
...NORMAL pov...
...----------------...
"Kita bertemu lagi," adalah sapaan ramah yang ketika kau mendengarnya, kau akan tersenyum lebar kepada si penyapa. Namun, terima kasih pada situasinya sekarang, alih-alih tersenyum hangat kepada si penyapa, Vera--gadis yang duduk di lantai dengan rantai besar melingkupi tangannya--menatap si penyapa dengan mata berotasi keki. Giginya bergemeletuk, menahan kekesalan yang berpadu pada dingin air yang lagi-lagi tersiram ke kepalanya.
"Oh, apa aku membangunkanmu?" Evan Caspian--si penyapa, menatap Vera dengan seringai tipis yang memuakkan mata. Vera meludahkan darah dari bibirnya ke tanah. Kepada keramahan palsu Evan.
"Sekarang sudah siang, kau harusnya berhenti tiduran." Evan berujar dengan intonasi santai--mengabaikan cara Vera menatapnya. "Jadi, apa kau sudah mau bicara padaku hari ini?"
"Mari bernegosiasi, bagaimana?" Evan melompat pada tawaran yang sama. Tawaran yang sudah ia lontarkan tiga hari belakangan. Namun, seperti yang ia duga, tiga hari tidak cukup untuk meretakkan semangat gadis itu. Vera--seperti yang sudah Evan perkirakan--mempunyai keteguhan yang cukup membuat Evan muak.
"Bernegosiasi? Bagaimana dengan ini..., kau bebaskan aku, dan aku akan membiarkan kalian semua hidup." Vera menanggapi ucapan Evan dengan pandangan yang berkunang-kunang. Air yang membasahi wajahnya bergelinang dan mengaburkan pandangannya di dalam ruangan yang memang temaram tersebut.
"Hidup itu membosankan," Evan duduk kepada bangku yang sudah menjadi singgasananya belakangan ini. "Aku ingin kemenangan."
"Pecundang tetaplah pecundang, kau tidak bisa mengubah jati dirimu. Cobalah hidup dengan menerima fakta itu terlebih dulu."
PLAK!
Sebuah tamparan bersarang di pipi Vera tepat ketika ia menyelesaikan ucapannya. Seorang bodyguard tanpa nama yang berada di dekatnya adalah pelaku dari tamparan itu. Dia adalah sosok yang sudah menciptakan memar dan luka di tubuh Vera. Tentu saja, meskipun itu menyakitkan, Vera tidak merasakan dendam mendalam pada pria itu. Dia hanya melakukan pekerjaannya. Vera--daripada membenci si bodyguard--lebih mengutuk keberadaan Evan.
Pria itu bajingan.
"Aku tidak mau mendengar nasihat dari sosok munafik sepertimu," Evan menyilangkan kaki, tangan bertopang di lengan bangku. Matanya menatap ke arah Vera, merendahkan dan meremehkan. "Untuk sosok yang rendahan sepertimu bicara soal menerima kenyataan, kau harus menasihati dirimu sendiri. Kau harusnya sadar di mana posisimu."
"Oh, aku sangat sadar di mana posisiku, keparat..." Vera menahan ucapannya ketika ia merasakan si bodyguard itu kembali mendekat, tapi tamparan tidak berlabuh di wajahnya, tidak ketika Evan mengangkat tangan dan menyela tanpa kata.
"Jadi, menurutmu..., sosok rendahan sepertimu pantas menjadi parasit di kehidupan Anggara?"
"..."
"Kau yang tidak berarti apa-apa. Kau hanya menjual dirimu kepada pria yang bahkan tidak akan pernah melihatmu lebih dari alat pemuas nafsu. Kau yang harusnya berkaca, Vera. Kau adalah sampah."
Vera menelan darah yang mulai menyebar di mulutnya. Darah yang keluar akibat tamparan kuat barusan. "Apa maksudmu parasit? Hubunganku dan Anggara adalah hubungan konsensual, kau tau. Dia menyukaiku lebih banyak daripada dia menyukai menjilat kakimu."
"Sungguh arogan." Dengan satu gerakan dari jemari Evan, bodyguard yang berada di dekat Vera kembali melancarkan serangannya. Ia memberikan Vera sebuah tendangan di perut dan jambakan di rambut. Jambakan yang ia gunakan agar tubuh Vera tidak jatuh ke tanah, berendam dalam kubangan air kotor dan darah.
__ADS_1
"Aku sepertinya terlalu baik padamu," Evan berujar dengan suara yang menyiratkan intimidasi, tapi Vera tidak peduli. Mustahil baginya peduli ketika rasa sakit yang bersarang di tubuhnya lebih menarik perhatian daripada omong kosong yang Evan Caspian lontarkan.
"Kalau kau mau bernegosiasi, Evan..., bagaimana kalau kau berusaha sedikit menghormati wanita murahan ini?" Maksud Vera adalah dirinya sendiri. Ia memandang Evan dengan sebelah mata terpejam. Rambutnya yang ditarik kuat agar menahan tubuhnya untuk tidak tumbang menciptakan rasa perih yang mengerikan. Seakan-akan kulit kepalanya sedang di kelupas paksa.
