DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
59. SEBELUM PERGI


__ADS_3

...ACE pov...


...----------------...


Sesuatu yang ganjil sedang terjadi pada Fawn. Aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan, tapi tingkahnya yang sangat aneh dan sangat kentara aneh--membuatku 100 persen yakin dia sedang membuat sebuah plot tolol di otaknya.


Hari ini lagi, di hari ketika aku sedang bersiap-siap untuk berkunjung ke kediaman keluarga Caspian, Fawn yang duduk bersila di tempat tidur berkali-kali menatapku. Lalu, setiap kali aku menatapnya balik, dia akan membuang muka. Berpura-pura menatap hal lain dengan pipi dan telinga yang memerah.


Aku tidak akan komplain pada tingkahnya yang jujur saja--sangat menggemaskan, tapi..., demi Tuhan, aku perlu keluar hari ini. Menjalankan tugasku sebagai saudara Margareth Hunter dan memburu jejak pembunuh orang tua kami. Itu adalah tugas utamaku, tapi sikap Fawn yang aneh dan salah tingkah sangat membuatku berat untuk melangkah.


Aku ingin menerkamnya, melahap pipi merah itu dengan lidahku, dan mencecap setiap inci tubuhnya dengan mulutku. Ini sangat tidak baik, dia yang menggemaskan sudah seperti kelemahan untuk jantungku. Aku lagi-lagi memijit dahi ketika mata kami bertemu, dia memalingkan wajah sambil menggaruk pipi.


"Apa yang kau pikirkan?" Aku menghela napas, menahan kewarasanku agar tidak lepas. Dasi di leherku baru selesai terjalin dan aku sudah sepenuhnya siap untuk pergi. Tinggal memungut jas dari gantungan, aku sudah siap membuat Evan Caspian naik pitam dengan kunjunganku yang mendadak.


"Apa kau bicara denganku?" Fawn menanggapiku dengan suara yang jelas sekali gugup. Dia menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk. 


UGH! Ada apa dengannya, oh Tuhan? Sikapnya yang menggemaskan sudah kelewat batas!


"Apa ada orang lain di sini?" Aku menyahut sambil memasang jasku lagi.


"Oh, tidak. Aku tidak memikirkan apa-apa."


Dia sangat patuh. "Kau yakin kau sedang tidak merencanakan hal-hal tolol di otakmu yang tumpul itu?"


"Apa kau mengataiku tolol?" Fawn mengerutkan hidungnya, wajah tersinggung luar biasa. Luar biasa menggemaskan.


"Apa kau pintar?" Sambil melangkah santai, aku mendekati tempat tidur. Fawn menghadap ke arahku dengan bibir mengerucut lucu. Aku duduk di dekatnya dan memiringkan kepala--bertanya-tanya apa dia sadar betapa dia membuatku bergairah hanya dengan sikapnya yang manja? Sesuatu menekan resleting celanaku, sesuatu yang seharusnya beristirahat dengan tenang karena sekarang masih jam 10 pagi. Sekarang bukan waktunya untuk menjadi binatang!


"Aku mungkin tidak pintar tapi--"


"Baguslah kau tau." Aku memotong ucapannya dan itu membuat dia semakin kesal. "Kemarilah..."


Aku menarik lengannya lembut. Sesaat, Fawn menatapku ragu-ragu. Dia selalu waspada pada permintaanku, tapi pada akhirnya dia akan menurutiku. Sangat bodoh. Dia seharusnya mundur dan menjauh. Tidakkah dia tau kalau aku adalah bahaya? Seorang iblis yang mampu melahapnya ke dalam neraka. 


Dia seharusnya takut kepadaku, tapi kepatuhannya, wajah ragu-ragunya seakan berpikir dia bisa menanganiku bahkan bila aku memperlakukannya buruk. Dia salah. Aku lebih hitam dari yang dia pikirkan, aku--aku tidak akan melepaskan apa yang sudah menjadi milikku. Apa yang datang ke dalam jangkauanku, akan selamanya berada di genggamanku.

__ADS_1


"Apa?" Fawn berucap sambil menatap keningku. Mata kami tidak benar-benar bertemu. Dia menghindari tatapanku dan sangat jelas sekali kalau kedekatan kami membuatnya semakin salah tingkah. Pipinya yang sudah merah, semakin merah. Keringat menyusup keluar di permukaan hidungnya.


"Katakan apa yang kau pikirkan?" Aku menangkup pipinya dalam genggamanku, menarik wajahnya yang terasa halus dan asing di tanganku yang kasar agar menghadap tepat di wajahku. Mata kami bertemu. Kegugupannya semakin menggebu-gebu.


Tanganku yang bebas menggenggam tangannya yang saling bertautan di pangkuan. Dingin di ujung jemarinya seperti es. Aku mau tertawa pada kepanikannya yang kentara, tapi keinginan itu kalah tanding oleh keinginanku yang lain.


"Aku sudah bilang aku tidak memikirkan apa pun."


"Well, kalau kau tidak mau mengatakannya..." Aku mencubit pipinya. "Lakukan apa yang mampu membuatmu tidak bosan, aku akan kembali dan bermain denganmu setelah ini."


"Kau mau kemana?"


Ini pertama kalinya Fawn menaruh kepedulian pada urusanku. Aku mencoba menilai apa yang sedang ia rencanakan, tapi hanya ada sepasang bola mata yang menyiratkan keingintahuan murni di sana. Dia peduli pada apa yang kulakukan. Lucu sekali.


"Aku punya pekerjaan di tempat bos-mu." Aku menjawabnya jujur karena aku tau informasi itu tidak penting.


