
...FAWN pov...
...----------------...
Aku tidak percaya pada hal-hal supernatural semacam hantu, dirasuki ruh-ruh halus atau hal semacam itu, aku tidak percaya sama sekali pada hal-hal mistis sampai hari ini datang. Hari ketika aku--AKU--menyerahkan diriku kepada Ace dengan suka-rela. Tidak, lebih seperti aku mengharapkannya. Keparat, sialan! Setan dari dasar neraka sudah pasti merasukiku, aku yakin 100 persen. Jika tidak, mana mungkin aku...
"Aaaaaarrrgghh!!!" Aku mengerang lagi, nyaris ke 100 kalinya hari ini. Kepalaku kubenturkan ke tembok kamar mandi, entah sudah keberapa kali. Aku merasa perih di dahiku, tapi perih itu tidak seberapa dibandingkan rasa malu dan jijik yang merayap di sekujur kulitku.
Aku seperti tenggelam di dalam kubangan laba-laba, dan binatang berkaki delapan itu merayap di sekujur tubuhku--menciptakan sensasi meriang yang membuatku ingin melompat ke dalam kobaran api.
Ya Tuhan, aku benci diriku sendiri.
Aku benci pemandanganku di cermin dengan jejak gigitan dan pagutan di kulitku. Aku--apa yang salah padaku?
"Biadab, aku pasti sudah gila!" Aku meringis dengan jantung yang masih berdebar-debar kencang. Ketakutan dan kepanikan mengisi kepalaku. Aku takut pada diriku sendiri dan panik pada perubahan yang kurasakan pada diriku sendiri. Ini tidak benar, apa yang kulakukan semalam tidak benar. Aku pasti---apa yang kumakan sampai aku menjadi gila?
"Tidak! Tidak! Aku tidak menyukainya sama sekali!" Aku menjambak rambutku frustasi saat lagi-lagi, bayangan bibir Ace yang menyapu permukaan kulitku muncul ke permukaan. Menimbulkan sensasi panas di tempat bibirnya pernah mendarat. Aku mengusap tubuhku seketika, berharap tindakan itu mampu menyingkirkan perasaan yang menggelitik kulitku saat itu juga.
Semuanya terasa sangat jelas di benakku, setiap sentuhan yang dia berikan, setiap desau napasnya yang menyapu kulitku, panas suhu tubuhnya dan bagaimana dia menciptakan sisi diriku yang tidak pernah kuketahui ada..., aku seperti...
"Tidak! Tidak! Tidak!" Aku membentur kepalaku sekali lagi, cukup keras sampai suara benturannya terdengar jelas di telingaku. Rasa sakitnya juga..., kepalaku berdengung untuk beberapa waktu sampai akhirnya rasa sakit itu mereda. Aku kembali mondar-mandir di ruangan yang sama, mengutuk kesalahan yang sama.
"Fawn, apa kau baik-baik saja?" Dari luar, aku mendengar suara Vera.
"Ya?" Aku mendekat ke pintu, tapi enggan keluar. Aku ingin mengubur diriku di kamar mandi dan melupakan kalau aku pernah hidup di muka bumi ini.
"Kau sebaiknya keluar, Fawn. Kau sudah di sana selama dua jam lebih."
"Apa aku harus keluar?" Aku tidak mau keluar.
"Bos Margot akan meruntuhkan pintunya kalau kau terus mengurung dirimu di dalam sana." Vera menyahut seolah-olah merobohkan pintu yang menempel kuat di dinding batu itu bukanlah perihal sulit. Mereka benar-benar sudah terbiasa dengan kegilaan yang bos mereka ciptakan, sial, aku sudah tertular gila.
"Vera, apa ada cara tercepat untuk mati?" Aku berbisik putus asa. Tidak ada lagi alasan untuk hidup, aku benar-benar menyerah dengan kewarasanku.
"Aku bisa mematahkan lehermu kalau kau mau." Vera menyahut separuh tertawa. "Jangan bicara omong kosong, kalau kau mati, bos Ace akan membantai kami."
