
...NORMAL pov...
...----------------...
Seperti perintah Anggara, tidak peduli apa yang terjadi, hanya awasi Indira. Dengan perintah itu pula, Fawn yang berada di kediaman utama keluarga Caspian--di kediaman yang sama tempat Vera terkurung dan tersiksa--Fawn tidak menaruh peduli yang besar pada situasi yang terjadi di sekitarnya terkecuali situasi itu berkaitan pada Indira. Selama Indira memperoleh supply makanan dari cafetaria, Fawn berpikir situasi Indira di kamar Evan baik-baik saja.
Setidaknya, secara fisik, si nona muda yang sudah ia layani sejak lama masih dalam keadaan sehat. Walau dari segi mental situasinya cukup meragukan.
Fawn menyampaikan pesan yang sama kepada Joseph. Pesan yang diberikan Anggara beberapa waktu lalu untuk hanya fokus pada Indira. Namun, tidak seperti Fawn yang selalu auto-focus pada tujuannya, Joseph mempunyai fokus yang terbagi kesana-kemari. Dalam arti lain, dia suka menempeli hidungnya pada urusan yang tidak ada berkaitan dengan tugasnya.
Hari ini lagi adalah contohnya...,
Saat Fawn sedang mondar-mandir di bawah balkon kamar Evan Caspian, berharap mampu mencuri dengar sesuatu dari kamar pria itu walau sebenarnya jarak yang cukup jauh dan didukung oleh pintu balkon yang terkunci membuat suara tidak mampu lolos dari sana, Fawn tetap berada di sana. Joseph di sisi lain, hilang entah kemana.
Fawn baru bertemu Joseph saat jam makan siang.
"Apa kau mendengar sesuatu?" tanya Joseph, sangat tertarik.
"Mustahil mendengar apa pun kalau pintu balkonnya terkunci." Fawn menyahut dengan suara layu. "Aku jadi prihatin, apa mereka tidak membiarkan nona Indi terkena matahari? Dia bisa memucat kehabisan energi di dalam sana."
"Oh." Joseph bengong sebentar.
"Oh? Oooh, bicara soal oh, kau dari mana, Joe? Aku tidak melihatmu seharian ini." Suara Fawn terdengar ofensif. Rasanya agak menjengkelkan ketika hanya dia yang bekerja.
"Aku berkeliling hari ini," Joseph menanggapi dengan cengiran kaku. "Juga.., maksud pertanyaanku tadi..., aku menanyakanmu tentang rumor yang beredar..., bukan sesuatu menyangkut bos Indi."
"Hah, rumor?" Fawn melirik kiri kanan. "Rumor apa? Kenapa kau menjadi salah fokus pada urusan orang lain, Joe? Apa kau lupa tugasmu sendiri?"
Joseph mengendikkan bahu. "Apa yang kulakukan sekarang juga masih bagian dari tugasku, Fawn. Kau mungkin tidak tau, tapi bos Indira memerintahkanku untuk menjadi mata-mata dan mengawasi situasi yang terjadi di rumah ini."
"Itu misi yang mulia, andai saja nona Indi dalam keadaan bebas. Sekarang, nona Indi sedang menjadi tawanan, kupikir tidak ada hal yang lebih penting selain mencaritahu situasinya dan mencari cara membebaskannya."
"Ya, katakan itu kepadan bos Indi sendiri. Aku sudah memberikannya solusi, tapi dia memutuskan untuk terkurung di kamar itu. Sampai sekarang pun, untuk meminta bantuan kita, bos Indi sudah mempunyai solusinya dan dia tetap tidak melakukan apa-apa." Joseph mendumel panjang. Sendok yang nyaris mencapai mulutnya ditaruh kembali ke piring sementara dia melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Bukankah itu artinya bos Indi mempunyai pemikiran lain? Mungkin dia punya triknya sendiri. Hal-hal yang hanya mereka yang bekerja di atas kita yang tau. Kau harus berhenti mencemaskan bos Indi seakan-akan dia terikat di sana tanpa perlawanan dan tidak berdaya."
Fawn--kendati masih mencemaskan Indira--mengerti sudut pandang Joseph. Mereka memang sudah menyerahkan solusi kepada Indira, sebuah handphone sekali pakai dan sebilah pisau. Oh, Joseph juga sudah menawarkan diri untuk menyelamatkan Indira hari itu juga kalau dia mau pergi. Tapi tidak, Indira tidak mau pergi. Dia mengatakan dengan jelas kalau dia akan menetap di sana. Terikat di sana.
Fawn seharusnya tidak begitu memikirkan situasi Indira dengan kekhawatiran membuncah, tapi ia tidak mampu menahan dirinya. Tidak ketika dia pernah mengalami situasi yang sama. Fawn tau, tidak peduli betapa Indira berusaha memanipulasi Evan dengan kepolosannya, akan ada hari kekangan itu terasa sangat menyiksa, sangat membuatnya putus asa.
Fawn menghela napas. "Jadi, rumor apa yang kau dengar dari kelilingmu hari ini?"
Terpaksa, Fawn mengganti topik. Jika ia mendebat Joseph tentang apa yang harus dan tidak harus ia rasakan terhadap penawanan Indira, mereka hanya akan berdebat sampai matahari terbenam.
"Seseorang...," gumam Joseph. Ia melirik kiri dan kanan, belakang dan depan sebelum melanjutkan, "Seorang bawahan keluarga Hunter sekarang berada di bawah kaki kita."