"Bos Angga?"


"Indira, Fawn, Indira. Bukankah kau pengawal pribadi Indira? Mengapa kau memikirkan Anggara?"


"Berhenti memanggilnya bos Angga, dia bukan bosmu lagi."


"Aku belum mengundurkan diri." Fawn menjawabku dengan suara yang berbisik. Pengabdiannya pada Anggara membuatku menjadi sedikit kecewa, aku tidak suka loyalitas yang dia berikan pada si bajingan tidak berguna itu. Anggara tidak pantas mendapatkan kebaikan hati Fawn, pria itu adalah bajingan yang bahkan tidak tau siapa yang berharga dan berguna.


"Lupakan masalah Anggara," aku tidak mau bertengkar dengan Fawn jadi aku memutuskan topik itu berhenti di sana. Aku tau dia akan terus membela Anggara sampai tua seperti pengikut setia. "Jangan nakal sendirian, oke?"


"Nakal?"


"Ya," jawabku serius.


Fawn mungkin tidak tau karena bertingkah menggemaskan dan lugu sudah menjadi sikap naturalnya, tapi--sikapnya yang seperti itu sudah membuat para pengawalku bertekuk lutut di kakinya. Dari laporan Felix--Haru, Willa, David dan bahkan Ozan--menunjukkan keakraban dan keterikatan pada Fawn. Seolah-olah Fawn adalah zona nyaman mereka. Aku tidak bisa membiarkan itu terus terjadi, aku sampai memblokir Haru dari datang kemari.


Fawn adalah propertiku, dia hanya boleh terlihat menggemaskan untukku.


"Kau membuatku terdengar seperti bocah lima tahun. Apa aku anak kecil?"

__ADS_1


Aku menangkup wajah Fawn sekali lagi--kali ini dengan dua tangan. Bibirku berlabuh di keningnya, pipinya, hidungnya dan kepada kelopak matanya yang seketika tertutup ketika aku menciumnya. "Kau bukan anak-anak," kataku sebelum menjeda ucapanku untuk menatap wajahnya yang bingung luar biasa atas afeksi yang kutumpahkan kepadanya.


"Kau adalah milikku,"


Fawnia bukan anak-anak, itu adalah kebenaran. Karena aku tidak akan melakukan ini pada anak-anak.


Aku tidak akan menciumnya dengan keras di bibir bila dia adalah anak-anak. Aku tidak akan mendekapnya seerat sekarang, menangkup pipinya dengan damba yang membuncah di dada, melahap bibir pucat merah muda itu seperti melahap makanan terakhir di meja, tidak--aku tidak akan melakukan ini kepada anak-anak. Aku hanya melakukan ini kepada Fawnia, milikku, sosok yang sudah menjadi canduku.


"Ace..." Namaku lepas dari bibir Fawn ketika bibirku berpindah ke rahangnya. Dia yang sudah melekat rapat di dadaku, menopangkan kedua lengannya di pundakku. Menahan diri agar tidak jatuh lebih rapat lagi di dadaku, tapi itu sia-sia. Dia berada di bawah kendaliku sepenuhnya.


"Bukankah kau mau pergi?" Suaranya lolos seperti rintihan yang menggiurkan. Aku menggigit leher pucatnya dan membalurinya dengan saliva.


"Sepuluh menit lagi," sahutku sebelum kembali memagut bibirnya, mengeksplorasi setiap sudut rongga mulutnya dengan lidahku. Fawn tidak memberontak, tapi gerak tubuhnya menunjukkan ia sangat tidak terbiasa. Kecanggungan yang berpadu dengan kegugupan sangat tersirat jelas di tubuhnya yang mengejang ketakutan. Dia sangat tabu pada keintiman, dan itu menggemaskan.


Tok! Tok! Tok!


Bajingan!!!


Aku nyaris saja melepaskan baju kaos hitam yang melekat di tubuh indah Fawn--andai saja aku tidak mendengar ketukan Carcel dari luar. Tanganku yang sudah berada di pinggulnya, berhenti seketika. Telinga mendengar apa yang Carcel ucapkan dari luar sementara lidahku masih merayap liar di daun telinga Fawn yang merah padam.


"Ace...."Fawn menepuk-tepuk pundakku, mengingatkanku tentang keberadaan Carcel di balik pintu. Tapi aku tidak begitu peduli. Rumah ini adalah rumahku, apa yang kulakukan adalah hakku. Aku tidak merasa segan melakukan apa pun bahkan bila mereka yang bekerja di seisi rumah ini tau.


"Bos Ace, mobil sudah siap."


Sialan!


Aku menghela napas panjang di tengkuk polos Fawn yang berwarna merah akibat jejak gigitan dan hisapanku. Aku tidak ingin meninggalkan aktivitasku sekarang, tapi aku juga tidak bisa membatalkan janjiku kepada Indira. Bajingan, pekerjaan ini mulai membuatku kehilangan kesabaran.


Mengambil kesempatan dari diamku, Fawn menarik dirinya mundur dan lompat dari tempat tidur. Dia melangkah kikuk menuju sofa sambil meregangkan lengannya. "Sa-sampai jumpa."


Aku memejamkan mata, menenangkan tubuhku yang sempat memanas oleh gairah, memukul lututku, sebelum akhirnya beranjak dari tempat tidur.


"Jangan tidur sebelum makan." Aku memberi pesan pada Fawn sebelum akhirnya berjalan keluar dari ruangan. Kepalaku penuh penyesalan dan kutukan.


Jika pesan yang hendak Indira diskusikan sangat tidak berguna, aku bersumpah akan melubangi kepala wanita itu seketika!

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2