DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
131. TERBUKA


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Seharusnya Anggara tidak diperlukan di sana. Kendati Evan tidak begitu menyukai Anggara dan kebijakannya yang terkesan naif, Evan masih menghormati keberadaan Anggara sebagai saudara iparnya. Evan seharusnya tidak melibatkan Anggara dalam prosesnya menginterogasi Vera, tapi tidak ada jalan lain lagi.


Vera--gadis yang merupakan kaki tangan keluarga Hunter itu--tidak mempunyai kelemahan yang dapat dimanfaatkan.


Vera, dari penyelidikan Evan, adalah gadis yatim piatu. Dia tumbuh sendirian tanpa keterikatan pada orang-orang di sekitarnya sampai usia 17 tahun, di usia 17, Vera direkrut sebagai bodyguard keluarga Hunter. Setelah itu, tidak ada informasi spesifik lagi menyangkut Vera selain kalau dia adalah bodyguard Margareth Hunter yang cukup terlatih.


Jika saja Vera mempunyai orang yang dekat dengannya, seseorang yang dapat digunakan sebagai ancaman, Evan mungkin tidak perlu melibatkan Anggara. Evan tidak perlu menodongkan senjatanya ke arah pria yang sangat berharga bagi istrinya.


"Evan, apa yang kau lakukan?" Anggara yang menjadi target bidikan Evan menoleh dengan mata melebar akibat keterkejutan.


"Ini bukan sesuatu yang personal," gumam Evan. "Aku hanya sedang...bereksperimen?" Kendati sikap Evan menunjukkan kejenakaan, Vera memahami kalau pria itu tidak bermain-main dalam ucapannya. Dia tidak akan berpikir panjang untuk melenyapkan nyawa Anggara.


"Kau pikir aku akan bicara kalau kau memanfaatkan Anggara?" Vera merasa napasnya tersekat di kerongkongan.


"Aku tidak tau, makanya mari kita coba terlebih dahulu." Evan memiringkan kepala, senyum terlukis di parasnya yang jenaka. "Apa kau akan tetap bungkam bila aku melubangi kepala Anggara di sini?"


"Evan," Anggara menyela. "A-apa kau bercanda? Kubilang Vera akan bekerja sama, bukan? Kau tidak perlu bertindak sejauh ini."


"Oh, Angga. Ini bukan kali pertamaku berurusan dengan orang-orang Ace, mereka bukan orang bodoh yang akan menyerah pada bujukan murah. Benar, kan, Vera?" Evan melanjutkan. "Jika aku ingin menarik keluar pengakuan dari mulut itu, aku setidaknya perlu bertindak lebih jauh dan lebih ganas lagi."


"Apa kau iblis? Bagaimana bisa kau menyingkirkan rekanmu sendiri?" Vera menjerit frustasi.


Evan mengendikkan bahunya, "Topik ini mulai membosankan. Seharusnya aku yang bertanya di sini..., tapi kalian malah tertarik pada kemanusiaanku...,"


"..."


"Jika aku masih mempunyai kemanusiaan seperti yang kalian pikirkan, maka aku tidak akan melakukan ini!" Evan hampir menarik pelatuknya andai saja Vera tidak melompat ke arah Anggara dan memeluk pria itu erat. Vera menjadikan dirinya sebagai perisai Anggara dalam spontanitas. Ia bahkan tidak memahami mengapa ia melakukan ini. Mengapa ia sangat ingin melindungi Anggara.


"Ve-Vera?" Anggara berbisik di dadanya. Napas tersengal akibat rengkuhan Vera yang sangat erat.


"Ini romantis..." Evan tertawa. "Padahal kupikir hubungan kalian tidak berarti apa-apa? Tapi sepertinya aku salah paham."

__ADS_1


"Vera, lepaskan aku." Anggara menggeliat dalam dekapan Vera. "Aku sudah membahayakanmu sejauh ini. Maafkan aku, jika Evan akan membunuhku, maka biarkan dia melakukan apa yang akan dia lakukan."


"Hah?"


Anggara mendongak kepada sosok Vera yang masih setia mendekapnya, "Aku baik-baik saja, apa pun yang terjadi padaku, itu bukan salahmu."


Ucapan Anggara seharusnya menjadi kata-kata yang menenangkan untuk Vera dengar, dengan begitu ia tidak perlu buka suara menyangkut keberadaan Fawn yang sedang dicari-cari oleh Evan. Bahwa, pilihannya untuk tetap bungkam bukanlah kesalahan, bahkan bila itu berarti ia kehilangan sosok Anggara.


Ya, seharusnya ancaman Evan tidak berarti apa-apa bagi Vera. Toh, hubungannya dengan Anggara hanyalah sebuah hubungan yang fisikal. Tidak ada cinta dan afeksi di sana, seharusnya tidak ada cinta di sana.