Ucapan Joseph seperti petir yang menyambar kepala. Fawn terdiam dengan jantung yang berhenti berdetak saat itu juga.
"Apa maksudmu di bawah kaki kita?" Fawn berujar dengan otot wajah yang kaku. Lidahnya kelu.
"Di basement," jelas Joseph ulang. Kali ini memberi isyarat tangan yang terikat. Jika diuraikan dengan jelas, maka maksud Joseph adalah seseorang diikat di basement. Lalu, hal yang paling buruk dari informasi itu adalah..., seseorang itu adalah bawahan Ace Hunter. Bawahan Ace.
Perut Fawn terasa terpulas saat ia memikirkan kemungkinan siapa orang itu..., ia merinding ngilu. Jantungnya seakan ditikam oleh jarum tajam, perlahan-lahan.
"Apa dia masih hidup?" Fawn merasakan tangannya bergetar.
"Kudengar begitu. Bos Evan sepertinya menaruh minat yang besar pada tangkapannya, dia bahkan tidak keluar dari sana sampai jam sembilan pagi tadi. Aku berselisih dengannya saat dia kembali dari basement. Aku melihat darah di tangannya dan beberapa kotoran juga." Joseph menjelaskan panjang lebar. "Kurasa..., bos Evan terlibat dalam penyiksaan di sana langsung. Ini sangat langka."
"Itu..., tidak juga." Fawn tidak akan heran bila Evan terlibat dalam penyiksaan tersebut. Ace pun, saat salah menangkapnya, turut menyiksanya langsung.
"Apa kau tau siapa yang ditangkap?" Fawn bertanya-tanya dengan kegugupan. Ujung jemarinya membeku dalam dingin yang menyengat kulit.
"Entahlah."
"Entahlah?" Fawn memprotes ketidaktahuan Joseph. Seolah-olah pria itu bersalah.
"Mana mungkin aku tau segalanya," Joseph membela diri. "Seperti yang kubilang, aku hanya mendengar kabar angin di sana-sini. Jika aku terlalu dekat pada informasi itu, tidak menutup kemungkinan aku akan berakhir terikat di tempat yang sama dengan orang itu."
__ADS_1
Alasan Joseph memang masuk akal, tapi Fawn tidak merasa senang. Bagaimana bisa ia tenang dengan pemikiran kalau seseorang, temannya mungkin, sedang terikat di bawah kakinya, menderita?
"Kau sepertinya sangat peduli pada informasi itu." Joseph kembali menyantap makanan di nampannya, mata memperhatikan Fawn dengan perhatian yang Fawn tidak inginkan. Fawn tidak mau Joseph tau apa pun kaitannya dengan keluarga Hunter.
"Aku hanya..., merasa kasihan." Fawn mengarang. "Kau tau, kita adalah sesama bawahan. Situasi seperti itu bisa terjadi pada kau ataupun aku. Jadi, lupakan saja. Aku mungkin kecapean."
"Aku juga punya sentimen yang sama kok." Joseph tersenyum. "Ini, untuk sekedar informasi..., sepertinya tuan Evan menangkap orang ini untuk mencaritahu sesuatu. Jadi, dia tidak akan mati dengan cepat. Tidak terkecuali dia menyerah dengan gampang terhadap siksaan. Namun, menilai dia datang dari rumah keluarga Hunter, aku pikir sosok itu pasti cukup tangguh."
"Yaah, apa menurutmu bertahan dalam siksaan lebih baik daripada kematian?"
"Aku tidak mau menyerah," jawaban Joseph seperti ludahan ke wajah. Fawn merasa rendah saat ia mengingat dirinya sendiri. Ia yang dulu memohon untuk dimatikan saja daripada menerima siksaan Ace yang berkepanjangan.
"Kau sangat positif, bukan?" Fawn tersenyum masam.
"Aku tidak tau, mungkin karena aku belum pernah menghadapi siksaan yang mengerikan jadi aku ingin terus berpikir positif." Joseph ada benarnya. Dia sendiri tidak pernah menjadi tawanan karena ia selalu berhasil dalam misinya.
Selama ini, Joseph hanya pernah memperoleh siksaan yang memang menjadi bagian dari pelatihan saja. Pelatihan untuk menguji loyalitasnya. Kendati dia sudah patah tulang di sana sini, itu tidak cukup berat bagi Joseph untuk berhenti berharap pada kehidupan.
"Aku harap kau tidak akan pernah berubah, Joe."
"Doakan aku agar tidak pernah menjadi tawanan, itu lebih baik."
"Aku jadi mencemaskan tawanan itu," Fawn bergumam lagi. Ia kembali teringat akan sosok yang mengawali topik ini. Fawn mencemaskan sosok itu, sosok yang hanya ia ketahui sebagai bawahan Ace.
"Bagaimana situasi di basement?" tanya Fawn kembali. "Apa kita boleh ke sana?"
"Boleh kalau kau mau dijadikan tawanan sekalian." Joseph terkekeh. "Pengamanannya sangat ketat, Fawn. Juga, kupikir kalau kita berkunjung ke sana, situasinya pasti menjadi sangat mencurigakan, bukan?"
"Oh..., kau ada benarnya."
"Lupakan saja. Kita tidak bisa berbuat apa-apa."
Fawn tentu saja, berharap dapat berbagi pemikiran yang sama. Namun, dengan nama Ace tercantum di sana, di pemikirannya, akan sulit menghilangkan kecemasan yang memenuhi dadanya.
__ADS_1
'Apa yang harus aku lakukan?'
...----------------...