DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
63. ORANG ASING


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


"Aku berusaha, Evan. Apa yang kau harapkan? Sudah kubilang misi ini tidak gampang. Margareth Hunter bukan wanita yang bisa kubuat bicara hanya dalam sekali kedipan mata!! Apa kau sadar betapa bahayanya dia?"


Sembari bicara di telepon, Anggara memasuki Leviathan dengan kening yang bertaut menahan kekesalan. Matanya menatap buas kepada orang-orang yang meliriknya. Amarah akibat selalu ditekan oleh Evan untuk mencaritahu apa gerangan yang sedang keluarga Hunter lakukan membuat Anggara sangat frustasi.


Ia bisa saja mengikat Margareth di bangku dan mencekik wanita itu sampai biru dan informasi tidak akan bocor sama sekali karena Margareth Hunter adalah Margareth Hunter. Dia bukan wanita yang gampang meleleh seperti lilin.


"Sialan!" Anggara mematikan telepon ketika lagi-lagi Evan menyerang kelemahannya tentang Indira.


"Apa dia pikir aku tidak peduli pada saudaraku sendiri, si keparat itu?" Anggara menekan amarahnya sebelum melanjutkan langkah ke tempat laknat yang dia benci belakangan tapi tetap dia kunjungi.


Leviathan, sebuah sarang untuk penggila pesta dan musik yang menulikan telinga. Anggara sudah hapal mati tempat ini hanya dalam beberapa kali kunjungan, sudah bertemu dengan beberapa orang yang  dia retakkan hidungnya akibat kejengkelan. Anggara--dalam beberapa waktu--sudah berhasil membangun reputasi sebagai pria tampan yang tidak tersentuh di club malam itu.


Dia menolak setiap wanita dan bahkan pria yang berusaha mendekatinya, berkelahi dengan orang yang melewati batasnya. Dia hanya datang, duduk dan minum segelas margarita. Kalau-kalau dia beruntung, ia akan bertemu dengan target utamanya--Margareth. Tapi kalau tidak, dia akan pulang dengan kekesalan menumpuk.


Malam ini, siapa yang tau apa yang akan dia dapatkan di Leviathan.


Anggara menarik napas dalam-dalam sebelum melintasi lantai dansa yang penuh oleh aroma parfume, alkohol dan keringat. Sesekali wanita tak sengaja menubruknya--atau sengaja? Siapa yang tau, dan ketika mata mereka bertemu dengan mata Anggara--niat menggoda itu menyusut jatuh ke jempol kaki. Ketakutan mereka lebih kuat dari gairah yang meluap-luap.


Bahaya--adalah aura yang Anggara tunjukkan kepada siapa pun yang bersua dengannya.


Hingga akhirnya, mata yang menyalang tajam itu jatuh kepada seorang yang berpenampilan sangat..., tidak biasa.


Itu Vera.


Dia duduk menghadap bar sambil menenggak bir dari botolnya..., ya, botol. Apa dia tidak waras?


Anggara--dengan ketertarikannya pada keanehan Vera--mendekat dan menyapa gadis yang setengah sadar itu. Vera teler, tentunya.


"Hei..." Anggara menyapa Vera dengan telunjuknya yang menusuk lengan gadis itu. Vera mengangkat kepalanya yang terkulai dan menyunggingkan senyum lebar pada apa pun itu yang menyapanya. Pandangan Vera berkabut.

__ADS_1


"Apa kau tidak bekerja?" menilai dari penampilan Vera yang hanya mengenakan hotpants dan kaos hitam kebesaran, gadis itu pasti sedang dalam masa liburnya.


"Kau siapa?" tanya Vera. Saat mabuk, sudah kebiasaan Vera berbicara dengan intonasi manja. Anggara tidak tau fakta itu jadi dia menatap Vera dengan agak kaku dan ragu.


"Kau sudah sangat teler." Anggara menghela napas. Sekarang baru jam delapan tapi Vera sudah kehilangan separuh kewarasannya. "Apa kau selalu seperti ini ketika tidak bekerja?"


"Jangan banyak omong." Vera mendengus dan mendorong pundak Anggara dengan telunjuknya. "Jangan dekat-dekat juga. Aku sudah punya pacar."


"Huh, apa maksudmu si kepala biru itu?" Anggara jadi teringat kepada pria yang ia temui bersama Vera beberapa waktu lalu. Pria bersurai biru terang yang meminta paksa uang Vera demi memenuhi kesenangannya. Hubungan semacam itu sangat menggelikan di mata Anggara, tapi ia tidak mau ikut campur.


"Kau kenal Alle? Oh, apa kau Alle??? Sialan, aku tidak punya uang sekarang. Pergi!"


"Aku sangat jauh dari si keparat itu, tolol." Anggara tau Vera mabuk, tapi entah mengapa dia tetap menanggapi setiap racauan tolol gadis itu. Dia bahkan menarik satu bangku kosong di samping Vera dan memesan segelas martini untuk dirinya sendiri.


