
...FAWN pov...
...----------------...
Kendati kami cukup dekat dan akur belakangan ini. Aku takut aku tidak cukup mengenal seorang Arcelio Hunter. Aku pikir aku mengetahui segala tentang pria itu karena aku sudah melihat segala sisi hitamnya, tapi..., aku tidak menyangka akan melihat suatu sisi yang sangat jauh berbeda dari segala yang sudah kulihat selama ini.
Maksudku, keberuntungan atau sihir hitam macam apa yang menabrak pria itu sampai-sampai dia membelikanku sebuket bunga mawar?
"Apa kau mabuk?" Ace sepemahamanku adalah pria yang tidak romantis. Bukan berarti aku pernah tau caranya melakukan pendekatan pada wanita. Hanya saja, aura yang pria itu pancarkan sangat mengatakan jelas kalau dia itu 'Anti romantis!'.
"Ada apa?" Ace berdiri di depanku dengan bingung. Pasti dia tidak paham kalau sikapnya sangat mengejutkan. Cowok aneh.
"Mawar ini..., untuk apa?" Bukan berarti aku tidak menghargai pemberiannya. Tapi..., bunga? Kenapa?
"Aku melihatnya di jalan. Apa kau tidak suka?"
"Aku lebih suka kalau kau membelikanku makanan." Aku mendekap sebuket mawar merah itu dan menghirup aroma tajamnya. Tubuhku bergidik seketika. Aromanya sangat menyengat.
"Aku juga membawakan itu..." Ace menanggapiku dengan seulas senyum. "Felix sedang mempersiapkannya di dapur."
"Eh, serius? Apa itu?"
"Beef bulgogi."
"Aaaaa, aku sudah lama tidak makan bulgogi..." Aku sangat senang, aku menaruh mawar itu ke atas ranjang dan memberikan Ace pelukan kuat di leher. "Kau adalah malaikat!!!"
"Hn, kau sesenang itu pada makanan, aku tidak tau kenapa aku perlu membuang-buang waktuku membeli mawar itu."
"Eh," aku melonggarkan dekapanku dari Ace dan menatapnya dengan cibiran. "Itu salahmu sendiri."
"Penjualnya bilang perempuan sangat tergila-gila pada mawar."
"Jadi, apa kau tertipu?"
"Sepertinya."
Aku tertawa. Dari sekian banyak orang di muka bumi ini, Ace tertipu oleh pedagang bunga. "Kau seharusnya menggunakan uangmu untuk membelikanku lebih banyak makanan. Aku mungkin akan menikahimu kalau begitu."
"Apa aku bisa menganggap ucapanmu serius?"
"Tidak. Jangan." Aku seketika menggeleng. Si keparat itu, kalau dia mengira aku serius, dia bisa-bisa memberikanku rumah berbahan dasar makanan.
__ADS_1
"Kau harus berhenti membuat lelucon, aku bisa patah hati."
"Apa kau serius mau menikahiku?!" jujur saja, kurasa perasaan Ace tidak sedalam dan seserius itu padaku. Maksudku, mungkin dia hanya terbawa suasana karena terbiasa melihatku di sini. Dia tidak akan mencintaiku ke tahap bila Margot dan aku tenggelam di danau dia akan menyelamatkanku duluan, begitu?
"Aku serius." sahutan Ace membuatku tidak bisa tidak mengembangkan senyuman.
Meskipun aku meragukan kesungguhan Ace, tapi mendengarkan kata-kata asmara yang membuaikan hatimu, diucapkan oleh pria yang paling disegani di dunia...aku tidak masalah. Bahkan bila itu kebohongan, tolong ucapkan lebih keras.
Apakah ini rasanya dicintai?
...----------------...
Felix datang lagi untuk kesekian kalinya hari ini. Sambil membawa satu troli makanan.
Sesuatu terjadi, setelah memberikanku bunga mawar malam itu, hadiah dari Ace terus berdatangan. Makanan berat dari berbagai belahan dunia mendarat di kamarku, disertai oleh cemilan seperti roti, snack dan biskuit. Tidak hanya makanan, Ace juga meng-install satu buah televisi di kamar kami. Dia menyediakan game juga.
Aku pernah bertanya padanya beberapa hari lalu, dan dia menanggapi dengan tingkah kasual yang ambigu. "Hanya ingin memanjakanmu." katanya.
Tapi aku tidak percaya. Apa Ace tipe laki-laki yang akan menghujani orang yang dia cintai dengan segunung hadiah yang tidak berarti? Apa dia mau aku menggemuk di sini?
"Kau hanya perlu menikmati kebaikan bos Ace, Fawn. Ini semua untukmu." Felix bicara sambil menaruh sepiring pasta carbonara ke atas meja.
"Aku bisa menjadi babi di sini."