Tapi,


Ketika Evan mengacungkan pistolnya sekali lagi dan mulai menghitung mundur dari lima, Vera yang masih setia menatap wajah Anggara merasakan cengkeraman kuat di dadanya. Seakan-akan jantungnya diremas oleh tangan tak kasat mata.


"Lima..."


Anggara menepikan sosok Vera ke sampingnya, menjauhkan gadis itu dari target Evan.


"Empat...,"


"Tiga..." Evan memperhatikan ekspresi Vera, mempertimbangkan apakah gadis itu tidak akan bicara sama sekali sampai akhir.


Apakah Vera akan terus menutup mulutnya? Jika begitu, dia hanya akan berakhir menyingkirkan Anggara dengan sia-sia.


Tidak, jangan pesimis.


"Dua..." Evan sudah memantapkan keputusannya. Ia tidak akan menahan diri lagi. Bahkan bila itu berarti membuang Anggara di sini. Ia akan melakukan apa yang perlu dia lakukan. Ia akan membanggakan Max dengan keputusannya sekarang.


"Sa--"


"Fawnia." Vera membuka mulutnya.


"..."


Suasana menjadi hening seketika.

__ADS_1


Anggara yang saat itu juga mendengarkan ucapan Vera seketika merasakan tegang di sekujur tubuhnya. Siapa yang baru saja Vera katakan? Fawn? Apa dia salah dengar?


"Kelemahan bos Ace...," Vera menghadap Evan, dengan suara yang bergetar..., ia mengakui hal yang beberapa hari ini telah ia lindungi dalam hidup dan mati. "Kelemahan yang kau incar mengenai tuan Ace adalah Fawnia."


Kening Evan meninggi seketika. "Fawnia, maksudmu..., bodyguard Indira?"


Butuh beberapa waktu untuk Evan menerima informasi yang Vera lontarkan. Tentu saja, ada persentase gadis itu berbohong di mukanya. Akan tetapi, apakah Vera berani merisikokan nyawa Anggara dengan sebuah kebohongan?


"Hari ketika kau dan Indira menikah, Fawn kalian gunakan sebagai umpan untuk mengalih perhatian bos Ace, bukan?" Vera mengepalkan tangannya, ia berusaha meyakinkan Evan dan disaat bersamaan, ia merasa bersalah luar biasa kepada Fawn. Tindakannya hari ini adalah tindakan yang tak termaafkan.


Fawn, maafkan aku. "Hari ketika Fawn diculik oleh pihak kami, bos Ace menaruh ketertarikan padanya."


"Itu tidak masuk akal." Evan sungguh-sungguh sulit untuk mencerna informasi itu. "Ace dan..., itu tidak masuk akal."


Evan selalu menganggap Ace sebagai dewa di dunia hitam ini. Dia adalah sosok sempurna yang memicu Evan ingin menyingkirkannya. Sosok seperti Ace seharusnya menaruh ketertarikan pada sosok setinggi Indira, dia seharusnya menaruh ketertarikan pada puteri dari keluarga konglomerat lain. Bukan kepada sosok Fawn yang seperti kerikil di jalan. Mereka seharusnya..., tidak!


"Kau tau kau dan Anggara akan mati di sini kalau kau berani membohongiku, kan?" Evan menolak jawaban itu, karena jika ia mempercayai Vera, segala penilaian tingginya tentang Ace akan menjadi sebuah kebohongan. Ia akan sangat kecewa bila mengetahui kalau selera Ace Hunter adalah seorang pelayan yang tidak mempunyai background apa pun.


"Aku tidak punya alasan untuk berbohong." Vera memantapkan suaranya. "Kau bisa menanyai Jem untuk mengonfirmasi jawabanku."


Saat itu juga, ketika Vera mengungkit tentang Jem, Evan mau tidak mau menganggap jawaban Vera sebagai kebenaran. Tidak, bukan berarti Vera berhasil meyakinkannya. Melainkan karena Evan teringat pada hal yang lain. Ia teringat kembali pada ketertarikan yang sempat Jem tunjukkan kepada Fawn ketika pria itu berkunjung ke mansion ini.


Jem yang arogan..., menaruh ketertarikan pada Fawn. Itu adalah kejanggalan yang Evan lupakan. Benar, Jem yang arogan tidak mungkin menaruh perhatian kepada Fawn jika ia tidak mengetahui sesuatu...


Evan menelan pahit di lidahnya.


Ini luar biasa.


AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA---, tawa Evan lepas dengan buas. Ia sangat tidak menyangka dan cukup kecewa. Dua perasaan itu membaur di dadanya, menciptakan perasaan asing yang menyiratkan kekesalan.


"Rishan," Evan memanggil asistennya yang masih loyal berdiri di belakang.


"Iya, bos."


"Aku ingin kau melakukan sesuatu..." Evan menatap Vera tepat di mata. Menatap kepada sepasang iris hitam Vera yang mulai tergenang oleh air mata. "Bawa Fawn kehadapanku sekarang."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2