"Benar, kau pasti bukan Alle." suara Vera berubah galau. "Alle tidak mungkin di sini. Dia sedang berada di sudut lain negeri ini, bergandengan tangan dengan istri barunya dan makan caviar di kapal. Hahahahahaha..., si bajingan itu melamar istrinya dengan uangku. KAU KEPARAT!!! KAU MENGHABISKAN GAJIKU UNTUK WANITA LAIN!!!"


Si bartender terperanjat oleh teriakan Vera yang tiba-tiba. Anggara sama saja, dia meneguk ludah dan spontan melirik kiri kanan. Tidak, ini bukan ulahnya. Dia hanya kebetulan berada di samping Vera. Dia bukan orang yang Vera bicarakan.


"Hei, orang asing..." Vera berpaling ke arah Anggara dan menarik dasi silver yang melingkari leher pria itu. "Apa menurutmu itu salahku kalau aku--aku bekerja? Aku menjadi bodyguard, aku bekerja siang malam semata-mata agar aku tidak menjadi beban orang lain, tapi lihaat...ah, Alle bilang aku terlalu mandiri? Dia lebih suka wanita yang merengek di kakinya. Keparat bodoh itu!!!"


"Dan apa kau tau?" Vera memiringkan kepala. Bertanya-tanya apakah si orang asing ini hanya menghiburnya dengan omong kosong atau benar-benar menganggapnya istimewa?


"Aku akan tau kalau kau membiarkanku tau."


"Kau menggodaku?" Vera terkekeh.


"Itu akan berarti sebagai godaan kalau kau tergoda."


Vera memicingkan matanya, berusaha melihat jelas sosok yang berada samar di sampingnya. Tapi, tidak peduli seberapa tajam ia memicingkan mata atau seberapa besar usahanya meraba-raba wajah Anggara, ia tetap tidak bisa mengingat siapa gerangan yang sekarang menarik kursinya mendekat. Jarak mereka terpangkas dan Vera bisa mengendus aroma parfume mahal yang melekat di jas pria itu.


Aroma yang cukup familiar sebenarnya.


"Apa aku mengenalmu?" Vera mengendus leher Anggara, tidak tau sama sekali kalau tindakannya barusan sama seperti menyalakan api yang akan melahapnya habis.

__ADS_1


"Apa kau benar-benar tidak mengenalku?" Anggara menarik pinggang Vera, menggapai gadis itu hingga bersandar di dadanya.


"Aku Anggara," ucap Anggara akhirnya. Memperkenalkan dirinya kepada gadis yang sekarang menatapnya dengan kebingungan.


"Eeii, bohong. Tuan Angga tidak mungkin..."


"Tidak mungkin apa?"


"Menggodaku?" Vera menjawab Anggara dengan endikan bahu. "Berhenti mengaku-ngaku. Tuan Anggara..., dia adalah orang atas, paham tidak?"


"Tidak."


"Tcih, kau tolol. Lihat, kan? Ini perbedaan utamamu dengan tuan Anggara." Vera merebut martini Anggara dari atas meja dan menyesapnya habis dalam sekali tegukan. Anggara buru-buru merebut gelas itu.


"Kau sudah sangat mabuk, Vera. Aku akan memesankanmu taksi." Anggara menghela napas. Sesi menggodanya dengan gadis mabuk itu sudah buyar. Juga, mengingat keberadaan Vera di sini, itu berarti Margareth tidak akan datang. Tidak ada karyawan di bumi ini yang akan menghabiskan hari liburnya di tempat yang sama dengan bos-nya. Vera juga...


"Tunggu, kenapa kita pulang?" Jemari Vera berpegangan di leher Anggara. "Aku pikir kau datang untuk menggodaku...hehehehe." tawa samar Vera jatuh di dekat telinga Anggara. Ia bergelayut di leher pria itu, mendekapnya seperti anak yang tidak mau lepas dari ibunya.


"Jangan buang waktuku..." Vera kembali menggoda si orang asing yang ia pikir akan dilupakannya esok hari.


"Kau mabuk," ujar Anggara, dia menahan dirinya untuk tidak balik menekan Vera di pinggangnya. Napas gadis itu terasa panas di kulitnya dan ia tau ia tidak akan bertahan lama bila Vera terus memprovokasinya.


"Well, aku cukup sadar terhadap apa yang kuinginkan sekarang..., bagaimana denganmu?"


"Vera, kau akan menyesal."


"Buat aku menyesal kalau begitu."


Sial, sial, sial.


"Ini hanya one night stand, jangan jadi pengecut! Kau sudah menggodaku, sekarang tanggung jawab!!!" Suara Vera kembali manja.


"Baiklah," Anggara menyerah dan senyumnya pun seketika merekah. Ia meraih pinggang Vera dan menekan gadis itu rapat di pinggangnya. "Aku harap kau tidak menyesal sudah mengundangku dalam permainanmu."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2