"Aku tidak peduli." sahut Felix. "Urusanku selesai di sini, kalau kau membutuhkan makanan tambahan, katakan saja pada Ozan. Dia berjaga di luar."
"Mm, baiklah." Aku menghela napas. Hidupku, kenapa jadi seperti ini?
Apa yang ada di otak Ace, sebenarnya? Sudah berapa lama aku mendambakan televisi di kamar ini, tapi kenapa dia baru memberikannya sekarang? Dia juga memberikanku berlimpah makanan..., apa dia pikir aku akan mencintainya kalau dia memberikanku segudang hal-hal favorite-ku?
Jangan bercanda!
Aku bisa benar-benar terbawa suasana, SIALAN!!! Kenapa dia sangat membuat lemah jantungku!!! Aku seharusnya tidak larut dalam permainanku sendiri!!! Aku seharusnya pergi dari sini!!!
Oh, segala pemberian ini seperti rantai tak kasat mata yang membelengguku di sini. Aku..., aku sangat mencintai perhatian yang dia berikan kupikir aku tidak masalah bila menetap di sini selamanya.
DAN PEMIKIRAN ITU SALAH!!! Tidak boleh, Fawnia!!! Otakmu pasti sudah rusak! Apa aku gadis murahan yang bisa disogok dengan makanan?
Ingat ibumu, Fawn. Ibu...
Benar, apa kabar ibuku?
__ADS_1
Aku sudah tiga bulan di sini. Sementara aku terjebak tanpa bisa melakukan apa pun, makan dan minum seperti ratu, tidur kapanpun aku mau, ibuku di luar sana sedang sendirian.
Ibu mungkin telah mendapat surat dari keluarga Rashid tentang kepulanganku--dalam kata lain, kematian. Sudah hal umum dalam pekerjaan kami bila ada yang mati, surat pemberitahuan beserta uang kompensasi akan diberikan kepada keluarga kami. Isi kontrakku tertera seperti itu.
"Apa Ibu baik-baik saja setelah mendengar kabarku yang sudah tiada?" Aku bertanya-tanya seraya menatap keluar jendela.
Hatiku perih memikirkan kalau ibuku pasti sangat sedih.
Kendati pekerjaanku sebagai bodyguard lebih menghabiskan banyak waktuku, hubunganku dan ibu tetap berjalan baik. Kami sering berhubungan tiap malam lemburku. Dia akan menanyai kabarku, memintaku makan dan minum dengan teratur. Terkadang, dia akan mengirim makanan juga. Aku rindu masakan ibuku.
Tidak, aku merindukan ibuku. Aku ingin mendengar suaranya, mendekapnya dan mengatakan kalau aku masih hidup di sini. Anakmu sangat kuat, ibu. Aku bertahan kendati hewan liar yang memerangkapku sangat mengerikan. Ketika dia jinak, dia sangat menggemaskan. Aku banyak menangis di awal, tapi aku sudah baik-baik saja sekarang. Aku membencinya--tapi tidak sebesar dulu.
Ibu, aku ingin menceritakan segala pengalamanku di sini padamu. Tempat yang terasa seperti mimpi buruk ini mulai mendekapku seperti kehangatan yang baru. Aku tidak tau apakah tempat ini yang berubah, atau itu aku?
Aku ingin pulang.
Entah karena pemikiran tentang ibu yang datang tiba-tiba---air mata menyeruak dan membanjiri pipiku. Siaran ramai di televisi seperti bisu di telingaku, hatiku..., hatiku nyeri oleh rindu pada sosok yang sudah menjadi teman hidupku. Aku rindu menatap wajah sayunya yang selalu lelah karena penyakit jantungnya. Aku ingin menggenggam tangannya.
Sampai kapan aku harus di sini?
Aku menatap gelang di kakiku, dan jantungku seperti berhenti. Hatiku sangat sakit melihat gelang itu.
Aku pikir aku sudah hidup nyaman di sini tapi..., aku lupa, bagaimana aku bisa lupa? Duniaku hanya tentang kamar berbentuk persegi panjang ini!
Duniaku sudah berhenti.
Sangkar ini mencekikku.
Ace mungkin sangat senang sekarang, aku sudah menjadi peliharaan idealnya. Aku benar-benar menjadi binatang yang dia beri makan pagi sore dengan telaten.
Cinta? Sesuatu semacam itu pasti hanya omong kosong belaka. Aku pasti terbawa suasana.
Benar, aku pasti sudah gila.
Ahahaha.
Aku merasa sangat bersalah, sangat-sangat merasa bersalah ketika hatiku merasa nyaman di sini. Tempat yang sudah memberikanku luka dan hina, bagaimana bisa aku melupakan segala kejahatannya?
Apa yang harus kulakukan, aku ingin pulang.
...----------------...
__ADS_1