DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
118. SEBUAH PERTANYAAN


__ADS_3

...FAWN pov...


...----------------...


Hari ini, sebelum aku pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ibuku, sejumlah pengawal yang merupakan bawahan tuan Max terlihat sibuk. Aku melewati mereka dengan agak penasaran, tapi aku tidak menanyakan apa-apa. Aku hanya melihat salah satu di antara mereka bahkan mengenakan rompi anti peluru.


Mereka berjumlah setidaknya lima hingga enam orang. Dengan tinggi yang menjulang dan otot tubuh yang berlebihan, bisa kuasumsikan kalau mereka adalah bagian dari tentara bayaran tuan Max.


"Fawn," seseorang menegurku. Aku menengok dan terkejut saat melihat tuan Max lah yang menyapa. Aku seketika membungkuk dalam-dalam kepadanya. Memberikan penghormatan walau sebenarnya, ini hanya aktivitas berlandaskan formalitas.


"Selamat pagi, tuan Max." Aku menyapanya setelah mengangkat kepala. Aku masih ingat malam ketika aku bermain catur dengan pria ini. Kendati ia memenangkan setiap permainan, ia seperti kecanduan dan tidak mau berhenti. Kalau bukan karena tuan Evan yang menggantikanku malam itu, aku bisa bermain catur sampai pagi.


"Kau akan pergi ke suatu tempat?"


"Aku hendak mengunjungi ibuku."


"Oh, benar. Jadi kau adalah salah seorang pengawal Indira yang terkenal mendapat perlakuan istimewa itu."


"Aku tidak..." Sialan, apa Aidan melenggang kesana kemari dan mencemari nama baikku dengan kecemburuannya?


"Aku mendengarnya dari Evan. Kau cukup..., spesial, begitu?" tuan Max tersenyum. Senyum yang di mataku, hanyalah sebuah ekspresi misterius yang lain. "Terima kasih sudah menjaga Indira selama ini."


"Itu sudah tugasku."


Tuan Max mengangguk-angguk atas responku yang mungkin kedengaran tidak ramah dan cenderung monoton. Ia menatapku sebentar sebelum mengambil satu langkah mundur. Seolah mempersilakan kepergianku tanpa kata.


"Aku permisi." kataku, dan undur diri dari hadapan tuan Max yang masih setia tersenyum.


Aku tidak tau apa yang tuan Max pikirkan, tapi melihatnya dengan senyuman membuatku merasa tidak nyaman. Dari empat kepala yang sudah kutemui, lima dengan tuan Callum, maka ini pertama kalinya aku melihat seorang kepala yang menunjukkan keramahan pada bawahannya. Jem yang terkenal seputih cahaya malaikat saja masih bersikap apatis terhadap bodyguard-nya. Jika bukan karena aku yang dekat dengan Ace, mungkin Jem juga tidak akan pernah melihatku sama sekali.


Sungguh aneh.


Memutuskan untuk melupakan fenomena asing bernama Maximillian Caspian, aku pun fokus kembali pada tujuan awalku. Yaitu, bertemu Ibu.


Ibuku--ngomong-ngomong--belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Ia masih bertopang pada alat bantu pernapasan.


Belakangan ini, karena jadwalku yang bisa dibilang kosong, aku menghabiskan waktuku lebih banyak di rumah sakit. Setidaknya, dalam satu minggu, aku bisa mengunjungi ibuku empat kali. Aku membantu perawat membersihkannya, aku juga bercerita, terkadang juga..., aku hanya berada di sana. Tanpa suara. Jika frustasiku memuncak, aku akan menangis di sampingnya. Berharap bila isakanku bisa membuatnya bangun.


Tapi itu tentu saja, hanya sebuah mukjizat yang terjadi di drama.


Ibuku hari ini pun..., masih dalam kondisi yang membuat hatiku terhenyak sakit.


"Selamat pagi, Bu." Aku menyapa ibuku sambil mengganti bunga di vase dekat jendela. Mawar yang kubeli tempo hari sudah layu. Aku menggantikannya dengan seikat baby breath yang kutemukan di toko bunga depan rumah sakit. Perawat baru saja melakukan pengecakan pada kondisi ibuku ketika aku datang. Mereka memberikanku sekilas informasi yang sudah kudengar sama setiap kali aku ke sini. Bahwa, kondisi ibuku masih statis.


Sementara aku menempati bangku lipat yang terpajang menghadap ranjang ibuku, sebuah getaran muncul dari sakuku. Sudah lama ketika aku tidak menerima panggilan dari luar. Ketika Carcel memintaku untuk tidak menghubunginya, aku pikir aku akan kehilangan kontak dari Ace sampai semuanya mereda. Setidaknya, begitulah yang kukira sampai aku melihat nama Vera tertera di layar ponselku.


"Halo, Ver?"

__ADS_1


"Fawn..., apa kabar?"


Sudah lama aku tidak mendengar suara Vera. Sulit kubayangkan, gadis yang kerap menemaniku saat terkurung di rumah Ace Hunter ini menjalin hubungan dengan bos Anggara. Kami seperti..., berbagi nasib yang sama? Tidak, mungkin lebih tepatnya, berbagi..., kesialan yang sama. Hahahaha. Perasaan adalah sebuah kutukan, bukan?


"Aku baik, Vera. Ada apa? Tidak biasanya kau menghubungiku."


"Aku bosaaaan. Maksudku, aku sedang libur hari ini dan aku punya banyak waktu luang. Jadi, bagaimana kalau aku bertemu denganmu begitu? Ini sudah sangat lama sejak terakhir kali kita bicara."