"Mungkin..." Vera terengah, "Mungkin, kalau kau menjilat kakiku, kau akan mendapatkan simpatiku. Hahahahaha."
Satu pukulan mendarat lagi di pipi Vera. Kuat dan membuat tubuhnya terhuyung dan tumbang di tanah. Darah segar merebak keluar dari mulutnya, tumpah dan membasahi pipinya.
"Kau tidak mengenal takut sama sekali, bukan?" Evan berdiri dan mendekat kepada jeruji yang membatasinya dan Vera, ia berjongkok dan memperhatikan kesadaran gadis itu yang timbul tenggelam akibat rasa sakit yang sudah ia berikan. "Tidak mengherankan, kalau kau mengenal rasa takut sedikit saja, kau tidak akan bermain-main dengan Anggara. Aku mungkin tidak akan peduli pada eksistensimu."
"Haaa..." Vera menghela napasnya susah payah. Wajahnya yang menerima pukulan barusan terasa kebas. Ia tidak begitu bisa menggerakkan bibirnya, tapi itu tidak berarti ia akan meninggalkan Evan pada kepuasan sudah menyakitinya.
Tidak, karena..., bahkan ketika kesadaran mulai meninggalkannya, Vera membuka matanya samar-samar dan membalas tatapan Evan.
"Aku mengenal apa itu rasa takut, Evan. Hanya saja, aaah, kau tidak menakutkan sama sekali untuk membuatku bergidik." Vera menelantangkan posisi berbaringnya, mata menatap langit-langit hitam yang melingkupinya. "Kau bukan Arcelio Hunter."
Di mata Vera, jika ada hal, jika ada seseorang yang mampu menciptakan rasa takut di tubuhnya, teror di hidupnya..., maka itu hanya satu orang. Arcelio Hunter.
"Kau tidak ada apa-apanya."
Hari ini lagi, untuk Evan Caspian, ia gagal meretakkan keangkuhan Vera. Gagal membuat gadis itu membuka mulutnya. Mereka mungkin berkomunikasi, tapi tidak ada poin yang bernilai penting bertukar di sana. Tidak ada selain kata penuh hina.
"Aku akan kembali besok, pastikan dia tetap hidup sampai aku kembali."
"Baik, Bos."
...----------------...
Di waktu yang sama, di area yang berbeda.
Ketika matahari berada tinggi di atas kepala, Fawn yang sedang berteduh di bawah pohon--jauh dari teras belakang, dan dekat kepada kolam ikan--menghubungi seseorang melalui ponselnya. Seseorang yang lebih tepatnya adalah Anggara Rashid.
Fawn sudah berusaha menghubungi Anggara beberapa kali kemarin tapi tidak pernah ada tanggapan, dan hari ini lagi..., Fawn berharap ia menerima jawaban dari Anggara.
Tidak hanya karena ia ingin bicara mengenai si tawanan, Fawn juga resah atas keabsenan Anggara. Tidak biasanya pria itu mengabaikannya.
"Halo?"
__ADS_1
Akhirnya, suara Anggara menyapa telinga Fawn. Suara yang menyiratkan kelelahan.
"Bo-bos Angga? Ini aku, Fawn."
"Aku tau," tanggap Anggara. "Ada apa? Apa sesuatu terjadi pada Indira?"
"Ti-tidak ada yang spesifik," balas Fawn. Ia agak gugup. "Umm, bos Angga, apa aku mengganggumu? Apa kau baik-baik saja?"
"Huh?"
"Kau kedengaran agak...,"
--Teler adalah kata yang tersangkut di lidah Fawn. Namun, ia enggan melanjutkan.
"Jangan mencemaskanku," ujar Anggara. "Aku baik..., mungkin?"
"Eh?" Kata mungkin di akhir ucapan Anggara membuat Fawn bingung. Yang mana tepatnya, baik atau tidak?
"Lupakan saja. Jadi, apa maumu?"
"O-oh, begini..." Fawn menendang batu kerikil yang berada di bawah kakinya. Ia merasa situasinya sedang tidak pas untuk bicara. Anggara kedengaran tidak punya minat dan kepedulian pada ucapannya.
"Bos Anggara, a-apa kau sudah mendengar tentang seorang tawanan yang ditawan tuan Evan?"
"Indira maksudmu?"
"Ah, oh, bukan..." bukan berarti tebakan Anggara salah juga, sih. Fawn mau memukul dahinya sendiri karena cara bicaranya yang salah.
"Bos Angga, beberapa hari lalu, tuan Evan menculik bodyguard keluarga Hunter. Jadi..., uh, aku sedikit penasaran..."
"Bodyguard keluarga Hunter?" Suara Anggara seketika jelas dan tegas.
"Be-begitulah." Fawn mencicit. Ia takut menciptakan kecurigaan atas keingintahuannya terhadap identitas si tawanan. Jika Anggara menganggap kepeduliannya mencurigakan, ia bisa menciptakan masalah yang lebih panjang.
"Aku akan menghubungimu nanti." Anggara--untungnya--mengabaikan Fawn, "Terima kasih atas informasimu, Fawn."
...----------------...
__ADS_1