringan di pundaknya. "Kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri. Kau sudah berusaha keras untuk bertahan di sana. Jika ada orang yang harusnya disalahkan di sini, maka itu adalah Evan."


"Meskipun begitu, Fawn..., aku juga menempatkanmu dalam bahaya, bukan? Aku seharusnya tidak menjual namamu. Maafkan aku, aku sungguh-sungguh menyesal sudah tidak mampu melindungimu."


Aku tidak tau apa yang harus kukatakan pada Vera sebagai penenang diri atas rasa bersalahnya. Aku sendiri pun mengambil porsi tersendiri atas apa yang sudah terjadi. Aku pun sama bersalah dalam situasi ini. Karena sudah arogan dengan loyalitas yang tidak ingin kutinggalkan, karena berpikir aku mampu melindungi diriku sendiri ketika pada akhirnya aku membuat Ace terkena imbas dari pilihanku.


"Fawn..." Vera menyerahkan sebuket bunga matahari yang ia bawa kepadaku. Saat itu, kendati telah menumpahkan pengakuan dosanya kepadaku, Vera masih menunjukkan kesenduan. Aku merasa berdosa sudah tidak mampu melakukan apa-apa. Aku ingin menghiburnya, tapi dengan suasana hatiku yang sama muramnya, aku hanya akan memperburuk suasana.


"Terima kasih atas bunganya." 


"Ya?"


"Malam itu..., saat kubilang kami terjebak dalam baku tembak..., Joseph..., kau tau dia, kan?"


Tanpa perlu melanjutkan ucapannya, entah bagaimana aku bisa mengerti arah pembicaraan Vera. Jadi, aku kehilangan Joseph, huh? Apa yang dia pikirkan sampai melibatkan dirinya dalam baku tembak? Kupikir dia mau berumur panjang dan melarikan diri?


Kenapa takdir sangat kejam pada kami?


"Fawn, apa kau baik-baik saja?"


"Mm...ah, iya." Aku mengangguk pasrah. Tidak ada yang mampu kulakukan selain menerima kenyataan. Temanku, rekanku dan juniorku..., Joseph. Dengan ia tidak ada di sisi nona Indira, kurasa..., tunggu, kenapa aku memikirkan nona Indira? Dia bisa terbakar di neraka kalau dia mau! Semua masalah ini terima kasih kepada suaminya. Mereka adalah para bajingan yang sudah menciptakan kesulitan untuk semua orang.


Aku harap Joseph dapat beristirahat dengan tenang sekarang.

__ADS_1


...----------------...


"Kau harus makan lebih banyak, Fawn. Kau kelihatan sangat kurus sekarang." Vera memberikan pesan itu seiring ia melangkah menuju pintu. Aku mengantar kepergiannya tanpa memprotes apa pun. Walau sebenarnya aku merasa penurunan berat badanku lebih karena stress daripada kurang makan.


"Jangan cemaskan bos Ace juga..., aku percaya dia akan kembali dan menjadi sosok yang luar biasa. Kau tau pria itu, kan? Dia adalah monster terkuat di keluarga Hunter. Hehehe."


"Well..., kuharap kau benar."


Kuharap Ace akan baik-baik saja. Kuharap aku bisa menemuinya dan mengakui perasaanku padanya. Aku harap dia segera bangun dan menemuiku, aku mempunyai terlalu banyak harapan..., terlalu banyak, ke tahap harapan itu mencekikku.


"Beristirahatlah, Fawn."


"Mm."


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi."


Setelah memberikanku kecupan ringan di pipi kiri dan kanan, Vera beranjak meninggalkanku di kamar inap ibuku. Keheningan kembali memenuhi ruangan. Aku menatap jam dan menyadari kalau sekarang sudah nyaris jam 12 siang. Aku berencana membeli roti di cafetaria rumah sakit sebentar.


Aku belum menemukan nafsu makanku, jujur saja. Namun, memikirkan kalau sekarang semua orang yang kusayangi sedang dalam kondisi terburuk mereka, aku pikir setidaknya aku harus menjaga kesehatanku ketika mereka kembali. Oleh karena itu, meskipun mengumpulkan minat untuk menyumpal roti kacang tersebut ke dalam mulutku rasanya agak berat, aku tetap harus menelan setiap potongnya.


Aku harus tetap sehat agar aku bisa menyambut Ace dengan ceria. 


Setelah membeli roti dan jus jeruk di cafetaria, aku pun memutuskan kembali ke kamar inap ibuku di lantai 3. Aku keluar dari elevator dan melenggang di koridor rumah sakit yang senggang. Sesekali, aku berselisih jalan dengan pasien dan perawat yang berlalu-lalang. Saat berselisih langkah dengan mereka, aku kembali teringat pada Ace.


Pasti akan luar biasa bila tiba-tiba aku berselisih dengan Ace di koridor ini..., dia dalam kondisi sehat...,


Tapi itu adalah harapan yang tidak masuk akal. Ace masih dalam kondisi kritis. Vera mengabariku mengenai kabar Ace tadi pagi. Bahwa, kediaman utama keluarga Hunter sedang kacau lantaran ketiadaan Ace.


Ini menyedihkan.


Apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki semuanya? Aku ingin Ace cepat sadar dan menemuiku!


Ketika pemikiran tentang Ace memenuhi isi kepalaku, bunyi derap kaki yang berlari terdengar nyaring di koridor. Aku menoleh dan menyadari kalau sumber keriuhan itu datang dari belakangku. Itu adalah segerombol perawat dan seorang dokter yang berlari pontang-panting dengan ekspresi serius. Aku menepi ke dinding dan memperhatikan arah mereka pergi.


Seseorang sepertinya dalam keadaan kri---

__ADS_1


Tunggu, itu kamar Ibu...?


...----------------...


__ADS_2