"Keparat, jangan sebut namanya..." Aku lagi-lagi menggigil ngeri. Ujung jariku sedingin es.
__ADS_1
"Keluarlah, Fawn." suara Vera melembut. "Kau tidak salah sama sekali kok. Bos Margot tidak akan membunuhmu. Yah, walau menurutku kau dan bos Ace sudah cukup gila melakukan itu di tempat tidurnya--tapi aku pasti tau, kau tidak bisa menolak permintaan bos Ace, kan? Aku mengerti. Aku sangat mengerti."
Tidak Vera, masalahnya kau tidak paham sama sekali. Aku yang memulai kegilaan itu. AKU! AKU DARI SEMUA ORANG! Aku sudah tidak waras! Tuhan, aku mau menangis.
"Fawn?" Vera memanggilku sekali lagi, dan dari suaranya--aku tau aku sudah tidak bisa bersembunyi di ruangan berbentuk kotak ini.
Oh, betapa aku harap lantai terbelah dua dan menelanku saat ini juga. Tapi realita sangat kejam daripada imajinasiku. Karena, alih-alih menghilang dari muka bumi ini, aku dipaksakan berhadap-hadapan dengan dua bersaudara yang saat ini paling kuhindari wajahnya.
...----------------...
Setelah aku keluar dari kamar mandi, Vera memelukku dan meyakinkanku kalau situasinya akan baik-baik saja. Dia bahkan mencemaskan dahiku yang merah, tapi aku menepis kecemasannya dengan mengatakan itu bukan masalah. Satu-satunya masalahku sekarang adalah menghadap ke hadapan nona Margot dan Ace..., ugh! Memikirkan situasi itu saja sudah membuat perutku melilit sakit. Aku sangat cemas sampai gedoran di dadaku begitu keras.
"Ayo..." Vera merangkulku menuju pintu keluar, ke arah suara nona Margot bergema besar. Aku meneguk ludah seketika.
"AKU TIDAK BISA MENOLERANSI KEGILAANMU SAMA SEKALI, ACE. CUKUP SEKALI INI AKU MENYELAMATKAN FAWN DARIMU. KAU PRIA TIDAK TAU MALU, BERANI-BERANINYA KAU MELAKUKAN HAL MENJIJIKKAN DI TEMPAT TIDURKU!!!!"
"Jangan berlebihan, kau bisa membersihkannya."
"Sialan, keparat! Bukan itu masalahnya!!! Apa kau tau kesalahanmu?"
"Fawn, apa kau baik-baik saja?" nona Margot menyambarku dengan pertanyaan yang terdengar seperti bentakan. Aku menciut ketakutan.
"Dia sangat baik, apa kau tidak bisa melihatnya sendiri?" Ace menjawab seolah-olah membelaku. Pria psikopat itu!
"Huuuh, kulihat kau dan Fawn sudah berbaikan sampai kalian tidak peduli dan tidak ingat sama sekali di mana tempat kalian melakukannya, kalian binatang!" nona Margot menarik lenganku dengan kasar. Aku terkesiap akan tarikannya yang tiba-tiba, dan lebih terkesiap saat tarikan itu berubah menjadi dorongan. Nona Margot mendorongku ke arah Ace dengan kasar.
"Mulai hari ini, aku mengembalikan Fawn padamu!" nona Margot mendeklarasikan keputusan itu dengan lantang.
"Apa?" Aku sangat keberatan. Tolong, jangan lakukan itu! Aku sudah betah di kamarmu, nona Margot!!!
"Aku tidak mau berurusan dengan masalah kalian berdua lagi," nona Margot menimpali tanyaku sambil berkacak pinggang.
Dari ekspresinya, dia sudah jelas sangat jengah terhadap apa yang terjadi semalam. Tidak berarti aku akan menyalahkan nona Margot, dia punya alasan yang sangat tepat untuk menyingkirkanku. Aku--tidak, aku dan Ace sudah menodai kamarnya dengan tindakan tak termaafkan. Dia pasti membenci kami sampai ke tulang.
"Vera, beritahu Felix untuk membersihkan kamarku sebersih-bersihnya hari ini. Ganti seluruh cat, karpet dan paling utama, bakar tempat tidurku hari ini juga."