"Well, apa Ace baik-baik saja dengan itu?" Kupikir Ace tidak mau aku berkontak dengan orang-orangnya. Selain karena interaksi kami bisa menciptakan kecurigaan, Ace juga tidak mau aku terlibat dalam bahaya karena setiap orang-orang Ace sedang dalam mode diburu dan memburu.


"Aku rasa..."


"Kau rasa?" Apa maksud Vera?


"Fawn, jujur saja, aku sangat stress sekarang.Aku tau tuan Ace tidak mau aku melakukan tindakan gegabah dan mendekatimu tapi..., kurasa kau adalah orang yang paling bisa mengerti aku sekarang."


"Huh?" Apa ada sesuatu yang terjadi pada Vera?


"Ini menyangkut Anggara."


"..."


"Kau..., kau tau kami punya hubungan, kan? Jadi..., kau pasti tau kalau kami..., sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja."


"Apa ada masalah serius?"


Aku merasa bimbang seketika. Vera adalah gadis yang cepat dalam membuat keputusan. Dia baik dan menawan, dia selalu mendengar keluh-kesahku dulu. Menolaknya ketika dia sedang terpuruk adalah tindakan tak berperasaan. Mungkin aku..., mungkin bukan masalah untuk bertemu?


"Baiklah, kalau kau mau...," aku melihat jam dinding bundar yang terpajang di atas pintu kamar ibuku. "Kita bisa bertemu saat lunch?"


"Serius, kau mau, serius?" Suara Vera terdengar sangat antusias.


"Iya, Vera." Aku memberikan tanggapan dengan seulas senyuman. walau tau Vera tidak bisa melihat senyumku, memikirkan dia sedang berbahagia di seberang telepon membuatku turut berbahagia untuknya.


"Kalau begitu sampai ketemu."


"Umm, sampai ketemu."


...----------------...


Sampai ketemu, adalah janjiku kepada Vera tiga jam yang lalu. Sekarang, ketika jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, aku pun keluar menuju sebuah cafe tempat aku dan Vera akan bertemu.


Karena hari ini aku tidak melakukan tugasku sebagai bodyguard, aku tidak memakai setelan jasku. Aku hanya..., tampil biasa-biasa saja. Aku harap Vera bisa menemukanku karena aku baru sadar, sebagian pengunjung cafe itu mengenakan baju dengan warna yang sama dengan kaosku. Putih.


Aku membuat pesanan duluan karena aku sangat lapar.


Semangkuk sup kepiting asparagus, scallops pedas, dan sepiring honey garlic shrimp.

__ADS_1


Bukan berarti aku rakus, tapi tiga menu yang barusan kupilih adalah porsi standarku. Biasanya, aku makan lebih banyak. Juga, rasanya sudah lama aku tidak menyantap seafood. Aku ingin makan apa pun--selama itu murah dan tidak menguras dompetku sampai bangkrut. Anggap saja ini cheat day. Hehehehe.


Tak berselang lama setelah aku membuat pesanan, sambil bermain ponsel dan berkabar-kabar dengan Vera yang rupanya, terjebak macet. Makanan yang kupesan akhirnya datang. Terbentang di atas mejaku dengan aroma yang membuat candu.


Aku mulai makan dan melupakan chat-ku dengan Vera. Sudah prinsipku, untuk makan, aku harus menaruh fokus pada makananku saja. Aku sangat mencintai makanan, ya Tuhan. Aku pikir mati karena makanan tidak akan masalah selama makanan itu lezat. Ugh!


"Seseorang melupakanku," di tengah makanku, Vera yang kutunggu-tunggu datang. Dia duduk di seberangku dengan seulas senyum mengembang masam.


"Kau lama." kataku.


Vera mencibir, tapi tidak mempertahankan ekspresi itu dengan lama. Ia menyendok udang di piringku dan mencicip satu.


"Ini enak. Kau membuatku lapar."


"Makan saja."


"Aku sudah membeli kebab di jalan."


"Ya terus?"


"Aku menjaga berat badanku, Fawn."


"Kau bisa sparing dengan Haru atau Carcel dan kebab yang kau makan akan menguap dari tubuhmu."


"Andai metabolismeku secepat itu." Vera tersenyum samar.


Aku merasa, saat itu juga, suasana hati Vera cukup buruk. Senyum di wajahnya tidak bertahan lama. Aku yang makan di seberang meja, memperhatikannya dengan agak prihatin. Aku bahkan belum mendengar keluhan Vera, tapi aku sudah mengasihaninya. Apa pun itu yang sedang membebani Vera, kurasa bukanlah situasi yang ringan. Vera adalah gadis yang kuat, dia bukan tipe gadis berwajah muram. Kendati dia jarang tersenyum juga, Vera lebih ke tipe gadis tegas dan tenang.


Beberapa menit akhirnya berlalu dan aku selesai dengan makananku.


Di seberangku, Vera yang menungguku selesai makan hanya memesan strawberry milkshake. Dia menyesap minuman itu dengan mata menyorot hampa ke atas meja.


"Jadi Vera..." Aku memulai pembicaraan dengan suara menyiratkan kebimbangan. Aku tidak tau apakah Vera sudah siap bicara atau tidak.


"Fawn," Vera mengangkat wajahnya dari meja, mata menatap lurus ke arahku. "Apa kau tidak pernah berpikir..., kau tau, sedikit saja..., mengkhianati pekerjaanmu?"


Tanpa mengantisipasi kalau pertanyaan itu akan keluar dari mulut Vera, Vera dari semua orang, aku seketika tercengang.


Dari mana datangnya pertanyaan itu?


Aku menggigit bibir bawahku.


"Bagaimana denganmu?" tanyaku.


Apa Vera hendak melakukan apa yang kupikirkan?


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2