"Tapi bos?" Vera meneguk ludah akan perintah atasannya yang sangat berlebihan. Aku prihatin dan disaat bersamaan--tertegun heran.
__ADS_1
"Lakukan saja apa yang dia minta," Ace merangkul pundakku dari belakang dan menarikku sampai bersandar di dadanya. "Dia tidak akan berhenti sampai kau melakukan apa yang dia mau."
"Semua itu salahmu, Ace!" nona Margot mengacungkan telunjuknya ke wajah Ace dengan garang. "Aku harap kau merenungi kesalahanmu, jika tidak..., di lain waktu kamarmu lah yang akan kubakar habis."
"Tidak akan ada di lain waktu karena Fawn sekarang akan bersamaku," sahutan Ace menyapa telingaku. Seakan-akan ditujukan untukku. Aku merinding.
"Aku senang kau kembali padaku," Ace lalu berbisik di telingaku. Mengingatkanku pada hal yang dia lakukan semalam. Ketika dia menghirup tengkukku dalam-dalam. Jejak panas napasnya masih di sana, seperti api abadi yang tak kasat mata. Aku terbakar dalam sensasi panasnya.
Sementara Vera terjebak dalam perintah gila nona Margot, aku yang masih terjebak dalam rangkulan Ace hanya bisa menyeret langkahku dengan paksa ketika dia mengajakku kembali ke kamarnya. Ke tempat semuanya berawal. Ke sangkar yang sudah menjadi ruanganku sebulan belakangan.
Aku masuk ke kamar Ace dengan langkah sungkan. Perasaan tidak nyaman menyelimutiku, dan segala ingatan yang menyeruak di benakku ketika menapak di kamar itu tidak membantuku sama sekali.
Di kamar ini, banyak hal pernah terjadi di antara aku dan Ace. Segala penyiksaan yang dia lakukan, tindakannya yang mengimplikasikan penindasan, amukan, ketenangan, kesedihan dan bahkan kelemahannya..., aku mengingat setiap hal yang pernah terjadi di kamar ini seperti kejadian itu baru kemarin.
Aku ingat--bahwa aku adalah tawanan di sini, dan Ace bukanlah orang baik. Dia adalah penyandera yang sudah memanfaatkanku sebagai hiburannya. Segala perasaan membuncah dan asing yang kurasakan sekarang adalah kesalahan. Aku seharusnya tidak bereaksi seperti ini di bawah sentuhannya. Aku sangat membenci Ace, sangat sangat membencinya. Itu adalah perasaan yang normal untukku rasakan kepada orang yang sudah menjadikanku tawanannya.
"Haaaah," napasku lolos dengan berat.
"Apa kau baik-baik saja?" Ace merangkulku dan aku menepis tangannya seketika.
"Ah--aku baik." Aku menatapnya sekilas sebelum membuang muka. Aroma ruangan itu--sedikit berbeda dari ketika aku meninggalkannya, beraroma seperti tembakau dan alkohol. Aku tidak pernah mencium aroma ini di kamar Ace sebelumnya. Tidak, lebih tepatnya, aku tidak pernah melihat dia merokok di dalam ruangan.
"Apa yang terjadi pada dahimu?" Ace masih belum menyerah mengajakku berbicara. Dia duduk di seberang sofa dan menatapku dengan alis tebalnya yang nyaris menyatu.
"Aku--jatuh?"
"Ya?"
"Jatuh," ulangku dengan lebih yakin. "Aku jatuh di kamar mandi."
"Oh, itu mengejutkan. Apa kakimu menyerah karena aktivitas kita semalam?" Senyuman jahil seketika mekar di parasnya.
"Jangan membuatku memukulmu!"
Sial, baru beberapa menit di sini, aku sudah ingin melompat dari balkon. Bagaimana bisa aku bertahan di sini mulai sekarang tanpa Ace yang menggodaku mengenai tindakanku, ulahku? Keparat, situasi ini membuatku sangat tertekan!
...----------------...
__ADS_1